BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
141


__ADS_3

Perkelahian seru masih terus berlangsung hingga matahari kian merangkak. Sang surya di langit memandang jelas dengan sinar teriknya tanpa halangan sang awan. Seolah ikut mengawasi adu olah kanuragan merebutkan bayi putra Pangeran Banyak Paguhan. Entah bagaimana jadinya diakhir perkelahian itu, tetapi yang tentu adalah adanya korban, entah itu pingsan atau bahkan kematian menghampiri mereka.


   Padang ilalang yang awalnya terasa damai dihari - hari biasanya, sejak tadi malam berubah kelam. Tiga sosok manusia menggeletak tak berdaya, sedangkan empat pasang kaki masih meloncat - loncat dengan tata gerak yang merusak tetumbuhan itu. Hanya diam dan pasrahlah yang dilakukan oleh ilalang itu. Karena tetumbuhan itu hanya dikodratkan untuk menyaksikan keadaan alam ciptaan Dzat Suci.


   Dua kalangan antara Lurah Brahu dan kakek tua, serta Rangga Paguhan dan Tilam, terus mengeluarkan bermacam - macam tata gerak. Tetapi sungguh ada perbedaan yang mencokok dari masing - masing pihak. Yaitu niat yang ada dalam diri masing - masing dalam melakukan tindakan itu. Angkara murka penuh nafsu menyusup diantara dua hati untuk meraih sesuatu kenikmatan dunia melalui jalan yang salah. Sedangkan disisi sebaliknya, adanya sifat mengayomi antara sesama menimbulkan tindakan pencegahan dan mengusir tindakan - tindakan angkara murka itu sendiri.


   Sudah sekian lama perkelahian itu, maka akhir dari perkelahian semakin mendekati akhir. Rangga Paguhan menggenggam erat pedang ditangannya. Sambil merendah mengelakan tebasan lawan, ia mendorong pedangnya ke depan. Pedang itu berhasil merobek perut lawannya dengan meninggalkan bekas goresan panjang dan darah deras mengalir dari perut lawannya. Dan robohlah orang itu ke bumi.


   Desuh napas mengiringi pandangan Rangga Paguhan, saat menyaksikan bagaimana lawannya tersungkur untuk selamanya. Tiada jalan lain selain akhir yang buruk seperti itu. Peringatan beberapa kali dari Rangga Paguhan tak diindahkan. Maka itulah jalan terakhir yang dipilih, yaitu kematian dari salah satu pihak. Dan dialah yang lemah-lah yang pertama dijemput oleh dewa maut.


   Tak berbeda jauh dari nasib Tilam, meskipun akhirnya masig lebih baik, Lurah Brahu semakin terdesak dan tertekan hebat. Ilmunya yang bersumber dari Sagotra Wineh Suka, selalu dapat dimentahkan oleh lawannya. Orang tua itu selalu selapis lebih tinggi diatasnya.


   "Kita sudahi, ngger.. " desis orang tua itu, sembari mengibaskan tangannya.


   Hebat jadinya, dari kibasan tangan orang tua itu, telah menimbulkan serangkum angin yang membuat tubuh Lurah Brahu terdorong jauh. Tubuh itu melanda ilalang sejauh lima tombak dan tak sadarkan diri.


   "Hm... Itu lebih baik daripada kau pergi ke alam lain.. " gumam orang tua itu.


   Dalam pada itu, Rangga Paguhan bergegas mendekati orang tua tersebut. Sesampainya didekatnya, selekasnya Rangga Paguhan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terlanjur terjadi. Serta tak lupa meminta keterangan mengenai diri orang tua itu, yang sepertinya tahu segala - galanya.


   "Hm.. Anakmas, aku salah seorang pengasuh Pangeran Banyak Paguhan. Orang menyebutku Sumantri."


   Rangga Paguhan mengernyitkan alisnya. Ia agak sangsi dengan keterangan dari orang tua itu. Baru sekarang ia mendengar nama seorang pengasuh Pangeran Banyak Paguhan.


   "Itu tidak penting, Anakmas." kata ki Sumantri seraya melanjutkan ucapannya, "Anak inilah yang kau dahulukan untuk kau antarkan kepada orang tuanya. Dan ingat-lah, harus orang tuanya, jangan orang lain."


    "Memangnya mengapa, kyai ?" tanya Rangga Paguhan, heran.


   "Hm... Saat ini keadaan di telatah Wilwatikta dan sekitarnya sangat runyam."


   "He... " Rangga Paguhan tercekat.


   "Baiklah, sambil kita kembali ke pura Kadiri, akan aku ceritakan semuanya. Dan hal ini akan menyangkut junjunganmu yang masih muda itu." kata ki Sumantri seraya mengajak Rangga Paguhan bergegas ke pura Kadiri.


   Di jalan, keduanya tidak mengalami kesulitan yang berarti. Dan tiada juga menemukan adanya orang - orang Rakyan Grigis. Maka selamatlah ki Sumantri dan Rangga Paguhan, di pura Kadiri.


   Sesampainya di pendopo, Pangeran Banyak Paguhan sendirilah yang menyambut kedua orang itu. Dan benar adanya kalau ki Sumantri merupakan orang yang dahulu mengasuh Pangeran Banyak Paguhan. Juga merupakan seorang guru yang mengajarkan satu dua ilmu olah kanuragan.


   Setelah menanyakan kabar dan keselamatan masing - masing, Pangeran Banyak Paguhan yang mengetahui salah seorang putranya selamat, bergegas mengucapkan terima kasih kepada keduannya. Meskipun dalam hati ada sedikut ganjalan.


   Tetapi itu semua dapat dibaca oleh ki Sumantri. Oleh karenannya orang tua itu memberanikan diri untuk bertanya.


   "Anakmas Pangeran, pancaran hati dari anakmas begitu kentara hingga meresap keluar begitu kentalnya. Mohon kiranya anakmas sudi membagi kepada orang tua pikun ini."


   Sejenak, Pangeran yang berusia muda itu menghela nafas. Ia tak mungkin menyembunyikan masalah yang menimpa dirinya, terhadap orang tua yang tajam pranggaitanya itu. Maka kemudian ucapnya.


    "Eyang Sumantri, dibalik ketenangan Wilwatikta kala ini, bagaikan permukaan air brantas di musim kemarau. Bila dilihat dari atas, permukaan sangat tenang dan menghibur. Tetapi di dasarnya sungguh mendebarkan jiwa."


   Ki Sumantri mengangguk mengerti. Dirinya-pun juga menyimpulkan kesamaan mengenai suasana di Wilwatikta dan seluruh tanah kekuasaannya. Hanya Rangga Paguhan saja yang masih ragu dalam menyikapi keadaan yang tadi sedikit diceritakan oleh ki Sumantri. Tetapi sejenak kemudian, terdengar Pangeran Banyak Paguhan berkata lebih lanjut.


   "Benih pergolakan sudah ditebar oleh penguasa Kadiri. Dan kini benih itu melebar luas menggerogoti jiwa para Nayaka Praja."


   "Oh Jagat... " desuh ki Sumantri.


   Kemudian Pangeran Banyak Paguhan menceritakan lebih lengkap. Mengenai rincian pergolakan yang mulai dijalarkan oleh orang - orang yang ingin meruntuhkan Wilwatikta. Dan salah seorang dari mereka adalah Rakyan Grigis. Dengan berhasilnya tumenggung itu  mendapatkan salah satu bayi Pangeran Banyak Paguhan, maka jalan untuk menekan Pangeran yang cukup berani dari Kadiri, dapat dilaksanakan. Sehingga adanya pemusatan di Kadiri tidak akan merembes keluar.


   "Ki Rangga Paguhan... "


   "Hamba, gusti Pangeran."


   "Aku tugaskan kau untuk merebut kembali, putra. Namun kau harus berusaha menyamarkan dirimu. Dan jika kau berhasil, rawatlah ia di telatah Belumbang."


   "Sendiko dawuh, gusti Pangeran."


   Sejak saat itulah Rangga Paguhan menyembunyikan jati dirinya menjadi seorang pertapa. Ki Ajar Paguhan sekarang telah ia sandang sebagai gelar untuk ia gunakan merebut putra Pangeran Banyak Paguhan, yang bernama Bagus Wana. Setahun kemudian ki Ajar Paguhan berhasil menewaskan Rakyan Grigis dan membawa Bagus Wana ke telatah Belumbang. Di sana ki Ajar Paguhan juga merawat seorang anak yang bernama Kidang Rumeksa.


   Kedua anak itu mendapat gemblengan langsung oleh ki Ajar Paguhan berupa olah kanuragan. Siang malam keduanya menghabiskan waktu dalam menekuni ilmu - ilmu dari ki Ajar Paguhan.


   Dan di suatu hari, seorang kakek lanjut usia, datang berkunjung ke pondok dimana ki Ajar Paguhan dan dua muridnya berada. Kakek itu ternyata adalah ki Sumantri, seorang pengasuh Pangeran Banyak Paguhan. Kedatangannya merupakan utusan daripada Pangeran Banyak Paguhan itu sendiri. Yaitu untuk menilik keadaan Bagus Wana yang seharusnya dibawa ke pura Kadiri. Tetapi karena suatu sebab, hal itu diurungkan. Karena di pura terjadi kericuhan yang mencemaskan.


   Hanya tiga hari saja ki Sumantri berada di telatah Belumbang. Di hari yang terakhir, orang tua itu sempat meninggalkan pesan kepada ki Ajar Paguhan. Pesan itu adalah apabila sesuatu terjadi, hendaknya ki Ajar Paguhan menyampaikan kepada anak Kidang Rumeksa untuk mengunjungi gua yang tidak terlalu jauh dari Belumbang. Dan hal itu membuat ki Ajar Paguhan heran atas pesan ki Sumantri.


   Sebagai seorang yang waskita, ki Sumantri kemudian menjelaskan alasan mengapa dirinya berpesan seperti itu. Pertama, saat pertama bertemu dengan anak yang bernama Kidang Rumeksa, ki Sumantri melihat adanya hati yang bersih dari anak itu. Kedua, ada penglihatan yang meskipun samar, masa depan Kidang Rumeksa akan menjadikan dirinya seorang yang selalu mengurungkan tindakan - tindakan salah dari seseorang, tanpa adanya sikap membenci yang mendalam


   Uraian itu membuat ki Ajar Paguhan agak cemas. Yang mencemaskan adalah apakah seseorang yang selalu ditindak oleh Kidang Rumeksa adalah Bagus Wana ? Inilah yang menghawatirka bekas Rangga itu.


   Bertahun - tahun lamanya kehidupan di telatah Belumbang, aman sentosa. Hingga saat mendebarkan datang jua. Seorang lelaki yang berbadan tegap menghampiri Bagus Wana. Orang itu mengaku sebagai Demang Brahu yang merupakan adik dari Rakyan Grigis. Dan Demang Brahu mengatakan kepada Bagus Wana, kalau sebenarnya ayahnya adalah Rakyan Grigis, yang dibunuh oleh ki Ajar Paguhan.


   "Begitulah, paman Begawan." kata ki Panji Mahesa Anabrang, mengakhiri ceritanya.


   Begawan Jambul Kuning yang di masa mudanya bernama Raden Bancak putra Pangeran Banyak Paguhan, benar - benar tak mengira jika dirinya mempunyai saudara kembar. Bertahun - tahun lamanya, bahkan setelah orang tuanya tiada, dan bahkan disaat usia senja ia lalui, baru tahulah kebenaran mengenai keluarganya. Hal itu sungguh menjadikan tanda tanya besar pada dirinya kepada ayahanda Pangeran.


   Semenjak dirinya kecil hingga remaja, tiada sang ayahanda mengatakan kalau dirinya mempunyai seorang saudara. Begitu-pun dengan ibunda yang setiap hari tak pernaj menunjukan keanehan. Mengapa ? Mengapa ? Mengapa ? Apa alasan keduanya tidak pernah menceritakan kenyataan itu ? Tiada satu-pun pertanyaan itu terjawab.


   Di samping Begawan Bancak, Windujaya ikut merasakan kegetiran yang dipikul oleh gurunya. Namun ia hanya diam membisu saja dan menunggu sikap gurunya itu.


   Dalam pada itu, ki Mahesa Anabrang berkata, "Demang Brahulah yang mencuci otaknya, paman Begawan. Semua kenyataan tentang jati diri adik paman telah ia simpangkan."


   "Apakah orang yang disebut Demang Brahu itu masih hidup ?"


   Sebuah pertanyaan konyol itu sebenarnya disadari oleh Begawan Jambul Kuning, tetapi adanya rasa sesak yang begitu mendalam, membuat bibirnya berucap. Dan selekasnya Begawan Jambul Kuning menggelengkan kepala sekaligus berkata.


   "Ah.. Tentu tidak. Bila orang itu hidup, usianya pasti seratus lebih."

__ADS_1


   Tetapi sekonyong - konyong ki Panji Mahesa Anabrang berkata, "Dia dikaruniai umur panjang, paman."


   "He... " Begawan Jambul Kuning, terkesiap.


    "Salah seorang prajuritku mengetahui keberadaannya di gunung Arjuno." terang, ki Panji Mahesa Anabrang.


   Pembicaraan itu terhenti sejenak, manakala dari pintu regol terlihat dua orang memasuki halaman. Dari salah satunya ki Panji Mahesa Anabrang dan yang lainnya sangat mengenali orang yang tidak bukan adalah Lurah Arya Dipa, putra angkatnya. Tetapi orang satunya, barulah kali ini mereka melihatnya.


   Usai berucap salam dan disambut, Lurah Arya Dipa dan orang bersamanya, dipersilahkan duduk. Saling menanyakan keadaan juga tidak dihindari, khususnya antara Begawan Jambul Kuning beserta Windujaya dan Lurah Arya Dipa yang sudah lama tidak bertatap muka. Barulah Arya Dipa memperkenalkan orang yang duduk di sampingnya.


   "Kyai Jalasutro.... " desis Begawan Jambul Kuning dan ki Panji Mahesa Anabrang, bersamaan.


   "Oh.. Tidak aku duga jika seorang linuwih seperti kyai, dapat aku jumpai disini." kata Begawan Jambul Kuning, yang sudah mendengar kehebatan orang itu.


   "Ah, Begawan terlalu berlebihan." kata kyai Jalasutro merendah.


   Dalam pada itu, selain memperkenalkan antara kyai Jalasutri dan ayahnya, dan tanpa diduga di pondok ayahnya yang kedatangan tamu kakeknya, Lurah Arya Dipa yang sebelumnya sudah menceritakan bagaimana kesamaan antara kakeknya Begawan Jambul Kuning dengan ki Wanapati kepada kyai Jalasutro, telah melakukan pembicaraan mengenai kenyataan keluarga kakeknya.


   "He.. Jadi, orang itu mendatangimu, ngger ?"


   "Iya, eyang Begawan. Untunglah kyai Jalasutro datang menolong." jawab Lurah Arya Dipa.


   "Terima kasih, kyai." ucap Begawan Jambul Kuning.


   Kyai Jalasutro menggeleng dan berkata, "Aku hanya tak ingin kawan sepermainanku itu celaka ditangan anakmas Arya Dipa."


   Semua orang tersenyum dengan apa yang dikatakan oleh kyai Jalasutro.


   "Oleh karenannya, aku meminta ijin untuk tinggal bersama keluarga anakmas Arya Dipa. Tiada lain maksudku ialah untuk menanti kembali Bagus Wana yang kini menyebut dirinya ki Wanapati." lanjut kyai Jalasutro.


   "Oh, baguslah hal itu, kyai. Kita bisa berbicara panjang lebar di rumah cucuku ini. Karena, aku-pun ingin menunggu kelahiran buah hatinya, yang tidak akan lama lagi." sahut Begawan Jambul Kuning.


   Maka, dihari - hari kedepannya, rumah Lurah Arya Dipa akan semakin ramai dengan adanya kyai Jalasutro dan Begawan Jambul Kuning, serta Windujaya. Canda gurau terdengar menghidupkan suasana rumah kelurga kecil Lurah Arya Dipa, meskipun tanpa lengah sedikit-pun atas sosok dari ki Wanapati yang masih mempunyai ikatan darah.


   Suasana rumah Lurah Arya Dipa, tidak terlepas dari pengamatan orang - orangnya ki Wanapati. Itu terbukti manakala ada seorang lelaki yang berhenti membeli dawet ditikungan jalan yang berhadapan dengan rumah Lurah Arya Dipa. Orang itu berpura - pura membeli dawet dan meminumnnya perlahan seraya bertanya.


   "Wah, dawet kisanak sungguh lain daripada yang lain." puji orang itu.


   Seorang pedagang jika dagangannya dipuji seseorang, tentu kebanyakan dari mereka akan berbesar hati dan senang.


   "Hehehe... Begitulah, tuan. Orang - orang yang sekali membeli dawetku, pasti datang ketagihan."


   "Hm.. Tentu - tentu. Jika aku lewat sini, pasti akan kucoba lagi dawet ini."


   "Lewatlah lagi, tuan. Bila tuan lewat jalan ini sebelum tengah hari, dawetku biasanya masih tersedia."


   "He.. Dawet dua pikul ini terjual hanya setengah hari ?" tanya orang itu, terkejut.


   "Memang sepertinya tuan baru lewat telatah sini. Di sini hanya dawetku saja yang laris manis. Kata orang, dawetku sungguh sangat menyegarkan."


   Tukang dawet itu mengernyitkan alisnya. Namun kemudian ia tersenyum dan berkata, "Benar, tuan. Tetapi sudah lama gusti Tumenggeng meninggal karena sakit. Dan rumah itu kosong hingga bertahun - tahun."


   "Lho.. Itu, ada penghuninya ?"


   "O, itu tamu yang akhir - akhir ini tinggal di rumah, yang sudah setahun ini dihuni oleh ki Lurah Arya Dipa, cucu gusti Tumenggung." terang tukang dawet.


   Orang yang beli dawet itu, mengangguk. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, bergegas ia membayar dan melangkah pergi dengan melewati depan regol rumah Lurah Arya Dipa. Dan saat melewatu itulah, terlihat dua orang tua yang duduk di tlundakan. Hanya satu yang membuat orang itu agak terkejut. Yaitu ketika melihat wajah dari salah satu orang itu.


   "Wajahnya begitu mirip dengan ki Wanapati... " desis orang itu, yang terus berlalu.


   Orang itu kemudian menuju sebuah pategalan yang ditumbuhi pohon lamtoro dan pohon nangka. Di saat sampai ditengah pategalan, disitu terdapat adanya gubuk terbuat dari pohon bambu dan beratapkan daun blarak yang dianyam. Rupanya gubuk ini adalah tempatnya bermalam.


   "Kau, sudah datang, Galah ?" seseorang yang baru keluar dari gubuk, mengajukan pertanyaan.


   "Bukankah kau sudah lihat sendiri kalau aku baru tiba, Supa ?"


   "Hehehe... Kau seperti biasanya. Hm, masuklah. Aku sudah membuat wedang sere." kata Supa.


   "Hm.... " desuh Galah yang mengikuti Supa.


   "Kau pasti tak akan percaya, Supa."


   Supa menggeser letak duduknya dan tanyanya, "apa yang kau maksud, Galah ?"


   "Rumah Lurah muda itu kedatangan seorang tua yang mirip dengan wajah ki Wanapati."


   "Kau bicara mengada - ada, Galah. Apa kau sudah mabuk dawet ?"


   "Semprul, kau Supa." umpat Galah, "Tadi aku sudah bilang, kalau kau tidak akan mudah untuk mempercayaiku."


   Supa mencoba mempercayai ucapan kawannya. Apakah benar kalau orang yang berada di rumah Lurah Arya Dipa sangat mirip dengan ki Wanapati. Dan tak lama kemudian, Supa ingin membuktikan keterangan dari Galah. Maka ia bangkit berdiri dan beranjak pergi.


   "He, mau kemana kau ?" tanya Galah, agak kesal karena ditinggal begitu saja.


   "Membuktikan omonganmu.. " sahut Supa yang sudah berada di luar gubuk.


   "Terserah kau... "


   Supa penasaran dengan orang yang mirip dengan ki Wanapati. Disetiap langkahnya terus terbayang kemiripan apa saja yang ada diantara keduanya. Sehingga tiada terasa kelokan jalan sudah dilewati dengan cepat. Gubuk di pategalan sudah jauh dibelakang tak terlihat lagi. Kini langkahnya menapaki jalan yang umum dilewati oleh khalayak ramai. Kadangkala ia berpapasan dengan pejalan lainnya dan apabila ada seseorang penunggang kuda, terpaksa ia menepi.


   Akhirnya sampai juga Supa ditikungan jalan dekat rumah Lurah Arya Dipa. Yang tadi disitu ada penjual dawet, sudah tak ada lagi. Berhentilah Supa disitu.


   "Mencari siapa, kisanak ?" sebuah teguran terdengar dari arah belakang Supa.

__ADS_1


   Supa agak kaget, meskipun dengan cepat ia menguasai keadaan kembali. Dilihatnya dibelakang ada seorang lelaki muda menuntun kuda. Dari penampilannya, lelaki muda itu hanyalah orang biasa saja. Lantas Supa berpura - pura untuk memperkenalkan diri sebagai pedagang.


   "Oh, kisanak mengagetkan aku saja." kata Supa, "Biasanya disini ada penjual dawet, tapi apa mungkin sudah habis ?"


   "O.. Memang benar, kisanak. Ki Talam biasanya menggelar jualannya disini. Tetapi bila mataharu sudah menggelincir ke barat, dawetnya yang dua pikul sudah ludes terjual."


  Supa mengangguk, lalu katanya kemudian, "Ah, sayang sekali."


   "Bila kisanak bersedia, mari singgah di gubukku." lelaki muda itu menawarkan.


   "Ah, terima kasih. Mungkin lain kali saja. Mumpung hari masih terik, sebaiknya aku melanjutkan perjalanan."


   "Silahkan, kisanak."


   Sehabis berpamitan, Supa melangkahkan kakinya melewati depan regol rumah Lurah Arya Dipa. Begitu tepat di depan regil yang terbuka, ia sejenak melayangkan pandang menyusuri halaman. Tetapi tiada nampak orang disitu. Lantas ia pesatkan langkah kakinya.


   Sementara itu, lelaki muda tadi yang masih berdiri ditikungan, mengerutkan alis manakala mendapati orang yang mengaku pedagang tadi, memperhatikan rumah Lurah Arya Dipa. Lelaki muda itu merasakan kalau orang yang mengaku seorang pedagang tadi, ingin mengetahui keadaan rumah itu.


   "Siapa orang tadi ?" desis lelaki muda, yang ternyata adalah Lurah Arya Dipa itu sendiri.


   Sebenarnya tadi Lurah Arya Dipa yang baru pulang dari sungai, tanpa sengaja melihat seseorang yang berdiri di tikungan jalan dengan tampang yang mencurigakan. Oleh karenanya dari jauh ia turun dari pelana kuda dan menuntun kudanya dengan sangat perlahan. Sehingga saat dekat dengan orang tadi, dan menyapanya, membuat orang itu kaget.


   Malah ditambah lagi saat orang itu melewati jalan depan regol rumahnya. Mata orang itu begitu kentara adanya sesuatu yang dicari. Oleh karenanya, Lurah Arya Dipa berusaha menarik tali simpul dari keadaan diakhir - akhir ini. Sehingga dugaan yang paling mendekati di hati Lurah muda itu yaitu, mengkaitkan orang mencurigakan tadi dengan seorang yang bernama ki Wanapati.


   "Bisa jadi dia adalah orang - orangnya ki Wanapati." batin Lurah Arya Dipa, sembari memasuki regol.


  Dibawanya kuda menuju kandang yang berada di belakang rumah dan ikat di patokan yang tersedia. Tak lupa sekeranjak rumput ditaruh di depan kuda, sebagai makanan kuda kesayangannya.


   "Makanlah yang kenyang, Jatayu.. " desis Lurah Arya Dipa, sambil membelai kepala kuda itu.


   Kuda itu meringkik perlahan. Seakan - akan mengiyakan ucapan dari tuannya. Dengan lahapnya kuda itu mengunyah rumput yang menyegarkan bagi tubuhnya. Sejenak Lurah Arya Dipa masih terus memperhatikan tingkah laku Jatayu. Kuda yang menemaninya semenjak usianya masih belasan tahun. Kuda jantan yang kokoh, tinggi dan besar, berlari pesat layaknya tidak menapak tanah saja.


   "Kau disini rupanya, kakang.. " Ayu Andini menyapa dari arah belakang.


   Sembari membalikan tubuh, Lurah Arya Dipa tersenyum menyaksikan istrinya yang menghampirinya. Dilihatnya perut istrinya yang membuncit adanya calon jabang bayi, putra pertamanya. Dan mulut Lurah muda itu terbuka.


   "Angger, nyenyak-kah kau ? Lihatlah, disini Jatayu asyik menikmati makan siangnya.." kata Lurah Arya Dipa, sembari membelai perut istrinya, penuh kasih sayang.


   Pada saat namanya disebut oleh tuannya, Jatayu meringkik perlahan dan menoleh ke arah perut Ayu Andini, seolah menyapa anak yang ada dalam kandungan Ayu Andini.


   "Kakang.. "


   "Ada apa, Ayu ?"


   "Tadi pagi ada seseorang yang terus memperhatikan rumah kita." kata Ayu Andini, perlahan.


   Lurah Arya Dipa mengerutkan alisnya, tetapi mencoba menenangkan istrinya, "Ah, mungkin hanya sebatas saja, Ayu."


   "Tidak, kakang. Bahkan ki Talam yang merupakan orang awam, sangat mencurigai orang itu." sergah Ayu Andini, "Bahkan orang itu menanyakan apakah rumah ini masih dihuni eyang Tumenggung dan menanyakan siapa saja yang menghuninya."


   "Hm... Kau tak perlu memikirkan hal itu, Ayu. Yang paling utama, kau pusatkan kelahiran dari buah hati kita. Tenanglah, di rumah ini ada eyang Begawan dan adi Windujaya. Dan bukankah Kyai Jalasutro juga ikut menginap disini ? Jadi, sekali lagi, kau harus bersikap tenang." Lurah Arya Dipa, mencoba menentramkan istrinya.


   Ayu Andini mengangguk mencoba mengikuti pesan dari suaminya itu. Memang benar apa yang diucapkan oleh suaminya, di rumahnya berkumpul orang - orang tua yang mumpuni, juga ada Windujaya yang merupakan murid tunggal Begawan Jambul Kuning. Dan apabila memungkinkan, mereka dapat meminta pertolongan dari ayahnya, ki Panji Mahesa Anabrang.


   Tidak terasa senja diambang mata. Sinar lembayung mulai menghiasi indahnya langit. Perlahan namun pasti, sang surya kembali keperaduannya dan digantikan kerlap - kerlip gemintang. Menambah suasana temaram menjelang malam. Ublik, dian dan beberapa penerangan di rumah - rumah telah dinyalakan demi menghidupkan keadaan gelap di ruangan tertutup maupun terbuka.


   Di ruang utama rumah Lurah Arya Dipa pun sudah diterangi sinar dian. Di situ terlihat jelas Windujaya membelai keris pusakanya yang berbeda dari keris pada umumnya. Sementara berjarak selangkah darinya, Kyai Jalasutro menggerak - gerakan kipas bercorak burung merak. Lain lagi dengan orang tua satunya, matanya terpejam sembari bibir bergerak lirih layaknya berucap sesuatu, rupanya ia asyik memuji keagungan Sang Pencipta.


   "Begawan.. " desis Kyai Jalasutro.


   Sapaan itu menghentikan Begawan Jambul Kuning dari keasyikannya memuji Hyang Agung dan mulai membuka matanya.


   "Iya, Kyai.. "


   "Apakah Wanapati tiada berjumpa denganmu di suatu kali ?"


   Orangtua yang menetap di gunung Bancak itu menggeleng, "Tak pernah barang sekejab, Kyai. Kecuali hanya kebetulan saja aku berpapasan di luar gerbang kotaraja."


   "Hm.. Mungkinkah ia benar - benar tertipu oleh ucapan Demang Brahu ? Dan apakah ia membekukan hainya ?"


    Hanya lengang yang didapat. Dalam kepala Begawan Jambul Kuning atau-pun Windujaya, tidak dapat menemukan jawaban yang membuat Kyai Jalasutro akan lega, karenanya keduanya memilih membisu. Sangat sulit menerka hati seseorang yang dalamnya melebihi palung lautan.


   Pada saat itulah dari ruang dalam, Lurah Arya Dipa berjalan dan duduk bersama mereka.


   "Kau sudah pulang, ngger.. "


   "Iya, eyang." Sahut Lurah Arya Dipa, lalu katanya kemudian, "Eyang, sepertinya rumah ini sedang diawasi."


   Semua orang menatap Lurah muda itu. Kata - kata itu sepertu memang ditunggu - tunggu.


   "Hm.. Apakah dari orang - orangnya Wanapati ?" Kyai Jalasutro langsung bertanya.


   "Entahlah, Kyai. Berbagai kesimpulan belum sepenuhnya tertuju kepada ki Wanapati." kata Lurah Arya Dipa, "Karena, tadi siang, kata Ayu Andini ada orang yang mengungkit rumah eyang Tumenggung ini."


   Begawan Jambul Kuning mengernyitkan alisnya. Ia teringat dengan besannya yang sudah lama meninggal, seorang Tumenggung tangguh tangan kanan Sultan Patah. Mungkinkah ada kerabat Tumenggung itu yang tidak suka terhadap cucunya ? Ini akan menambah masalah saja bagi cucunya.


   "Dipa.. " kata Begawan Jambul Kuning, "Mungkinkah orang itu kerabat eyangmu yang tidak setuju kau menempati rumah ini ?"


   "Entahlah, eyang. Tetapi menurut Kanjeng Sultan, kerabat eyang Tumenggung tidak lagi mempersoalkan rumah ini. Apalagi ini adalah tanah yang dihadiahkan oleh mendiang Prabu Glagahwangi."


   "Angger hendaknya terus waspada. Aku akan mencoba membantu jikalau ketenangan kediaman angger terusik." kata Kyai Jalasutro.


   "Benar, kakang. Walau adikmu ini hanya memiliki ilmu seujung kuku, aku-pun enggan berpangku tangan jika ketentraman kakang dan mbakyu Andini terganggu." Windujaya ikut menyanggupi untuk menjaga kediaman Lurah Arya Dipa.

__ADS_1


   Lurah Arya Dipa, tersenyum.


__ADS_2