
Sepeninggal ki panji Tohjaya yang pingsan dan dilarikan oleh lawannya, jalan berkelok itu tak berselang lama telah muncul empat orang berkuda. Orang yang paling depan dengan tangkas menarik tali kekang, sehingga kuda yang ia tunggangi meringkik seraya mengangkat kedua kaki depannya, begitu juga dengan ketiga kawannya
"Ada apa kakang ?" tanya kawannya, seraya mengelus leher kudanya supaya tenang.
"Lihatlah, bukankah itu kuda Tohjaya ?" jawab orang yang menghentikan kuda pertama, sambil menunjuk kuda ki panji Tohjaya yang dengan asyiknya mengunyah rumput di pinggir jalan.
Keempat orang itu lantas turun dari kuda dan menghampiri kuda tanpa adanya sang pemillik. Betapa terkejutnya mereka saat mata mereka tanpa sengaja melihat adanya bekas tanah dan rerumputan semrawut tak karuan.
"Uh... Apa yang terjadi di tempat ini ?" suara dari seorang lelaki yang pertama berhenti.
"Supala, coba kau teliti di balik rumpun bambu itu !" kembali orang yang disebut kakang bersuara, memberi perintah.
Orang yang dipanggil Supala bergegas meneliti di balik rumpun bambu petung, semakin ke dalam bekas yang ditimbulkan semakin parah dengan adanya bekas daun meranggas akibat ilmu Brajadaka.
"Kakang, sepertinya Tohjaya terlibat suatu perkelahian dahsyat dengan seseorang." ucap Supala, setelah memeriksa keadaan, "tapi wujudnya tiada nampak disekitar sini."
"Coba periksa lagi, kalian juga " perintah orang yang disebut kakang.
Sementara itu tubuh ki panji Tohjaya tak mengetahui kalau tubuhnya dipanggul oleh orang tua, yang berlari menggunakan aji Sepi Angin. Seolah - olah tapak kaki orang tua itu tak menyentuh tanah dan seperti mengambang sejarak satu ruas jari.
Sesampainya di pinggir sungai, tubuh itu diletakan dengan perlahan, lalu tangan tua itu dengan lembutnya menyentuh titik syaraf di dekat tengkuk. Seketika mata perwira muda tersebut berkerjab - kerjab menandakan kesadarannya mulai kembali.
"Uh... " desuhnya mengiringi mata yang perlahan membuka.
Saat mata itu terbuka, pandangan yang terlihat ialah batang pohon nymplung. Rasa nyeri mulai kembali terasa menggerayangi dadanya dan kepalanya terasa berputar - putar, seolah - olah bumi terayun.
"Minumlah, ngger." suara orang yang disertai angsuran air dalam pincuk daun, mengangetkan panji Tohjaya.
"Si siapa kisanak ?"
"Sudahlah, minumlah walau hanya seteguk, nanti akan aku jelaskan." ucap orang tua yang membuat panji itu mulai bisa menilai kesungguhan orang yang menolongnya.
Dengan pelan air jernih dalam pincukan terteguk sampai habis dan membuat badannya agak segar. Kemudian pemuda dari Jipang Panolan itu duduk bersila untuk mengatur pernapasannya demi memulihkan tenaga dan ketahanan raganya. Sedangkan orang tua disampingnya menanti tanpa mengganggu pemusatan oleh panji Tohjaya, seolah - olah orang tua itu menjaga pemuda itu dari marabahaya.
Selang beberapa saat ki panji Tohjaya mengakhiri pemusatan dirinya yang kemudian memandang orang tua yang duduk di sampingnya.
"Terima kasih, paman." ucapnya, tak mengetahui jika lawannya adalah orang yang ada di sampingnya.
Orang tua itu mengangguk perlahan sambil mengedarkan matanya ke hilir sungai, tangannya mengambil sebutir batu dan di lemparkan ke atas.
"Buuuk !"
"Oh.. " kejut dirasakan oleh Tohjaya, manakala seekor burung sejenis bangau jatuh tepat di depan orang yang menolongnya.
"Hari ini kita mendapat buruan cukup besar untuk kita berdua, tunggulah aku akan mencari ranting kering." kata orang tua itu, seraya bangkit berdiri.
"Oh biar aku saja paman." cepat - cepat panji Tohjaya berdiri.
"Kalau kau ingin membantu, bersihkan saja buruan itu." sahut orang tua itu sambil tersenyum.
Anggukan kepala menandakan panji Tohjaya menyanggupi apa yang dikatakan orang itu. Sedangkan orang itu mengumpulkan ranting yang ditumpuk menjadi satu dan sambil menunggu panji Tohjaya membersihkan burung bangau, orang tua itu mengambil suling yang terselip disamping ikat pinggangnya.
Alunan bunyi suling mengayun dengan kidung atau tembang Asmaradhana. Menggambarkan seorang lelaki yang menginjak usia muda terpesona dengan wanita yang berwajah ayu bagaikan dewi Ratih. Cinta bersemi bersambut merubah isi dunia seakan milik sepasang muda - mudi itu, bahagia semata yang nampak dirasa tanpa adanya seoarang yang mengganggu, bahkan dewa pun terasa sungkan untuk sekedar berlintas didekat sepasang muda - mudi yang dilanda getar asmara.
Rasa kagum ikut dirasakan oleh panji Tohjaya, akibat mendengarkan suara suling dari penolongnya, hatinya ikut gembira seakan - akan dia sendirilah pelaku dari kandungan tembang itu.
Tapi betapa trenyuh hati pemuda itu, manakala memerhatikan mata penolongnya berkaca - kaca, tak hanya itu saja, lantunan kidung itu berubah menjadi kidung keresahan dan pilu. Dan akirnya berhenti.
"Oh.. kau sudah selesai ngger ?" tanya orang itu, seraya membalikan tubuh dan menyeka air matanya. Kemudian seakan - akan tiada terjadi sesuatu, orang tua itu menyalakan titikan api ke ranting.
"Biar aku saja, paman yang membakar burung ini."
Gurihnya daging tercium membuat hidung kembang kempis penuh kenikmatan, ingin mencicipi dengan suka cita. Bau yang menunjukan daging bangau itu siap dilahap memenuhi selera perut siapa pun. Itulah yang terjadi di pinggir sungai dimana panji Tohjaya dan penolangnya berada.
"Silahkan paman." ucap Tohjaya sambil mengangsurkan sebagian potongan daging bangau kepada orang yang belum ia ketahui namanya.
"O ya, paman, mohon kiranya paman sudi memperkenalkan diri kepadaku." pinta Tohjaya.
Orang tua itu menggigit daging bakar yang ia terima, setelah itu barulah ia berkata.
"Angger, tahukah lawan yang kau hadapi tadi ?" orang itu balik bertanya.
"Entahlah, paman. Tapi dari tata gerak yang ia tunjukan, telah menunjukan kesamaan jalur perguruan ku." jawab Tohjaya, sambil menggelengkan kepalanya.
"Cermatilah diriku, ngger..." kata orang itu, seraya berdiri.
__ADS_1
"Oh.. Paman... Jadi orang tadi.."
"Benar, ngger." potong orang itu, lalu lanjutnya ketika panji Tohjaya berdiri siaga, "Duduklah.."
Karena orang tua itu kembali duduk tiada berbuat yang membuat dirinya curiga, panji Tohjaya kemudian kembali duduk, meskipun tak meninggalkan kewaspadaannya.
"Akulah yang bermain - main denganmu tadi. Aku sering dipanggil Wijang Pawagal, saudara tua dari gurumu Danurpati yang kini kau kenal dengan Panembahan Sekar Jagat Anom." terang orang tua itu.
Betapa terkejutnya pemuda itu, dirinya tak menyangka akan berjumpa dengan murid tertua dari Panembahan Sekar Jagat Sepuh ditempat itu, bahkan sempat menjajal kemampuan ilmu dari orang yang menyebut dirinya Wijang Pawagal.
"Sembah sungkemku, paman guru."
"Sudahlah, kau tak usah berlebihan, ngger."
Lalu kemudian ki Wijang Pawagal menuturkan apa yang terjadi dengan panji Tohjaya pada saat dirinya keluar dari kadipaten Jipang, hingga perkelahian yang membuatnya tak berdaya dan dibuat dirinya tak sadarkan diri, sampai akhirnya ia siuman dipinggir sungai.
"Maafkan kemampuan diriku yang tak mampu mengembangkan ilmu jalur Sekar Jagat, paman." suara panji Tohjaya gemetar, menyesali keadaannya.
"Hahaha... Janganlah kau berkecil hati, dulu sewaktu aku semuda dirimu, aku hanya mampu meloncat layaknya kijang." hibur ki Wijang Pawagal, "Itulah yang membuat diriku dipanggil Wijang."
Kata - kata bernada candaan itu membuat panji Tohjaya tersenyum ringan.
"Ayo sambil dimakan, mumpung masih hangat, jika kau tak mau aku mampu menghabiskan semuanya tanpa tersisa." seloroh ki Wijang Pawagal, membuat suasana mencair.
Saat keduanya asyik melahap daging bangau, gemerisik dedaunan membuat ki Wijang Pawagal berkata.
"Bersiaplah, kita kedatangan tamu kehormatan."
"Oh.." desuh panji Tohjaya, yang tak manyadari keadaan.
Tak berselang lama dari balik semak belukar, empat orang berpakain hitam dengan sebagain wajah tertutup oleh kain berwarna merah, muncul dengan sebuah hardikan.
"Tohjaya, serahkan kepalamu dengan sukarela, agar kau tak mengalami rasa sakit tajamnya pedangku !"
"Huh.. Siapa kalian ? Berlaku lancung seperti itu !" balas panji Tohjaya, seraya berdiri menghadap orang - orang itu.
Sementara ki Wijang Pawagal tetap menyantap daging dalam genggamannya, tanpa memperdulikan pendatang itu.
"Tak usah kau berlantang kata, menunduklah segera !" bentak orang yang paling depan.
"Bangsat, mengapa kau menjadi gila ?" umpat pemimpin pendatang itu, lalu, "Bunuh dia !"
Perintah itu tak perlu diulang lagi, ketiga orang yang berada dibelakang bergegas mengepung panji Tohjaya dengan menghunuskan pedang mereka. Maka perkelahian yang tidak diketahui ujung pangkalnya oleh panji Tohjaya, mulai dengan serunya.
Ketiga pedang dengan cepat menghujam panji Tohjaya, tapi pemuda itu dengan tenang melenting tinggi dan mendarat diatas ketiga pedang itu, sambil melayangkan tendangan bertubi - tubi kesetiap penyerang.
"Memalukan !" bentak pemimpin mereka, saat ketiganya jatuh mencium kerasnya tanah.
Demi mendapat dampratan pemimpinnya, ketiga lantas segera melenting berdiri dan bersiap menyerang pemuda yang membuat malu didepan sang pemimpin. Ketiganya kini bersungguh - sungguh dengan menampilkan tata gerak seirama dan sehati, seolah - olah tiga tubuh digerakan satu pikiran. Bahkan ki Wijang Pawagal yang sempat memerhatikan, memuji kekompakan ketiga penyerang itu.
Perlahan namun pasti ketiganya bergerak memutar dengan tangan menggenggam pedang dengan mata pedang menghujam tanah, sehingga menimbulkan goresan sepanjang putaran mereka. Di dalam kepungan panji Tohjaya, yang keheranan dengan perilaku lawan - lawannya terus mengikuti tanpa meninggalkan kewaspadaan. Dalam pemikiran perwira muda itu meyakini adanya pergerakan yang mengejutkan dari lawan - lawannya, yang terus berputar semakin cepat.
Dan apa yang diperkirakan memang terjadi, salah seorang lawan tiba - tiba meloncat menyabetkan pedangnya. Hampir saja pedang itu mengenai sasaran, jikalau panji Tohjaya tak mengisar kakinya untuk menghindari serangan tiba - tiba tersebut.
Lawannya yang hanya mengenai angin, dengan cepat kembali keputaran dan kini kawannya yang lain mengulangi serangan dengan serangan mendatar segaris dada.
"Uuh....." desuh panji Tohjaya, yang melompat tinggi dan ingin keluar dari kepungan.
"Masuk !" teriak seorang penyerang, sekaligus menghalangi melelui tendangan.
Demi menjauhi cedera, maka dengan memutar tubuh di udara, panji Tohjaya mundur kembali dalam kepungan lawan.
Tiada celah sekecil lubang semut kepungan yang diperagakan oleh penyerang - penyerang itu, dan baru kali ini panji dari tlatah Jipang Panolan mengalami peristiwa dimana lawannya menunjukan kerjasama yang apik, seolah - olah tiga tubuh senyawa dalam satu otak.
"Dari mana orang - orang ini ?" bantin pemuda itu, dengan mata tajam.
Pertanyaan tinggalah pertanyaan, karena lawannya kembali menyerang lebih dahsyat dari sebelumnya. Secara acak silih berganti ketiganya membacok, masuk kembali kedalam putaran, berganti menggores dan masuk kembali kedalam putaran, meloncat silang menyilang membingungkan lawan demi memperoleh hasil berupa kekalahan lawan.
"Bila begini terus, tentu aku akan kelelahan dan akhirnya binasa ditangan mereka." desis panji Tohjaya.
Setelah mempertimbangkan waktu yang tepat, laksana burung elang pemuda itu menggenjot tubuhnya ke udara, lalu menukik ke salah satu lawan yang dirasa paling terlemah, dengan sekuat tenaga panji Tohjaya membacokan pedangnya.
"Traang !"
Benturan senjata dengan sekuat tenaga itu membuat lawannya terhenyak dan tak mampu mempertahankan senjatanya, sehingga terlepas jauh. Mengetahui lawan tiada senjata, panji Tohjaya meneruskan dengan sambaran pedang menyilang, tapi seorang kawan penyerang dari kanan dan kiri membantu dengan melakukan tebasan.
__ADS_1
"Wuus !" kedua pedang hanya mengenai angin, karena panji Tohjaya menarik mundur serangan demi menghindari tajamnya dua pedang.
Kini kedua orang penyeranglah yang lebih sebat dan gencar menyarangkan senjata dibarengi dengan sodokan, pukulan, maupun tendangan. Sementara kawannya yang kehilangan pedang, berlari mengambil senjatanya dan bergegas ikut kawan - kawannya untuk mengerubut musuh yang liat tubuhnya.
Saat itulah kembali orang itu kembali mengalami kesialan sekali lagi, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Baru dirinya akan menyerang, tiba - tiba saja lawan yang sebelumnya berdiri membelakangi, telah berkisar dari tempatnya untuk menghindari tusukan, dan tusukan itu terus menghujam penyerang yang baru datang.
"Kau....." tak mampu orang itu mengakhiri katanya, dikarenakan terburu oleh sang maut.
"Oh.." desuh kawannya yang menusuk tanpa sengaja, sambil mencabut pedangnya.
Tinggalah dua orang yang tersisa, sedangkan pemimpin dari para penyerang itu masih berdiri di tempat semula, hanya suara geram semata yang terdengar.
"Bantulah anak buahmu !" seseorang tiba - tiba muncul dari belakang pemimpin penyerang itu dan memberi perintah.
Suara itu membuat orang yang memimpin penyerangan terkejut, dan segera membalikan tubuhnya.
"Paman Suro Pakisan !" seru pemimpin penyerangan, yang mengenali orany yang baru datang itu.
Begitupun dengan ki Wijang Pawagal, yang sebelumnya hanya duduk makan daging blekok, terpancing untuk memerhatikan orang yang baru tiba itu.
"Oh tak nyana kalau seorang warok dari kadipaten Ponorogo, sudi bermain ke kadipaten Jipang !" seru Ki Wijang Pawagal.
Seruan itu sesaat telah menghentikan perkelahian demi ingin tahu wujud orang yang disebut warok oleh ki Wijang Pawagal. Wujud dari orang itu, berbadan tinggi tegap layaknya raksasa, kumis dan jambang tumbuh subur dengan akar bahar melingkar di kedua lengan dan yang terakhir adanya ikat pinggang putih ciri seorang warok, melingkar di pinggang, usus - ususan.
Orang yang disebut warok oleh ki Wijang Pawagal, menyeringai dan menatap tajam kepada ki Wijang Pawagal, seakan - akan ingin melumatkan jantung orang tua itu. Selangkah demi selangkah kaki itu mendekat dan berhenti dua tindak di depan ki Wijang Pawagal.
"Hemm betapa sempitnya dunia ini, akhirnya kita bertemu kembali Pawagal." seru warok Suro Pakisan.
"Hahaha benar apa yang kau katakan, ki Suro Pakisan, tapi apakah kau membawa oleh - oleh untuk ku ?"
"Tentu, bila kau mau bersabar, sebuah oleh - oleh akan kau terima setelah kemenakanku mampu menyembelih pemuda itu." jawab warok Suro Pakisan.
"Oh.. Mengapa harus seperti itu ? Kau sejak dulu tak pernah meninggalkan kebiasaan burukmu itu, sadarlah ki Suro Pakisan, kita yang semakin tua ini sudah mendekati hari senja." ujar ki Wijang Pawagal.
"Sudahlah kau tak usah sesorah di depanku, seakan - akan seorang pandito menasehati orang. Bila kau tak segera pergi dari sini, tentu kau akan melihat kebinasaan anak itu."
"Hemm, itu bertentangan dengan pendirianku, ki. Apalagi anak itu masih murid dari adik seperguruanku, tentunya aku akan melindunginya." sahut ki Wijang Pawagal, sambil melempar tusukan daging bakar ke arah sebuah pohon.
Sebuah pertunjukan kesaktian telah terjadi, tusukan itu menancap tajam kedalam pohon gayam sebesar sepelukan orang dewasa. Hal itu membuat ketiga penyerang dan panji Tohjaya, terpukau. Lain halnya dengan warok Suro Pakisan, orang itu tertawa hambar.
"Kau bermain layaknya anak kecil saja, Pawagal. Aku tak silau dengan apa yang kau tunjukan itu." kata warok Suro Pakisan, "Aku ulangi sekali lagi, pergilah dari tempat ini."
Namun murid utama dari Panembahan Sekar Jagat Sepuh itu, tak bergeser setindakpun, hanya gelengan kepala saja yang dilakukan.
"Hem, baiklah jika itu maumu." sesaat warok dari tlatah wengker itu menatap pemimpin penyerang, "Tangkis, bunuh anak itu ! Sedangkan orang tua ini aku yang mengurusnya !"
"Baik paman." Sahut pemimpin penyerang yang disebut Tangkis, yang tiada lain dari ki panji Jaran Tangkis, sambil menghambur menuju panji Tohjaya.
Sementara warok Suro Pakisan berseru kepada ki Wijang Pawagal, "Mari kita beradu liatnya daging dan kerasnya tulang !"
"Hahaha Aneh sekali kita ini, sudah memasuki usia senja masih berlaku kekerasan." desis ki Wijang Pawagal.
"Rasakan ini !" seru warok Suro Pakisan, dengan cengkraman keras ingin menangkap tubuh orang tua di depannya.
Tapi lawannya tak mau dengan mudah menyerahkan tubuhnya, dengan sedikit mengeser kakinya, tubuh agak merendah disertai kibasan keras mengarah dada warok, menunjukan perlawanan sungguh - sungguh. Demi mengetahui serangan balasan itu, warok Suro Pakisan menotol tanah meloncat melewati tubuh lawannya dibarengi tendangan gejik.
"Uuh..." desuh warok itu, saat serangannya hanya mengenai tempt kosong.
Setelah kakinya menginjak tanah dengan kewaspadaan dari serangan lawan, warok itu memutar tubuhnya. Dan perkelahian dari dua orang tua itu semakin seru meniti tingkatan demi tingkatan. Keduanya walau usia semakin menanjak usia senja, namun tata gerak kanuragan keduanya sungguh mendebarkan, itu semua didukung oleh banyaknya perbendaraan pengalaman di segala suasana dan bidang. Keduanya diibaratkan antara keperkasaan banteng yang ditunjukan oleh warok Suro Pakisan menghadapi lincahnya kijang ki Wijang Pawagal. Serudukan banteng dengan mudah selalu dapat dielakan oleh kijang, bahkan kijang itu mampu membuat banteng kebingungan tatkala tanpa diduga - duga berlari menjauh dan muncul dibelakangnya.
Di sisi yang lain ki panji Jaran Tangkis, yang masih menutupi wajahnya memimpin pengeroyokan terhadap ki panji Tohjaya. Pedang yang keluar dari warangkanya siap memakan korban sampai titik darah membasahi bumi. Serangan selang - seling dari sisi berlawanan selalu dilakukan dengan gencar dan cepat, seolah - olah tak memberi kesempatan mangsa beristirahat.
Denting senjata beradu lebih sering dengan menimbulkan percik - percik api dari gesekan besi pilihan itu. Sementara genggaman tangan kadangkala terasa linu dan panas saat mempertahankan senjata dikala sama - sama berbenturan.
Perkelahian itu sudah memakan waktu sepengunyah sirih, peluh bagai terperas membasahi tubuh, bahkan luka memar mulai mewarnai perkelahian di pinggir sungai itu. Di atas sang surya berjalan semakin rendah ke barat menunu peraduannya, diam membisu menatap perilaku yang ditunjukan oleh makhluk yang disebut, manusia.
Pergolakan demi pergolakan sudah sering diketahui oleh sang surya, di tanah ini, hanya menatap semata yang ia lakukan tanpa mampu memisahkan apa yang digarisakn.
Dalam pada itu sebuah gerakan aneh diterapkan oleh ki Wijang Pawagal saat dirinya hampir terpojok oleh sergapan lawannya, tiba - tiba tubuhnya seperti lenyap dari pandangan lawannya dan beralih dibelakang tubuh lawan, sambil memukul keras tulang punggung lawan.
"Uuh... " keluh warok Suro Pakisan, dan cepat - cepat menjaga jarak.
"Ilmu apa yang kau tunjukan itu, Pawagal ? seakan - akan dirimu lenyap dalam sekejap."
"O Itu tadi hanyalah aji Alang - Alang Kumitir." ucap Ki Wijang Pawagal, "Mengapa kau kesakitan seperti itu, ki Suro Pakisan ? bukankah ilmu kebalmu selalu kau bangga - banggakan ?"
__ADS_1
"Huh " dengus warok itu, memang dirinya tadi meremehkan lawan sehingga ia tak menerapkan aji Tamengwesinya. Kini matanya semakin terbuka lebar dan akan bersungguh - sungguh menghadapi murid padepokan lereng Lawu.