BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
36


__ADS_3

"Kakang tak usah kawatir."


Suara langkah kaki dari dalam membuat keduanya terdiam dan menanti kedatangan tuan rumah, tapi keduanya mengumpat dalam hati manakala yang keluar santri yang tadi mempersilahkan keduanya.


"Mohon kisanak berdua bersabar, panembahan Kudus masih khusyuk beribadah." kata santri itu.


Kedua prajurit itu saling berpandangan, lalu sahut prajurit berwajah tampan, "Baik kisanak, kami akan menunggu."


Mulut memang tak bertulang dan kadang kala bertolak belakanh dengan hati, sama dengan prajurit tampan itu.


"Adi tak dapat menyembunyikan isi hatimu yang sebenarnya, adi pasti memaki dalam hati kan...?" celetuk kawannya.


"Jangan kau berisik, kakang." geram parjurit berwajah tampan.


"Hahaha, redakan amarahmu adi, lihatlah santri itu kembali membawa minuman dan makanan." kata kawannya sambil memandang kedatangan seorang santri yang membawa nampan makanan dan minuman.


"Silahkan dinikmati tuan berdua." kata santri itu, mempersilahkan hidangan.


"Terima kasih."


Tak lama kemudian dari arah dalam seorang lelaki berbadan tegap berjalan ke arah dua prajurit itu.


"Maaf menunggu lama, tuan sekalian." sapa orang itu, yang tak lain putra sunan Kudus.

__ADS_1


"Tak mengapa, panembahan." balas prajurit berwajah tampan, yang selanjutnya menerangkan kedatangan mereka ke pondok pesantren Kudus.


"Begitulah, panembahan."


Putra sunan Kudus itu tampak mencerna setiap kata - kata dari tamu yang mengaku utusan dari Demak.


"Apakah bapa sunan membawakan sebuah benda atau apapun yang bisa meyakinkanku, kisanak.?"


"Jika yang dimaksud panembahan adalah aksara sandi, kami akan menunjukkannya." kata prajurit berwajah tampan, seraya mengambil secarik kain dengan tulisan aksara jawa kuno tergores di kain itu, dan menyerahkan kepada panembahan Kudus.


Secarik kain putih dengan tulisan aksara jawa kuno itu membuat putra sunan Kudus menganggukkan kepalanya.


"Baiklah kisanak, kain ini meyakinkan diriku kalau kalian memang diutus oleh bapa sunan, tunggulah aku akan mengambil pusaka itu."


Panembahan Kudus berdiri dan masuk ke ruang dalam, tak lama kemudian panembahan itu muncul kembali dengan membawa bungkusan kain putih bersih dan duduk di depan kedua prajurit Demak.


"Inilah pusaka itu, kisanak. Pusaka berwujud keris dengan nama tetenger, kyai Brongot Setan Kober." ujar panembahan Kudus, "Bawalah dengan hati - hati, dan untuk amannya pusaka ini, sebaiknya simpanlah rapat - rapat di balik pakaian kisanak."


"Baik, Panembahan. Kami akan menjaga dengan taruhan nyawa kami sampai pusaka ini berada di genggaman sunan Kudus."


Akhirnya pusaka keris kyai Brongot Setan Kober itu berhasil dibawa prajurit berpakaian layaknya prajurit pasukan Wira Manggala. Keduanya setelah pamit dan berjalan keluar dari pondok pesantren bumi Kudus, keduanya lantas memacu kudanya bagaikan di kejar hantu, apalagi jika melewati bulakan, kuda mereka seperti tak menapak tanah.


Ratusan tombak dilalui oleh dua prajurit yang sedang memacu kudanya dengan cepatnya, di sebuah pertigaan jalan keduanya membelok ke arah kanan hingga sampai di sebuah gubuk kecil beratapkan daun blarak. Seseorang muncul dari dalam gubuk mengenakan pakaian lurik serta ikat kepala hitam arang, di balik pinggangnya terselip keris menggunakan warangka dari kayu cendana.

__ADS_1


Kedua prajurit itu turun dari kudanya dan mengikat di batang pohon turi yang tumbuh di samping gubuk itu, lalu keduanya menghampiri orang yang keluar dari gubuk dan mengangguk hormat.


"Apakah kalian berhasil membawa pusaka itu.?" tanya orang itu.


"Kasinggihan dawuh, raden. Kami bisa meyakinkan putra sunan Kudus sehingga berhasil membawa kyai Brongot Setan Kober." jawab prajurit berwajah tampan.


"Bagus Lanjar dan kau Danur, kalian akan mendapat kenaikan jenjang keprajuritan di pasukanmu, mari masuk kedalam." ajak orang itu, yang masuk ke dalam gubuk dan diiringi oleh prajurit Lanjar dan Danur.


Di dalam gubuk ketiganya duduk di atas amben yang cukup bila diduduki oleh empat orang.


"Mana pusaka itu.? aku ingin meyakinkan apa pusaka itu memang benar kyai Brongot Setan Kober."


Prajurit Lanjar mengambil bungkusan kain putih yang ia simpan di balik pakaian dan dengan perlahan menyerahkan kepada orang yang disebut seorang bangsawan oleh prajurit Lanjar. Bungkusan itu diterima oleh seorang bangsawan itu yang kemudian membuka keris pusaka tersebut.


Udara hangat memenuhi gubuk, pertanda keampuhan dari keris pusaka kanjeng sunan Kudus memberikan kenyataan yang dirasakan oleh ketiganya, apalagi saat sebilah keris itu ditarik dari warangkanya sinar dari pamornya begitu terang menyilaukan mata yang memandang.


"Cek...cek..cek.. kalian berdua memang bernasib baik, malam ini juga kalian akan merasakan ganjaran dariku.!" ucap seorang yang disebut raden itu, sambil menggerakkan keris itu dengan cepat menggorok kedua leher prajurit tanpa adanya perlawanan sedikitpun.


Kedua prajurit itu ambruk seketika dengan mata melotot dan napasnya terhenti untuk selamanya.


"Jiwa kalian tak akan sia - sia, karena bebanten dari kalian berdua akan menjadi pupuk kelancaran dalam menjalankan rencana ini." gumam orang itu.


Orang itu bangkit dari duduknya, lalu membersihkan noda darah di daun keris kyai Brongot Setan Kober dan memasukan kembali ke warangkanya, sesaat keris itu ditempelkan ke kening sambil mulutnya merapalkan sesuatu yang mengakibatkan udara di dalam gubuk terasa dingin seperti udara di luar gubuk, setelah itu memasukkan keris pusaka ke dalam balik pakaian luriknya.

__ADS_1


Tangannya meraih ublik dalam gubuk, kakinya bergerak keluar dan sejarak satu tombak orang yang di sebut raden itu membalikkan tubuhnya dan memandang gubuk, helaan napasnya bersamaan tangan yang memegang ublik bergerak melemparkan ublik dari biji jarak ke arah atap gubuk. Cahaya terang dari si jago merah mulai terlihat melahap gubuk yang masih tergeletak dua prajurit dari Wira Manggala.


Orang itu kemudian melepas tali kedua kuda dan menepuk tubuh kedua ekor kuda itu, tentu saja tepukan itu mengagetkan hewan tunggangan prajurit Lanjar dan Danur, hingga kedua ekor kuda itu lari tunggang langgang. Setelah apa yang dilalukannya, orang itu bersuit memanggil sesuatu, dan tak lama seekor kuda putih datang dari balik rerimbunan. Kuda itu dielus sesaat lalu dinaiki oleh orang itu, kemudian memacu kuda putih meninggalkan gubuk yang kini hampir habis dilahap api.


__ADS_2