BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
100


__ADS_3

Untuk menghadapi serangan lawan, Jati Pamungkas melengoskan kepala. Lalu saat serangan susulan mengincar dadanya, tubuhnya surut ke belakang sekaligus memukul tangan lawan.


.


"Deessss... !"


.


Pertemuan dua tenaga membuat dua tubuh bergetar dan menyurutkan kaki keduanya dua tiga langkah. Keduanya sama - sama terkejut atas apa yang baru terjadi. Bagi ki Kala Sargota, pukulan lawan bagai tusukan welat bambu menuelusuri urat - uratnya. Sebaliknya dengan apa yang dirasakan oleh Jati Pamungkas, desir halus membuat tangannya nyeri.


.


Sekali lagi ki Kala Sargota melakukan serangan. Tubuhnya menjejak tanah dan membumbung ke udara setinggi tiga tombak. Luncuran tubuhnya cepat dengan kaki gejik sebagai gebrakannya. Tenaganya terpusat di kaki sepenuhnya untuk membobol pertahanan lawannya yang jauh lebih muda itu.


.


Orang Bercambuk atau Jati Pamungkas tak tinggal diam. Tangannya ia silangkan di depan dada, untuk melindungi dadanya dari gempuran, tetapi ia melakukan itu tidak sekedar menyilangkan tangan, melainkan aji Tameng Waja ikut andil dalam gerakan bertahan. Ini semua ia lakukan karena sudah mengakui kedahsyatan tenaga ki Kala Sargota.


.


"Deeeesss..... !"


.


Sekali lagi gempuran kembali terulang. Tubuh ki Kala Sargota membal ke udara, namun kelincahannya membuat tubuhnya berputar diudara dan kemudian berhasil menginjakan kakinya di tanah. Kaki kananya mengalami kesemutan dan nyeri.


.


"Benar - benar pemuda pilihan. Gempuranku bagai terhalang kokohnya karang.... " desis ki Kala Sargota.


.


Di depan Jati Pamungkas tak luput merasakan adanya gumpalan yang menyumbat rongga dadanya. Secepatnya ia mengatur pernapasannya untuk membenahi seluruh peredaran darah dalam tubuhnya. Tak terlalu lama peredaran darahnya kembali seperti sediakala, begitu juga dengan rongga dadanya semakin lega.

__ADS_1


.


"Cukup sudah permainan ini, anak muda. Sekarang sudah waktunya kita bersungguh - sungguh. Keluarkan seluruh kemampuanmu yang menggetarkan itu." seru ki Kala Sargota sambil meraih tombaknya.


.


Sejenak tombak itu ia putar di depan dadanya. Mata tombak yang berwarna hitam legam saat diputar dengan cepat, menjadikan kelebatan bayangan hitam mengerikan.


Hal itu membuat Jati Pamungkas mendesuh. Dengan terpaksa tangannya mengurai sesuatu di balik pakaiannya dan mengeluarkan senjata lenturnya, cambuk. Sebuah cambuk yang dibuat khusus dari jalinan urat kulit berlapis - lapis. Di ujungnya terdapat besi kecil yang patut diwaspadi lawan.


.


Di rentangkan cambuk itu menggubakan tangan kanan yang memegang pangkalnya dan tangan kiri tepat memegang dua jengkal dari ujung cambuk. Kaki agak merenggang dengan sikap kuda - kuda yang mapan. Selekas tarikan napas, suara ledakan keras menggema memekakan suasana pagi ditepian kali Brantas.


.


Semua orang tak terkecuali memperhatikan Orang Bercambuk. Suara cambuknya telah menghentikan sejenak serunya perkelahian. Demi meyakinkan mereka kebenaran dari pendengaran mereka mengenai dahsyatnya Orang Bercambuk.


.


.


"Hohoho.. Sungguh malu diriku. Hanya dengan menggunakan cambuk gembala kambing, kau membuat gentar anak buahku, bocah !"


.


"Sungguh tak masuk akal, lecutanmu itu tadi tidak berisi sama sekali, selain mengagetkan bocah yang terlelap tidur !" kembali ki Kala Sargota bersuara.


.


Jati Pamungkas tidak menjawab dengan mulutnya. Cukup ia menggerakan cambuk dan melakukan lecutan sendal pancing.


.

__ADS_1


"Taaaaarrrrrr..... !"


Tidak seperti bunyi pertama yang meledak keras. Lecutan itu pelan saja, tetapi jantung ki Kala Sargota bagai berhenti tak berdetak.


.


"Bocah setan.... !" umpatnya seraya langsung menyerbu.


.


Di tempat lain pun ketiga lawan Arya Dipa sudah kembali melibas lawan yang masih muda itu. Dendam lama serta ingin merebut kitab Cakra Paksi Jatayu-lah yang membuat orang itu gencar melakukan sergapan demi sergapan. Di bantu oleh dua lelaki kembar serangan ketiganya begitu dahsyat dan trengginas.


.


"Anak muda. Cepat kau serahkan kitab yang seharusnya menjadi milikku itu !" seru orang tua itu.


.


Sambil menghindari serangan, Arya Dipa menjawab, "Ki Ajar Lodaya, kau jangan omong kosong. Sudah jelas kitab itu milik Eyang Resi Gentayu dan melimpahkan kepadaku.. "


.


"Kau keliru, Anak muda. Resi itu berlaku curang terhadap saudara - saudaranya dengan memanfaatkan kasih sayang Ayahandanya." bantah ki Ajar Lodaya.


.


"Ceritamu sangat berbeda dari pakem, ki Ajar. Hentikanlah niatmu itu sedini mungkin. Aku masih menghormatimu yang merupakan kawan dari eyang Ajar Bajulpati.. "


.


"He.. Lancang kau anak muda. Berani - beraninya kau memanfaatkan nama besar kakang Ajar Bajulpati !" seru ki Ajar Lodaya, dengan nada agak bergetar.


.

__ADS_1


Arya Dipa hanya menarik napas saja, ia lebih dahulu menghindari sergapan dari salah satu kawan ki Ajar Lodaya. Setelah itu masih melengoskan kepala dari ancaman tangan kembaran kawan ki Ajar Lodaya. Kedua orang kembar ini adalah Sepasang Elang dari Penaruakan, yaitu Palguna dan Pa


__ADS_2