BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
Kitab 1 - Eps 07


__ADS_3

Pada siang itu, murid Pertapa Penanggungan itu istirahat di


sebuah kedai yang berada padukuhan pinggir tlatah tanah perdikan Anjuk Ladang.


"Silakan kisanak, mau pesan makan apa.?" Tanya


pemilik kedai, dengan ramah.


"Terima kasih ki, saya ingin nasi megono serta air


kelapa muda." Sahut Ki Wilis yang lalu duduk dibangku bambu dekat dengan


jendela.


"Baiklah tuan, tunggu sebentar lagi akan saya siapkan


pesanan tuan."


Dan tidak lama kemudian apa yang dipesan Ki Wilis terhidang


di hadapannya. Dengan lahapnya orang Ki Wilis menikmati nasi megono yang masih


mengeluarkan asap dan segarnya air kelapa hijau itu.


Tapi suasana yang tenang itu terusik dengan datangnya anak


pemilik kedai itu. Kedatangan Yang Buru-buru serta dengan raut wajah gelisah


dan ketakutan, sudah mencuri perhatian Ki Wilis.


"Bopo, lebih baik kedai ini tutup saja.!"


Teriakannya dengan kegelisahan mencengkam hati pemuda itu.


“Memangnya ada apa Jura.?”


“Gawat bopo, Ki Jalak Ireng yang kalah sabung ayam dengan


anak Ki Bekel ingin melumatkan padukuhan ini, lebih baik kita segera tutup dan


pindah." Jelas Jura, yang masih ketakutan dan tubuhnya yang mulai gemetar.


Pemilik kedai itu pun langsung terkejut mendengar warta dari anaknya itu.


Kemudian katanya,"Apakah ki Jagabaya Tidak Bertindak,


ngger.?


"Sudah bopo, tapi Ki Jagabaya bukan tandingan murid Kyai


Bergotar itu, bahkan para bebahu pun dengan mudahnya bisa dirobohkan."


"Baiklah Kalau Begitu cepat kau kemasi barang serta


dagangan kita, bopo akan berbicara dengan kisanak itu." Ucap pemilik kedai


akhirnya.


Dengan berat hati pemilik kedai itu menghampiri Ki Wilis,


yang tidak mengetahui keadaan sebenarnya.


"Tuan, mohon maaf saya mengusir tuan, namun ini semua


demi keselamatan tuan, tuan silahkan pergi dari tempat ini.”


“Memangnya ada apa ki.?"


"Sudahlah tuan, cepatlah pergi dari sini, sebelum orang


yang bernama Ki Jalak Ireng tiba kemari."


Tidak ingin menyusahkan pemilik kedai itu, maka Ki Wilis


bangkit dari bangku dan merogoh keping uang dari kampil serta membayar makanan


danminuman yang sudah dimakannya.


"Baiklah ki, aku akan pergi. " Kata Ki Wilis serta


menjulurkan tangan yang memegang beberapa keping uang untuj membayar.


"Tidak perlu tuan, makanan serta minuman itu aku kasih


cuma-cuma." Pemilik toko itu menolak keping uang pembayaran dari Ki Wilis.


"Terima kasih ki atas kebaikannya." Ucap Ki Wilis,


kemudian mengambil kain bungkusan diatas bangku serta keluar dari kedai itu.


Sepeninggalnya Ki Wilis, pemilik kedai itu segera mengemasi


mangkuk serta piring yang terbuat dari tanah liat bekas makanan Ki Wilis. Tapi


pemilik kedai itu terkejut setelah mengetahui ada beberapa keping uang yang


sengaja diletakan dibawah piring.


"Ah orang itu memang orang yang berbudi luhur."


Kata pemilik kedai itu.


Tapi sebuah bunyi bantingan pintu kedai telah mengagetkan


penghuni kedai yang hanya tinggal pemilik kedai dan anaknya. Sebelum mengetahui

__ADS_1


siapa yang membanting pintu kedai itu, wajah kedua orang itu tampak ketakutan,


saking takutnya muka mereka putih pucat layaknya awan yang cerah di langit.


Didepan pintu seseorang yang sebaya dengan Jura berdiri dengan bertolak


pinggang.


"He mengapa kalian berdiri mematung mirip tikus sawah.?


Cepat hidangkan tuak yang paling enak dan ayam panggang.!" Teriak Ki Jalak


Ireng.


Betapa resah serta gelisahnya pemilik kedai itu mendengar


permintaan yang tidak masuk akal itu.


“Ma…ma…maaf anak mas, jika ayam panggang dengan cepat saya


hidangkan, tapi jika tuak disini tidak menyediakan, anak mas."


“Bangsat ,beraninya kau menolak keinginanku, apa kau bosan


hidup.?!" Bentak Ki Jalak Ireng, sembari menghantam pintu kedai.  Akibatnya pintu itu pecah berantakan, dan


membuat penghuni di dalam kedai itu semakin ketakutan.


"Ampunilah aku anak mas, aku bukan menolak kemauan dan


pesanan anak mas, tapi sebenarnya memang kedai ini tidak menyediakan


minuman..."


Belum sempat pemilik kedai itu menyelesaikan perkataannya,


sebuah tangan kekar sudah mengarah memegang baju pemilik kedai itu serta di


angkat keatas, sampai membuat kaki pemilik kedai itu tidak menyentuh tanah


jarak sejengkal tangan laki-laki dewasa.


"Den mas, ampunilah bopoku. Jika perlu biarlah aku yang


menggantikan bopoku." Pinta Jura.


"Hahaha baik bila itu maumu, kunyuk.!" Ki Jalak


Ireng segera melepaskan cengkraman tangan serta melempar pemilik kedai itu


dengan kerasnya mengarah ke tiang kedai.


"Bopoooo.!" Teriak Jura cemas.


tapi sebuah gerakan yang cepat menyambar tubuh pemilik kedai itu.


"Kau tidak apa-apa kisanak.?" Tanya bayangan yang


menyelamatkan pemilik kedai itu.


"Oh kau tuan, terima kasih tuan, aku tidak apa-apa


berkat tuan…” Jawab pemilik kedai.


Rasa syukur terucap hati Jura, yang melihat boponya selamat dari


ulah Ki Jalak Ireng.


Tapi jauh berbeda dengan apa yang Ki Jalak Ireng rasakan, kedatangan


orang asing yang sudah menyelamatkan pemilik kedai, membuat dia semakin murka. Matanya


seketika memerah serta ingin ******* orang asing itu.


"Setan !!, siapa kau beraninya menghalangiku.!"


Maki Ki Jalak Ireng.


"Adi, bantulah bapakmu, aku akan berbicara dengan


kisanak itu." Kata orang yang menyelamatkan pemilik kedai, yang tidak lain


adalah Ki Wilis. Di saat dia meninggalkan kedai, sebenarnya dia tidak berjalan


jauh. Ki Wilis yang ingin mengetahui ada persolan apa di Padukuhan Sukomoro, dengan


diam-diam menyembunyikan kudanya dan kembali lagi ke kedai tempat Ki Wilis tadi


memesan makanan dan singgah makan di kedai itu.


“He apa kau tidak mendengarkanku setan.!” Bentak Ki Jalak


Ireng, yang merasa dirinya tidak dihiraukan oleh Ki Wilis.


"Janganlah kau berteriak-teriak seperti itu kisanak, aku


mendengarkanmu kisanak namun aku masih meminta adi ini merawat boponya." Jawab


Ki Wilis dengan tenang.


"Mengapa kisanak marah-marah tidak jelas layaknya orang


tidak waras seperti itu hanya karena kedai yang memang tidak menyediakan tuak.?"lanjut


Ki Wilis.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu, ditepian barat Kali Berantas ini


wilayahku, dan seluruh yang aku inginkan harus tersedia.!"


Mendengar perkataan Ki Jalak Ireng, telinga Ki Wilis seperti


mendengar dengung lebah dan ingin melihat lebah itu. Tapi dia teringat nasihat


dari Resi Chandakara, untuk berlaku sabar, bisa mengendapkan amarah serta


tabah.


"Maaf kisanak, perbuatanmu itu jauh dari paugeran


bebrayan, bahkan jika hal itu dilakukan oleh penguasa sekalipun, itu tetaplah


salah dan keliru. Makadari itu sadarlah serta segeralah memohon maaf pada


pemilik kedai ini."


"Tutup mulutmu.!, Beraninya kau sesorah dihadapan Jalak


Ireng murid Kiai Bergota.!"


"Hem, jadi kisanak ini murid Kyai Bergota.? Tapi yang


aku tahu Kyai Bergota, seseorang  yang berjiwa


besar tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain." Kata Ki Wilis.


Kening Ki Jalak Ireng, terlihat mengernyit saat mendengar


orang yang dihadapannya mengetahui dan mengenali guru serta kepribadian


gurunya.


"Gawat bila orang ini dibiarkan hidup, dia bisa mengadukanku


atas tingkah laku yang kuperbuat disini kepada guru." Kata Ki Jalak Ireng dalamh


ati,"Lebih baik orang ini aku bereskan agar dia tidak bisa mengadu kepada


guru."


Tanpa peringatan apapun tiba-tiba, murid Kyai Bergota itu


meloncat menyerang Ki Wilis.


Menggunakan tangan mengembang mirip cakar, Ki Jalak Ireng langsung


mengarahkan serangannya ke wajah lawannya.


Untung saja lawannya bukan orang kebanyakan,dengan menggeser


kakinya dan memutar tubuhnya,Ki Wilis lepas dari serangan mematikan


itu. Tapi Ki Jalak Ireng yang merupakan gegedhuk barat tepian kali brantas


itu yak tinggal diam.Ia pun berbalik dan menyerang kembali dengan tendangan


memutar.Dan lagi-lagi Ki Wilis berhasil menghindari dengan merendahkan tubuhnya


sekaligus menyerampang kaki kiri lawan. Akibatnya murid Kyai Bergotar itu


berhasil tersapu dan jatuh.Walau begitu Ki Jalak Ireng dengan cepatnya


melenting dan kembali berdiri dengan sikap sempurna.


"Pantas kau begitu sombong,ternyata kau mempunyai bekal


olah kanuragan .Tapi janganlah kau keliwat bangga,karena aku hanya mengeluarkan


tenaga sebesar biji sawi.!"kata Ki Jalak Ireng.


"Oh pantas,ungkapan tenaga kisanak tadi seperti


silirnya angin."sahut Ki Wilis,memancing kemarahan lawannya.


Dan benar saja,bagai api yang tersiram minyak,Ki Jalak Ireng


menggeram dan melibat punakawan dari gunung Penanggungan itu. Selapis demi


lapis ungkapan tenaga dari Ki Jalak Ireng membadai,serangan tangannya yang


kokoh itu seolah-olah menutup gerak dari lawannya. Oleh karena itu,Ki


Wilis pun telah meningkatkan kemampuannya untuk melayani tandang dari murid Kyai


Bergotar.


Sementara itu tanpa terasa perkelahian itu melumatkan seisi


kedai,dingklik dan bangku rusak berantakan terkena gempuran Ki Jalak Ireng. Mengetahui


barang-barangnya hancur,pemilik kedai hanya pasrah dan menjauhi kedainya,supaya


tak terkena sambaran tenaga Ki Wilis maupun Ki Jalak Ireng.


Perkelahian yang makin lama bertambah seru dan sengit itu,telah bergeser di


halaman kedai.Sergapan dan serangan keduanya begitu cepat dan trengginas,debu


pun terangkat terkena sambaran kaki kokoh keduanya.


“Bersambung ......”

__ADS_1


__ADS_2