BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
39


__ADS_3

Tandang ki lurah Lembu Sura terasa semakin menekan lawannya hingga lawannya itu keteter tak karuan. Suatu kali tendangan mendatar mengenai dada ki Landung Galih dan membuat orang tua itu jatuh bergulingan, tapi dengan cepat orang itu melenting berdiri dengan sikap sempurna.


Mata memerah yang menandakan kemarahan mewarnai lingkaran bola matanya, mulutnya mengumpat lirih lalu berganti merapalkan sesuatu yang dimengerti oleh dirinya sendiri. Sikap itu semakin lama mencengangkan mereka yang berada di sekitar gumuk itu, dua buah bayangan secara perlahan muncul disamping orang dari gunung kidul itu, sosok wujud itu berpenampilan serta berperawakan menyerupai ki Landung Galih tanpa adanya perbedaan sedikit pun.


"Kakang pambarep adi wuragil.." desis ki Pracona.


"Nampaknya begitu.." sahut ki panji Menak Sengguruh.


Sekejap kemudian sosok itu bergerak cepat saling bertukar tempat satu dengan lainnya, sebuah rencana pengaburan mata lawan diterapkan oleh ki Landung Galih.


"Rasakan ini...!" teriak salah satu bayangan menyerang ki lurah Lembu Sura.


Serangan itu sempat dilihat oleh lurah prajurit Demak itu, tapi betapa terkejutnya saat dua serangan bertemu, bayangan itu tertembus dan membuat lurah itu terdorong terbawa tenaganya sendiri, dan saat itulah serangan wujud asli ki Landung Galih tepat mengenai pundak ki lurah Lembu Sura, yang mengakibatkan tubuhnya terjungkal ke tanah.

__ADS_1


"Bangunlah wahai lurah prajurit..!" teriak ki Landung Galih sambil bertolak pinggang.


Walau punggungnya bagaikan terkena hantaman besi gligen, lurah dari Wira Manggala segera berdiri dan menghadap lawannya yang berdiri pongah.


"Majulah."


Tarikan napas dilakukan untuk mengurangi rasa sakit yang dideritanya, setelah dirasa berkurang maka ki lurah menajamkan pranggaitanya untuk mengetahui wujud asli dari ki Landung Galih berdiri. Di depannya tiga sosok itu saling bertukar tempat lalu berpencar ke tiga penjuru bertujuan mengurung ki lurah Lembu Sura, tiga sosok itu lantas mencabut trisula dengan menghunuskan ke arah prajurit Demak itu.


Oleh karena melihat lawan sudah mencabut senjatanya, ki lurah Lembu Sura juga mencabut pedang keprajuritannya, senjata dari besi gligen pilihan dengan tangkai ada guratan ciri pasukan Wira Manggala.


"He mengapa kau tersenyum seperti itu.? Apakah kau sudah siap mati di ujung trisula ku ini.?!"


"Mati hidupnya seseorang hanya Sang Pencipta semata yang mengetahui, kisanak."

__ADS_1


"Tutup mulutmu, tak usah sesorah di depanku.!"


Bersamaan dengan kata terakhir dari salah satu sosok ki Landung Galih, ki lurah Lembu Sura meloncat ke sisi kananya mengarah sosok yang dipastikan sosok sesungguhnya dan menggoreskan pedang mengenai lengan lawan yang tak sempat menghindari serangan dadakan dari ki lurah Lembu Sura.


"Setan alas, kau licik Lembu Sura.!" umpat ki Landung Galih kasar, seraya bergerak mundur. keberhasilan mengoreskan senjata di lengan lawannya tak membuat lurah dari pasukan Wira Manggala itu bernapas lega, itu dikarenakan adanya serangan dari sosok lain ki Landung Galih yang mampu membuat dirinya terpental saat kaki lawannya mengenai tubuhnya.


"Ah aku kira sosok - sosok itu semu, tapi mereka juga mampu menyakiti wadahku." keluh ki lurah Lembu Sura dalam hati, sambil menggelinding menghindari injakan kaki sosok lainnya.


Setelah berada jauh dari lawan, dengan cepat ki lurah Lembu Sura melenting berdiri, tapi sebuah gempuran menghantam dada lurah itu hingga dirinya kembali jatuh lagi.Tak hanya itu saja ancaman nyata terlihat dari trisula yang dipegang oleh sosok asli ki Landung Galih.


Saat itulah sebuah bayangan bagaikan terbang datang mendepak tangan ki Landung Galih serta sebuah tendangan menghantam orang tua itu dengan kerasnya. Selain itu tanpa berhenti bayangan orang yang baru muncul itu terus menerjang sosok lain ki Landung Galih hingga sosok itu pecah tak berbentuk, setelah menginjak tanah kaki itu kembali melenting ke atas dan berjumpalitan ke arah sosok lainya, sebuah tendangan memutar di udara kembali berhasil menghamburkan sosok lain dari ki Landung Galih.


Bayangan itu lalu menghampiri ki lurah Lembu Sura dan membantunya berdiri.

__ADS_1


"Terima kasih ki lurah." ucap ki lurah Lembu Sura.


"Nanti saja, ki lurah. musuh kita masih berdiri lengkap." sahut orang itu, yang tandangnya mengejutkan ki panji Menak Sengguruh dan kedua kawannya.


__ADS_2