
Seperti yang sudah disepakati ki Demang Mlanding, Arya Dipa dengan gamblang membeberkan rencana yang ia susun dalam melakukan sebuah perlawanan menghadapi gerombolan yang dipimpin oleh ki Ploso Slangkrah. Waktu sehari yang tersisa digunakan dengan baik oleh para penghuni kademangan itu. Bahu - membahu penghuni kademangan mempersiapkan sambutan kepada lawannya, yaitu membuat berbagai jebakan bagi musuh yang mengancam ketenangan tempat tinggal mereka.
Pengawal pilihan disebar ke setiap penjuru kademangan demi mengamankan wilayah kademangan dari para penyusup. Lalu bebahu dan para pengawal serta pemuda mengikuti arahan dari Arya Dipa, mengerjakan berbagai macam jebakan bagi lawan mereka.
Regol kademangan diperbaiki dan membuat lebih kokoh dari sebelumnya. Lima langkah dari pintu regol, sebuah lubang dibuat sedalam satu tombak yang kemudian ditutupi kembali dengan ranting, jerami serta paling atas tanah. Tak hanya itu saja, dua rumah penghuni paling dekat dengan regol dikosongkan, yang nantinya akan digunakan sebagai tempat bagi pengawal yang piawai dalam menggunakan panah.
"Ki Demang, siapakah sebenarnya anakmas Arya Dipa ?" tanya ki Bayan lirih.
"Entahlah, ki Bayan. Ia hanya mengatakan kalau dirinya hanyalah seorang pengembara dari kadipaten Ponorogo." jawab ki Demang.
"Memangnya kenapa kakang ?" ki Kamituwo heran dengan pertanyaan dari ki Bayan.
"Lihatlah anak muda itu, adi. Ia sangat piawai dalam mengerjakan segala hal yang sulit kita lakukan."
"Ah, bukankah pengawal lainnya juga bisa ? Lihat itu si Arja dan Boma.. "
Pandangan mata ki Bayan mengarah kepada kedua pemuda yang disebut oleh ki Kamituwo. Memang keduanya juga dapat berbuat seperti arahan dari Arya Dipa, tetapi bukanlah itu yang dipertanyakan oleh ki Bayan.
"Bukan itu, adi. Coba lihat anakmas Arya Dipa." kata ki Bayan, "Lihatlah, dengan mudahnya pemuda itu menebas pohon sekali tebasan golok. Dan menyusun pohon tak beraturan setinggi tiga tombak itu."
Ki Kamituwo dan ki Demang mengangguk penuh takjub dengan apa yang mereka lihat itu. Dimana Arya Dipa membuat sesuatu yang belum dibuat oleh para penghuni kademangan. Serta mereka pun tak mengerti kegunaan dari batang pohon tersusun itu.
Seorang pemuda yang tak tahan lagi dengan pertanyaan membebani pikiran, memberanikan diri bertanya kegunaan batangan itu kepada Arya Dipa.
"Adi, susunan batang ini nantinya akan dililitkan tali tambang yang kuat untuk menarik tali tambang sehingga susunan batang yang masih ada ranting itu bergerak." kata Arya Dipa.
"Bagaimana itu bisa, kakang ?"
"Lihatlah dasaran dari susunan batang itu dilandasi kayu bulat sebagi roda di sisi - sisinya." kembali Arya Dipa menerangkan, "Nantinya lima orang masing - masing akan menarik dua susunan batang di sisi berbeda, untuk membuat lawan yang akan memasuki kademangan terjepit dan susah melewati.
Pemuda itu mengangguk, "Kakang, akibat yang ditimbulkan akan mengerikan."
__ADS_1
"Carilah kain sebanyak - banyaknya dan lilitkan dengan erat disetiap ujung batang yang melintang disusunan itu."
"Buat apa kakang ?"
."Supaya korban tak sampai mati, karena tumpukan kain itu hanya akan menyesakan dada korban yang terjepit."
"Baik kakang." pemuda itu pun berlari mencari kain bekas di rumah - rumah penghuni kademangan.
Matahari di langit semakin menggelincir ke barat. Pekerjaan membuat berbagai jebakan tingal sedikit lagi selesai. Kerjasama yang ditunjukan oleh penghuni kademangan dalam mempertahankan tempat tinggalnya, terlihat begitu semangatnya. Hal itu membuat seorang yang berdiri di balik pohon trembesi, tersenyum.
"Terampil sekali mereka dalam menyusun siasat." desis orang dibalik pohon, "Hm.. Pasti anak muda itu. Tetapi sayang, pengawal yang bertugas mengamankan penyusup lengah, sehingga aku lolos dan mampu menyaksikan apa yang dikerjakan oleh orang - orang kademangan.
Tak lama sehabis memperhatikan keadaan di kademangan, orang itu bergegas pergi. Kakinya sangat lincah dan cekatan. Hanya beberapa loncatan saja orang itu telah lenyap dibalik semak belukar.
Akhirnya malam pun tiba. Langit terasa kelam di malam itu. Mendung hitam melapisi langit menutupi sinar rembulan dan bintang - gemintang. Ditambah lagi angin ikut mengoyak udara dan menimbulkan rasa dingin menyengat kulit. Rintik - rintik air hujan membasahi tanah walau hanya sekejap, karena segera tersapu sang bayu.
Malam itu tak seperti biasanya, dimana serangga yang biasanya meramaikan malam - malam sebelumnya tak nampak batang hidungnya. Bahkan suara cengkerik lenyap bak ditelan bumi. Heninglah malam itu dari segala bunyi. Sunyilah malam itu tiada rasa. Tetapi sejatinya keheningan, kesunyian itu mempunyai tanda bagi setiap insan yang memiliki hati peka terhadap alam.
Seorang manusia yang peka dengan alam akan mampu membaca setiap kejadian yanh ditimbulkan oleh alam itu sendiri. Seakan alam dengan murah hati mengabarkaan adanya seseuatu kejadian kepada orang itu. Tetapi bila manusia mencemohkan alam, berlaku kasar dengan alam, tentu alam juga akan membuat manusia itu menyesal.
Begitu juga di malam itu. Alam memberikan pertanda adanya kejadian di kademangan Mlanding. Sebuah kejadian yang akan membuat darah menetes membasahi bumi nan suci ini, karena keserakahan seorang terhadap palungguhan Demang yang berdiri di atas bumi, yang merupakan bagian dari alam.
Derap kuda mulai terdengar dari luar regol kademangan. Tak hanya satu, melainkan lebih dari lima kuda dan masih juga diikuti oleh berlarinya banyaknya orang di belakang penunggang kuda.
"Mereka datang.. " bisik seorang pengawal.
"Bersiaplah.. "
Derap kaki kuda itu pun berhenti tepat lima tindak di luar regol.
"Hmm... " geram penunggang kuda paling depan, "Hai buka regol ini !!''
__ADS_1
Teriakan itu berkumandang mengalun mengikuti aliran udara. Namun tiada sahutan yang menjawabnya. Seakan - akan kademangan yang dituju kosong ditinggalkan penghuninya.
"Kakang, sepertinya mereka lari dari kademangan ini." seorang wanita bersuara.
"Hm.. Kincang, buka pintu regol itu !"
"Baik, ki Lurah."
Lelaki berwajah sangar turun dari kudanya dan mendekati pintu regol. Dirabanya regol itu, kemudian ia buka buka dengan pelan.
"Hekk.. "
Pintu tak bergerak seujung rambut pun. Hal itu membuat Kincang bersungguh - sungguh untuk membukanya. Tetapi tak menampakan hasil.
"Apa yang kau lakukan, Kincang ?!" tegur penunggang kuda yang paling depan.
Teguran itu membuat Kincang gelagapan, lalu ia kembali berusaha membuka regol itu. Kembali tenaga yang ia kerahkan sia - sia. Pintu regol kokoh dan membuat Kincang tak berkutik.
Tiba - tiba sebuah suara terdengar menegur dari atas panggungan, "Kakang Ploso, tinggalkan kademangan ini."
"Hm..Danurejo, apa maksudmu ini?" geram penunggang kuda yaitu, ki Ploso Slangkrah, "Jadi kau ingin melakukan perlawanan denganku, he !!!"
Orang yang berdiri di atas panggungan memang ki Danurejo, Demang Mlanding. Ki Demang mencoba membujuk agar saudaranya itu tak melanjutkan tindakan yang akan merusak hubungan mereka sebagai saudara kandung. Tetapi itu akan sia - sia saja, karena ki Ploso Slangkrah sudah dibutakan hati dan pikirannya.
"Kakang, kita ini saudara se-ayah dan se-ibu, mengapa kita harus meneteskan darah karena hal semacam ini ?"
"Huh.. Bila kau sadar dengan omonganmu, lekas buka pintu regol dan kau cepat angkat kaki dari tanah yang memang menjadi hak-ku ini." kata ki Ploso Slangkrah dengan ketusnya.
"Kau salah, ki Ploso Slangkrah." sebuah suara menentang, "Walau kau anak sulung, tetapi watakmu tak berkenan dihati ki Demang terdahulu, oleh karenanya ia mengusirmu dan mengangkat kakang Danurejo sebagai penggantinya."
"Tikus busuk, kau bayan. Sepantasnya kau menyusul Jagabaya dan anaknya ke liang lahat !!" teriak ki Ploso Slangkrang.
__ADS_1
"Kakang jangan terlalu lunak kepada mereka, sebaiknya lumatkan orang - orang itu. " kata wanita yang berdiri disamping ki Ploso Slangkrah.
Dalam pada itu sebuah suara mengagetkan wanita itu, "Jadi kau di sini nyai Cempaka ?"