
Pemanggilan pangeran Trenggono dari garis depan memang wajib dilakukan oleh para sesepuh Demak serta ulama, alasan yang pokok dan mendasar dikarenakan adanya satu pendapat dimana para sesepuh dan ulama Demak telah menjatuhkan pilihan demi berkelanjutannya roda pemerintahan Demak Bintara.
Yang mana atas hasil akhir keputusan itu ialah menetapkan putra ketiga dari raden Patah sebagai raja Demak ketiga menggantikan sang kakak yang gugur di selat Malaka. Pangeran dari permaisuri itulah yang kini secara sah menaiki dampar kencana dan mempunyai kewajiban memayu hayuning bawono Demak khususnya.
Oleh karenanya Sultan Trenggono dilantik oleh Sunan Gunung Jati dengan Gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin, namun beliau lebih dikenal dihati kawula dengan sultan Trenggono. Seorang sultan yang digadhang - gadhang akan mengayomi kawula kecil, berlaku adil dalam memutuskan segala kebijakannya serta memajukan kesultanan Demak.
Di tengah pelantikan atau penobatan sang nata di pusat kesultanan, serta suasana di bang wetan masih terasa panas dengan adanya perlawanan yang ingin kembali mewujudkan kembali kejayaan Wilwatikta, maka nayaka praja Demak memutuskan untuk segera mengirimkan pasukan segelar sepapan ke Sogaten yang disebut Purbaya. Telatah yang dahulunya oleh kanjeng sultan Pati Unus merupakan tanah pengawasan yang ditugaskan kepada kyai Rekso Gati, terancam oleh kekuatan Panembahan Bhre Wiraraja yang terdesak mundur dari Tuban.
Pasukan Demak selain dari pusat kotaraja juga diikutkan para pengawal dari beberapa kadipaten, tanah perdikan, dan kademangan. Dan dari tanah perdikan itu salah satunya dari tanah perdikan Sembojan, dimana para pengawalnya dibawah kendali ki lurah Arya Dipa.
"Anakmas, aku titipkan anak - anak perdikan Sembojan ini dalam pengamatanmu." kata ki Gede Sembojan, melepas keberangkatan anak muda pengawal perdikan atau pun orang dewasa yang masih mampu memegang senjata.
"Anakmas, aku titipkan anak - anak perdikan Sembojan ini dalam pengamatanmu." kata ki Gede Sembojan, melepas keberangkatan anak muda pengawal perdikan atau pun orang dewasa yang masih mampu memegang senjata.
"Aku akan berusaha semampuku untuk menjaga mereka, ki Gede." kata ki lurah Arya Dipa, "Kami mengharapkan seluruh penghuni tanah perdikan Sembojan ini untuk memanjatkan do'a kepada kami semuanya, sehingga kami kembali dengan selamat."
"Tentu anakmas, kami akan senantiasa memanjatkan do'a kepada Gusti Agung."
Setelah itu pasukan dari perdikan Sembojan mulai bergerak ke selatan yang mana akan bergabung dengan pasukan lainnya. Iringan pasukan yang nampak gagah dengan umbul, rontek dan panji bercirikan tanah perdikan Sembojan, membuat mereka yang memandang akan bangga. Tapi selain itu pun ada juga yang merasa sedih atau pun takut bilamana mereka yang berangkat itu tak kembali lagi.
"Tabahkan hatimu, nduk. Berdoalah agar suami mu itu kembali dengan selamat." kata lelaki yang rambutnya sudah beruban kepada anak gadisnya.
Anak gadisnya hanya mengangguk walau air mata tetap mengalir membasahi pipinya. Suaminya yang baru menikah dengannya itu seorang suami yang baik dan lembut dalam bertutur kata dengannya, oleh karena itu betapa sedihnya jika seorang suami yang ia cintai itu akan pergi ke medan perang.
Tak hanya gadis itu saja yang sedih, ada seorang ibu yang mengkwatirkan anaknya, atau seorang anak yang menangis meraung - raung tak ingin bapaknya pergi tanpa mengajakanya. Dan masih banyak lainnya, tapi demi panggilan ibu pertiwi mereka dengan langkah mantap terus maju ke depan.
Derap langkah pasukan dari tanah perdikan Sembojan semakin lama semakin jauh dari padukuhan, dan kini langkah mereka menapak di jalan antara bulak panjang. Ki lurah Arya Dipa berada di depan pasukan didampingi olah prajurit Wasis dan kepala pengawal tanah perdikan Damarjaya. Sementara prajurit lainnya membaur menjadi satu dengan pengawal tanah perdikan lainnya.
Ratusan tombak dilalui tanpa adanya hambatan yang berarti, pasukan itu sampai dipinggir sungai. Pasukan itu berhenti manakala ki lurah Arya Dipa mengangkat tangannya.
"Malam ini kita bermalam disini. Perintahkan pasukan untuk mempersiapkan semuanya." perintah ki lurah Arya Dipa.
"Baik, ki lurah." sahut prajurit Wasis.
Sepeninggal prajurit Wasis, ki lurah Arya Dipa duduk di atas batu sebesar kerbau seraya melayangkan pandang keseberang.
"Adakah yang ki lurah pikirkan ?" tanya Damarjaya.
Helaan napas keluar dari mulut lurah muda itu, memang lurah anak angkat ki panji Mahesa Anabrang itu memikirkan seorang wanita yang membuat dirinya terpesona. Ki lurah Arya Dipa teringat awal pertemuanny dengan sang gadis tatkala masih di pertapaan Pucangan, yang mana waktu itu dirinya disangka akan mengintip sang gadis, sehingga dirinya mendapatkan pukulan di pipinya.
"Ki lurah.. " kembali Damarjaya memanggil.
"Oh... Kau adi Damarjaya." ki lurah gelagapan dan sadar dari lamunannya.
"Maaf bila mengganggu ki lurah."
"Oh.. tak apa, adi." kata ki lurah Arya Dipa, "Aku hanya teringat dengan kawanku."
Walau tak mengatakan sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh ki lurah Arya Dipa, Damarjaya dapat memahami isi hati lurah muda itu, oleh karenanya ia hanya tersenyum sembari ikut duduk memandang arus sungai.
__ADS_1
"Kakang lurah, Air ini sangat berhubungan erat dengan ikan yang mana antara ikan dan air itu mengisi kehidupan."
Dahi ki lurah Arya Dipa mengerut atas apa yang diucapkan oleh Damarjaya.
"Oh.. Kiranya apa yang kau maksudkan, adi ?"
"Begini kakang lurah, maaf kata ini pun aku dengar dari orang tua." sejenak pemuda itu berhenti sedangkan tangannya meraih pecahan batu dan melemparkan ke sungai, lalu kemudian lanjutnya, "Di dunia ini Gusti Agung menciptakan malam dan siang, berjenis hewan jantan dan betina, besar - kecil, tua - muda berpasangan. Dan kita sebagai manusia sudah sepantasnya jika menyukai lawan janis kita sebagai lelaki, yaitu wanita."
"Ah.. Adi terlalu berbelit - belit." tukas ki lurah Arya Dipa sambil menundukan kepala.
"Hahaha Kakang Ikan dan Air sudah menjadi kodrat Sang Nata Buana saling mengisi di alam ini, dan begitu pun dengan kakang yang aku yakini sedang memikirkan seorang kenya." kembali Damarjaya berkata.
"Kakang lurah, bila aku tahu siapakah gadis itu ? Bila gadis itu di tanah perdikan Sembojan, biarlah paman Gede yang akan melamar untuk kakang."
"Ah kau ini, memang aku memikirkan seorang gadis yang aku cintai, dan ia pun menanggapi cintaku ini sejak beberapa bulan dari pertemuannku dengannya. Tapi dia tidak bertempat di perdikan Sembojan, melainkan di kotaraja. Ia juga seorang prajurit srikandi." akhirnya ki lurah Arya Dipa berkata sebenarnya.
"Oh... Lalu apakah kakang sudah mempunyai rencana untuk meminangnya ?"
"Bila tiada halangan setelah tugas ini aku kan meminta orangtua ku untuk melamar kepada keluarganya."
"Hm.. Ingat kakang, jika hal itu terjadi jangan lupa mengundangku."
"Hahaha..." hanya tawa itulah yang keluar.
Di saat ki lurah Arya Dipa dan Damarjaya berbincang, tak berselang lama datang sebuah pasukan yang dari ciri digunakan menandakan pasukan dari tanah perdikan Menoreh. Pasukan itu dipimpin oleh ki panji Trunopati dan pemimpin pengawal tanah perdikan Menoreh.
Segera ki lurah Arya Dipa menyambut kedatangan pasukan Menoreh, kemudian membaurkan pasukan itu di sekitar tepian sungai.
"Tadi pagi, ki panji. Setelah sang fajar mulai menggeliatkan sinarnya." jawab ki lurah Arya Dipa.
"Ki lurah, tahukah kau tentang hilangnya dua pusaka Demak dari gudang perbendaharaan ?" kembali ki panji Trunopati bertanya.
Tentu saja pertanyaan itu bagai kalajengking yang menyengat tubuh ki lurah Arya Dipa. Pusaka peninggalan Majapahit itu merupakan sipat kandel kerajaan yang disimpan di gedung yang dijaga ketat oleh pasukan Wira Tamtama, dan kala itu dikepalai oleh seorang rangga yang digdaya, yaitu ki rangga Tohjaya.
"Benarkah itu, ki panji ? Sesungguhnya aku belum mendapat warta itu." keterkejutan terdengar dari suara ki lurah Arya Dipa.
Ki panji menganggukan kepala seraya mendesuh, "Aku pun juga tak habis pikir, ki lurah. Jikalau bukan seorang maling aguna, tak mungkin orang itu kabur dari ki rangga Tohjaya. Padahal ku tahu bahwa ki rangga Tohjaya seorang perwira yang memiliki segudang ilmu kanuragan."
"Lalu bagaimana nasib selanjutnya dengan ki rangga Tohjaya, ki panji ?" nada ki lurah Arya Dipa agak cemas.
"Ah.. Ia memang seorang perwira, demi mempertanggung jawabkan kejadian itu ia rela pergi melacak keberadaan maling Aguna itu. Selama belum menemukan kedua pusaka itu, ia tak akan menginjakan kaki di kotaraja."
"Oh.. Betapa berat tugas itu." desuh putra angkat ki panji Mahesa Anabrang, "Andai aku tak ditugaskan melawat ke timur, tentu aku akan membantu ki rangga Tohjaya."
"Hm.. Aku pun juga sepaham denganmu ki lurah, tapi kita sebagai prajurit hendaknya selalu menjunjung setiap tugas yang dibebankan dipundak kita." sahut ki panji Trunopati.
Pemuda yang sebenarnya juga cucu seorang tumenggung Demak di masa raden Patah itu, hanya mampu menghela napas saja. Memang kejadian yang berada disekitarnya tak pernah ia duga sebelumnya. Dirinya dengan ki rangga Tohjaya yang dulu pernah menjadi pengawas kelompok prajurit, penuh kenangan tersendiri bagi anak muda itu. Kadangkala dirinya dan ki rangga Tohjaya melakukan latihan kanuragan dikala waktu luang, sehingga dirinya merasa kagum dengan perwira murid ki Ageng Pengging, yang mempunyai ilmu Sasra Birawa.
"Bila di dalam perjalanan aku mendengar keberadaan pusaka itu, aku akan berusaha mengabarkan kepada ki rangg Tohjaya." batin ki lurah Arya Dipa, "Tapi dimana ia berada ? Pasti ia akan berpindah pindah dalam pengembaraannya."
__ADS_1
Persoalan itu hanya terbawa ke renungan di hati pemuda itu, karena malam semakin dalam ia pun berusaha melelapkan matanya setelah sepanjang hari melangkahkan kaki dengan pasukan Sembojan.
Tapi walau mata terpejam namun pikiran tak bisa diajak berdamai, rasa penasaran muncul menyeruak ke benak dan menimbulkan dugaan tentang siapa yang melakukan pencurian pusaka sakti tersebut.
"Apakah ini salah satu tindakan orang bang wetan ? atau kabar yang pernah aku dengar dari ayah itu ? dimana tersebar warta dari kelompok penjahat yang mengatakan, siapa yang bisa menguasai kedua pusaka itu akan menjadi penguasa di tanah jawa ini." batin ki lurah Arya Dipa.
"Jika ini tindakan orang - orang kanuragan garis kiri, ini akan menjadikan kekacauan yang mendebarkan. Oh Gusti Agung, kenapa manusia ini terlalu serakah dengan kekuasan ? Sehingga mengesahkan segala cara meskipun menyalahi paugeranMu." suara lirih penuh kesedihan meluncur dari ki lurah Arya Dipa.
Semuanya itu hanya terbawa oleh semilir angin malam yang membuat rasa dingin menyerang kulit, walau tubuh sudah diselimuti kain panjang. Selain itu nyamuk pun ikut menggoda dengan liarnya menggigit gigit dan menyedot cairan darah manusia.
Tak terasa kemudian suara kokok ayam hutan memecah keheningan ujung malam, pertanda sang surya akan segera menggantikan pekerjaan sang malam. Prajurit dan pengawal yang bertugas sebagai juru adang segera bergegas mempersiapkan sarapan bagi pasukan itu, demi menjaga kekuatan pasukan yang akan segera melanjutkan langkah mereka ke timur.
Selepas mengisi tenaga di pinggiran sungai yang berada di timur gunung merapi, maka kedua pasukan dari Menoreh dan Sembojan mulai bergerak bak liukan ular raksasa ke arah selatan. Semakin ke selatan pasukan itu bertambah banyak dikarenakan penggabungan dari beberapa tanah perdikan atau pun kademangan dan kabuyutan. Apalagi ketika sampai selatan Prambanan yang mana di kademangan itu telah menunggu pasukan segelar sepapan dari Demak, dengan tumenggung Suranata sebagai panglima perang.
Oleh karenanya di sebuah tenda khusus, para senopati dikumpulkan untuk merundingkan rencana yang akan dilakukan oleh pasukan Demak.
"Kisanak sekalian, syukurlah kita sampai di kademangan Prambanan ini dengan selamat." ki tumenggung Suranata mengawali pertemuan itu.
Semua orang dengan tenang menunggu selanjutnya apa yang akan dijabarkan oleh panglima tertinggi pasukan Demak.
"Aku yang ditunjuk kanjeng Sultan Demak sebagai panglima perang kali ini, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas sumbangsih yang akan diberikan oleh para perwakilan dari tanah perdikan, kabuyutan dan kedemangan di telatah Demak ini." lanjut ki tumenggung Suranata, "Karena kali ini bukan hanya harta semata yang akan kita unjukan demi kelangsungan negeri kita, melainkan nyawa pun akan kita korbankan."
Perasaan semua senopati serta para pemimpin tanah perdikan maupun kademangan, sama dan sudah mengerti akan kata - kata dari ki tumenggung Suranata. Demi negeri memang segalanya akan diserahkan tanpa terkecuali.
"Tujuan yang kita capai masih jauh di timur gunung Lawu, yaitu di Purbaya. Seperti yang kisanak semua ketahui, pasukan bang wetan yang ingin kembali mewujudkan kejayaan Majapahit, mulai lagi bergerak mendekati alas Caruban." Sejenak ki tumenggung Suranata berdiam seraya memandang kesegenap mereka yang hadir.
"Agar kisanak mendapatkan gambaran, ki panji Mahesa Anabrang sebagai perwira dari telik sandi akan memaparkan kepada kisanak sekalian." kata ki tumenggung Suranata, yang kemudian memberikan isyarat kepada ki panji Mahesa Anabrang untuk memberi keterangan.
"Terima kasih, ki tumenggung." sahut ki panji Mahesa Anabrang yang kemudian mengatakan keterangan penting mengenai situasi alam alas Caruban, banyaknya pasukan bang wetan maupun perihal lainnya.
Penuturan ki panji Mahesa Anabrang itu kadangkala membuat senopati dan pemimpin kelompok mengerutkan kening. Saat yang lain rasa geram menghujam hati, ketika ki panji Mahesa Anabrang menceritakan penderitaan yang dialami oleh kawula kecil yang dilewati oleh pasukan Panembahan Bhre Wiraraja.
"Sudah jelas bagi kita kalau orang - orang dari Panembahan Bhre Wiraraja itu hanya berkedok dengan gemilangnya Wilatikta, namun tak bisa dipungkiri kebanyakan dari mereka hanya mencari kepuasan pribadi semata. Dan kawula yang menjadi korban." kata ki tumenggung Suranata, setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh perwira telik sandi.
"Kisanak sekalian. Besok pasukan ini akan bergerak ke timur, kita akan menyusuri jalur selatan yang mana kadipaten Ponorogo sebagai pancadan utama dari langkah kita."
"Maaf ki tumenggung." kata seorang lelaki berbadan pendek namun gempal, "Mengapa kita tidak melewati Pengging saja, lalu menyusuri alas Mantingan ?"
"Oh ki panji Sambipati, memang bila kita lewat Pengging jalan yang dilalui akan mudah, tapi apakah ki panji sudah melupakan peristiwa antara Demak dan Pengging ?"
"Masih jelas dalam ingatanku, ki tumenggung. Bukankah itu sudah dan berlalu beberapa tahun yang lalu ? Lalu adakah keterkaitannya dengan pasukan ini ?" kata ki panji Sambipati.
"Begini, ki panji. Memang telatah Pengging dewasa ini lepas dari ke tata praja nagari sejak kematian ki Ageng Pengging Anom. Namun sebenarnya para penghuninya bagai macan yang terlelap oleh sirep." sejenak ki tumenggung menarik napas.
"Kakang tumenggung, hendaknya kakang jangan bermain kata." celetuk ki tumenggung Gagak Kukuh.
"Adi tumenggung dan kisanak semua, Pengging merupakan salah satu telatah yang mana dahulu merupakan wewengkon dari adipati Handaningrat, menantu dari prabu Brawijaya. Dan sudah umum sebagai pengetahuan kalayak ramai, jika penguasa selanjutnya yang memilih menjadi seorang ulama daripada adipati berseteru dengan kanjeng Sultan Jimbun atau raden Patah, yang kemudian pralaya di tangan kanjeng Sunan Kudus."
"Benar yang ki tumenggung katakan itu, lalu kemudian ?" tanya ki tumenggung Pideksa.
__ADS_1
Sebelum menjawab, panglima pasukan Demak itu mengambil gelas dari tanah dan meneguk air hangat dari dalam gelas, lalu barulah ia melanjutkan.