
Tanpa berlama - lama, Raden Sanjaya dan ki Ageng Sungsang Bawono bergerak dengan diawali kuda - kuda yang terlihat kokoh dan sama. Tindakan itu merupakan isyarat kalau adanya gesekan melalui kekerasan tak dapat dielakan lagi. Karenanya, Arya Dipa dan Panembahan Anom sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi guru dan murid dari perguruan Sungsang Bawono.
.
Gerakan selanjutnya dapat dipastikan berupa ancaman demi ancaman berupa tindakan nyata. Tata gerak penuh tenaga menyeruak mengganas penuh amukan melibat lawan - lawannya. Sesekali terlihat lawan mencoba mengelak menghindari terjangan, dan bila memungkinkan akan membalas serangan secara mengejutkan. Serulah jadinya perkelahian antara Arya Dipa dan Panembahan Anom yang menghadapi Raden Sanjaya dan gurunya, ki Ageng Sungsang Bawono.
.
Pemuda bangsawan putra Pangeran Singasari dari Tumapel itu, sejak awal sudah penasaran dengan kemampuan Arya Dipa. Apalagi, begitu mudahnya lawannya itu dapat mengalahkan Bangau Banaran dan Duaji. Padahal, kedua kawannya itu bukanlah seorang yang memiliki ilmu rendah. Oleh sebab itu, Raden Sanjaya tidak menganggap enteng lawan yang sebaya dengannya itu.
.
Sama halnya dengan Arya Dipa. Pemuda itu yakin kalau lawannya seorang pilih tanding dan memiliki berbagai ilmu yang tertimbun dalam diri Raden Sanjaya. Maka tiada jalan lain kecuali bersikap waspada serta menatap tajam setiap gerakan yang diluncurkan oleh lawan.
.
"Hebat juga kau, kisanak !" seru Raden Sanjaya, saat gempurannya berhasil dihindari lawan.
.
"Ah... Tidak, Raden. Itu semua berkat kebaikan Raden yang hanya menggunakan tenaga seperempat saja." ucap Arya Dipa, merendah.
.
Terlihat wajah Raden Sanjaya menyeringai. Tangannya dengan sebat meluncur deras ke dada Arya Dipa. Namun kembali Arya Dipa mampu mengelak dengan memiringkan tubuhnya disertai pukulan menyamping. Kini giliran Raden Sanjaya dapat menghindari sembari membalas serangan lagi. Adu pukulan dan elakan terjadi beberapa kali disertai lincahnya kaki mengisar atau pun mendupak tubuh lawan.
__ADS_1
.
Tataran demi tataran meningkat seiring berjalannya sang surya, yang semakin merendah di ujung langit barat. Dua pemuda itu bagai seekor burung yang terbang diangkasa, saling berebut mangsa. Sayap - sayap mengepak, kaki dengan cakar kokoh sebagai senjata mulai mencengkeram penuh hasrat melukai satu dengan lainnya. Juga paruh yang tajam ikut menyobek - nyobek bagian tubuh yang tidak tertutup oleh pertahanannya.
.
Kaki - kaki melenting layaknya belalang, mengejar atau pun menghindari sergapan lawan. Meluncur dari satu tempat ke tempat lainnya, sembari melayangkan serangan ke titik terlemah lawan. Hebat dan tangkas kedua pemuda itu. Meskipun peluh sudah membasah, tak nampak kalau rasa lelah menghinggapi wajah - wajah pemuda itu.
.
Suatu kali, Raden Sanjaya melenting ke belakang untuk memancing lawannya. Dan gayung pun bersambut, Arya Dipa mengejar langkah dan memasuki perangkap Raden Sanjaya. Rasa girang demi melihat lawannya masuk dalam perangkap yang ia buat, langsung dipergunakan dengan sebaik - baiknya.
Tubuh Arya Dipa yang masih di udara, segera mendapat serangan tidak terduga dari Raden Sanjaya. Sebuah gerakan cepat diperagakan oleh putra Pangeran Singasari, melalui gerakan kaki menghadap ke atas, di mana tepat tubuh Arya Dipa berada.
.
.
Tubuh Arya Dipa terhempas jadinya. Walau dirinya dapat dikenai kaki lawan dan terhempas, kesadarannya segera mencoba agar tubuhnya tidak terhempas begitu saja. Dengan gerakan indah, tubuh itu memutar dua kali dan ketika mendekati tanah, kedua tangan ia gunakan untuk menotol dan melontarkan tubuhnya ke udara. Tak hanya itu saja, tubuh itu berputaran dan dengan cepat meluncur menggebrak Raden Sanjaya.
.
"Dessss.... !"
.
__ADS_1
Kaki Arya Dipa membentur pertahanan kedua tangan Raden Sanjaya yang disilangkan di depan dada. Akibatnya, Arya Dipa membal kembali dan berhasil mendarat dengan kedua kakinya. Sementara Raden Sanjaya terdorong empat langkah ke belakang.
.
"Hm... Meskipun ia dapat kukenai dengan tipuan seranganku, ia dapat membalikan serangan secara tak terduga." batin Raden Sanjaya, "Ternyata tidak hanya orang bercambuk saja, ia juga merupakan salah satu yang harus diperhitungkan di masa yang akan datang.
.
Terdiamnya Raden Sanjaya, tak lepas dari pantauan gurunya. Orang tua itu tadi juga sempat memperhatikan bagaimana muridnya dapat diimbangi oleh seorang pemuda yang menjadi lawannya.
.
"Murid siapa pemuda itu ?" tanya ki Ageng Sungsang Bawono dalam hati.
.
"Apa yang kau pikirkan, ki Ageng ?" tanya Panembahan Anom, sambil terus melakukan serangan.
.
Tapi pertanyaan itu, ia jawab sendiri, "Hm.. Aku rasa kau memikirkan siapa lawan muridmu itu. Benarkan ?"
.
Hanya geraman dan balasan serangan saja yang tunjukan oleh ki Ageng Sunggsang Bawono. Meskipun apa yang diucapkan oleh Panembahan Anom benar adanya, tetapi ia terlalu tinggi hati untuk mengiyakan. Lebih baik dirinya diam dan memusatkan kemampuannya untuk melumatkan musuhnya itu.
__ADS_1