
Belum lagi Kilatmaya bergerak, Nagarupa sudah menjulurkan tubuhnya untuk mencaplok orang bertopeng itu. Namun rupanya Arya Salaka tak tinggal diam. Remaja itu memusatkan tenaga di tangannya dan dengan keras menghantam tubuh ular naga tersebut. Tapi pukulan keras yang dilancarkan Arya Salaka tak berpengaruh banyak. Ular Nagarupa hanya meliuk saja sambil mengibaskan ekornya ke tubuh Arya Salaka dan terus meluncur.
Mendapati pukulannya tak digubris oleh Nagarupa, Arya Salaka yang juga bergelar Bagus Handoko mengingsarkan kaki demi menghindari sabetan ekor, sekaligus menangkapnya. Dengan sekuat tenaga ekor itu dicekal untuk menahan gerakan ular Nagarupa. Hal itu juga mengulur waktu agar supaya orang bertopeng cepat bertindak.
Adu kekuatan terjadi antara Arya Salaka dan Nagarupa jelmaan Blandong Kraksaan. Tangan remaja yang mendapat gemblengan ki Mahesa Jenar dan sedikit tuntunan ayahnya ki Ageng Gajah Sora, menjadikan remaja Banyubiru itu perkasa layaknya kekuatan sepuluh banteng liar. Sedikitpun tangan itu tak mau membiarkan bagian ekor naga lepas dari cengkeramannya. Padahal Nagarupa dengan menggila mencoba mengibas - ibaskan ekornya.
Apa yang dilakukan oleh Arya Salaka itu sempat mendapat perhatian khusus dari guru sekaligus pamannya, ki Mahesa Jenar. Rasa bangga mengalir dalam jiwa Rangga Tohjaya yang telah ikut andil mendidik anak sahabatnya. Tetapi ia harus mengakhiri rasa kagumnya karena harus merendahkan tubuh disaat lawannya hampir menyarangkan pukulan ke kepalanya.
"Awas Mahesa Jenar ! Berkelahilah tanpa membagi perhatian, jika kau tak ingin cepat mampus !" ucap Dibya Manggala, mengingatkan sembari mengayunkan kakinya.
"Uh... " desuh ki Mahesa Jenar sembari beringsut ke belakang dan memutar tubuhnya.
Dalam memutar tubuhnya itulah ki Mahesa Jenar melayangkan tendangan memutar dengan keras. Meskipun lawan tak dikenai, bekas perwira Demak ini bergegas memburu lawan dengan gencarnya. Adu siasat tata gerak terus diupayakan dengan sengitnya oleh ki Mahesa Jenar dan raksasa pulau Sempu.
Dalam pada itu, Kilatmaya yang sudah menguasai dirinya melenting berdiri dan bergegas membantu Arya Salaka, yang terlihat tak mampu lagi menahan kekuatan Nagarupa. Layaknya burung garuda, tangan Kilatmaya mengembang lebar, serta kakinya bak cakar sangat cepat mengarah kepala Nagarupa. Hebat hasilnya, dimana kepala ular tersebut terbanting keras mengenai tanah. Tapi yang merugikan ialah gerakan ekor yang dapat mengibaskan Arya Salaka hingga jauh.
Syukurnya Kilatmaya yang mengetahui adanya tubuh yang terhempas, langsung menotolkan kaki beberapa kali untuk melambungkan tubuhnya mengejar dan menangkap tubuh Arya Salaka. Maka selamatlah remaja putra ki Ageng Gajah Sora tanpa luka.
"Terima kasih, tuan." ucap Arya Salaka.
"Ah.. Itu tak seberapa, adi. Dan janganlah memanggilku tuan, lebih enak panggilah kakang Kilatmaya." sahut Kilatmaya.
"Baik, kakang Kilatmaya."
Kilatmaya maju setindak di depan Arya Salaka, lalu katanya, "Istirahatlah, adi. Biarlah jelmaan naga itu aku yang urus."
Tanpa menunggu jawaban, Kilatmaya yang juga Arya Dipa terlihat bersungguh - sungguh. Sikapnya terkesan mantab dengan kuda - kuda kokoh. Pemusatan nalar budi mengembang berlambarkan do'a kepada Gusti Agung dengan perantara mengungkap ilmu Cakra Paksi Jatayu serta ilmu dari rontal Panembahan Anom. Perpaduan dua ilmu ini dengan kekuasaan Sang Pencipta dapat menjadikan Kilatmaya berubah menjadi Garuda raksasa.
Ilmu Garuda Yaksa membuat semua orang terpana. Bagaimana tidak ? Wujud burung ini benar - benar mendebarkan melebihi wujud Nagarupa. Kibasan sayapnya menjadikan prahara dahsyat. Suara yang ditimbulkan dari paruh, layaknya gema ilmu Gelap Ngampar tingkat teratas.
Ki Dibya Manggala merasakan tubuhnya bergidik mendapati lawan Blandong Kraksaan mampu malih rupa layaknya ilmu dalam pewayangan. Tanpa malu orang dari pulau Sempu itu meninggalkan pategalan dan hilang dibalik semak belukar.
Sementara itu, Nagarupa jelmaan Blandong Kraksaan menjadi beringas. Tubuh naga meliuk - liuk mendebarkan dengan moncong kepala menjulurkan lidah bercabang dari mulutnya. Desisan keras seakan ingin menandingi suara Garuda Yaksa.
Pategalan Banyubiru dan juga dua insan menjadi saksi atas apa yang terjadi. Perkelahian layaknya di alam mimpi benar - benar terjadi di depan mata tajam ki Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Keduanya hanya dapat memperhatikan saja tanpa dapat ikut campur.
Juluran tubuh panjang Nagarupa berusaha menangkap gesit dan lincahnya Garuda Yaksa, namun sangatlah sulit hal itu diwujudkan karena Garuda Yaksa benar - benar luar biasa. Kepakan sayapnya membuat burung itu mengangkasa tinggi dan dengan cepat meluncur menggapai mata Nagarupa menggunakan paruh serta mencakar tubub bagian leher Nagarupa. Dan rupanya Nagarupa tak ingin mengalami celaka dari lawannya, oleh karenanya ekornyalah yang berbicara lebih tajam dan mengancam.
Adanya perlawanan Nagarupa hanyalah menunda serangan mematikan yang dilancarkan Garuda Yaksa. Sesaat Garuda Yaksa kembali mengangkasa lagi dan mencari titik buta lawan.
"Craaak... Craak.. Craak.."
Tiga kali cakaran tak mampu dihindari oleh Nagarupa. Keluhan menyayat membuat naga raksasa itu menggelepar tak karuan. Sekejap kemudian ular naga kembali ke wujud aslinya, yaitu ki Blandong Kraksaan. Orang itu sesaat masih berusaha akan bangun, tetapi tubuhnya tak memungkinkan lagi, dimana luka parah menghiasi dada, lambung dan kakinya.
Di angkasa Garuda Yaksa masih berputar dan saat menukik turun mendekati tubuh Blandong Kraksaan, garuda itu berubah menjadi Kilatmaya kembali.
Kedatangan lawannya yang dapat menumbangkan dirinya, membuat Blandong Kraksaan tersenyum. Watak yang biasanya keras itu mendadak lunak. Malah tangan Blandong Kraksaan menggapai tangan Kilatmaya yang sudah berjongkok disampingnya. Dengan suara bergetar ia berkata.
"Kisanak, tolong bakarlah mayatku dan adiku layaknya yadnya hindu...."
Ucapan itu terputus bersamaan melayangnya jiwa Blandong Kraksaan. Arya Dipa atau Kilatmaya menghela napas. Dan pemuda bertopeng itu meminta bantuan ki Mahesa Jenar dan Arya Salaka untuk menyelenggarakan yadnya dua mayat kakak beradik di pategalan itu juga.
Asap membumbung tinggi bersamaan berhembusnya angin. Asap yang berasal dari sisa pembakaran jasad Blandong Kraksaan dan Blego Trengganis. Sementara tiga jasad anak buah Ular Sendok dikuburkan di pinggiran pategalan. Sedangkan tiga orang menjadi tawanan pengawal kabuyutan Banyubiru, sudah digiring ke pusat padukuhan.
Dengan penuh hormat Arya Salaka meminta penolongnya untuk singgah ke padukuhan Induk. Dan orang bertopeng itu tidak menolaknya dengan syarat tak mau melepaskan topengnya. Maka mereka semua menuju padukuhan induk Banyubiru.
Meskipun banyak orang menatap penuh curiga, tetapi berkat penjelasan dari Arya Salaka dan ki Mahesa Jenar, kecurigaan itu lambat laun sirna dari dada para bebahu kabuyutan Banyubiru. Bahkan salah seorang dengan ramah bertutur sapa mengenai kehebatan orang bertopeng tersebut.
"Angger mungkin di sini seorang yang paling hebat dan sakti. Bahkan Anakmas Mahesa Jenar dan wayah Arya Salaka mempercakapkan apa yang angger perbuat di pategalan sana." ucap salah seorang tetua.
"Oh... Kakek terlalu membesarkan saja. Siapa yang tak tahu kehebatan jalur ilmu adi Arya Salaka dari kakeknya ki Ageng Sora Dipayana ? Juga ilmu paman Mahesa Jenar yang merupakan warisan dari telatah Pengging ?" kata Kilatmaya, merendah.
Demi dirinya dibicarakan, ki Mahesa Jenar terbatuk kecil. Sejenak tangannya meraih kendi dan meneguk air dalam kendi.
"Aku tak menyangka jika nama melambung sampai mana - mana." kata ki Mahesa Jenar, "Padahal aku tidak berbuat apa - apa."
"Memang kakang Mahesa Jenar tidak berbuat apapun, itu setelah di telatah Banyubiru." kali ini Penjawi yang berucap, "Tapi kakang tak bisa mengelak saat berhadapan dengan Lawa Ijo demi menyelamatkan bidadarinya."
Candaan yang dilontarkan oleh Penjawi itu membuat gelora tawa memenuhi rumah kabuyutan Banyubiru. Candaan dan guyonan mewarnai kehidupan di kabuyutan yang sering mendapat gangguan dari beberapa pihak. Bahkan kabuyutan Banyubiru pernah terjadi perang saudara yang mengakibatkan tumbal dan bebanten dari penghuninya.
Suatu kali, di sebuah ruangan tinggalah tiga orang saja. Yaitu Arya Salaka dan ki Mahesa Jenar yang berhadapan dengan Kilatmaya. Ketiganya sepertinya melakukan pembicaraan singguh - sungguh. Apalagi kala itu keris kyai Sangkelat nampak ditengah - tengah ketiganya.
"Kakang Kilatmaya, mengapa kakang tak ingin melibatkan diri secara langsung saat akan terjadinya penyerbuan nanti ?" tanya Arya Salaka.
Sebelum menjawab, Kilatmaya yang memakai topeng tipis menatap ki Mahesa Jenar dan Arya Salaka bergantian. Lalu katanya, "Adi dan Paman, dengan hadirnya kyai Sangkelat ditengah - tengah pertempuran puncak nanti, akan menggiring seseorang yang harus aku hadapi."
"Tunggu dulu, Kilatmaya. Bukankah yang ingin kau hadapi sudah dapat kau lumpuhkan, yaitu orang - orang Ular Sendok ?"
"Hm.. Awalnya hanya mereka, paman. Tapi yang lebih menguatirkan adalah seseorang yang secara langsung menjadikan telatah ini sebagai batu loncatan dalam menggempur Demak."
"He... Apakah apa yang aku dengar tidak salaj, Kilatmaya ?" nada ki Mahesa Jenar bergetar.
Sekilas Kilatmaya menggeser letak duduknya. Ia ingat ketika seorang cantrik yang menemuinya di padukuhan Banyubiru. Cantrik sekaligus penghubung itu melaporkan perintah yang ia emban dari Panembahan Ismaya. Yang mana terdapat tiga pesan untuk Arya Dipa atau Kilatmaya.
Pesan pertama ialah adanya gerakan serentak dari gerombolan tokoh hitam yang akan melurug Banyubiru. Pesan kedua adanya warta gembira akan munculnya ki Ageng Gajah Sora beserta pasukan dari Demak. Dan yang terakhir ialah pasukan aneh dari selatan Banyubiru. Dan dibeberkan pesan itu kecuali darimana sumbernya.
__ADS_1
"Oh.. Benarkah ayah akan datang, kakang ?" Arya Salaka tak dapat menahan gejolak hatinya.
"Begitulah, adi. Paman Gajah Sora terbukti tidak bersalah dalam permasalahan hilangnya dua keris Demak."
Dalam pada itu ki Mahesa Jenar agak heran dengan apa yang dikatakan oleh Kilatmaya. Mengapa orang bertopeng ini dapat berkata seperti itu ? Apakah orang ini seorang prajurit telik sandi Demak ? Ataukah seorang pangeran yang menyamar ?
Tanda tanya besar menggantung dalam benak bekas senopati Demak itu. Orang dihadapannya bagai dilingkari kabut tebal sehingga sulit untuk disingkapkan jatidirinya. Sebagai seorang yang pernah menjadi nayaka praja Demak, sebagian besar ki Mahesa Jenar kenal dengan orang - orang di kotaraja. Tapi tiada yang mirip dengan perawakan dan suara orang yang mengaku sebagai Kilatmaya ini.
"Ilmunya sangatlah tinggi. Mungkin Adipati Anom atau Mas Karebet bukan tandingan orang ini. Hm... Siapa sesungguhnya dia ?" batin ki Mahesa Jenar.
Kesan yang menggurat dalam wajah ki Mahesa Jenar, sebenarnya dapat dibaca oleh Kilatmaya. Karenanya Kilatmaya mencoba berkata lebih lanjut.
"Dan pada nantinya aku yang akan mencoba menahan pasukan dari selatan itu dengan bantuan prajurit khusus dari Demak." Kilatmaya berhenti sesaat, dan katanya lebih lanjut, "Paman percayalah padaku."
"Hm... Maafkan keraguanku tadi, Kilatmaya. Itu semua karena keingintahuanku mengenai jatidirimu." kata ki Mahesa Jenar.
Kilatmaya mengangguk perlahan. Sebenarnya dia pun ingin membuka jatidirinya, tetapi semua sudah terikat dengan janji kepada Panembahan Ismaya. Pantang baginya untuk mengingkari sebuah janji.
Karenanya pemuda bertopeng itu hanya menghela nafas saja. Untung saja tindakan itu tak terlihat oleh ki Mahesa Jenar maupun Arya Salaka. Sehingga tidak semakin menambah perhatian dari kedua orang tersebut.
Pembicaraan itu terhenti sesaat manakala dua wanita memasuki ruangan dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Dua wanita yang satu memang pembantu rumah ki Ageng Gajah Sora, sedangkan satunya lagi seorang gadis remaja yang selisih beberapa tahun dari Arya Salaka.
Dalam pada itu, wajah dibalik topeng tipis dengan bagian bibir berlubang, menunjukan wajah dibalik topeng telah tercekat. Tiada lain dan bukan karena menatap wajah gadis remaja yang pernah ia jumpai di kotaraja Demak. Yaitu putri ki Sembada atau ki Kebo Kanigara uwa Mas Karebet.
"Bukankah dia putri ki Kanigara ?" batin Kilatmaya dalam hati, sambil memperhatikan dengan seksama.
Pemuda itu sedikit terkejut ketika ki Mahesa Jenar mempersilahkannya mencicipi hidangan.
"Oh... Terima kasih, paman." ucap Kilatmaya, agak bergetar.
Diraihlah ketela rebus itu dan melahapnya. Tak lupa wedang sere dari dalam gelas diteguk perlahan. Meskipun masih mempertanyakan keberadaan gadis putri ki Kebo Kanigara, Kilatmaya berusaha mencari jawabannya sendiri.
Untuk sementara disingkirkan pertanyaan yang mengganjal dalam benaknya. Saat ini yang lebih penting ialah melakukan pembicaraan dalam menyongsong datangnya perusuh dan pengganggu di telatah Banyubiru. Dan yang paling penting ialah tugas untuk melayani pasukan dari selatan agar tak dapat memanfaatkan ontran - ontran yang bakal terjadi.
Pembicaraan itu berlangsung hingga tengah malam bersamaan terdengarnya kentongan dara muluk. Kilatmaya atau Arya Dipa mendapatkan tempat istirahat di gandok kanan. Sebuah gandok yang tertata dan bersih. Sebuah amben kecil cukup bagi Arya Dipa untuk memejamkan mata dimalam itu. Meskipun begitu, sebagai seorang pengembara dan prajurit, sudah menjadi kewajibannya untuk selalu waspada.
Malam itu rupanya tiada sesuatu yang mencurigakan. Kejadian di pategalan telah membuat pengawal laskar Banyubiru memperketat penjagaan. Gardu - gardu terisi penuh dengan giliran masing - masing. Lorong - lorong pun tak ketinggalan mendapat pengawasan yang lebih teliti dan sering dilewati. Dan hal itulah yang membuat penghuni merasa tentram dan tenang.
Sejak berakhirnya perang saudara antara Arya Salaka dan pamannya ki Ageng Lembu Sora, keadaan Banyubiru mulai bangkit kembali. Kerusakan berupa jalan, sawah, pategalan dan rumah sudah teratasi dengan baik. Ini semua berkat kesetian para sesepuh yang ikut membimbing Arya Salaka sebagai pemimpin sementara kabuyutan Banyubiru.
Diambang fajar menyingsing, suara ayam berkokok nyaring telah memulai hari yang baru. Penghuni padukuhan induk dan sekitarnya mulai bekerja sesuai bidang masing - masing.
Para petani membekal cangkul dan arit pergi ke sawah maupun pategalan. Pedagan kecil mulai mewarnai pasar - pasar. Para saudagar dengan diiringi pengawal meniti bulak - bulak demi menjual dagangan mereka diluar telatah yang jauh. Pun dengan bebahu, mereka ikut membenahi dan mengerjakan tugas masing - masing.
Sungguh segar air yang nembasuh wajahnya. Menambah semangat di pagi hari itu. Entah mengapa tangannya membelai pipinya sendiri dan bibirnya tersenyum simpul.
Rupanya Arya Dipa teringat kejadian di lereng gunung Penanggungan. Dimana ia berjumpa dengan gadis yang membuat jantungnya berdegub kencang. Gadis yang telah menampar pipinya hingga panas menyengat tiada terkira. Tetapi panas itu berubah menjadi rasa cinta sampai saat ini.
Lamunan indah itu luluh lantah manakala terdengar bunyi seseorang mendekati pakiwan. Belum sempat Arya Dipa memakai topengnya, seorang gadis menjerit lirig seraya menutup mulut mungilnya.
"Kau, kakang... ?!" seru gadis itu.
Arya Dipa begegas memakai topengnya dan memberi isyarat kepada gadis itu, dengan menyilangkan telunjuknya di depan bibir.
"Sttt.... Aku mohon nimas untuk tak membicarakan hal ini kepada siapa pun." pinta Arya Dipa.
"Tapi... "
"Aku mohon, nimas. Ini semua demi adi Mas Karebet." potong Arya Dipa.
Gadis itu mengerutkan alisnya. Ia tak mengerti dengan perkataan teman kakangnya, Mas Karebet atau Jaka Tingkir.
Dalam pada itu Arya Dipa mencoba melihat kanan kiri sekitar pakiwan. Untungnya tempat itu masih sepi. Dicobanya untuk meyakinkan gadis putri ki Kebo Kanigara tersebut. Hanya beberapa hal saja yang ia katakan kepada gadis itu tanpa harus membeberkan semuanya.
Anggukan kepala Endang Widuri membuat Arya Dipa tenang.
"Ingat nimas Widuri, ini harus kau simpan dari siapa pun. Meskipun disuatu hari ayah dan kakangmu berkunjung kemari."
"Iya, kakang Di..."
"Kilaymaya saja." sela Arya Dipa.
"Iya, kakang Kilatmaya." ucap Endang Widuri.
"Hm... Baiklah. Kalau begitu aku akan pergi. Mumpung belum ada orang yang melihat dan berpikir macam - macam."
Kilatmaya pun meninggalkan pakiwan dengan diiringi gelengan kepala Endang Widuri. Gadis kesayangan ki Kebo Kanigara itu kemudian teringat dengan kakaknya.
"Keanehan kakang Kilatmaya serupa dengan kakang Karebet." desisnya lirih, sambil melangkahkan kaki masuk ke pakiwan.
Baru saja Arya Dipa atau Kilatmaya duduk di pringgitan, terdengar derap dua ekor kuda memasuki regol rumah ki Buyut Banyubiru. Dengan tangkas kedua penunggang menghentikan kuda dan turun seketika sambil menyerahkan tali kekang kepada pembantu kabuyutan. Bergegas keduanya berlari menaiki tlundak pendopo.
Rupanya derap kuda tadi telah memancing para penghuni rumah ki Buyut Banyubiru. Arya Salaka ditemani ki Mahesa Jenar dan ki Wanamerta nampak keluar dari ruang dalam menuju pendopo.
"Ada apa Sawungrana dan kau Pandan Kuning ?" tanya ki Wanamerta, dengan cepatnya.
__ADS_1
Kedua orang itu mencoba mengatur napas demi untuk menyusun kata dengan sebaiknya. Lalu Pandan Kuning memberi isyarat kepada Sawungrana untuk melapor terlebih dahulu.
"Ki Wanamerta, pengawal perbatasan yang menjorok ke Rawa Pening telah melihat adanya iringan lengkap dengan perlengkapan perang." lapor Sawungrana.
Tentu saja laporan itu mengejutkan semua orang, bahkan Kilatmaya yang awalnya duduk di pringgitan langsung mendekat. Demikian cepatnya pergerakan gerombolan itu dari apa yang Kilatmaya dengar sebelimnya lewat cantrik penghubung. Dan seketika Kilatmaya dapat menduga laporan yang akan dikatakan oleh Pandan Kuning.
"Lalu bagaimana denganmu, kakang Pandan Kuning ?" kali ini Arya Salaka yang bertanya.
"Saat kami pergi ke hutan sebelah selatan, tanpa sengaja kami melihat adanya pasukan segelar sepapan, adi Salaka." kata Pandan Kuning, "Saat ini Penjawi masih mengamati pasukan itu bersama tiga kawannya."
Arya Salaka dan ki Mahesa Jenar secara bersamaan menatap Kilatmaya. Rupanya apa yang disampaikan orang bertopeng itu benar adanya. Ki Mahesa Jenar yang mempunyai pengalaman dalam dunia keprajuritan dengan cekatan memberi nasehat kepada murid sekaligus putra sahabatnya untuk mengumpulkan laskar Banyubiru.
Dalam pada itu Kilatmaya meminta ijin untuk mendahului melihat siapa saja lawan yang berada di perbatasan arah ke Rawa Pening. Diantar oleh Sawungrana keduanya melesat menggunakan kuda meninjau lawan.
"Hm... Semua golongan hitam hampir ada." desis Kilatmaya, setibanya di atas tebing.
"Kakang Sawungrana, aku rasa adi Arya Salaka dan laskarnya dapat menghadapi mereka." kembali Kilatmaya berkata.
Sawungrana terlihat murung. Karenanya dengan heran Kilatmaya bertanya, "Mengapa kau terlihat murung, kakang ?"
"Lihatlah remaja yang paling depan itu, adi." sahut Sawungrana seraya menunjuk seorang remaja yang menunggang kuda hitam.
Kilatmaya pun bergegas mengikuti arahan itu. Di lihatnya seorang remaja yang perawakannya kokoh. Dan, oh... remaja itu sangat mirip dengan Arya Salaka.
"Siapa dia kakang ?"
"Putra ki Ageng Lembu Sora dari Pamingit, adi. Dialah adi Sawung Sriti."
"Oh... " kejut Arya Dipa.
Sedikit banyak pemuda bertopeng itu sudah mendengar kalau ki Ageng Lembu Sora menginginkan palungguhan yang sebenarnya adalah hak kakaknya. Rupanya kekalahan yang terdahulu tidak diikuti oleh putranya. Malah saat ini putranya berdiri di depan bersama tokoh - tokoh golongan hitam. Dan inilah yang dikwatirkan oleh Sawungrana, yaitu apakah Arya Salaka akan tega berhadapan dengan sepupunya itu.
"Jangan kwatir, kakang. Aku yakin adi Salaka akan mampu berpikir dengan bijak. Walau seandainya keduanya berhadapan." kata Kilatmaya.
Sawungrana mengangguk perlahan.
Dirasa cukup, Kilatmaya kembali ke induk padukuhan. Dirinya mengatakan kepada ki Mahesa Jenar, ki Wanamerta dan Arya Salaka untuk saat ini akan mengunjungi pasukan di dekat hutan sebelah selatan. Dan ketiga orang itu menyetujuinya.
Pergilah Kilatmaya ke hutan selatan. Tetapi ia harus memutar sesuai pesan cantrik penghubung yang datang kala itu. Dalam pesan itu, pasukan Demak yang datang dipimpin oleh seorang Senopati dan ki Ageng Gajah Sora, akan menunggunya. Tepat memasuki tempat dalam pesan, Kilatmaya membunyikan isyarat.
Terdengarlah suara burung bence melengking dengan kerasnya. Tak berselang lama terdengar sahutan serupa sebanyak dua kali. Di susul seorang prajurit dari Wira Manggala menghampiri Kilatmaya.
"Tuan bertopeng sudah ditunggu oleh tuan Senopati." kata prajurit itu.
Kilatmaya bergegas mengikuti prajurit itu menuju tempat berkumpulnya pasukan Demak. Ternyata di situ sudah menunggu pasukan segelar sepapan yang dipimpin oleh senopati pilihan. Dan sebagian dari mereka dikenal oleh Kilatmaya.
Kilatmaya langsung dipertemukan dengan senopati pasukan Demak. Ki Panji Gajah Sora lah yang menjadi pucuk pimpinan dengan di bantu ki Lurah Lembu Sura, Lurah Wiratsemi dan Lurah Bangau Lamatan. Di situ juga terdapat seorang yang ditunggu - tunggu oleh penghuni tanah perdikan Banyubiru, yaitu ki Ageng Gajah Sora.
"Selamat datang di telatah Banyubiru, ki Panji." ucap Kilatmaya terhadap ki Panji Gajah Sora.
Senopati pilihan Demak mengangguk seraya tersenyum, "Iya, tuan Bertopeng. Bantuan tuan terhadap telatah Banyubiru ini sudah kami dengar dari sesepuh Demak. Karenanya kami meminta kembali agar tuan Bertopeng sudi membantu kami."
"Benar apa yang diucapkan oleh, ki Panji Gajah Sora ini. Dan akulah yang paling banyak mengucapkan terima kasih terhadap tuan Bertopeng." imbuh ki Ageng Gajah Sora.
Dengan kata lembut Kilarmaya mencoba mengenyamping atas apa yang ia perbuat di Banyubiru. Semua yang ia lakukan hanyalah sebuah keharusan sebagai titah dari Sang Pencipta. Karena sebagai manusia sudah sewajarnya saling membantu terhadap sesama.
Meskipun sudah mendengarkan perkataan orang Bertopeng yang merendahkan diri, justru membuat ki Panji Gajah Sora dan ki Ageng Gajah Sora semakin menyukai sosok bertopeng tersebut. Keduanya semakin menghargai jiwa rendah hati yang melambari tubuh penuh perbendaharaan ilmu sosok yang bergelar Kilatmaya.
"Baiklah. Saatnya marilah kita memulai pergerakan yang akan membuat orang - orang perusuh itu terkejut." akhirnya ki Panji Gajah Sora berkata setelah mendengarkan perkembangan akhir di Banyubiru dari prajurit teliksandi dan Kilatmaya.
Lalu kata Senopati Demak berlanjut, "Ki Ageng, silahkan ki Ageng bergabung dengan laskar Banyubiru yang akan menghadapi gerombolan tokoh hitam. Ki Lurah Bangau Lamatan dan Jaka Ungaran disertai pasukan Pangatus akan menyertai ki Ageng."
"Terima kasih, ki Panji. Sekarang juga kami berangkat." sahut ki Ageng Gajah Sora.
Orang Banyubiru itu bergegas keluar daei tenda disertai ki Lurah Bangau Lamatan dan Jaka Ungaran. Ketiganya menaiki kuda bersama prajurit pangatus terlihat menuju ujung padukuhan dalam lingkup kabuyutan Banyubiru. Iringan itu terlihat gagah dengan adanya umbul dan rontek pertanda kesultanan Demak.
Sepeninggal ki Ageng Gajah Sora, ki Panji Gajah Sora memerintahkan pasukannya mulai mempersiapkan diri. Tugas pasukan ini ialah serang sergap yang mengarah terhadap pasukan dari selatan. Pakain pasukan disesuaikan dengan medan berupa semak belukar hutan. Pasukan ini dipencar menjadi tiga bagian yang setiap bagian terdiri lebih dari seratus prajurit.
Pasukan utama langsung dibawah ki Panji Gajah Sora dan Kilatmaya sendiri. Sayap kanan dipimpin oleh ki Lurah Lembu Suro bersama Wasis dan Sambi Wulung. Sedangkan sayap kiri diserahkan kepada lurah muda, ki Lurah Wiratsemi disertai prajurit srikandi yaitu Rara Asih putri ki Panji Reksotani.
Di suasana sang surya semakin menanjak, dari arah Rawa Pening sudah terdengar sangkakala yang menandakan perang mulai berkecamuk. Awalnya pasukan golongan hitam layaknya air bah menggulung laskar Banyubiru. Dalam keadaan terdesak itulah tiba - tiba muncul debu membumbung tinggi mengejutkan Laskar Banyubiru dan juga pasukan gerombolan hitam. Namun semakin mendekatnya debu yang terlontar dari kaki kuda menimbulkan rasa suka cita laskar Banyubiru. Terutama saat salah satu penunggang kuda ditunggangi oleh ki Ageng Gajah Sora.
"Ki Ageng Banyubiru tiba... !'
"Ki Ageng Banyubiru tiba... !"
Seruan berulang tersebut memancing perhatian semua pihak. Khususnya bagi Arya Salaka dan ki Mahesa Jenar.
"Oh, syukurlah.. Ayah datang dengan selamat." ucap Arya Salaka disela - srla menghadapi Sawung Sriti.
"Apa yang dikabarkan Kilatmaya, benar adanya." batin ki Mahesa Jenar.
Sementara itu, di dalam hutan juga sudah terjadi perang yang membuat pasukan dari selatan terkejut. Pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Arya Singasari itu tidak menyangka kalau pasukannya yang sudah melakukan gerakan senyap, dapat dikelabuhi pasukan bercorak hijau.
Rupanya pasukan Demak langsung memasang gelar Cupit Urang demi melumpuhkan pasukan Bang Wetan yang hampir saja lolos dari pengamatan pasukan Demak di Purbaya. Ini semua berkat kesigapan telik sandi di bawah pimpinan ki Panji Mahesa Anabrang tatkala mencurigai adanya perahu - perahu nelayan di pesisir kidul.
__ADS_1