
Perkelahian di balik rumpun bambu semakin seru dan sengit. Terutama
antara ki Ajar Bajalpati dan Raden Arya Singasari, dua orang ini dalam setiap
gempurannya sudah melambari tenaga cadangan yang mendebarkan. Yaitu terlihat
samar - samar adanya warna semburat merah melingkupi tubuh ki Ajar Bajulpati.
Sedangkan pada diri Raden Arya Singasari sekilas terlihat adanya kabut tipis
selalu mengitari dan mengikuti setiap serangannya.
Suatu kali tangan ki Ajar Bajulpati meluncur menerpa dada bidang
lawannya, walau bukan berbentuk pukulan namun jika punggung tangan itu dapat
mengenai sebuah benda, niscaya benda itu akan leleh. Itu semua dikarenakan
akibat lambaran dari aji Brajamusti.
Akan tetapi bangsawan lawannya juga bukan sembarang manusia. Bangsawan
ini selain seorang Nayaka Praja dari kadipaten bang wetan, ia juga seorang yang
putus dalam ilmu jaya kawijayan. Itu terbukti dengan adanya kabut yang
menyeruak dari badannya dan menjadi penghalang bagi terpaan ki Ajar Bajulpati.
"Ceess... wuss.. " terdengar suara api yang terkena embun
dan buyar seketika.
"Hm.. Braja Bayu milik orang ini mampu mengimbangi
Barajamusti'ku.. " desis ki Ajar Bajulpati.
Tata gerak keduanya semakin rumit dan aneh. Pertemuan dua jalur ilmu
kanuragan berbeda dasar, seakan - akan berlomba saling mengungguli satu dengan
yang lainnya. Tak hanya saling adu lambaran aji semata, kadang kala keduanya
mengadu kegesitan dan kepiawaian dalam menentukan langkah untuk mengecoh lawan.
Ketika sebuah tendangan mengarah lambung dan lawan berusaha menangkis,
secepat kilat serangan itu ditarik yang kemudian berganti pukulan dengan
pelipis sebagai titik serangan. Ketajaman mata si empunya pelipis menyadari
jikalau pelipisnya dalam bahaya, tentu tak tinggal diam membiarkan pelipisnya
remuk, oleh karenanya dengan sedikit melengos menghindari serangan lawan,
seraya melakukan sapuan tangan ke leher musuh.
"Huh.. " desuh Raden Arya Singasari, sembari beringsut jauh
ke belakang yang kemudian meloncat tinggi berusaha menyergap lawan.
Sergapan ini merupakan salah satu ilmu yang disebut Nágábándhá, sebuah
ilmu penguncian untuk menghentikan langkah lawan. Sekali lawan terkena ilmu
ini, maka tubuh lawan bagai dililit seekor naga.
__ADS_1
"Cukup sampai disini pergerakanmu, orang tua !" seru raden
Singasari.
Sergapan bangsawan itu begitu erat dan mencekam tubuh ki Ajar
Bajulpati. Meskipun tubuh orang tua itu terlapisi lambaran aji Brajamusti,
tiada akibat yang melukai Raden Singasari yang telah melambari tubuhnya dengan
aji Braja Bayu. Maka terlihatlah tubuh meronta dari ki Ajar Bajulpati dan
disisi yang lain adanya usaha untuk menahan rontaan daripada orang tua timur
alas Baluran tersebut.
Adu kekuatan-lah yang kemudian terjadi antara kedua orang yang sudah
kenyang dengan dunia kanuragan itu. Saling mengoyak dan saling mengerat tenaga
terus berlanjut, hingga suatu kali tubuh ki Ajar Bajulpati terasa licin dirasa
oleh tangan Raden Singasari.
"Uh.. " Desuh Raden bang wetan itu, "Aji Welut
putih."
Sementara itu tak kalah serunya dirasakan dikedua kalangan lainnya.
Empat orang yang bercadar kini sudah terlihat wajah - wajah mereka. Ini
dikarenakan keberhasilan ki Ageng Gajah Sora dan ki Lurah Arya Dipa, dalam
setiap langkah serangnya selalu berusaha menyibak cadar para lawan - lawannya.
seorang diantara lawannya.
"Hm.. Kau masih ingat denganku, anak muda ?" tanya orang
yang disebut seorang Panji.
"Masih segar dalam ingatanku saat tuan berusaha membunuh ki Lurah
Lembu Sora di gumuk luar gapura kotaraja." jawab ki Lurah Arya Dipa.
"Hm.. Bagus anak muda, ingatanmu masih bekerja dengan baik. Tapi
kali ini aku akan membayar kekeliruanku kala itu, yang mengira kau musnah
ditelan dahsyatnya aji Prahara Geni." seru ki Panji Menak Sengguruh.
"O jadi orang ini yang kakang ceritakan itu ?" tanya seorang
yang berada di samping ki Panji Menak Sengguruh.
Ki Lurah Arya Dipa memperhatikan orang yang bertanya itu, namun ia tak
mengenalnya sama sekali.
"Benar adi Rawes, berhati - hatilah."
Demi mengetahui lawan - lawannya orang yang membahayakan, ki Lurah
Arya Dipa selalu waspada dan menyiapkan aji Niscala Praba untuk melindungi
__ADS_1
tubuhnya. Apalagi lawannya ialah ki Panji Menak Sengguruh, yang ia tahu
memiliki aji Prahara Geni. Gelembung - gelembung api yang tercipta dari ilmunya
merupakan serangan jarak jauh mematikan. Dan satu lagi ialah lawan satunya
tentu juga memiliki ilmu yang nggegirisi.
Debar jantung pemuda itu berdetak semakin kencang, manakala lawannya
mulai melancarkan serangan secara serempak. Sisi kanan yaitu ki Panji Menak
Sengguruh menyerang dengan sebuah pukulan. Di sisi kiri ki Rangga Rawes, yang
berbadan pendek tetapi gempal dengan gesit melakukan dua pukulan sekaligus.
Inilah kerjasama yang ditunjukan oleh dua Nayaka Praja dari bang wetan untuk
melahap mangsanya.
Serangan kedua lawan itu segera ditanggapi oleh ki Lurah Arya Dipa.
Pertama segera pemuda itu menekan debar jantungnya supaya tetap tenang dalam
menentukan langkah selanjutnya. Karena ketenangan jiwa dan pikiran merupakan
kunci utama untuk menentukan langkah - langkah yang baik dalam setiap tindakan.
Sehingga dalam setiap langkah itu tak ternodai oleh sesuatu yang merugikan jiwa
orang itu sendiri. Bisa dibayangkan saat orang mengalami kesusahan dan berpikir
secara grusa - grusu, tentu hasilnya jauh dari kata memuaskan. Bahkan malah
menjadi lebih parah dari sebelumnya.
Oleh karenanya disetiap masalah yang dihadapi saat ini, putra angkat
dari ki Panji Mahesa Anabrang mencoba menekan debar jantungnya, dan menghadapi
serangan lawan dengan tenang. Pukulan ki Panji Menak Sengguruh dihindari dengan
mengisar langkah ke kiri, yang kemudian membuka telapak tangan untuk menangkis
serta menangkap pukulan tangan kiri ki Rangga Rawes dan menyiak serangan
berikutnya.
"Krek.. " bunyi tangan ki Rangga Rawes dalam genggaman
tangan kanan ki Lurah Arya Dipa. Yang kemudian berusaha dipelintir ke belakang.
Tetapi si empunya tangan yang awalnya melemaskan tangan, tiba - tiba
menyentakan dengan tenaga kuat, maka lepaslah tangan itu.
"Hebat... " puji ki Lurah Arya Dipa, sembari meloncat
menjauhi serangan dari ki Panji Menak Sengguruh.
Keadaan semakin seru dan sengit mengiringi setiap adu tenaga dan ilmu
antara ki Lurah Arya Dipa yang dikeroyok oleh dua orang yang sangat tinggi
ilmunya. Kerjasama yang apik sangat - sangat membuat Lurah muda dari Demak,
__ADS_1
agak tertekan. Hanya ketenangan dan keuletannya saja yang masih membuatnya
mampu bertahan sampai sejauh ini.