BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
129


__ADS_3

 Seiring berjalannya sang waktu, ketiga kalangan semakin seru dalam olah yuda. Kesabatan tata gerak dilambari tenaga dahsyat serta siasat berdasarkan pengalaman dan waktu yang berlangsung, membuat tanah berhamburan tak menentu. Udara pun bergolak terkena kedahsyatan tenaga mereka.


   Kilatmaya benar - benar menemukan lawan yang hebat kali ini. Blandong Kraksaan menunjukan betapa murid nenek sakti dari gunung Kendeng tersebut, seorang yang tuntas dalam kaweruh ing kanuragan. Tandangnya lebih berbobot ketimbang adik seperguruannya.


   Suatu kali orang itu meluncur dengan tubuh berputaran dengan tangan mematuk Kilatmaya. Kecepatan serangan itu sangatlah mengagumkan bagi orang bertopeng. Apalagi serangan yang masih berada jauh dari wadah lawan telah mendahului terlebih dahulu. Namun kali ini Blandong Kraksaan harus menunda dahulu tambur kemenangannya, ini dikarenakan lawan mampu menghindar dengan meloncat ke samping.


   Kini giliran Kilatmaya yang membalas menggunakan tangannya untuk meraih dan mencengkeram kaki lawan. Siasat yang semestinya dapat berhasil, ternyata tak berjalan dengan baik. Entah mengapa tangan yang semestinya dapat menangkap dengan mudah, bagaikan menemukan daging lunak yang dilolosi minyak. Hal itu menyebabkan daging itu lolos dari cengkeraman tangan Kilatmaya.


   "Welut putih..... " desis Kilatmaya, sembari mengejar lawan.


   Rupanya Blandong Kraksaan mengerti dirinya terus dikejar, ia mencoba menjatuhkan dirinya ke tanah. Tepat lawannya akan meraih dan memukulnya, tubuh Blandong Kraksaan bergerak merambat layaknya ular saja. Tentu saja kejadian itu mengejutkan lawannya, dan kesempatan itu digunakan untuk mendlupak dengan kerasnya.


   "Ough.... " keluh Kilatmaya yang terdorong dua tindak.


   Kelengahan itu membuat Kilatmaya meningkatkan seluruh kemampuan pranggaitanya. Pun dengan tenaga cadangannya telah menyeruak kepermukaan. Desir angin dari setiap tangan pemuda itu membuat udara menyibak seketika. Kakinya menotol tanah untuk melambungkan tubuhnya dan saat di udara, kakinya dengan keras mengarah kepala lawan. Meskipun lawan dapat menangkis menggunakan tangan membentuk siku, Kilatmaya melancarkan serangan susulan yang tak diduga oleh Blandong Kraksaan. Sehingga tubuh orang Kendeng itu mencelat tiga langkah.


   "Huh... Setan alas !" umpat Blandong Kraksaan, sambil mengelus dada dan bersiaga.


   Kilatmaya meluangkan waktu bagi lawan untuk menghirup napas. Waktu luang itu memang memberikan Blandong Kraksaan dapat memulihkan tenaganya dan kembali meloncat menyerang. Maka keduanya berlanjut menuntaskan perkelahian diantara mereka.


   Perkelahian di sisi lain juga tak kalah mencengangkan. Ki Dibyo Manggala benar - benar bernapsu untuk menjatuhkan lawannya yang tak lain ki Mahesa Jenar. Tandang keras ciri pulau Sempu menimbulkan cara tersendiri bagi ki Mahesa Jenar untuk menanggulanginya. Jalur Pengging diramu perguruan Sela membuat bekas senopati Demak itu dapat menandingi raksasa pulau Sempu.


   Bila lawan melakukan tendangan memutar, ki Mahesa Jenar merendahkan tubuhnya sembari menyapu kaki lawan. Namun lawan pun cukup cekatan melakukan pengindaran sembari membalas gaplokan ke kepala ki Mahesa Jenar. Untungnya murid ki Ageng Pengging sepuh bergegas menyurutkan tubuhnya yang masih dalam keadaan berjongkok.


   Tapi ki Dibyo Manggala tak ingin melepaskan mangsanya begitu saja. Selekas lawan menghindar, kakinya bergegas menotolkan tanah dan menjulurkan tangannya ke dada lawannya. Ia yakin kalau pukulannya ini dapat menjebolkan dada bidang lawannya.


   Saat bersamaan kala itu ki Mahesa Jenar dengan cepat bertindak, yaitu menyilangkan tangan di depan dadanya. Tindakan ini tentunya dilambari tenaga tak kasat mata demi menjaga dadanya dari ancaman pukulan lawan. Dan tak pelak akhirnya dua hentakan keras mengguncang kedua orang itu.


   Apa yang dirasakan oleh ki Mahesa Jenar sangat membuat dadanya sesak bagai tertumbuk batu karang, hingga kakinya menggerus tanah sebatas mata kaki dan sepanjang tiga langkah mundur. Sebaliknya dengan apa yang dirasakan oleh ki Dibyo Manggala hampir sama seperti lawannya, dimana tangan orang Sempu itu bagai mengenai benteng besi logam yang keras dan membuat tangannya sakit bukan kepalang.


   Keduanya sama - sama mengagumi tenaga dan kemampuan lawan. Tangguh tanggon bagai harimau perkasa dan kuat tebalnya banteng liar, cocok menjadi gambaran kedua orang tersebut.


   Sementara itu, Arya Salaka yang mendapat anjuran dari orang bertopeng, telah dapat menguraikan segala keserba grusa - grusunya gejolak remaja, sehingga lebih mapan dalam menerapkan ilmunya untuk menghadapi pemimpin gerombolan Ular Sendok. Perpaduan ilmu Banyubiru dan Pengging luluh menjadikan remaja ini cekatan dan trengginas. Tandang yang ia tunjukan benar - benar membuat lawannya geram dan kesal.


   Blego Trengganis tak menyangka dalam sekejap remaja yang dapat ia robohkan mampu berubah dengan cepat. Tata geraknya dapat dibaca dengan mudah oleh lawan yang usianya terpaut sangat jauh darinya. Hal itu sungguh merupakan sebuah tamparan yang memalukan, apalagi dalam beberapa gerakan dirinya dapat dikenai sentuhan oleh tangan remaja itu.


   Timbulah kemarahan dalam jiwanya membuncah melahap semua yang ada. Ilmu tingkat atas mulai diterapkan dengan harapan dapat menelan lawan yang akan membuatnya disegani oleh tokoh - tokoh hitam. Kehebatan ilmu itu mulai menyeruak bersamaan dengan hawa berbau anyir melingkupi sekitar tempat itu.


   Blego Trengganis mengungkap aji Gandha Pralaya, ilmu bau kematian yang membuat lawannya akan merasakan aroma anyir dan busuk yang tajam, dan akan menyebabkan pemusatan lawan akan buntu serta merusak indra prangasa lawan. Aji Gandha Pralaya ini diperolehnya setelah mengadakan lelaku pati geni selama empat puluh hari ditengah ratusan mayat perawan.

__ADS_1


   Perubahan hawa anyir dan busuj yang menyengat itu membuat kepala Arya Salaka pening bukan main. Terlihat cucu ki Ageng Sora Dipayana menggeleng - gelengkan kepala serta memijit pelipisnya. Namun tetap saja rasa pusing tidak mau pergi. Malah kini bertambah mengganggu saluran pernapasannya dan membuat tenggorokannya bagai tercekik tangan kokoh.


   Wajah remaja itu semakin lama memutih pucat. Rasa sakit sudah membuat nyawa hampir membumbung keluar dari ubun - ubun. Harapan untuk hidup sangat tipis dalam pikiran remaja itu. Namun bila Sang Pencipta bertindak lain, nyawa yang hampir lenyap itu bakal kembali mengisi raga putra ki Ageng Gajah Sora. Melalui perantara berupa pusaka yang terselip dalam ikat pinggang, telah mengalirkan hawa hangat mengusir hawa jahat aji Gandha Pralaya.


   Tanpa sadar tangan Arya Salaka meraih keris kyai Sangkelat dan meloloskan dari warangkanya. Secepatnya ia menebaskan tajamnya kyai Sangkelat ke udara di depannya. Terjadilah kibasan pusaka itu dan menyibak gelombang ilmu lawan dan buyar berantakan.


   "He.... Tidak mungkin... !" mata Blego Trengganis terbeliak tak percaya dengan keampuhan pusaka ditangan lawan.


   Keterkejutan kepala gerombolan Ular Sendok tak berlangsung lama. Tokoh hitam ini cepat menyadari keadaan dan bergegas mengaburkan rasa kagum terhadap pusaka lawan. Tongkat kepala ular mulai ia putar di depan dada. Menimbulkan deru angin keras saling bercuitan.


   "Hiiiiat..... !" seru Blego Trengganis sembari menyarangkan tongkat ke tubuh lawan.


   Arya Salaka tak tinggal diam. Keris kyai Sangkelat bergerak menyongsong gempuran tongkat lawannya. Maka terjadilah olah senjata dari keduanya. Denting gesekan senjata menghasilkan percikan bunga api.


   Kyai Sangkelat membuktikan betapa pusaka itu terbuat dari besi pilihan. Tajamnya bilah dapat menghadapi kerasnya tongkat yang terbuat dari besi gligen. Dan lambaran tenaga si pemegangnya dapat menyatu dengan pusaka itu sendiri, menambah daya gedor menghalau pertahanan lawan.


   Sebenarnya kehebatan perguruan Pengging dan Banyubiru mampu menggetarkan tanah jawa. Ditambah kali ini Arya Salaka menggunakan kyai Sangkelat ditangannya. Maka tak heran kalau lawan setangguh Blego Trengganis jadi kelabakan. Tangan orang gunung Kendeng itu mulai tersengat panas dan hampir tak dapat menahan genggaman senjata ditangannya.


   "Setan mana yang manjing dalam tubuh anak ini ?!" geramnya, sembari mundur.


   "Menyerahlah, kisanak. Kami tak akan membuarmu celaka." Arya Salaka mencoba membujuk


   "Cih... Jangan besar kepala, anak bengal. Aku masih menyimpan segudang ilmu !"


   Inilah aji Nagadahana tingkat tinggi yang dapat ia pelajari dan disempurnakan. Tidak sembarang orang yang mampu melakukan lelaku ini, bahkan kakaknya yang bisa menggunakan aji Nagarupa. Tapi bila dibandingkan dengan aji Nagarupa, Nagadahana kalah selapis.


   Awalnya Arya Salaka tercekat mendapati lawannya seperti itu. Tetapi petuah - petuah dari orang yang ia hormati, membuatnya tenang. Segera remaja itu memusatkan nalar dan budinya untuk mengungkap ilmu yang ia warisi dari paman sekaligus gurunya ki Mahesa Jenar. Aji Sasra Birawa, ya inilah yang kemudian dilakukan remaja putra tunggal ki Ageng Gajah Sora.


   Sasra Birawa tersalurkan ke dalam kyai Sangkelat. Membuat senjata itu memancarkan warna hijau cemerlang meskipun hari masih terang.


   "Hiiiaat.... " dua teriakan dari sumber berbeda mengawali dua hentakan ilmu mendebarkan.


   Suara layaknya langit rubuh menggema memenuhi pategalan Banyubiru. Tubuh Arya Salaka terpental dan bergulingan sejauh sepuluh langkah. Sedangkan ki Blego Trengganis berdiri tegak seperti patung. Hanya saja yang lain ialah adanya ganggang keris tersembul di dadanya.


   "Edaaaan... !" umpatnya dengan kasar.


   Tubuh itu tak lama lunglai ke tanah. Nyawanya amblas termakan aji Sasra Birawa dan kyai Sangkelat. Pupus sudah salah seorang kepala Ular Sendok. Menyisakan tatapan layu dari mata Arya Salaka yang berusaha duduk dan mengatur pernapasannya.


   Dalam upaya mengembalikan serta meredam sakit yang dirasakan melanda tubunya, Arya Salaka memusatkan segala pikirannya untuk merendahkan diri dan meminta pertolongan Gusti Allah dengan cara menerapkan ilmu Prana. Perlahan namun pasti remaja itu merasakan kekuatannya kembali. Dadanya yang bagai diselomoti bara api sudah sirna bergantikan hawa sejuk.

__ADS_1


   Berdirilah remaja putra ki Ageng Gajah Sora dan berjalan menghampiri lawannya yang tumbang. Sekilas dilihat ternyata tubuh Blego Trengganis menghitam dengan luka di dada akibat tusukan kyai Sangkelat dan aji Sasra Birawa milik Arya Salaka. Desuhan dari mulut remaja itu menunjukan rasa kecewa atas kematian pemimpin Ular Sendok.


   "Hmmm... Terpaksa kematian ini terjadi padanya. Bila aku tak berbuat begitu, mungkin akulah yang terbujur kaku. Dan... Ah, tak mampu aku membayangkan kelanjutan tanah perdikan Banyuburu." desis Arya Salaka.


   Tangannya kemudian meraih tangkai keris dan mencabut keris pusaka dari tubuh lawan. Anehnya bilah keris tiada noda darah walau hanya setetes. Menunjukan betapa aji Sasra Birawa dan keris itu mampu mengeringkan darah dalam tubub Blego Trengganis. Sejenak kemudian keris itu dimasukan ke warangka.


   Pada saat terjadinya adu ilmu kawijayan terjadi tadi, Blandong Kraksaan sempat melihat tatkala adiknya tumbang secara mengenaskan. Tersulutlah amarah dalam dadanya. Saudara yang ia sayangi kini tergeletak diam membeku untuk selama - lamanya. Akibatnya Blandong Kraksaan bagai banteng yang lepas dari ikatan tali. Mengamuk penuh tenaga menyeruduk dan menyeplak mangsanya.


   Ilmi tata gerak Panca Margi Pralaya yang biasanya dilakukan orang lebih dari satu, ditangan Blandong Kraksaan dapat ia lakukan sendiri. Tubuh orang ini berkelebat cepat bagai bayangan saja. Malah seolah - olah tubug itu berjumlah banyak, sehingga membuat lawan yang menghadapi kerepotan.


   Lawan yang tiada lain Kilatmaya memang bingung mengetahui kehebatan tata gerak rumit dan cepat ini. Tubuhnya dapat dikenai beberapa kali, meskipun tak berarti apa - apa, karena tubub orang bertopeng diselimuti aji Niscala Praba.


   "Untunglah aku sudah waspada sejak awal dan menerapkan aji Niscala Praba. Jika tidak, tubuhku akan *****." batin Kilatmaya atau Arya Dipa.


   Dalam pada itu, Blandong Kraksaan sempat heran melihat lawan yang ia hadapi tak mengalami apa - apa. Padahal ia yakin dapat melakukan sentuhan - sentuhan keras melanda tubuh lawannya. Karenanya ia meloncat mundur sekaligus menajamkan pandulunya untuk memperhatikan lawan.


   "He... Warna kuning kemilau itulah yang melindungi tubuh orang ini. Ilmu macam apa itu ?" geremeng Blandong Kraksaan, lirih.


   Murid tertua nenek pemuja naga Anta Boga itu menyimpulkan akan mencoba ilmu Hasta Naga. Maka dengan cepat ia memusatkan mengumpulkan tenaga dan dipusatkan di sepasang tangannya. Aji ini karang yang keras saja akan tercabik - cabik tak karuan, apalagi hanya manusia yang terdiri dari darah dan daging.


   "Rasakan ini manusia bertopeng !" seru Blandong Kraksaan, sambil meloncat menerkam lawan.


   "Wuuuuuus... Sreet... Sreeet..."


   Kilatmaya dan Blandong Kraksaan sendiri, sama - sama kaget. Kilatmaya merasakan cakaran lawan telah mengoyak lapisan Niscala Praba hingga kain pakaiannya tercabik. Sedangkan Blandong Kraksaan merasakan lapisan selapis dapat ia robek, tetapi tiba - tiba tenaganya hilang.


   "Siapa sebenarnya orang ini ? Ilmunya sungguh aneh." Blandong Kraksaan heran, tetapi kembali menyerang.


   Terjadilah perkelagian hebat dengan menggunakan tata gerak rumit penuh kembangan serta dilambari tenaga cadangan. Keduanya bergerak sebat mencari titik lemah lawan agar lawan cepat tumbang. Meskipun sangatlah sulit hal itu.


   Hingga akhirnya Bkandong Kraksaan memutuskan untuk mengakhiri perkelahian tersebut. Orang itu mundur menjaga jarak demi mempersiapkan aji pamungkas yang hanya ia sendiri yang dapat menerapkan. Ilmu sangat jarang dimiliki oleh ahli kawijayan di masa itu.


   Udara berubah gelap dan angin berderak di pategalan itu. Tubuh Blandong Kraksaan mendadak digulung angin yang disertai kabut tipis. Dan ketika kabut itu mereda dan angin lenyap, tampilah sesosok naga mengerikan dan besar.


   "Oh... " desuh Kilatmaya manakala menyaksikan lawannya berubah menjadi seekor naga raksasa.


   Dahulu sebenarnya Kilatmaya pernah menghadapi ular naga dan dapat membunuhnya. Tetapi kali ini orang bertopeng ini tercengang adanya. Naga di depannya lebih besar dan sangatlah menyeramkan.


   Belum lagi dirinya dapat menenangkan hatinya, naga jelmaan dari ilmu Nagarupa telah menyabetkan ekornya dengan kerasnya.

__ADS_1


   " Awas kisanak !" seru Arya Salaka.


   Kilatmaya terlambat menyadarinya dan tubuhnya mencelat terkena kibasan ekor naga. Tak pelak tubuh itu menghantam pohon jati sebesar paha, hingga membuat pohon itu tumbang.


__ADS_2