
Orang yang menyambar tubuh Putut Jenggala perlahan melepaskan tangannya dari tubuh Putut itu. Di tatapnya Putut Jenggala di sampingnya dengan tajamnya, seolah mengatakan kalau ia tak menyukai tindakan yang dilakukan oleh pemuda itu.
"Gu..ru." desis Putut Jenggala dengan nada bergetar dan menundukan kepala.
"Hm, mengapa kau bertindak sendiri tanpa melaporkan kepadaku, Jenggala ?" tanya orang itu.
Putut Jenggala bingung harus bicara apa kepada gurunya itu. Maka ia hanya menunduk saja tak berani memandang wajah orang yang ia hormati itu.
Sejak kemunculan orang tua itu, perkelahian langsung terhenti dan para saudara Putut Jenggala mundur semua. Sementara Sanjaya dan kawannya hanya membiarkan saja menunggu perkembangan selanjutnya.
"Oh.. Paman Trunalaya, semakin hari semakin gagah perkasa...!" seru Sanjaya kepada orang yang baru datang itu.
Teguran dari Sanjaya sejenak tak dihiraukan oleh ki Trunalaya. Orang tua itu masih sibuk memberi teguran kepada murid - muridnya yang bertindak tanpa ia ketahui. Setelah itu barulah orang tua itu memandang Sanjaya yang berdiri bersedekap.
"Anakmas Sanjaya, maafkan penyambutan murid - muridku ini. Tetapi semuanya hanyalah salah paham semata." ucap ki Trunalaya, "Mari singgah ke padepokan, di sana kita bisa berbicara panjang lebar. Bukankah anakmas sudah rindu dengan anak bengal itu ?"
Sanjaya menghela nafas, "Terima kasih, paman Trunalaya. Sedikit pun aku tidak merasa sakit hati dengan apa yang ditunjukan oleh Jenggala. Malah permainan tadi membuat urat - uratku agak mengendor, setelah sekian lama tak bergerak."
"Tetapi untuk saat ini aku tidak bisa mengunjungi padepokan paman." lanjut Sanjaya.
__ADS_1
"Ah, anakmas janganlah bercanda berlebihan dengan orang tua sepertiku. Bukankah perjalanan dari Tumapel sangatlah menguras tenaga ? Dan tentu kedatangan anakmas menjadi obat rindu untuk putriku."
Dari sini jantung Putut Jenggala sudah berdebar dengar keras. Pemuda itu yakin adanya jawaban yang akan terucap dari Sanjaya, menimbulkan ketegangan. Dan terbukti jua, manakala yang ia perkirakan terlontar dengan tepat.
"Hehehe, Paman Trunalaya. Bukankah paman tahu siapa aku dan siapa paman ? Perbedaan itu sudah jelas adanya walau pada akhirnya paman mengetahuinya sudah terlambat." kata Sanjaya, "Memang aku akui kalau nimas Sri Tanjung seorang gadis yang cantik, tetapi kalau Rama tidak menyetujuinya, apa yang harus aku buat, paman ?"
"Anakmas... !" seru ki Trunalaya, katanya dengan kerasnya, "Sri Tanjung memang berdarah kawula biasa dan anakmas putra bangsawan, tetapi anakmas sudah menanam benih terkandung dalam putriku. Dan anakmas berjanji akan mengambilnya menjadi istri sah, anakmas !"
Saat ki Trunalaya menyebut pemuda itu anak bangsawan, ki Lurah Sempono dan Widura terhenyak dalam keterkejutan. Keduanya tak mengira jika pemuda itu putra seorang bangsawan. Bangsawan dari mana ? Oh tadi juga disebutkan dengan Tumapel, telatah asal Pangeran Singasari.
"He, tidak mungkin jika ia putra Pangeran Singasari. Setahuku Pangeran hanya memiliki seorang putri saja." batin ki Lurah Sempono.
Langsung ki Lurah Sempono menatap Widura, "Aku kurang jelas dengan perkataanmu itu, Widura."
"Pemuda itu, lalu perintah dari gusti Pangeran Singasari yang hanya memerintahkan kita untuk mengawasi anak muda itu. Bukankah ini membuat kita bertanya - tanya, ki Lurah ?" desis Widura, "Bila dilihat dengan seksama, anak muda itu memiliki pancaran dari seorang bangsawan. Kemungkinan ia ada hubungan darah dengan gusti Pangeran Singasari."
"He.. " desuh ki Lurah Sempono, "Jaga bicaramu, Widura. Gusti Pangeran hanya mempunyai putri tunggal saja."
"Mungkin pemuda itu anak dari istri yang..."
__ADS_1
"Tutup mulutmu !" potong ki Lurah Sempono sambil mencengkeram pakaian dekat leher Widura.
"Maaf.. maaf, ki Lurah." keluh Widura yang merasakan sesak nafas, karena cekikan di lehernya.
"Sekali lagi jaga ucapanmu !" kata ki Lurah Sempono dan melepaskan cekikan tangannya.
Sementara itu ki Trunalaya tak habis pikir dengan ucapan - ucapan yang terlontar dari mulut Sanjaya. Semakin lama pemuda itu semakin kurang tata dengan mengagungkan dirinya sebagai anak bangsawan. Sama dengan Putut Jenggala pemuda ini sebenarnya sudah siap berbaku hantam demi menjaga kehormatan gurunya yang diinjak - injak oleh Sanjaya.
Rasa senang dengan ditutupi raut wajah tegang dapat dilakukan dengan apik oleh Putut Pineluh. Pemuda ini mengharapkan adanya pertikaian yang melibatkan guru dan kakak seperguruannya dengan Sanjaya, terus berlanjut sampai keduanya tumbang dengan meninggalkan korban jiwa.
"Cepat, bertindaklah guru dan kakang.. "batin Putut Pineluh, "Kepergian kalian ke alam kelanggengan akan menempatkan aku di tingkat tertinggi di padepokan, dan aku berjanji akan mengawini Sri Tanjung."
Itulah niat awal Putut Pineluh dalam membaca keadaan di akhir - akhir ini. Kedudukan dan wanita telah mendorongnya untuk ikut mengail ikan di air yang keruh. Maka untuk itu ia mencoba mengungkit kemarahan.
"Guru, anak itu sudah berani menodai padepokan kita. Apakah guru berdiam saja setelah mendengar mulut busuknya ?!"
Ucapan itu membuat ki Trunalaya menoleh ke arahnya, dan untung saja saat itu ki Trunalaya sudah tidak berfikir jernih lagi. Jika ki Trunalayaa tidak sedang dalam kemarahan, tentu orang itu akan menimbang maksud dari kata muridnya yang ia tahu sifat dan perilakunya.
"Biarlah aku saja yang menyelesaikan permasalahan ini." desis ki Trunalaya.
__ADS_1