BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
64


__ADS_3

Perkelahian di balik rumpun bambu semakin seru dan sengit. Terutama


antara ki Ajar Bajalpati dan Raden Arya Singasari, dua orang ini dalam setiap


gempurannya sudah melambari tenaga cadangan yang mendebarkan. Yaitu terlihat


samar - samar adanya warna semburat merah melingkupi tubuh ki Ajar Bajulpati.


Sedangkan pada diri Raden Arya Singasari sekilas terlihat adanya kabut tipis


selalu mengitari dan mengikuti setiap serangannya.


Suatu kali tangan ki Ajar Bajulpati meluncur menerpa dada bidang


lawannya, walau bukan berbentuk pukulan namun jika punggung tangan itu dapat


mengenai sebuah benda, niscaya benda itu akan leleh. Itu semua dikarenakan


akibat lambaran dari aji Brajamusti.


Akan tetapi bangsawan lawannya juga bukan sembarang manusia. Bangsawan


ini selain seorang Nayaka Praja dari kadipaten bang wetan, ia juga seorang yang


putus dalam ilmu jaya kawijayan. Itu terbukti dengan adanya kabut yang


menyeruak dari badannya dan menjadi penghalang bagi terpaan ki Ajar Bajulpati.


"Ceess... wuss.. " terdengar suara api yang terkena embun


dan buyar seketika.


"Hm.. Braja Bayu milik orang ini mampu mengimbangi


Barajamusti'ku.. " desis ki Ajar Bajulpati.


Tata gerak keduanya semakin rumit dan aneh. Pertemuan dua jalur ilmu


kanuragan berbeda dasar, seakan - akan berlomba saling mengungguli satu dengan


yang lainnya. Tak hanya saling adu lambaran aji semata, kadang kala keduanya


mengadu kegesitan dan kepiawaian dalam menentukan langkah untuk mengecoh lawan.


Ketika sebuah tendangan mengarah lambung dan lawan berusaha menangkis,


secepat kilat serangan itu ditarik yang kemudian berganti pukulan dengan


pelipis sebagai titik serangan. Ketajaman mata si empunya pelipis menyadari


jikalau pelipisnya dalam bahaya, tentu tak tinggal diam membiarkan pelipisnya


remuk, oleh karenanya dengan sedikit melengos menghindari serangan lawan,


seraya melakukan sapuan tangan ke leher musuh.


"Huh.. " desuh Raden Arya Singasari, sembari beringsut jauh


ke belakang yang kemudian meloncat tinggi berusaha menyergap lawan.


Sergapan ini merupakan salah satu ilmu yang disebut Nágábándhá, sebuah


ilmu penguncian untuk menghentikan langkah lawan. Sekali lawan terkena ilmu


ini, maka tubuh lawan bagai dililit seekor naga.

__ADS_1


"Cukup sampai disini pergerakanmu, orang tua !" seru raden


Singasari.


Sergapan bangsawan itu begitu erat dan mencekam tubuh ki Ajar


Bajulpati. Meskipun tubuh orang tua itu terlapisi lambaran aji Brajamusti,


tiada akibat yang melukai Raden Singasari yang telah melambari tubuhnya dengan


aji Braja Bayu. Maka terlihatlah tubuh meronta dari ki Ajar Bajulpati dan


disisi yang lain adanya usaha untuk menahan rontaan daripada orang tua timur


alas Baluran tersebut.


Adu kekuatan-lah yang kemudian terjadi antara kedua orang yang sudah


kenyang dengan dunia kanuragan itu. Saling mengoyak dan saling mengerat tenaga


terus berlanjut, hingga suatu kali tubuh ki Ajar Bajulpati terasa licin dirasa


oleh tangan Raden Singasari.


"Uh.. " Desuh Raden bang wetan itu, "Aji Welut


putih."


Sementara itu tak kalah serunya dirasakan dikedua kalangan lainnya.


Empat orang yang bercadar kini sudah terlihat wajah - wajah mereka. Ini


dikarenakan keberhasilan ki Ageng Gajah Sora dan ki Lurah Arya Dipa, dalam


setiap langkah serangnya selalu berusaha menyibak cadar para lawan - lawannya.


seorang diantara lawannya.


"Hm.. Kau masih ingat denganku, anak muda ?" tanya orang


yang disebut seorang Panji.


"Masih segar dalam ingatanku saat tuan berusaha membunuh ki Lurah


Lembu Sora di gumuk luar gapura kotaraja." jawab ki Lurah Arya Dipa.


"Hm.. Bagus anak muda, ingatanmu masih bekerja dengan baik. Tapi


kali ini aku akan membayar kekeliruanku kala itu, yang mengira kau musnah


ditelan dahsyatnya aji Prahara Geni." seru ki Panji Menak Sengguruh.


"O jadi orang ini yang kakang ceritakan itu ?" tanya seorang


yang berada di samping ki Panji Menak Sengguruh.


Ki Lurah Arya Dipa memperhatikan orang yang bertanya itu, namun ia tak


mengenalnya sama sekali.


"Benar adi Rawes, berhati - hatilah."


Demi mengetahui lawan - lawannya orang yang membahayakan, ki Lurah


Arya Dipa selalu waspada dan menyiapkan aji Niscala Praba untuk melindungi

__ADS_1


tubuhnya. Apalagi lawannya ialah ki Panji Menak Sengguruh, yang ia tahu


memiliki aji Prahara Geni. Gelembung - gelembung api yang tercipta dari ilmunya


merupakan serangan jarak jauh mematikan. Dan satu lagi ialah lawan satunya


tentu juga memiliki ilmu yang nggegirisi.


Debar jantung pemuda itu berdetak semakin kencang, manakala lawannya


mulai melancarkan serangan secara serempak. Sisi kanan yaitu ki Panji Menak


Sengguruh menyerang dengan sebuah pukulan. Di sisi kiri ki Rangga Rawes, yang


berbadan pendek tetapi gempal dengan gesit melakukan dua pukulan sekaligus.


Inilah kerjasama yang ditunjukan oleh dua Nayaka Praja dari bang wetan untuk


melahap mangsanya.


Serangan kedua lawan itu segera ditanggapi oleh ki Lurah Arya Dipa.


Pertama segera pemuda itu menekan debar jantungnya supaya tetap tenang dalam


menentukan langkah selanjutnya. Karena ketenangan jiwa dan pikiran merupakan


kunci utama untuk menentukan langkah - langkah yang baik dalam setiap tindakan.


Sehingga dalam setiap langkah itu tak ternodai oleh sesuatu yang merugikan jiwa


orang itu sendiri. Bisa dibayangkan saat orang mengalami kesusahan dan berpikir


secara grusa - grusu, tentu hasilnya jauh dari kata memuaskan. Bahkan malah


menjadi lebih parah dari sebelumnya.


Oleh karenanya disetiap masalah yang dihadapi saat ini, putra angkat


dari ki Panji Mahesa Anabrang mencoba menekan debar jantungnya, dan menghadapi


serangan lawan dengan tenang. Pukulan ki Panji Menak Sengguruh dihindari dengan


mengisar langkah ke kiri, yang kemudian membuka telapak tangan untuk menangkis


serta menangkap pukulan tangan kiri ki Rangga Rawes dan menyiak serangan


berikutnya.


"Krek.. " bunyi tangan ki Rangga Rawes dalam genggaman


tangan kanan ki Lurah Arya Dipa. Yang kemudian berusaha dipelintir ke belakang.


Tetapi si empunya tangan yang awalnya melemaskan tangan, tiba - tiba


menyentakan dengan tenaga kuat, maka lepaslah tangan itu.


"Hebat... " puji ki Lurah Arya Dipa, sembari meloncat


menjauhi serangan dari ki Panji Menak Sengguruh.


Keadaan semakin seru dan sengit mengiringi setiap adu tenaga dan ilmu


antara ki Lurah Arya Dipa yang dikeroyok oleh dua orang yang sangat tinggi


ilmunya. Kerjasama yang apik sangat - sangat membuat Lurah muda dari Demak,

__ADS_1


agak tertekan. Hanya ketenangan dan keuletannya saja yang masih membuatnya


mampu bertahan sampai sejauh ini.


__ADS_2