
"Mari ki lurah silahkan tuan mulai dahulu." kata Damarjaya.
"Oh... hendaknya tuan rumahlah berkenan untuk mengawalinya, adi." sahut ki lurah Arya Dipa.
"Tapi aku hanyalah seorang kepala pengawal, tak patutlah bila bersikap bertindak memulainya." bantah Damarjaya.
Mendengar kata - kata dari pemuda tanah perdikan Sembojan ini, mengakibatkan tawa geli di hati ki lurah Arya Dipa. Tutur katanya seolah - olah berlaku sopan, namun kenyataannya dirinyalah yang mengawali tindakan dalam olah kanuragan ini.
"Tak mengapa, memang jiwanya masih muda dan darahnya masih menggelora ingin mencari ruang sebagai wadag pelampiasan jalur gelora masa - masa muda." batin ki lurah Arya Dipa, lalu kemudian, "Hahaha... Aku sendiri bukankah tak terpaut jauh dari usianya ?"
Senyum geli di bibir ki lurah Arya Dipa diartikan lain oleh Damarjaya, bagi pemuda itu senyum lawannya merupakan senyum tak memandang dirinya.
"Uh.. Dia belum mengetahui siapa aku sebenarnya." geram Damarjaya dalam hati, "Walau ia seorang lurah prajurit, kemungkinan itu ia dapat dari menyogok atasannya, atau ia mempunyai kerabat di keraton."
"Baiklah adi, aku akan mulai. Persiapkan dirimu dengan baik." akhirnya ki lurah Arya Dipa mempersiapkan serangan.
Hanya seperempat tenaga yang diterapkan ki lurah Arya Dipa saat memulai bergerak memukul lawan, kepalan tangannya dengan mudah dihindari lawan dengan cara berkisar ke kiri seraya mengayunkan tangan kanannya ke arah leher. Tentu saja serangan tangan mendatar itu mudah dielakan oleh lurah muda itu sembari menyurut dua tindak kebelakang dan kemudian mengisar ke kanan menyerang Damarjaya.
Awal pertarungan dari kedua pemuda yang tak terpaut usia itu masih sebatas penjajagan dari masing - masing. Gerakan dasar dari dua perguruan berbeda latar maupun sumber membuat keduanya selalu berlaku waspada, oleh karenanya setiap kaki berpijak tangan bergerak dan indera waspada dalam membaca setiap serangan lawan saat menyerang atau pun serangan selanjutnya.
Di luar kalangan beberapa pengawal tanah perdikan bangga manakala mengetahui kemampuan dari kepala pengawalnya, mampu mengimbangi seorang lurah prajurit dari kesatuan Wira Tamtama. Namun berbeda dengan ki Gede Sembojan, orang tua yang sudah kenyang dengan berbagai pengalaman di dunia olah kanuragan, mampu membaca tindakan dari ki lurah Arya Dipa yang bergerak melayani kemenakannya.
"Walau ia seorang lurah dan masih terbilang muda, tapi jiwaninya ikut berkembang seperti tumbuhnya padi. Betapa bahagianya orang tua atau gurunya." batin ki Gede, memuji perilaku ki lurah Arya Dipa.
"Jika anakku masih hidup, mungkin sekerang sebesar ki lurah Arya Dipa." lanjut ki Gede Sembojan, menunjukan rona sedih, "Tapi kini yang aku harapkan ialah putra adikku itu. Walau kadangkala sifatnya masih selalu membara."
Kehidupan ki Gede Sembojan memang tak beruntung. Lima belas tahun yang lalu tatkala istrinya melahirkan, sebuah malapetaka menimpanya, putranya terlahir tak normal dan hanya melihat indahnya dunia hanya satu bulan saja. Kematian putranya itu ternyata membuat nyi Gede Sembojan sedih hingga ia sakit - sakitan, sudah banyak dukun didatangkan untuk mengobatinya, entah itu dari tanah perdikan sendiri bahkan dari luar tanah perdikan. Namun semua sudah kehendak Sang Pencipta, istri yang ia sayangi telah menghadap Sang Maha Agung mendahuluinya. Untung tak dapat diraih, rugi siapa menduga ? Semua sudah tergaris di telapak tangan, manusia hanya berusaha, berdoa semata, tapi Gusti Agunglah yang berwenang.
"Oh.. Duh Gusti Allah, tabahkan hati hambamu ini. Semoga engkau memilihkan penerus dari pemangku tanah perdikan ini yang baik dan mengayomi penghuni tanah perdikan Sembojan." doa ki Gede dalam hati, saat sadar kini ia berdiri di tlundak menyaksikan perkelahian kemenakannya dengan lurah prajurit Demak.
Penjajagan kini berubah semakin meningkat seiring gemelincirnya bintang di langit. Tandang dari Damarjaya semakin mantap dan cepat. Serangannya mulai meningkat lebih tajam dan terarah kemana lawan bergerak. Tataran demi tataran perguruan Surya Kencana menggeliat mencari mangsa tatkala diterapkan oleh pemuda itu.
Namun kepala pengawal itu tak menyangka jikalau yang dihadapinya bukan saja seorang lurah muda, melainkan pemuda dari kesatuan Wira Tamtama itu seorang pemuda pilih tanding. Berbagai laku mesu diri dilakukan saat masih di gunung Penanggungan. Bahkan nyawa pemuda itu pernah dipertaruhkan tatkala menghadapi ganasnya sang ular naga Anta Denta, seekoar ular penghuni gua lereng Penanggungan. Karenanya ki lurah Arya Dipa nampak selalu dapat melayani apa yang dilakukan Damarjaya.
Di kala Damarjaya meningkatkan tenaganya selapis, hal itu juga dapat disusul ki lurah Arya Dipa tanpa kesulitan sedikit pun. Saat kecepatan Damarjaya laksana Harimau menerkam lawan, rasa kejut malah ia rasakan ketika lawannya mampu menggerakkan kakinya layaknay kaki yang berpegas.
"Setan alas, orang ini masih mampu mengimbangiku !" geram Damarjaya dalam hati seraya mengembangkan tangan mengarah muka lawan.
Tamparan dari jari - jari terbuka itu begitu cepat dan sudah dekat dengan sasaran hanya sejarak satu ruas jari saja, dan dipastikan akan mengenai sasaran.
"Oh... " kejut Damarjaya.
Tak tahunya tamparan yang keras itu hanya mengenai tempat kosong karena lawan tahu - tahu sudah dibelakangnya seraya menempelkan telapak tangan sesaat dan bergerak menjaga jarak. Sentuhan yang seharusnya merupakan serangan mematikan dari ki lurah Arya Dipa merupakan peringatan semata kalau sebenarnya lurah muda itu telah dapat dengan mudah melukainya bila lurah prajurit itu, berkenan. Tapi pemikiran kepala pengawal tanah perdikan berbeda, sentuhan kecil itu ia anggap angin berlalu saja, sehingga Damarjaya masih melanjutkan serangannya kembali.
Dan sentuhan - sentuhan seperti tadi terulang beberapa kali menimpa kemenakan dari ki Gede Sembojan. Akhirnya kemenakan ki Gede itu sadar kalau lawan memang menghendaki seperti itu, tapi hal itu membuat tanggapan lain yang mana sentuhan itu merupakan tindakan meremehkan dirinya.
Demi untuk membalas ulah dari ki lurah Arya Dipa yang berbuat tak mengenakan itu, maka Damarjaya mulai merambah ilmunya. Sebuah ilmu tata gerak menyilangkan tangan membentuk layaknya sebuah gunting yang menyongsong tubuh lawan.
"Oh... Esmu Gunting." seru ki lurah Arya Dipa sembari melambari tangannya dengan aji Niscala Praba, demi menghindari remuknya tulang tangan.
"Krataaak.... Wussss.. !"
Bunyi benturan tulang tangan terdengar keras manakala pertemuan dari dua tenaga bersinggungan tak terelakan. Bahkan tenaga itu telah menyibakan angin disekitar keduanya. Sedangkan dari keduanya mengakibatkan tubuh keduanya bergeser saling menyurut beberapa tindak kebelakang.
"Imbang... " desis salah seorang pengawal.
"Uh.. Anakmas Damarjaya mampu mengimbangi ki lurah Arya Dipa." kata seorang bebahu dengan pelan.
__ADS_1
Tapi ki Gede Sembojan malah menggelengkan kepala demi mendengar tanggapan dari bebahu yang berada di belakangnya. Mata orang tua itu sangat tajam saat memperhatikan apa yang telah terjadi di depannya. Sebenarnya ki lurah Arya Dipa mampu memunahkan tenaga dari Esmu Gunting jika aji Niscala Praba yang digunakan setengahnya, tapi putra angkat dari ki panji Mahesa Anabrang itu hanya menggunakan seperempat tenaganya saja, supaya lawan tak mengalami cedera parah sehingga akan mempengaruhi hubungan Demak dengan para penghuni perdikan Sembojan.
"Ah.. Betapa bijaknya ki lurah." puji ki Gede dalam hati.
Sementara itu Damarjaya merasakan kedua lengannya sakit menyusup sampai ke tulang. Tadi ia melihat dengan jelas tangannya yang menyilang dapat mengenai tangan lawan, tapi yang ia rasa kemudian tangan lawan bagai dilapisi baja dan anehnya penglihatannya memerhatikan ada sinar kuning berkilauan menyelimuti tangan lawan.
"Ki lurah, tuan memiliki ilmu yang tak aku mengerti, dengan ilmu itu tuan mampu mementahkan aji Esmu Guntingku." kata Damarjaya, yang masih terengah diburu napas.
"Ah.. Kekuatan adi sungguh hebat, hingga membuat tubuhku mental beberapa tindak." sahut ki lurah Arya Dipa, sambil menunjukan napas terengah - engah meniru lawan. Kemudian lanjutnya, "Puaskah adi dengan permainan ini ?"
"Ki lurah, kita akan melanjutkan ke puncak ilmu dari jalur kanuragan kita."
"Oh.. Itu terlalu berbahaya adi, bukankah kita hanya melakukan penjajagan saja ?" ki lurah Arya Dipa berusaha melunakan hati Damarjaya.
"Mengapa ki lurah berkata begitu ? marilah ki lurah." Damarjaya mendesak dan tanpa menunggu jawaban pemuda itu sudah berlaku menerapkan ilmunya.
Tindakan itu membuat ki Gede kaget bukan kepalang, tata gerak yang ditunjukan oleh kemenakannya itu merupakan puncak ilmu dari jalur Surya Kencana. Ilmu yang di ciptakan dari seorang yang disebut kyai Sekar Aji, pendiri padepokan Surya Kencana di sekitar sungai Pideksa. Aji Bledeg Sanga yang nggegirisi dan jarang digunakan oleh ki Gede Sembojan selama ini.
Terpaksa ki lurah Arya Dipa menuruti tindakan dari Damarjaya. Ia pun mulai menerapkan aji Niscala Praba sepenuhnya untuk melindungi tubuhnya saja tanpa tenaga serangan. Lurah Arya Dipa yakin akan mampu menahan gempuran ilmu lawan tanpa memantulkan serangan lawan.
Sejenak kemudian halaman rumah kepala tanah perdikan terdengar suara gemuruh keras menguncang bumi. Aji Bledeg Sanga menyambar tubuh yang diselimuti warna kuning kemilau yang terang benderang hingga bagi yang melihat aka silau. Pemandangan selanjutnya sungguh mencengangkan bagi orang - orang manakal sinar yang menyilaukan itu lenyap, ki lurah Arya Dipa yang sebelumnya berdiri kini tiada terlihat.
"Musnahkah ki lurah Arya Dipa ?" kata prajurit Kerta, dengan rasa was - was.
Tapi sesaat kemudian suara hiruk pikuk melanda orang - orang dikala mata mereka memandang seseorang yang berdiri tepat dibelakang Damarjaya dengan bersedekap menyilangkan tangan.
"Ah.. Syukurlah adi lurah tak mengalami apa - apa." ucap prajurit Wasis lega.
"Benar kakang, aku tadi sudah was - was." kata prajurit Kerta.
"Adi, ilmu adi sungguh mendebarkan jika mengenai seseorang. Bisa dibayangkan akibat yang ditimbulkan akan mengerikan terhadap orang yang dikenainya. Aku mohon kepadamu, adi, untuk menggunakan aji itu dalam keadaan tertentu dan mendesak, demi menghindari korban yang sia - sia."
Demi mendengar suara yang tak ia sangka dibelakangnya, niat hati Damarjaya akan memutar balik seraya melayangkan serangan, tapi batapa terkejutnya manakala tubuhnya tak dapat bergerak sedikitpu .
"Jangan bergerak adi dan lihatlah di depan kakimu." kata ki lurah Arya Dipa.
Suara itu tanpa sadar membimbing mata Damarjaya untuk memerhatikan di depan kakinya.
"Oh... " desuh terdengar dari mulut Damarjaya ketika melihat tanah yang hanya berjarak sekilan itu amblong.
Dan yang membuatnya semakin terkejut ialah amblongnya tanah itu merupakan ciri dari akibat ajinya sendiri.
"Bukannya aku menyombongkan diri, adi. Memang ilmu mu mampu aku kembalikan dengan sesuka hatiku, tapi aku hanya bertindak seperti itu saja, karena aku tak ingin mencelakai seseorang dan itu akan membuat hubungan tanah perdikan Sembojan dan Demak akan renggang." kata ki lurah selanjutnya.
Kata - kata itu bagai air dingin merasuk dalam hati pemuda tanah perdikan Sembojan, kini pikirannya mampu berpikir jernih demi melihat kenyataan yang ia hadapi. Ternyata kemampuan dari lurah muda itu bagai awan yang berada diangkasa sehingga tak mampu ia jangkau. Oleh karenanya pemuda itu dengan suara lirih mengakui kesalahannya.
"Maafkan tindakanku ini, ki lurah. Yang sudah berlaku deksura kepada utusan Demak." ucap Damarjaya.
"Sudahlah, lupakan yang lalu dan berbuatlah lebih baik dikehidupan selanjutnya." kata ki lurah Arya Dipa seraya melepaskan kekakuan tubuh Damarjaya dengan menyentuh titik di bawah tengkuk pemuda itu.
"Marilah kita menghadap ki Gede." ajak ki lurah Arya Dipa.
Seperti anak kecil Damarjaya mengikuti ajakan ki lurah Arya Dipa menaiki tlundak dan menghadap ki Gede Sembojan. Sementara ki Jagabaya yang bisa membaca keadaan telah menyuruh para pengawal untuk istirahat di bangunan sebelah untuk kemudian menikmati hidangan yang telah disediakan. Sedangkan ki Gede, beberapa bebahu, ki lurah Arya Dipa dan lainnya kembali duduk di pendapa.
Beberapa saat ki Gede masih menjamu para prajurit utusan Demak yang akan bertugas menyiapkan bekal bagi para pengawal. Dan suasana sudah mencair seperti sediakala tanpa menyinggung persoalan yang baru terjadi antara Damarjaya dan ki lurah Arya Dipa.
Hidangan sederhana yang dipersiapkan oleh para pembantu ki Gede lah yang kini menjadi pusat perhatian sekaligus sebagai santapan yang memenuhi selera. Ki Gede dengan ramah mempersilahkan kepada ki lurah Arya Dipa dan para prajuritnya serta kepada para bebahu.
__ADS_1
"Silahkan ki lurah dan tuan sekalian." kata ki Gede.
"Terima kasih, ki Gede. Bila setiap hari terus dihidangkan seperti ini, mungkin aku akan minta ijin untuk dijadikan penghuni perdikan ini." ucap prajurit Wasis disertai candaan.
"Oh.. Aku akan senang jika tuan prajurit berkenan tinggal disini." sambut ki Gede Sembojan.
Namun prajurit Jaka Ungaran yang dari tadi diam saja, telah menyahuti kawannya itu, "Kalau kau menetap di sini, bagaimana dengan Sulastri putra ki Demang Bergota ? Bukankah kau oleh ki Demang disuruh meneruskan jabatannya ?"
"Oh itu mudah saja." celetuk prajurit Sambi Wulung.
Hal itu membuat semua mata menuju ke arah putra ki panji Sambipati itu.
"Bagaimana maksudmu, Sambi ?" tanya prajurit Wasis.
Sambil melahap makanannya prajurit Sambi Wulung tersenyum yang kemudian meneguk air dari kendi.
"Wasis itu seorang ksatria yang tak silau dengan jabatan itu, bukankah begitu kawan ?"
"Hm... " desuh prajurit Wasis, "Lalu... "
"Oleh karenanya biarlah salah satu dari kami saja yang menggantikan dia sebagai Demang Bergota, sedang putri ki demang Bergota tetap menjadi istrinya." kata prajurit Sambi Wulung.
"Bagus, itu pemikiran yang cemerlang kawan." sahut prajurit Jaka Ungaran.
"Benar.. "jawab lainnya.
"Huh.. Dasar kalian, memangnya semudah itu." gerutu prajurit Sambi Wulung, yang disambut tawa oleh semuanya.
Begitulah suasana di pendopo bangunan ki Gede Sembojan. Malam pun semakin menanjak, para bebahu pun akhirnya mulai pamit satu persatu pulang ke rumah masing - masing. Sementara Damarjaya minta diri kepada pamannya untuk ngangklang keliling telatah perdikan Sembojan.
"Bolehkah aku ikut, ki Gede dan adi Damarjaya ?" pinta ki lurah Arya Dipa, "Aku ingin mengetahui lebih dekat dengan suasana di perdikan ini."
Kepala pengawal perdikan Sembojan itu memandang paman sekaligus kepala tanah perdikan, untuk mendapatkan jawaban yang akan diberikan kepada ki lurah Arya Dipa.
"Apakah ki lurah tak lelah ?" tanya ki Gede.
"Ah.. Tidak ki Gede, hidangan dari ki Gede tadi sudah memulihkan tenagaku seperti sediakala." jawab ki lurah Arya Dipa.
"Baiklah kalau itu kemauan ki lurah." kata ki Gede, yang kemudian berkata kepada kemenakannya, "Iringlah ki lurah berkeliling telatah ini, ngger."
"Baik paman Gede." sahut Damarjaya, "Mari ki lurah."
Setelah memberikan beberapa pesan kepada anak buahnya, ki lurah Arya Dipa kemudian mengikuti Damarjaya yang akan ngangklang telatah perdikan dengan menunggang kuda. Kuda keduanya dengan perlahan menyusuri lorong - lorong jalan padukuhan induk. Kadang kala bila melewati sebuah gardu perondan dimana terdapat para pemuda petugas ronda, keduanya singgah barang sejenak sekaligus menanyakan keadaan di sekitar gardu perondan.
"Tiada hal yang mencurigakan, kakang Damarjaya." kata Sarju, salah seorang pemuda yang bertugas ronda.
"Syukurla kalau begitu."ucap Damarjaya.
"Oh iya, perkenalkan ini ki lurah Arya Dipa. Senopati yang akan menuntun kita dalam ilmu tempur kelompok maupun perorangan di tanah perdikan kita." kata Damarjaya memperkenalkan orang yang berdiri disampingnya.
Para pemuda di gardu itu mengangguk hormat manakala mengetahui jika yang ada dihadapannya adalah seorang lurah prajurit. Dan ki lurah Arya Dipa pun telah membalas dengan menggangguk ramah.
"Janganlah kalian lengah meskipun perdikan kita tiada suatu gangguan." ingat Damarjaya.
"Baik, kakang."
Setelah memberi pesan maka kedua pemuda itu menaiki kuda dan kembali mencongklang kuda mereka dengan perlahan ke padukuhan selanjutnya. Padukuhan demi padukuhan telah dilalui tanpa ada kejanggalan, yang membuktikan kalau tanah perdikan Sembojan merupakan telatah yang aman sentosa.
__ADS_1