
Rasa panas menyengat yang sangat dirasakan oleh Arya Dipa. Tubuhnya bagaikan tersiram lahar panas tumpahan gunung berapi hingga anak itu menjerit - jerit dan tingkahnya tak karuan.
Sementara itu ditempat ki Mahesa Anabrang dan resi Puspanaga yang sedang menunggu, tampak kegusaran yang sangat menyelimuti hati keduanya. Apalagi saat terdengar jeritan yang menyayat dari arah gua, hati keduanya sudah tak tahan lagi untuk menghampiri serta mengetahui apa yang terjadi pada diri Arya Dipa. Maka keduanya setelah saling pandang, keduanya lantas bergerak dengan loncatan panjang yang disertai ilmu peringan tubuh.
Betapa terkejutnya kedua orang tua itu, manakala kedua orang tua itu melihat apa yang ada dihadapan mereka.
" Resi, inikah wujud dari Anta Denta itu.?" tanya ki Mahesa Anabrang, yang memerhatikan bangkai ular naga di depan gua.
Tapi sang resi diam saja, orang tua itu tertegun tatkala memerhatikan kobaran api yang menyelimuti seorang anak yang ia kenal sedang berlari memasuki gua.
"Ada apa, resi.?" tanya ki Mahesa Anabrang.
"Dipa..Dipa, ki. Dalam keadaan berlari memasuki gua, ia seperti diselimuti kobaran api. Ayo kita kesana." kata resi Puspanaga, sekaligus berlari ke mulut gua.
Tapi ketika orang tua itu hampir sampai mulut gua, betapa terkejutnya. Sebuah kekuatan yang tak kasat mata telah menghalangi dan menghentikan pergerakan orang tua pemimpin pertapaan Pucangan itu.
__ADS_1
"Apakah ini, resi Puspanaga.?" tanya ki Mahesa Anabrang, setelah ayah angkat Dipa itu merasakan adanya kekuatan yang menghalanginya memasuki mulut gua.
"Duh Gusti Agung, inilah kuasaMu. Entahlah ki, rupanya mulut gua ini telah terselimuti oleh sebuah kekuatan penghalang layaknya dinding tebal." jawab resi Penanggungan, pasrah.
Di dalam gua, Arya Dipa yang sekujur tubuhnya terselimuti kobaran api, tanpa sadar menghampiri sebuah tumbuhan yang berbunga layaknya bunga teratai dengan warna keemasan dan daun berwarna merah menyala.
Sebuah kekuatan yang tak nampak telah menuntun anak itu untuk menggapai bunga itu dan memetiknya, lalu memakannya.
Kunyahan bunga itu dengan perlahan memasuki tenggorokannya dan terus ke dalam lambung anak itu. Sesaat kemudian anak itu tersadar lagi dan ia kembali menjerit merasakan hawa panas yang tak terkira. Tapi sesaat kemudian, sebuah hawa yang sejuk berputar - putar dalam tubuhnya yang kemudian menyebar keseluruh tubuhnya. Dan dengan perlahan kobaran api yang menyelimuti Dipa menghilang.
"Duh Gusti Agung, ku haturkan syukur yang tak terkira atas lindunganMu." desis Dipa, yang duduk bersila dengan tangan yang masih memegang tangkai bunga.
"Terima kasih, Gusti Agung." ucap anak itu kehadapan Sang Nata.
Lalu anak itu bangkit berdiridan memerhatikan sekeliling gua itu, ternyata di ujung gua itu memiliki pintu di lain sisinya. Setelah itu kemudian ia bergegas kembali menyusuri lorong menuju pintu mulut gua dimana ia memasuki pertama. Wajah anak itu tampak cerah tatkala di depan mulut gua ada dua sosok orang tua, yaitu resi Puspanaga dan ki Mahesa Anabrang.
__ADS_1
"Eyang, ayah..." teriak Dipa sambil berlari memeluk kedua orang tua itu.
"Bagaimana keadaanmu, ngger.?" tanya ki Mahesa Anbrang, yang mencemaskan keadaan anak angkatnya.
"Aku tidak apa - apa ayah, bahkan aku merasakan adanya kesejukan dalam tubuh ini."
"Baiklah kalau begitu lebih baik kita segera kembali ke pertapaan." ajak resi Puspanaga.
Namun Dipa sesaat berlari mendekati bangkai naga Arya Denta, dan mengambil sebuah benda yaitu bekas tonjolan sisik bergaris panjang mirip sabuk.
"Apa itu, Dipa.?" kini giliran resi Puspanaga bertanya.
"sisik naga Anta Denta eyang. bolehkah aku membawanya untuk aku jadikan sabuk.?"
"Hehehe...tentu ngger."
__ADS_1
Lalu ketiganya bergegas kembali ke pertapaan Pucangan.
Kini gua itu tampak sepi, bahkan serangga pun seperti lenyap di telan bumi. Hanya suara desau bayu saja yang hilir mudik memenuhi. Malam pun berlalu sesuai kodratnya digantikan dengan kemunculan sinar bagaskara di ujung langit timur.