BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
72


__ADS_3

Setapak demi setapak kaki Arya Dipa bergeser memulai penyerangan terhadap lawan yang ia pandang mempunyai kemampuan olah kanuragan mumpuni. Di cobanya untuk melakukan penjajagan terlebih dahulu, guna mengetahui besarnya tenaga lawan. Dengan sebuah ayunan tangan ke depan, digunakan sebagai serangan tipuan.


Tipuan ayunan tangan termakan oleh ki Jara Murda, yaitu orang tua itu bermaksu  menangkap tangan Arya Dipa. Pada saat itulah, tangan Arya Dipa lekas ditarik kembali dan mengubah serangan dengan tendangan mendatar.


Ternyata ki Jara Murda sudah memperhitungkan kalau serangan lawan hanyalah tipuan belaka, maka secepat serangan lawan berganti, orang tua itu mengisar kakinya seraya melakukan serangan balik. Sengitlah perkelahian dua orang itu, tangan dan kaki begitu cepat dan kuat dalam setiap serangannya. Udara disekitar keduanya pun bagai terkena prahara dan menyibak semua yang ada dijangkauan ki Jara Murda dan Arya Dipa.


Sedangkan di sisi yang lainnya lagi, sesuatu yang berat sebelah dialami oleh kerumunan pengawal kademangan Mlanding. Nyi Cempaka dan murid ki Jara Murda mengamuk mengobrak - abrik pertahanan pengawal kadekangan yang hanya mempunyai dasar kanuragan cethek. Dua orang itu sekali bergerak mengakibatkan beberapa korban tak berdaya.


"Cukup, kisanak !" seru seorang pemuda yang keluar dari kegelapan bersama pamannya.


"Hm.. Mau apa kau ?" bentak murid ki Jara Murda.


"Mencoba menghentikan tingkah lakumu yang kasar tak sesuai tatanan ini !" seru pemuda yang mempunyai sorot mata tajam.


"Hehehe.. Kau belum tahu siapa calon lawanmu ini, he !" sahut pemuda murid ki Jara Murda, "Aku Bagus Sagopa, murid kinasih ki Jara Murda."


"Nama yang bagus, kisanak." ucap pemuda bersorot tajam, "Namun sayang, namamu tak sesuai perilakumu."


"Tutup mulutmu ! Sebelum kau mati, sebutkan siapa kau ini !"


"Aku hanyalah anak Tingkir, Bagus Sagopa. Kawan - kawanku sering menyebut namaku, Jaka Tingkir."


Bagus Sagopa mengerutkan keningnya. Ia teringat dengan cerita sepekan yang lalu, dimana seorang pemuda mampu membunuh buaya putih di kedung dekat sebuah perkampungan.


"Huh.. Hanyalah cerita ngayawara saja." batin Bagus Sagopa.


"Mengapa kau terlihat termenung seperti itu, Bagus Sagopa ? Sakitkah kau ?"


Pemuda murid ki Jara Murda itu menggeretakan giginya, seraya meloncat ke arah Jaka Tingkir atau Mas Karebet. Dua pemuda itu pun kemudian terlibat adu kecepatan, kegesitan dan kuatnya tenaga. Sama - sama muda dan tangkas menjadikan perkelahian itu seru. Apalagi disetiap serangan yang dilakukan keduanya tak menahan kekuatan masing - masing. Maka kekuatan itu bagai bendungan yang jebol sehingga meluruk aliran dibawahnya.


Tak kalah seru juga dialami oleh nyi Cempaka. Wanita dari bang wetan itu bertemu dengan lelaki yang sangat lihai dalam setiap gerakannya. Sehingga hal itu sangat menjadi perhatian dari nyi Cempaka untuk berhati - hati.

__ADS_1


"Aku tak mengira jikalau kademangan ini menyimpan seekor banteng sepertimu, kisanak !" seru nyi Cempaka.


"Hahaha.. Bukan hanya kademangan ini saja, nyai. Di setiap kademangan yang mengalami perilaku seperti yang dilakukan oleh orang bernama Ploso Slangkrah, tentu akan lahir beribu macan untuk memberikan ketenangan." sahut paman Jaka Tingkir, yaitu ki Sembada atau Raden Kebo Kanigara.


"Cih.. Omong kosong, kau !" geram nyi Cempaka seraya melanjutkan serangannya.


Para bebahu yang menyaksikan lawan - lawan yang mereka anggap menakutkan telah mendapat lawan seimbang, membuat mereka tenang dan memusatkan perhatian mereka kepada anak buah gerombolan Kalamuda. Kedudukannya kini menjadi imbang, dikarenakan anak buah gerombolan Kalamuda semakin berkurang sejak terkena jebakan dan kedatangan Jaka Tingkir dan ki Sembada.


Denting beradunya senjata sering terjadi disusul erangan maupun jeritan yang menyayat kalbu. Luka tergores tajamnya pedang, belati panjang, nanggala, tombak dan senjata tajam lainnya nampak mewarnai tubuh masing - masing pihak yang lengah. Luka memar juga didapat oleh kedua belah pihak.


Dalam pada itu, Arya Dipa merasakan tekanan hebat dari ki Jara Murda. Serangan orang tua itu seoalah - olah mampu mendahului wadagnya.


"Untung saja aji Niscala Praba sudah aku ungkap sejak tadi." batin Arya Dipa.


Jikalau Arya Dipa tak melindungi tubuhnya dengan aji yang mampu memberikan benteng kasat mata itu, tentu tubuhnya akan remuk terkena tangan ki Jara Murda yang sudah dilambari aji Hasta Wesi. Yaitu sebuah aji yang dapat membuat si pengguna bagaikan terbuat dari besi gligen.


Demikian pula yang dirasakan oleh orang tua guru Bagus Sagopa, rasa heran menyelimuti hatinya manakala merasakan tangannya bagai menumbuk sesuatu yang keras dan tebal.


"Ah, aku akan mendobrak dengan aji Waja Geni " lanjut ki Jara Murda.


Sehabis berkata, orang tua itu melompat menjaga jarak demi menerapkan ilmu andalannya setelah aji Hasta Wesi, yaitu aji Waja Geni. Secepat kilat tangan yang sebelumnya berwarna hitam kelam, berubah menjada merah membara berselang seling dengan warna hitam pekat.


"Mampus kau, anak muda !!!!" teriak ki Jara Murda sambil menyongsongkan kedua tangan kepada lawannya.


Sejak ki Jara Murda meloncat menjaga jarak, Arya Dipa sudah memperhitungkan kalau lawannya tentu akan berbuat sesuatu yang akan mengejutkan dirinya. Oleh sebab itulah, Arya Dipa sudah menempatkan dirinya dengan baik. Yaitu mempertebal aji Niscala Praba sampai tingkatan teratas.


Suara menggelegar menghentakan udara malam di kademangan Mlanding. Dua ilmu berbeda penerapan, yaitu aji Wesi Geni sebagai pendobrak melawan aji Niscala Praba yang dikhususkan sebagai benteng, menjadi penyebab suara keras itu.


Sesaat setelah suara hentakan itu reda, dua orang sebagai sumber kedua kekuatan masih terlihat berdiri kokoh ditempat masing - masing.


"Gila !" seru ki Jara Murda, "Setan kecil itu mampu menahan pukulanku."

__ADS_1


Sementara Arya Dipa mengucap syukur dalam hati, "Ya Gusti, Engkau masih memberikan perlindungan kepada hamba-mu ini."


"Edan... !" umpat Bagus Sagopa, ketika menyaksikan lawan gurunya mampu menahan serangan aji Wesi Geni.


"Mengapa kau mengumpat seperti itu, Bagus Sagopa ?" tanya Jaka Tingkir yang memberikan waktu bagi lawannya untuk memperhatikan keadaan disekitarnya, "Masih untung kakang Arya Dipa itu tak menggunakan tenaga penuh."


Bagi Bagus Sagopa, suara yang keluar dari mulut lawannya merupakan ejekan yang perlu ia balas dengan sebuah hajaran. Lalu ia pun dengan cepat menampar mulut lawannya tanpa ampun. Tetapi yang ia dapat malah rasa mangkel dihati, bukan tangannya menyentuh mulut lawan, melainkan batang pohon randu-lah yang terkena gamparan tangannya.


Secepatnya ia membalikan tubuh dan kembali menyerang Jaka Tingkir dengan segenap kemampuannya. Tetapi ia salah lawan, karena pemuda anak angkat nyi Ageng Tingkir itu merupakan pemuda yang rajin mesu diri diberbagai tempat dan mempunyai guru lebih dari satu.


Betapa mudahnya Jaka Tingkir dalam memperlakukan lawannya yang mempunyai kemampuan menggetarkan itu. Setiap serangannya mampu dimentahkan dengan gamblangnya. Kecepatan Bagus Sagopa bagi Murid ki Ageng Sela itu bagai sekuku ireng. Padahal Bagus Sagopa mempunyai ilmu meringankan tubuh mengagumkan, tetapi hal itu jauh dari kemampuan murid ki Ageng Sela itu, dimana kelincahan ki Ageng Sela mampu menghindari kilatan petir dan menangkapnya, mampu diserap oleh Jaka Tingkir.


"Sudahlah, Bagus Sagopa. Sebaiknya kau menyadari kekeliruanmu ini. Janganlah kau mengikuti perbuatan dari gurumu." ucap Jaka Tingkir perlahan.


Namun Bagus Sagopa tak mendengarkan perkataan dari lawannya. Malah tangannya telah menggenggam sebilah keris dengan pamor menakjubkan. Sinar hijau memancar dari keris ditangan pemuda itu.


"Bagus Sagopa, sadarkah kau jika yang ada di tanganmu itu sebuah benda tajam ?"


"Hahaha.. Menyesalkah kau berhadapan denganku, Jaka Tingkir ?" kata Bagus Sagopa dengan sinis, "Ketahuilah, jika kyai Sagopa ini sudah keluar dari sarangnya, darahlah sebagai tumbalnya. Dan darahmu-lah sebagai tumbalnya."


Mata tajam dari Jaka Tingkir semakin tajam. Tubuh pemuda itu selapis nampak samar warna hijau kebiru - biruan. Menandakan aji Lembu Sekilan sudah manjing dalam setiap langkahnya. Cucu Adipati Handayaningrat itu kini mulai bersungguh - sungguh demi menghadapi keris kyai Sagopa di tangan lawannya.


Selanjutnya sudah dipastikan kedua pemuda itu memulai kembali perkelahian yang telah meningkat lebih seru dan mendebarkan. Kini nyawalah yang dipertaruhkan dalam perang itu, nyawa yang tiada orang memperjual belikan harus menjadi harta yang harus mereka pertahankan.


Kembali dengan Arya Dipa. Pemuda itu kali ini terlihat menghindari pukulan ki Jara Murda. Kedua tangan lawan yang membara berselang warna hitam, dihindari dengan berjumpalitan tiga kali sambil menjauh dari jangkauan lawan.


"Pengecut !!!" seru ki Jara Murda, "Kenapa kau melompat terus ? Bukankah kau mempunyai ilmu kasat mata ?"


"Hm.. Kyai, Kau selalu berkata begitu terus sejak tadi. Bila aku menahan, kau memaki dengan kasar. Dan bila aku menghindar, kau menganggap aku pengecut." kata Arya Dipa, "Ingatlah, kisanak. Usia yang sudah setua kisanak ini seharusnya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dengan berkata memuji kebesaran-NYA."


Wajah ki Jara Murda seketika memerah. Baru kali ini dirinya disesorahi oleh seorang anak yang usianya masih hijau. Beginilah jika seseorang yang mempunyai harga diri terlalu berlebihan. Nasehat kebaikan dari seorang yang usianya lebih muda, dianggapnya berlaku kurang tata. Dan ini merupakan yang dialami oleh kebanyakan orang dimasa ini.

__ADS_1


"Diam kau, anak setan !!" umpat ki Jara Murda dengan kasarnya.


__ADS_2