BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
102


__ADS_3

Jaladri berusaha berdiri, dan setelah berusaha sekuat tenaga, ia mampu bertumpu dengan kedua kakinya meskipun agak limbung. Kepalanya pening, untuk itu ia memijit keningnya sambil ia menggerakan kepalanya, bermaksud mengurangi pening yang ia rasakan.


.


Saat memandang ke depan, kawannya mengalami kejadian yang sama seperti yang ia alami. Tubuh kawannya lebih parah dari dirinya, yaitu tubuh itu terhempas dan menghantam pohon ketapang dengan kerasnya. Sehingga tulang pinggangnya patah dan membuat tubuh itu lunglai tak berdaya. Sementara kawan satunya terlempar jatuh ke tepian kali.


.


Kini yang tersisa hanya satu orang saja yang sekuat tenaga menghadapi keperkasaan Windujaya. Dan Jaladri bergegas membantunya sebelum terlambat. Tombak berlandean pendeknya segera dipungut dan ia songsongkan untuk menghadang laju gerak keris Windujaya, yang hampir menggores lengan kawannya.


.


"Triing... !" sekali lagi benturan terjadi, sekuat tenaga Jaladri mempertahankan senjatanya dengan memutar landean.


.


"Bagus... " seru Windujaya, sambil mengisar kakinya menyamping, agar tidak terkena sabetan pedang kawan Jaladri.


.


Secepat Windujaya mengisar kakinya, Jaladri sudah menyiapkan sapuan kakinya. Namun lawan berhasil menghindari dengan meloncat tingga sembari menyilangkan keris di depan dada. Karena pada waktu yang sama, kawan Jaladri sudah menghunuskan pedang mengincar dada.


.


Kedua anak buah ki Kala Sargota mampu bekerjasama lebih baik, ketimbang masih berempat. Jaladri dan kawannya bisa saling mengisi satu sama lain dengan seranga cepat dan terarah. Tombak landean pendek mematuk bak ular saja, sedangkan pedang kawan Jaladri bergerak cepat mengiringi kegalan mata tombak.


.

__ADS_1


Di ujung yang lain, Jati Pamungkas mulai merambah ilmu cadangannya. Cambuknya laksana kilatan petir menyambar - nyambar burung sri gunting yang lincah mengepakan sayapnya. Meskipun lecutan cambuk Jati Pamungkas bersuara pelan, sejatinya lecutan itu mampu merontokan isi dalam dada seseorang. Oleh karenanya, ki Kala Sargota sering mengumpat dengan kasarnya.


.


"Jangkrik.. Demit thetekan.. Setan alas.. !"


"Hahaha.. Janganlah kisanak terus menggeremang tiada pangkal. Hematlah tenaga kisanak... " seleroh Jati Pamungkas.


.


"Diam kau pengembala... !" bentak ki Kala Sargota.


.


Jati Pamungkas hanya tersenyum di balik topengnya. Ia meloncat mundur tiga langkah, lalu saat lawan akan mengejarnya, segera cambuknya bergetak sendal pancing.


.


.


"Bajul buntung... !" ki Kala Sargota kembali mengumpat, manakala pundaknya terkena lecutan Orang Bercambuk.


.


Kain di pundaknya sobek dan merembes darah dari lukanya. Luka itu tidak membuatnya jera, malah ia mengeraskan tombaknya dan meloncat lebih oanjang. Tombaknya yang ia lambari ilmu cadangan, mulai bicara lebih nyata. Mata tombak telah bergerak melebihi senjata wadahnya.


.

__ADS_1


"Huh... " desuh Jati Pamungkas, agak lega.


.


Bila kurang cepat menghindar, lambung pemuda itu tentu berlubang sebesar mata tombak. Karenanya kini ia harus lebih berhati - hati. Meskipun ia mempunyai penawar racun, tetapi ia berharap tidak menggunakan sama sekali. Cukup kainnya saja yang berlubang dan untuk itu ia mulai menerapkan ilmu kebalnya, aji Tameng Waja.


.


Dalam pada itu, ki Kala Sargota yang berhasil merobek kain lambung Orang Bercambuk, membuatnya bertambah dalam menyarangkan tombaknya ke tubuh lawan. Aji untuk mendahului wadah mulai ia terapkan sepenuhnya. Ia berharap lawan belum menyadari sepenuhnya mengenai salah satu kemampuannya ini.


.


Tombaknya mulai kembali bergerak mematuk, di tarik kembali dan diputar di atas kepala, lalu kembali meluncur lebih deras. Saat bersamaan Jati Pamungkas maju ke depan, dan inilah yang diharapkan oleh ki Kala Sargota.


.


"Mampus, kau... !" kata ki Kala Sargota, dengan mata berapi - api.


.


Tetapi saat ilmu yang medukung tombak akan mengenai Orang Bercambuk, tubuh itu tiba - tiba merendah dengan kaki keduanya menekuk, sehingga tombak itu melaju terus tanpa mengenai sasaran. Tapi meskipun begitu, ki Kala Sargota cepat bertindak. Tombaknya lekas ia tarik dan ia gebukan ke kepala lawan.


Ternyata Jati Pamungkas tidak tinggal diam. Ia sudah membaca sebaelumnya, oleh karenanya ia renggangkan cambuknya diatas kepala unyuk menahan laju tombak. Tepat sudah, tombak ki Kala Sargota masuk dalam perangkap, saat itu juga dengan cepat Jati pamungkas melilitkan cambuknya serta mendlupak tubuh ki Kala Sargota dengan kedua kakinya.


.


"Heeggk.... " Tubuh ki Kala Sargota mencelat jadinya.

__ADS_1


__ADS_2