BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
148


__ADS_3

 Rajah Kala Pati adalah sebuah ilmu berasal dari penyembahan bathara Kala putra bathara Guru dan bathari Durga, salah satu bathara penuh angkara murka. Ilmu ini menurut penuturan kuno tersirat di sebuah batu arca berbentuk kepala empat dan tangan juga empat yang ditemukan oleh Wiku kerajaan Wengker, pada jaman Mataram kuno pemerintahan Maharaja Empu Sendok.


   Waktu itu setelah sang Wiku mempelajarinya dan mencerna inti sari dari guratan di dasar arca, sangat terkejut dengan apa yang ditimbulkan akibat merapal aksara kawi. Badannya gemetar menggigil kedinginan bagai terendam air telaga di puncak Wilis, tetapi sekejap kemudian hawa panas yang amat sangat menyeruak keluar menjadikan sang Wiku menderita bukan kepalang, dan perubahan kembali terjadi dimana hawa dingin menghampiri sang Wiku dan dilanjutkan hawa panas terulang lagi berkali - kali. Baru terakhir kemudian keadaan sang Wiku kembali seperti sediakala, malah terasa sejuk menjalari tubuhnya.


   Dicobanya untuk melangkahkan kaki. Kejadian tak terduga membuat sang Wiku terpana tatkala merasakan adanya getar merambat turun menjalar ke dalam tanah dan mengarah ke gundukan batu padas.


   "Byaaar..... !"


   Gundukan batu ambyar menyisakan debu hitam kelam. Terperanjatlah sang Wiku demi menyaksikan akibat dari tenaga dahsyat yang menyeruak dari dirinya. Ia tidak menyangka kalau hasil dari merapal aksara kawi, merubah dirinya seperti itu. Namun untuk menambah keyakinannya sang Wiku mencoba merapal aksara kawi, kali ini tiada perubahan yang membuat tubuhnya menderita, lalu ia hujamkan kakinya ke tanah seraya memusatkan arah sasaran yang ia kehendaki, yaitu sebuah pohon Gayam sebesar paha orang dewasa.


   "Byaaar... !"


   Nasib sial dialami oleh pohon Gayam, dimana sebuah kekuatan dahsyat menggrogoti batang, cabang, ranting dan daunya berubah layu menghitam legam dan hangus. Bisa dibayangkan jika tenaga itu ditimpakan kepada mahkluk hidup lainnya, sungguh tak terbayang apa yang terjadi. Bahkan sang Wiku sendiri ngeri apabila membayangkan. Ilmu itu seperti menyebarkan racun mematikan jika yang dikenai adalah mahkluk hidup.


   Sebagai seorang Wiku yang selalu mendekatkan diri kepada Hyang Suci, pikiran dan hati jernih telah mendorongnya untuk menghilangkan ilmu itu. Hati kecilnya mantab untuk menggolongkan ilmu itu sebagai ilmu yang tak seharusnya dipelajari oleh manusia, karena akibat yang ditimbulkan sangatlah parah berupa kematian tentunya. Maka untuk itu ia mencoba menghapus pancaran ilmu tersebut dari dalam pikiran, hati dan wadahnya. Akan tetapi baru saja ia memulai, tiba - tiba langit berubah gelap, sang surya terbenam oleh gerombolan awan hitam, dan guntur terdengar membahana memekakan gendang telinga.


   Patung arca yang semenjak awal diam tak bergerak, mendadak matanya bersinar memancarkan warna merah menggidikan bulu kuduk. Batu yang semestinya tidak memiliki nyawa, bangkit berdiri tegak dan menghadap ke arah sang Wiku. Dari salah satu wajah, tersungging senyum yang sekejap kemudian berubah seringai mengerikan, lalu menggeram bagai sang raja hutan belantara.


   "Kau tak akan mampu menghapus ilmu yang sudah kau pelajari itu, manusia. Ilmu itu lain dari yang lain seperti yang pernah kau hapus. Karenanya jika kau ingin menghapusnya, kau harus mencari seorang lelaki untuk menyembahku. Setelah itu baru kau akan bebas dari cengkraman ilmu itu di dalam tubuhmu !"


   Habis berkata begitu, langit kembali seperti sediakala dan patung bathara Kala duduk seperti semula, layaknya patung pada umumnya.

__ADS_1


  Dan begitulah perjalanan ilmu itu hingga entah bagaimana ki Soca Welirang mempelajarinya dan mampu menggunaka ilmu hitam tersebut. Sekarang ilmu Rajah Kala Pati sudah diterapkan untuk menghabisi lawannya. Tenaga dahsyat mengandung racun menjalar menyusup tanah mengarah kepada lawannya yang berdiri tegap penuh kewaspdaan.


   Dalam pada itu ki Panji Tohjaya dalam diamnya juga mendapatkan ada sesuatu yang ganjil terhadap lawannya. Karenanya ia sempat memusatkan nalar budinya untuk mengungkit ilmunya aji Brajadaka serta aji Sepi Angin. Dua ilmu melebur menjadikan tenaga dahsyat memutar ke seluruh urat nadinya, dan saat itulah berbenturan dengan ilmu gelap lawan yang menyusup dari bawah kakinya dan terus naik menjalari kakinya. Ki Panji Tohjaya terkejut dengan adanya tenaga aneh yang sepertinya melawan dan menggerogoti kakinya. Tetapi Senopati ini berusaha melawan melalui pengerahan ilmu gabungan, hingga akhirnya terjadila upaya dorong - mendorong dari ilmu itu.


   Rasa sakit dan pedih menyiksa kaki ki Panji Tohjaya sebatas betis. Dorongan kuat dari tenaga aneh rupanya dapat membobol tenaga gabungan Brajadaka dan Sepi Angin, menambah penderitaan yang dialami ki Panji Tohjaya, dimana dua kaki sebatas betis telah berubah menghitam legam, dan membuat lunglai tubuh Senopati itu. Jatuhlah tubuh ki Panji Tohjaya yang tak dapat menopang lagi berat tubuhnya. Jika ini terus berlanjut, bisa dipastikan ki Panji Tohjaya akan binasa di tangan ki Soca Welirang.


    Meskipun besar musibah melanda seseorang, tetapi apabila Dzat Yang Maha Agung belum berkenan mencabut nyawanya, kematian akan terhalang untuk sementara dan selamatlah orang itu. Begitu juga dengan keadaan ki Panji Tohjaya, dimana dalam keadaan sekarat muncul orang yang baru saja dijumpai, yaitu ki Lurah Arya Dipa dan Kyai Jalasutro. Kedua orang itu terkejut melihat keadaan yang dialami oleh ki Panji Tohjaya. Bergegas keduanya melompat ke arah ki Panji Tohjaya dan satunya lagi ke arah ki Soca Welirang.


   Kedatangan dua orang itu menghentikan tindakan ki Soca Welirang untuk menghabisi ki Panji Tohjaya. Untuk sementara ilmu Rajah Kala Pati ia tarik kembali demi menghadapi terjangan seorang pemuda. Demi menghindari terjangan itu, ki Soca Welirang mengisar kakinya sekaligus mengayunkan gada rampasan ke arah lawan barunya. Tetapi lawannya bukanlah anak yang baru turun gunung setelah selesai menuntut ilmu, pemuda itu adalah murid pilihan Resi Puspanaga dalam bimbingan mempelajari kitab Cakra Paksi Jatayu, sehingga sangat mudah melayani ayunan gada hanya dengan mengibaskan saja.


   "Tobiil.... !" seru ki Soca Welirang, takjub terhadap pemuda yang dapat melencengkan gadanya.


   Sementara itu tak jauh dari tempat ki Soca Welirang dan ki Lurah Arya Dipa beradu dada, Kyai Jalasutro mencoba membantu ki Panji Tohjaya menepi dan memeriksa keadaannya. Betapa terkejutnya Kyai Jalasutro setelah mengetahui keadaan ki Panji Tohjaya. Keadaan Senopati itu sangat parah, kedua kakinya hitam legam penuh kerutan, menandakan daging yang membalut tulang tersedot oleh ilmu Rajah Kala Pati. Bahkan kaki ki Panji Tohjaya sudah tak dapat digerakan lagi, lumpuh.


   "Ki Panji, apakah yang kini kau rasakan ?"


   "Sebuah tenaga mengerikan... Terasa terus.. Menggerogoti dagingku... " jawab ki Panji Tohjaya, terbata - bata karena menahan pedih yang ia rasakan.


   "Semoga upaya bisa mengurangi rasa sakit itu, ki Panji."


  Usai berkata, Kyai Jalasutro memusatkan nalar budinya untuk mencoba menyalurkan tenaga sucinya. Tangan Kyai Jalasutro menempel di betis ki Panji Tohjaya, begitu menempel hawa sejuk dari tangan Kyai Jalasutro menyusup betis secara perlahan, tetapi sebuah perlawanan sisa tenaga ilmu Rajah Kala Pati masih kuat dan mendorong hawa sejuk keluar kembali. Sungguh kejadian itu mengejutkan Kyai Jalasutro, baru kali ini selama melalang buana sesuatu yang aneh ia temui.

__ADS_1


   "He... " desuh Kyai Jalasutro, tak enak hati.


   "Terima kasih, Kyai.." desis ki Panji Tohjaya, lirih, "Se..baiknya Kyai mem..bantu ki Lurah.."


    Sejenak ki Panji Tohjaya terhenti karena napasnya agak sesak, tetapi dia mencoba melanjutkan kata - katanya untuk memperingatkan Kyai Jalasutro.


   "Orang i..tu ki Soca We..lirang, Kyai. Seorang pem..bunuh berdarah di..ngin."


   Kyai Jalasutro mengernyitkan alisnya, gelar yang diucapkan oleh ki Panji Tohjaya belum pernah ia dengar. Walau begitu, melihat ilmu yang diterapkan oleh orang itu, patut mendapatkan perhatian yang besar. Namun, Kyai Jalasutro tak ingin juga langsung turun membantu ki Lurah Arya Dipa, tiada lain takut menyinggung Lurah Wira Tamtama itu, meskipun ia tahu kalau pemuda itu bukanlah seorang yang tinggi hati. Karenanya ia untuk sementara mengawasi jalannya perkelahian, dan apabila amat mendesak barulah ia turun gelanggang.


   Dalam saat bersamaan, di kalangan adu kekuatan sangatlah seru dan sengit. Pemuda yang menggagalkan upaya terakhir ki Soca Welirang untuk membinasakan ki Panji Tohjaya, membuat ki Soca Welirang semakin mantab meningkatkan ilmu tata geraknya. Gada dan juga tangannya penuh ancaman mematikan bagi lawan yang lengah. Ditambah lagi lambaran tenaga dahsyat menggebu - gebu meremukan mangsa. Pantaslah jika orang ini terkenal sebagai pembunuh ulung. Gelarnya saja dapat merontokan begundal - begundal kanuragan dan bahkan pemimpin kanuragan.


   "Setan alas ! Kau bisanya hanya meloncat - loncat saja, he !" seru ki Soca Welirang, tatkala lawannya hanya menghindari terjangannya dengan loncatan - loncatan  saja.


   Ki Lurah Arya Dipa menanggapi dengan tersenyum sembari melentingkan tubuhnya demi menghindari ayunan gada lawan. Pemuda itu berusaha melakukan penjajagan dahulu untuk mengetahui tenaga lawan, yang sebenarnya memiliki ilmu mengerikan. Selain itu adalah mencoba menggoda batas kesabaran lawan, supaya pergerakan lawan tidak sejalan dengan pikiran jernih, sehingga mengkalutkan tata gerak lawan. Tetapi apabila lawannya dapat membaca jalannya pemikiran ki Lurah Arya Dipa, tindakan itu akan menjadi piranta lawan untuk mengelabuinya dan menghancurkannya. Oleh sebab itulah, ki Lurah Arya Dipa juga selalu berhati - hati dan waspada dalam setiap langkahnya.


    Memasuki tataran lebih rumit, gada ki Soca Welirang tak dapat lagi dilihat sebelah mata, ki Lurah Arya Dipa-pun terpaksa melepas ikat pinggangnya sebagai senjata untuk menghadapi gada pusaka lawan. Namun dalam pada itu, lawannya merasa dihinakan oleh ki Lurah Arya Dipa yang melayaninya hanya menggunakan ikat pinggang. Hal itu menjadikan lawannya tak dapat lagi mengekang gejolak kemarahannya dan melibas ki Lurah Arya Dipa lebih ganas lagi dari sebelum - belumnya. Maka gada ditangan ki Soca Welirang sangat mengerikan disetiap ayunan dan gebrakannya.


   Bagi ki Lurah Arya Dipa, tindakan dari lawannya sangatlah wajar tatkala mendapatkan lawan hanya menggunakan ikat pinggang sehingga marah dan merasa diremehkan. Tetapi lawannya belum tahu apa sesungguhnya bahan ikat pinggangnya itu ? Ikat pinggangnya adalah sebagian daripada sisik ular naga yang memiliki keuletan luar biasa, serta apabila ikat pinggang itu dihantamkan ke batu sebesar kepala kerbau, niscaya batu itu akan pecah berkeping - keping. Dan pusaka ikat pinggang ini sudah sering terbukti dapat membuat lawan - lawan ki Lurah Arya Dipa menjadi takjub pada akhirnya, begitu juga halnya dengan lawannya kali ini manakala singgungan senjata terjadi.


  Mata ki Soca Welirang seakan - akan lepas dari kelopak matanya, karena tak percaya jika gadanya dapat ditahan lawan menggunakan ikat pinggang. Tidak sampai disitu saja, ikat pinggang ditangan lawannya telah mengibaskan gadanya, jika cengkeramannya tak kuat niscaya gada tersebut lepas dari tangannya. Akhirnya sadarlah ki Soca Welirang kalau ikat pinggang tersebut adalah benda pusaka, dengan itu ia tak akan gegabah menilai kemampuan lawan.

__ADS_1


__ADS_2