BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
74


__ADS_3

Rasa haru menyelimuti suasana di ujung kademangan Mlanding. Waktu dini hari sudah merambat mendekati waktu fajar. Satu dua kokok ayam mulai bersahutan dari kandang milik penghuni kademangan maupun dari dalam hutan.


Ki Demang pada saat itu memangku kepala ki Ploso Slangkrah yang tak mampu lagi untuk menegakan badan, atau pun kepalanya. Sementara di sisi yang lain, nyi Cempaka dengan mata berlinang sembari memegang erat tangan ki Ploso Slangkrah, terus menyebut orang yang ia cintai itu.


Dalam pada itu pertempuran sudah usai. Anak buah gerombolan Kalamuda sudah tak dapat lagi melanjutkan perlawanan. Dengan pasrah mereka melempar senjata dan menerima kedua tangan mereka diikat dengan menggunakan ikat kepala mereka sendiri. Tetapi ada juga sebagian kecil dari gerombolan Kalamuda yang lari tunggang langgang mencari keselamatan diri, dari tawanan pengawal kademangan Mlanding.


Kembali pada tubuh di pangkuan ki Demang, sang kakak sudah dalam keadaan yang parah. Nafasnya mulai sesak dikarenakan aji Guntur geni senduri dan ilmu pukulan lawan telah merontokan isi dalam dadanya. Darah segar terus merembes dari bibirnya, meluber ke pakaiannya.


"Kakang.. " desis ki Demang.


Kepala ki Ploso Slangkrah bergerak disertai kelopak mata yang mencoba memandang wajah adiknya. Bibir ki Ploso Slangkrah tampak bergerak lirih, ingin mengucapkan sesuatu.


"Hatimu selembut kapas, adi." desis ki Ploso Slangkrah terbata - bata, "Maukah kau memaafkanku ?"


"Tentu, kakang." jawab ki Demang dengan tulus, "Kuatkan kakang, kakang akan sembuh seperti sedia kala. Ki Panut sudah dipanggil kemari."


Putra sulung dari mendiang Demang Mlanding hanya tersenyum. Matanya berbinar terkenang masa - masa yang lampau, dimana ia selalu menjaga adiknya dari gangguan anak - anak nakal. Dirinya-lah yang selalu memberikan rasa aman kepada adiknya, tetapi kini justru dirinya yang membuat adiknya hampir tewas ditangannya.


Kemudian ia teringat kepada seorang wanita yang ada di sampingnya, wanita yang selama ini ia cintai dan kasihi. Di dalam rahimnya ada benih hasil kasihnya yang suci dan murni.


"Adi, maukah kau menjaga calon jabang bayiku ?"


Ki Demang mengerutkan dahinya sambil menatap nyi Cempaka. Nyi Cempaka yang ditatap hanya mampu menundukan kepalanya mencium tangan suaminya saja.


Dan sekali lagi ki Ploso Slangkrah bertanya kepada adiknya, "Tolong adi, anak itu tak bersalah."


Akhirnya ki Demang Mlanding mengangguk, "Baik, kakang. Aku akan menjaga anak itu dan ikut merawatnya."


Kesanggupan dari ki Demang, membuat dada ki Ploso Slangkrah lapang. Rasanya ia tenang jika ia menghadap kepada Sang Pencipta.


"Nyai.. "


"Iya, kakang. Aku disini... "


"Jagalah anak kita dan tinggalah di kademangan ini sebagai penebus kesalahanku. Berikanlah ilmu mu untuk melindungi kademangan ini dari ancaman yang mengganggu. Maukah kamu ?"


Nyi Cempaka memandang ke arah ki Demang, dimana ki Demang menganggukan kepala, mengisyaratkan kalau pemimpin kademangan itu tak keberatan. Lantas Nyi Cempaka tanpa terbebani kemudian menyanggupi permintaan dari suaminya itu.


"Aku berjanji kakang, aku akan memberikan apa yang aku punya untuk ketenangan kademangan ini. Aku akan membantu ki Demang."


"Ah.. Andai saja waktu itu aku tak tergoda dengan rayuan dari nyi Saroya untuk menguasai kademangan ini, tentu kedamaian menyelimuti kita." sesal ki Ploso Slangkrah, yang kemudian terbatuk mengeluarkan darah.


"Sudah, kakang. Jangan banyak bicara dahulu, supaya kakang cepat pulih." kata ki Demang dengan perasaan yang cemas.


Tetapi ki Ploso Slangkrah menggelengkan kepalanya, "Ajalku sudah mendekat adi, sekali lagi maafkan aku. Dan jadikan istriku, sebagian dari kademangan ini..."


Dan akhirnya, ki Ploso Slangkrah tak mampu lagi untuk melanjutkan kata - katanya. Namun sebuah senyum tersungging dalam bibirnya, ke arah seorang pemuda yang berdiri. Seolah - olah memuji keperkasaan pemuda yang telah menekan kemampuannya.


Tak pelak lagi, nyi Cempaka menjerit memanggil - manggil suaminya. Penyesalan yang sangat ia rasakan dalam kehidupan ini. Wanita itu sedikitpun tak memimpikan kalau perpisahan begitu cepat terhadap suaminya. Untunglah seorang wanita yang dipanggil oleh seorang bebahu, berusaha menenangkan guncangan yang diderita wanita yang perkasa di medan perang itu.


"Mari nyai, ikhlaskan kepergian ki Ploso." desis wanita itu.

__ADS_1


Kemudian dengan hati - hati jasad ki Ploso Slangkrah di bawa ke rumah ki Demang untuk dirawat secara semestinya. Sementara para bebahu memimpin pengawal kademangan, mengurus kawan dan tawanan yang terluka mau pun yang tewas.


Korban tewas terdapat pada gerombolan penyerang yang kebanyakan terkena tikaman dari amukan para pengawal kademangan. Sedangkan bagi pengawal hanya mengalami luka saja dan tak sampai adanya korban jiwa. Setelah jasad dimandikan, kemudian segera dibawa ke pemakaman untuk dikuburkan, begitu juga dengan jenasah ki Ploso Slangkrah.


Di waktu selanjutnya, nyi Cempaka yang sudah berubah mulai menata kehidupan yang baik bersama penghuni kademangan Mlanding. Begitu juga dengan bekas gerombolan Kalamuda, mereka menyadari kesalahan mereka dan ingin menebus kesalahan dengan hidup semestinya.


Sementara itu Arya Dipa bersama dengan Jaka Tingkir atau Mas Karebet dan ki Sembada, meninggalkan kademangan Mlanding setelah berpamitan dengan ki Danureja, Demang Mlanding. Ketiganya berjalan ke arah sebuah bukit yang dihuni oleh seorang tua dari keturunan Majapahit.


Ketiga orang itu menaiki undakan tinggi yang terbuat dari susunan batu. Sesampai di ujung undakan, terdapat regol sebuah padepokan yang tak terlalu besar. Tetapi padepokan itu terlihat asri dan nyaman, dikarenakan ketrampilan pemilik atau-pun para cantriknya dalam menyusunnya.


Halaman depan dengan kanan kiri ditanami beraneka ragam bunga dan tetumbuhan. Sedangkan di tengah halaman sebuah pohon bramasta atau beringin, berdiri kokoh dan rindang dedaunnya. Sehingga di atas dahan itu, dijadikan sarang oleh burung yang merasa betah tinggal di pohon beringin itu, karena pohon itu selain aman untuk tempat tinggal mereka, di pohon itu juga tumbuh buah sebagai makanan burung - burung itu.


Di saat ketiga orang itu memasuki regol, seorang cantrik berlari menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang kembali di Karang Tumaritis, kakang." sambut cantrik itu, ketika mengenali dua orang dari ketiga orang itu.


"Bagaimana keadaan padepokan saat kami tinggalkan ?"


"Sama seperti sebelumnya, kakang. Kedamaian suasana pegunungan masih menyejukan."


"O.. Syukurlah. Di mana Panembahan ?"


"Beliau berada dalam sanggar tertutup sejak dua hari ini, kakang. O ya, beliau memberikan pesan jika kakang dan angger Karang Tunggal datang bersama seseorang, harap menunggu di bangunan belakang."


Orang yang disebut kakang itu menoleh kepada dua pemuda di belakangnya, lalu katanya, "Hm.. Ayo Karang Tunggal dan anakmas Arya Dipa."


Terlihat Arya Dipa mengernyitkan alisnya, ketika ki Sembada menyebut Mas Karebet dengan Karang Tunggal. Sudah dua kali ia mengetahui dua nama yang digunakan oleh Mas Karebet. Yaitu Jaka Tingkir dan sekarang Karang Tunggal. Tetapi ia tak banyak bicara, diikuti saja ki Sembada dan Mas Karebet.


"Silahkan kakang Kanigara, angger Karang Tunggal dan anakmas..."


"Oh.. Panggilah pemuda ini Arya Dipa." kata ki Sembada yang mengetahui kalau cantrik itu bingung menyebut nama Arya Dipa.


"O.. Silahkan anakmas Arya Dipa." kembali cantrik itu mengulang.


"Terima kasih ki cantrik." ucap Arya Dipa.


Lalu cantrik itu keluar dari bangunan untuk melanjutkan tugasnya.


Sepeninggal cantrik, Arya Dipa tak tahan untuk mengetahui kebenaran dari nama yang disebut cantrik tadi terhadap ki Sembada dan Mas Karebet. Tetapi sebelum ki Sembada angkat bicara, pintu bangunan itu berderit. Dari luar pintu muncul sosok orang tua yang sudah memutih rambutnya.


"Selamat datang di padepokan terpencil ini, anakmas Arya Wila Dipa ." ucap orang tua itu.


Sungguh rasa kejut hinggap di hati Arya Dipa, saat mendengar orang tua itu menyelipkan nama ayahnya. Siapakah orang ini ?


Orang itu tersenyum demi melihat rau wajah Arya Dipa, sehingga ada rasa kasihan menyentuh sanubarinya. Tak terasa air mata menetes membasahi pipinya yang sudah mulai mengeriput.


"Tenangkan hatimu, anakmas." kata orang tua itu sambil menoleh kearah ki Sembada dan Mas Karebet, tersenyum menganggukan kepala.


"Panembahan." desis ki Sembada.


"Eyang Panembahan." kata Mas Karebet mengangguk hormat.

__ADS_1


Arya Dipa menyadari kalau ia berada dihadapan seorang linuwih, maka ia pun mengangguk hormat pula.


"Sudahlah, marilah menikmati makanan gunung ini." desis orang tua itu, lalu lanjutnya, "Anakmas Arya Dipa, maaf jika tadi aku menyebut nama seseorang yang aku kenal dan menyelipkan diantara namamu. Karena wajahmu sangat mirip dengan anak menantu kawanku itu."


"Oh ya aku sering dipanggil sebagai Ismaya dan para cantrik memberikan nama depan Panembahan. Hm.. sebuah gelar yang memberatkan." desis orang itu.


"Oh.. Mohon terima salam bektiku, eyang Panembahan. Sungguh aku tak mengira seberuntung kali ini, berjumpa dengan seorang sesepuh kanuragan." kata Arya Dipa dengan gopohnya.


Hal itu membuat Panembahan Ismaya tertawa, "Hehehe, kau mengenal nama ku itu ?"


"Benar, eyang Panembahan. Waktu pertama aku turun dari gunung, eyang guru memberikan bekal selain ilmu kanuragan dan kajiwan, beliau juga memberitahukan beberapa nama tokoh kanuragan di Jawa Dwipa ini."


"Hm.. Kalau boleh tahu, siapakah guru dan orang tua mu anakmas ?"


Sejenak Arya Dipa mengambil nafas, kemudian tanpa sungkan lagi ia katakan apa adanya menyangkut jati dirinya terhadap Panembahan Ismaya.


"Pantas kau terlihat sangat kokoh., tak tahunya kau didikan dari pertapaan Pucangan. Selain itu ternyata aku tak salah jika menyelipkan nama Wila diantara namamu, karena kau anak Arya Wila." kata Panembahan Ismaya setelah mendengar penuturan Arya Dipa.


Kemudian orang tua itu tersenyum seraya memandang kepada ki Sembada, "Tak perlu kau tutupi jati dirimu terhadap anakmas Arya Dipa, Kanigara."


Ki Sembada mengangguk lalu katanya, "Jika Panembahan Ismaya percaya dengan anakmas Arya Dipa, tentu aku tak keberatan."


"Anakmas Arya Dipa, memang selama ini aku dan Mas Karebet menutupi jatidiri kami yang sebenarnya. Tetapi tiada maksud lain yang membuat kerusuhan kepada Demak."


Arya Dipa mengernyitkan alisnya, "Maksud, ki Sembada ?"


"Bukankah anakmas prajurit sejati Demak ?" tanya ki Sembada. Tetapi sebelum Arya Dipa berkata, ki Sembada telah kembali berkata, "Namaku ialah Kebo Kanigara, kakak kandung dari adimas Kebo Kenanga."


"He.. " kejut Arya Dipa.


"Dan Mas Karebet keponakanku ini putra dari adimas Kebo Kenanga."


Lantai yang diduduki Arya Dipa, seolah amblong demi mendengar kenyataan yang ia dengar itu. Di hadapannya berkumpul seorang berdarah ningrat Majapahit. Sama dengan keturunan dengan trah Demak.


"O.. ampuni hamba yang berlaku kurang tata ini, Raden." seketika Arya Dipa menghormat kepada ki Sembada dan Mas Karebet.


"O.. Tak usah anakmas berlaku begitu, aku sudah lama menanggalkan kebangsawananku. Bahkan sejak ayahanda Handaningrat masih hidup." kata ki Sembada atau raden Kebo Kanigara.


Arya Dipa masih menunduk, hal itu membuat Mas Karebet menegurnya, "Jika kakang seperti itu, ber-arti kakang tak menghargai hubungan kita sebagai sahabat."


"Tetapi.. "


"Sudahlah kakang, bukankah kita ini seorang sahabat dan aku hanyalah prajurit yang diusir oleh Kanjeng Sultan." sambung Mas Karebet.


"He.. Benarkah itu, Raden ?"


"Sekali lagi kakang menyebutku seperti itu, persahabatan kita cukup sampai disini saja !" nada Mas Karebet meninggi.


"Oh.. maaf Ra.. eh Adi." kata Arya Dipa gelagapan.


Hal itu membuat Panembahan Ismaya dan ki Kebo Kanigara tersenyum Hati mereka senang dengan ketulusan diantara kedua pemuda itu.

__ADS_1


__ADS_2