BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
125


__ADS_3

  Pemimpin gerombalan Ular Sendok berkacak pinggang dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan masih membekal tongkat andalannya. Tawa sinisnya mulai terdengar seiring tubuh Arya Dipa yang membungkuk. Orang itu sudah merasa menang atas keberhasilannya mendaratkan jarum beracunnya ke tubuh lawannya.


   "Lebih baik jika kau angsurkan lehermu kehadapanmu. Meskipun aku tak membekal leher, tanganku ini sanggup memenggal lehermu, Setan Bertopeng !" teriak Blego Trengganis.


   Teriakan yang merendahkan diri Arya Dipa, tak terlalu dipikirkan oleh pemuda itu. Pemuda bertopeng itu meraba bekas luka di pundaknya dan ia perhatikan. Rupanya darah yang awalnya mengalir hitam legam, mulai berubah menjadi merah seperti pada luka umumnya. Ini menandakan kalau lukanya bebas dari sergapan racun Blego Trengganis. Kembali ia panjatkan syukur kepada Sang Pencipta.


   "Mari kita lanjutkan permainan kita, kisanak... !" seru Arya Dipa, dan langsung membabatkan ikat pinggangnya.


   "Byaaar...... !"


   Suara ledakan menggema saat ikat pinggang kyai Anta Denta menumbuk batu di belakang Blego Trengganis. Batu sebesar kepala kerbau hancur berkeping - keping, menyisakan rasa sengatan kejut di dada Blego Trengganis. Ternyata Orang Bertopeng bersenjata ikat pinggang itu mempunyai simpanan ilmu yang hebat dan tenaga dalam berluap - luap.

__ADS_1


   "Jangan angkuh kau, Setan Bertopeng !" seru Blego Trengganis sembari menyilangkan tongkat dan menyodokan tongkat ke tubuh lawan yang berada di sampingnya.


   Terulanglah adu olah senjata berbeda jenis. Serang dan tangkis ikut serta sesuai tata gerak disetiap keadaan yang sedang terjadi. Adu olah siasat sudah diatur dalam benak mereka untuk menghadang gerak lawan masing - masing. Daya untuk membaca langkah lawan ini sangat diperlukan untuk mematikan langkah lawan selanjutnya, meskipun lawan pun mampu melakukan tipuan.


   Mendapati lawannya yang tak terpengaruh oleh racin dari jarumnya, menumbuhkan kegelisahan tersendiri bagi Blego Trengganis.  Apalagi waktu semakin memanjang tak menentu. Serta bila dilihat keadaan anak buahnya, keadaan mereka mulai tak membuatnya tenang. Di mana lawan Panji Tohjaya menyisakan tiga orang saja dan lawan ki Wijang Pawagal  tinggal dua orang.


   Untuk itulah Blego Trengganis mencoba mengakhiri kekalahan pihaknya agar tidak semakin parah. Sebuah suitan nyaring terdengar dari mulutnya. Isyarat itu membuat dua tanggapan yang berbeda dari pihak Blego Trengganis sendiri dan lawannya.


   Tentu saja kemunculan ular itu mengejutkan ki Wijang Pawagal dan Panji Tohjaya serta Orang Bertopeng. Ketiganya bergegas menghalau puluhan ular besar maupin kecil yang ganas tersebut. Dan kesempatan itu telah digunakan dengan baik oleh gerombolan Ular Sendok untuk menjauhi tempat itu. Sehingga tindakan gerombolan itu beralan sesuai rencana Blego Trengganis.


   Sementara itu, ki Wijang Pawagal serta lainnya masih mengusir ular - ular. Setiap ular satunya mati, munculah ular baru. Kejadian itu terulang beberapa kali tak henti - henti. Tentu ini membuat gusar mereka. Bila ini terus berlanjut, tenaga ketiganya tentu terkuras dan lemah.

__ADS_1


   Dalam keadaan genting itulah, Arya Dipa ayau orang bertopeng, mengalungkan ikat pinggangnya. Lalu pemuda itu mundur dua jengkal dan memasang kuda - kuda kokoh. Kedua tangan terangkat layaknya sepasang sayap garuda mengepak. Aji Sepi Angin dan Gelap Ngampar ia ungkap serentak sembari mengucapkan mantram dari rontal Panembahan Anom.


   "Kisanak berdua, mohon mundur di belakangku !" seru Arya Dipa.


   Seruan yang sebenarnya masih membuat kedua orang itu bertanya - tanya dengan apa yang dilakukan oleh Orang Bertopeng, tetap mereka patuhi. Kedua orang itu bergegas ke belakang tubuh Arya Dipa.


   "Mohon tingkatkan daya tahan tubuh kalian !" sekali lagi Arya Dipa meminta kesediaan ki Wijang Pawagal dan Panji Tohjaya untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka.


   Tak lama berlangsung sebuah kejadian luar biasa. Begitu cepat tubuh Arya Dipa berubah burung Garuda raksasa. Burung itu mengibaskan sayapnya dan membuahkan angin prahara yang mana mampu membumbungkan ular - ular. Tak hanya itu saja, burung Garuda itu membuka paruhnya lebar - lebar, akibatnya suara menderu dan menggema dahsyat menimbulkan gelombang besar menggulung ular - ular dan menjadikan ular ***** tak karuan.


   Luruhnya bangkai ular berbarengan dengan kembalinya wujud Arya Dipa seperti sediakala. Tubuh pemuda itu membalik menghadap dua orang dibelakangnya. Sejenak kemudian pemuda bertopeng itu mengangguk hormat.

__ADS_1


__ADS_2