
Kembalinya kesadaran dari Begawan Bancak dari lamunan masa lampau, menempatkan diri pribadi yang sesungguhnya. Orang itu berjalan mendekati kedua pemuda yang masih dalam sikap Arya Dipa berdiri dibelakang tubuh Windujaya yang duduk di tanah.
Selangkah demi selangkah kaki Begawan Bancak terus bergerak mendekati kedua pemuda itu. Tepat lima langkah, orang tua itu menoleh ke arah adik seperguruannya sembari melambaikan tangannya dan kemudian ia kembali berjalan.
Isyarat itu dapat dipahami sepenuhnya oleh Begawan Kakrasana. Ia yakin apa yang akan terjadi sudah lepas dari permasalahan kecil layaknya permainan kanak - kanak. Maka dari itulah, Begawan Kakrasana ikut melangkahkan kaki menyusul Begawan Bancak.
Selangkah di depan Windujaya inilah, Begawan Bancak bertepuk tangan sembari mengangguk tulus. Hal itu cukup membuat Arya Dipa dan Windujaya mengendorkan otot dari ketegangan.
"Kau mampu mengungguli muridku, anak muda." desis Begawan Bancak, "Tetapi ada sesuatu yang membuatku bertanya - tanya."
Suara Begawan Bancak awalnya terkesan bersahabat, tetapi diakhrinya dapat diartikan adanya sesuatu yang mengganjal dan bahkan berujung kembalinya ketegangan. Dan orang pertama yang cepat merasakan ialah Begawan Kakrasana. Tak dapat dipungkiri bagi Begawan dari alas Parang itu dapat menyikapi jalan pikiran kakak seperguruannya, yang terkesan ugalan disetiap tindakannya. Ini merupakan watak dari masa remaja dan sangat sulit dirubah, karena sudah mendarah daging berpadu dengan jiwa raga.
"Semuanya sudah selesai kakang, marilah kita kembali ke gubuk. Lihatlah lintang panjerino semakin menjauh." Begawan Kakrasana mencoba mengalihkan.
"Hehehe... Kakrasana, ah bukan. Brajang Mas, kau sejak dahulu memang menjadi begawan tak seperti aku ini. Sebenarnya kau memang mempunyai hati bersih dan lurus, tetapi kau meniru tindak tandukku yang urakan dan usilan. Bahkan kau belajar berkata kasar dengan umpatan atau makian..."
Nada suara Begawan Bancak sarat dan bersungguh - sungguh. Sehingga Begawan Kakrasana yang biasanya akan membalas dengan perkataan, kali ini dibuat terdiam.
"Adi Branjang Mas, luangkanlah aku waktu untuk sekedar bertanya terhadap anak muda yang kau katakan mirip kakang Kuda Mapanji ini." kata Begawan Bancak, sambil menatap sungguh - sungguh adik seperguruannya.
."Hm.. Silahkan kalau kakang Arya Bancak berkeinginan seperti itu." sahut Begawan Kakrasana.
Terima kasih, adi." ucap Begawan Bancak.
Orang tua itu duduk di batu tak jauh dari kedua pemuda perkasa. Lambain tangan mengayun mengajak ketiga orang untuk duduk juga di dekatnya. Kemudian barulah Begawan Bancak kembali bersuara kepada Arya Dipa.
"He, Bocah. Tolong katakanlah dengan sebenarnya, siapa kau ini dan apa hubunganmu dengan Puspanaga ? Karena aku yakin kau bukanlah benar - benar muridnya."
"Baiklah, eyang Begawan. Aku akan mengatakan dengan sebenarnya, tetapi setelah aku mengatakan jati diriku, aku harap eyang tak lagi mencemoh eyang Puspanaga." kata Arya Dipa, "Maukah eyang berjanji tak akan mencemoh eyang Puspanaga lagi ?"
Windujaya dan Begawan Kakrasana tersenyum dengan permainan kata Arya Dipa itu. Sedangkan Begawan Bancak bagai mati kutu, karena ia ingin mengetahui siapa pemuda itu, sehingga kalau ia tak mau berjanji akan sulit mengorek jati diri pemuda itu. Tetapi jika berjanji ia pun merasa malu jika dibelakang hari diungkit kejadian malam ini.
"Bagaimana, eyang ?" kembali Arya Dipa mencari ketegasan sikap Begawan Bancak.
"Setan kecil.. !" batin Begawan Bancak.
Dan akhirnya sambil mengeraskan genggaman tangan, mulut itu berucap, "Aku berjanji.. "
"Berjanji untuk apa eyang ?"
"Kau... " desis orang tua itu, dengan mengkalnya, "Berjanji tak mencemoh Puspanaga !"
Suara tawa tertahan terdengar dari Windujaya dan Begawan Kakrasana.
"He.. Teruskan tawa kalian jika mau hidup tanpa mulut... !" bentak Begawan Bancak.
Seketika Windujaya dan Begawan Kakrasana menahan sekuat tenaga tawa mereka.
"Cepat kau katakan, setan kecil !"
Tak memperpanjang waktu, Arya Dipa mulai mengungkap jatidirinya sesungguhnya. Kata demi kata keluar dengan terang dan jelas tak terkesan ditutupi sama sekali. Mulai dirinya diasuh ayah angkatnya ki Panji Mahesa Anabrang di padukuhan pudak di kadipaten Ponorogo. Kemudian diusianya semakin remaja ayahnya menjelaskan siapa sebenarnya dirinya.
"Oh.. " desuh Begawan Kakrasana, yang mulai mengetahui kebenaran jatidiri pemuda itu.
"Menurut eyang Puspanaga, ayah Wila dan ibu Dyah Ratna dibunuh oleh kakekku sendiri." lanjut Arya Dipa.
Ada getar kepedihan menusuk sanubari Begawan Bancak tatkala mendengar kata itu.
"Tahukah kau siapa nama kakekmu, ngger ?"
__ADS_1
Arya Dipa menunduk, air mata berlinang di sudut matanya, "Kakekku seorang Begawan yang mirip dengan eyang Begawan, ia seorang yang angin - anginan."
"Maksudku, apakah kau tahu wajah kakekmu itu ?" kembali Begawan Bancak bertanya.
Kepala yang ditanya menggeleng, namun sebuah senyum menyeruak menghiasi bibir pemuda tampan itu. Dan ini membuat getar dalam dada Begawan Bancak semakin menggelora. Apalagi ketika terdengar suara anak muda itu.
"Aku hanya berharap eyang masih hidup dan mendapat kesehatan jiwa dan raganya..."
Suara itu bagai kekuatan besar pada diri Begawan Bancak. Dimana kekuatan suara itu meresap ke seluruh jiwa raga dan menggerakan tubuhnya untu menubruk Arya Dipa. Rangkulan kedua tangan Begawan Bancak memeluk Arya Dipa, dan sesenggukan bagai anak kecil mewarnainya.
Di sisi yang lain, Arya Dipa dibuat kaget dan bingung dengan apa yang diperbuat oleh Begawan satu ini. Mengapa orang tua ini menangis tersedu seperti itu ?
Tak kalah bingung juga dirasakan oleh Windujaya. Pemuda ini merasakan ada keanehan pada gurunya. Padahal dihari - hari yang lalu, gurunya selalu berbuat aneh, tetapi kali ini anehnya terlalu.
"Mengapa eyang menangis.. ?" tanya Arya Dipa bingung.
"Dipa.. Dipa.. kau begitu malang.. " kata Begawan Bancak disela tangisnya.
"Sudahlah, eyang. Aku sudah mengikhlaskan hidupku yang lalu itu.." ucap Arya Dipa.
Tak lama tangis Begawan Bancak reda. Pelukan sudah longgar dan terlepas menyisakan jarak satu langkah. Dengan kain kumalnya, disekanya air mata yang membasahi pipinya.
"Dipa, apakah kau tak mendendam dengan kakekmu itu ?"
"Tidak, eyang."
"Apa alasanmu .. "
Arya Dipa menghela nafas, "Eyang, jika aku mendendam kepada eyangku sendiri dan katakanlah jikalau mampu membunuhnya, apakah ayah dan ibu bisa hidup kembali ?.... Tidak, malah aku semakin memburamkan garis nasibku.."
"Oh Batara Agung, welas asihMU begitu besar." ucap Begawan Bancak.
Tiada angin dan tiada hujan, tetapi sebuah guntur menggelegar menghentakan alam jiwa Arya Dipa. Suara pelan dari orang tua didekatnya itu bagai palu godam menghentak jiwa raganya.
"Be.. benarkah ucapan eyang ini.... ?"
Awan hitam tebal berarak menggulung tubuh Arya Dipa. Sang bayu ikut mendukung perbuatan awan hitam tebal menghempaskan tubuh Arya Dipa jauh ke alam yang sangat aneh. Alam itu hanya ada dua warna saja dan begitu ketara perbedaannya, yaitu hitam dan putih. Anehnya lagi tubuh Arya Dipa tepat diantara batas warna tersebut dan tak dapat berkisar walau hanya seruas saja.
Pemuda itu memandang ke dua arah warna alam dengan cermat. Alam hitam yang gelap itu dapat dilihat dengan jelas oleh Arya Dipa, dan pemuda itu kaget manakala dari tanah menyeruak sesosok kepala berikut tubuh yang lengkap. Tak sampai di situ saja, sosok itu bermata, hidung, dan mulut lebar, selain itu dari sela bibirnya nampak gigi panjang sebatas dagu. Taring, itulah adanya.
Sosok itu berbadan besar dan tingginya mencapai tinggi pohon kelapa. Kedua lengan tangan dihiasi gelang akar bahar. Lehernya berkalung tengkorak mengerikan. Tangannya yang kanan menggenggam kapak bermata dua dengan tangkai terbuat dari tulang, lalu tangan satunya menggenggam gada. Seluruh kulitnya berwarna merah darah dan mata hitam menakutkan.
"Heeeeeeer... "
Gerungan dahsyat keluar dari mulut sosok mengerikan itu, gerungan itu juga menimbulkan angin prahara dahsyat.
Saat itulah di alam putih, dari angkasa cahaya bersinar turun dan mendarat di permukaan alam putih. Dalam naungan cahaya, sesosok tubuh sebesar raksasa merah berdiri dengan bibir tersenyum. Sosok ini bernampilan layaknya Resi suci penuh wibawa dalam auranya.
"Bala Kala, pergilah kau dari usahamu untuk memperdaya anak manusia ini..!" tegur sosok putih.
Raksasa menyeramkan itu tertawa terbahak - bahak, "Hahaha.. Nara Maya, kaulah yang usilan. Sudah menjadi tugasku untuk memberikan keberanian kepada anak manusia ini, oleh karena itu sebelum aku berlaku kasar, enyahlah dari alam ini.. !"
Pembicaraan kedua raksasa itu membuat Arya Dipa heran dan ada sedikit rasa jerih. Jika kedua raksasa itu bertengkar, maka ialah sasaran empuk dari kedua raksasa hitam atau pun raksasa putih yang mungkin tak sengaja menginjaknya.
Selanjutnya Arya Dipa masih mendengarkan kedua raksasa yang mempunyai tujuan berbeda dalam sesuatu menyangkut dirinya. Padahal ia sendiri tak mengerti apa yang sudah terjadi di alam itu, karena ia sadar bahwa sebelumnya ia mendengar kalau Begawan Bancak mengaku sebagai Begawan Jambul Kuning, yang berarti kakeknya.
"Minggir kau Nara Maya !" bentak Raksasa Bala Kala dengan marahnya.
"Bala Kala, Batara Agung begitu welas asihnya. Mengapa kau memungkiri itu dengan perbuatanmu ini ?"
__ADS_1
"Cukup mahkluk penjilat... !" umpat Bala Kala, seraya mengayunkan gadanya.
"Wuuuus...."
Gada raksasa ditangan Bala Kala hanya mengayun dan tak menjangkau tubuh Nara Maya yang berdiri sepuluh langkah, tetapi serangkum angin-lah yang membuat Arya Dipa kebat - kebit. Serangkum angin itu laksana lesus menghujam tubuh dalam naungan cahaya.
"Byaaar..."
Ledakan dahsyat disertai alam berguncang hebat.
"Bala Kala, inikah yang kau andalakan dalam setiap tindakanmu ?"
Raksasa Bala Kala menggerung keras disertai gerakan meloncat melakukan serangan beruntun. Serangan berupa hantaman gada dan bacokan kapak bermata dua. Sungguh mengerikan jika itu mengenai tubuh manusia. Jangankan manusia, batu sepuluh kali lipat dari besar gajah pun pasti hancur jika terkena gada raksasa itu. Dan mungkin andai kapak bermata dua itu mengenai gunung wilis, tentu gunung itu terbelah jadinya.
Itu jika manusia yang membayangkan. Tidak halnya dengan sosok dalam lindungan cahaya. Sosok itu tersenyum dengan bibir bergerak layaknya sedang membaca rapalan. Berhenti merapal, dikedua tangan sudah ada dua benda melingkar bergerigi, cakra.
" Triiiing... Triiing.. "
Kapak maupun gada dapat tertangkis saat jarak kurang dari sekilan. Dan akibatnya bunga api berpijar dari gesekan senjata keduanya dan menimbulakan pemandangan menakjubkan bagi Arya Dipa.
"Oh.. Batara Agung.. !" sebut Arya Dipa.
Pertarungan masih berlanjut antara kedua raksasa itu. Semakin lama keduanya semakin seru dan sengit. Gada dan Kapak bergerak cepat dan sebat mengarah tubuh raksasa Nara Maya, yang berjumpalitan menghindari dan sesekali melakukan serangan balik dengan cakra dikedua tangannya.
Raksasa Bala Kala terkejut manakala serangan balasan hampir mengenai lehernya. Karena saat itu cakra ditangan kanan raksasa Nara Maya dilempar dengan tiba - tiba menyasar leher Bala Kala.
"Heeeer... " gerung Bala Kala.
Pertempuran itu berlangsung sangat lama, tetapi sepertinya keduanya berimbang.. Oh tidak, melainkan raksasa Nara Maya sepertinya hanya melayani saja, walau kadangkala seperti membahayakan dirinya.
"Berhenti.... !" teriak Bala Kala seraya menggerakan tangan sebagai isyarat untuk berhenti.
Nara Maya mengangguk dan tersenyum, "Kau mengaku kalah, Bala Kala ?"
"Heeer... Kata itu pantangan bagi pengikut Batara Kala, he Resi Suci !" seru Bala Kala.
"Lalu... ?"
Bala Kala menatap ke arah Arya Dipa dan selanjutnya raksasa itu kembali menatap Nara Maya seraya berucap, "Aku tak akan mengganggu anak muda ini, jika ia mampu mengatasi Suara Panglulutku."
Nara Maya menghela nafas, sudah sekian lama ia mengalami kejadian seperti ini dengan pengikut Batara Kala. Dan bila seorang pengikut Batara Kala mengucapkan permintaan ini, maka hanya manusia itu sendirilah yang akan menentukan akhir dari semuanya.
"Mengapa kau diam, Nara Maya ? Takutkah kau... ?"
Nara Maya masih dalam kebingungan. Jika ia melanjutkan dengan kekerasan, ia akan jatuh ke dalam alam tak berwujud, ini karena sudah ada aturan jikalau dalam alam hitam dan putih bila pihak hitam mengutarakan adanya perjanjian berupa Suara Panglulut, pihak alam putih tak dapat menolak.
Ketika itulah terdengar sayup - sayup suara halus membisiki Nara Maya, "Biarkan anak muda itu menerima Suara Panglulut. Percayalah, anak ini dapat melaluinya."
"Hm.. Baik Resi Suci." sahut Nara Maya dalam hati.
Kemudian Nara Maya berkata kepada Bala Kala, "Baiklah, aku mengikuti apa yang kau inginkan. Tapi ingat, jika anak manusia ini mampu mementahkan, kau tak akan mengganggunya lagi."
"Hohoho... Tentu aku tak akan memungkiri janjiku." sahut Bala Maya, tetapi dihatinya raksasa itu berkata, "Dia tentu termakan Suara Panglulut.. hehehe..."
Pembicaraan dari dua raksasa tak dimengerti oleh Arya Dipa. Siapa mereka ini dan mengapa ia berada di alam ini ? Lalu apa Suara Panglulut itu ? Semuanya masih gelap dalam bayangannya.
Diri pemuda itu terhenyak ketika suara raksasa Bala Kala menegurnya.
"He, anak manusia. Pejamkan matamu !"
__ADS_1
Seketika mata Arya Dipa terpejam dengan sendirinya. Sebuah kekuatan sangat besar mempengaruhi inderanya sehingga menuruti perkataan atau lebih tepatnya sebuah perintah. Dan Suara Panglulut-pun mulai menyeruak keluar dari mulut Bala Kala.