
Tanah pijakan dari Raden Sanjaya tergerus dalam sampai mata kakinya. Selekasnya, pemuda berjenggot tipis dan lancip ini menggenjotkan kakinya untuk melontarkan dirinya ke udara. Bersamaan dengan itu, tangannya menggembang dengan kaki sebelah ditekuk menyiku, serta kaki kanan meluncur deras mengancam gurunya.
.
Adanya gerakan penuh ancaman itu, Panembahan Anom mengangkat bahunya serta kedua tangannya dengan luwes berputaran di depan dada. Tiada lain ini merupakan sikap tatag menghadapi serangan secara langsung. Ancaman yang sedang berlangsung membuat mata tajam Panembahan Anom terbuka jelas sampai ke hatinya, bahwasanya sang murid betul - betul berbuat durhaka sepenuhnya.
.
Kejadian selanjutnya benar - benar permainan indah cara bertahan yang diterapkan oleh putra mendiang Patih Udara tersebut. Tepat saat kaki Raden Sanjaya kurang dari seruas jari, kedua tangan Panembahan Anom secepat kilat menangkap dan memutarnya layaknya baling - baling. Tak hanya berhenti disitu saja, ada senggang waktu dimana putaran itu berhenti sekejap, seketika tubuh Raden Sanjaya dilontarkan ke udara.
.
Bagi Raden Sanjaya, dikala tubuhnya dilontarkan, ia menganggapnya hal sepele saja. Tapi betapa terkejutnya, begitu sesosok tubuh sudah di atasnya dan memukulnya dengan menggunakan kepalan tangan. Tak sempat pemuda itu menghindari amukan dari Panembahan Anom. Tubuhnya seketika meluncur bebas dan akan menimpa bumi berpasir.
.
"Mati aku..... !" keluh Raden Sanjaya.
.
"Babo.. Babo... " celetuk seorang tua yang tubuhnya bagai terbang dan menyambar tubuh Raden Sanjaya.
.
Selamatlah Raden Sanjaya dari celaka yang hampir saja melukai tubuhnya. Itu semua berkat adanya seorang kakek yang berhasil menyelamatkan dirinya. Sesosok kakek berbadan tegap bercirikan hidung mancung layaknya burung kakatua, serta rambut, kumis, dan jenggot sudah memutih. Dan orang itu menempatkan Raden Sanjaya untuk berdiri kembali dengan kedua kakinya
.
Kemunculan orang itu telah memicu adanya penasaran dari Panembahan Anom. Karenanya ia lebih bersungguh - sungguh memperhatikan raut wajah orang itu. Kecurigaannya semakin menjadi - jadi manakala muridnya begitu menghormati orang itu. Syah wasangka yang lamat - lamat akhirnya menemui tujuan kalau dirinya pun, juga mengenalinya.
.
__ADS_1
Bibir Panembahan Anom sudah akan mulai mengucap, tetapi kalah cepat dari orang tua yang menyelamatkan Raden Sanjaya.
"Ternyata dunia ini yang katanya sangat luas, hanyalah selebar daun kelor saja." ucap orang tua itu, lalu, "Kuda Mapanji, marilah kita lanjutkan permainan ini !"
.
Panembahan Anom atau Kuda Mapanji, mendesuh dan bergumam, "Hm... Semakin nyata kalau semua dibalik kabut dialah dalangnya."
.
"Babo.. Babo... " ucap orang tua itu, "Mengapa kau bergumam diantara banyaknya orang ini, Mapanji ?"
.
Sebelum menjawab, Panembahan Anom memperhatikan sekelilingnya. Tepian kali Brantas bagai medan perang saja. Orang - orang bertarung satu dengan lainnya dengan serunya. Bahkan tetesan darah sudah mulai membasahi tepian kali Brantas. Tatapan matanya terhenti tepat disosok tubuh yang berdiri meregangkan kakinya.
.
.
Karena dirnya tidak dihiraukan oleh Panembahan Anom, orang tua di samping Raden Sanjaya mengepalkan tangannya. Dirinya siap menerjang orang yang ia anggap sebagai musuhnya. Namun langkahnya ia urungkan, dikarenakan seorang pemuda menghampiri Panembahan Anom.
.
Rupanya pemuda itu adalah Arya Dipa, yang berhasil menundukan lawannya tanpa harus melayangkan nyawa Bangau Banaran dan Duaji. Dirinya yang sudah tak terikat dengan lawan, mencoba melihat disekitarnya. Lalu terlihatlah tiga orang tanpa adanya perkelahian mengikat ketiganya. Maka ia pun memutuskan menghampiri Panembahan Anom dan Raden Sanjaya serta orang tua yang belum ia kenal.
.
"Kau tak apa - apa, ngger ?" tanya Panembahan Anom.
.
__ADS_1
"Tidak kurang suatu apapun, eyang." jawab Arya Dipa.
.
"Hoe... " bentak orang tua di samping Raden Sanjaya, marah.
Teriakan orang itu menyadarkan Panembahan Anom. Orang tua itu mengangguk hormat dan tersenyum. Ulah Panembahan Anom itu pun ditirukan Arya Dipa.
.
"Semprul.... " umpat orang tua di samping Raden Sanjaya, kesal.
.
Tapi, Panembahan Anom tertawa renyah sembari berkata kepada Arya Dipa, "Angger, orang tua itulah kawanku berdebatku dikala muda. Setelah tua, ia dikenal dengan ki Ageng Sungsang Bawono. Benar bukan ki Ageng ?"
.
Bagi Arya Dipa disebutnya gelar itu, tidak terlalu ia kenal. Namun dari tajamnya mata orang yang bergelar ki Ageng Sungsang Bawono, dirinya harus waspada. Tentu orang itu merupakan seorang yang penuh ilmu kanuragan yang tersimpan dalam tubuh tegap itu.
.
"Sudahlah, Mapanji. Sudah saatnya kita tuntaskan permasalahan yang sudah berlarut - larut ini." kata ki Ageng Sungsang Bawono, lalu ucapnya kepada Raden Sanjaya, "Tangani anak muda itu."
.
"Baik, guru." sahut Raden Sanjaya.
.
Jelaslah sudah. Ternyata orang tua itu merupakan guru sesungguhnya bagi Raden Sanjaya. Dan orang itu juga yang menyuruh muridnya untuk berguru kepada Panembahan Anom. Maksudnya hanyalah mencari atau mencuri pusaka dan harta peninggalan Wilwatikta. Orang tua itulah yang dikenal dengan gelar ki Ageng Sungsang Bawono, menggantikan pendiri perguruan Sungsang Bawono di jaman Wilwatikta di masa Prabu Brawijaya Pamungkas.
__ADS_1