BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
94


__ADS_3

LEBIH dari dua puluh orang bersiaga di seberang kali Brantas, terutama di bangunan yang baru dibangun sekitar dua pekan yang lalu. Wara Lintang yang sudah berada di tempat itu, sudah mempersiapkan segalanya dan mengawasi jalur masuk ke tempat itu. Itu semua dipersiapkan untuk menjaga kemungkinan buruk apabila terjadi dikemudian.


.


Nantinya di tempat ini, selain kedatangan seorang pemuda yang mengaku putra Pangeran Singasari, masih ada tiga tamu khusus. Tentunya mereka akan membicarakan pusaka dan harta peninggalan Wilwatikta.


.


Orang yang pertama datang ke bangunan itu, sepasang lelaki perempuan dengan penampilan layaknya orang - orang ahli kanuragan. Si lelaki berbadan kurus tinggi menggunakan pakaian berwarna merah tua, di balik punggungnya menggantung pedang bertangkai kepala naga. Si perempuan berbadan langsing dengan kulit kuning langsat, di bawah bibir agak di pojok dihiasi tahi lalat, menambah kecantikan wanita ini, di tangannya membekal kipas putih bergambar naga hijau.


.


Sepasang tokoh kanuragan ini dikenal dengan sebutan sepasang naga dari gunung Welirang. Jayakusuma dan Nila Gandasari, murid Kyai Nagarata. Sepak terjang keduanya dalam dunia kanuragan, tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai murid Kyai Nagarata, keduanya mendapatkan gemblengan secara khusus sehingga hampir menguasai seluruh ilmu gurunya.


.


Tidak berselang lama, muncul lelaki tambun berpakaian agak kumal dengan tongkat dari galih pohon asem. Dialah Ra Srimpang, tokoh kanuragan dari Paciran yang selalu membawa kekonyolan disetiap langkahnya. Meskipun begitu, orang ini mampu menggetarkan hati banyak orang.


.


Selanjutnya lelaki tua berpakaian loreng dari kulit harimau. Wajahnya meskipun sudah keriput namun sisa - sisa ketampanannya masih terlihat. Dia tidak lain ki Sardulo Liwung, tokoh kanuragan dari pantai Prigi.


.


Yang paling terakhir adalah rombongan dari putra Pangeran Singasari. Mereka berjumlah enam orang dari kalangan bangsawan dan tokoh kanuragan. Pemimpinnya seorang pemuda tampan dengan dagu ditumbuhi rambut tipis lancip, yaitu Raden Sanjaya dengan pendamping setianya Duaji. Lalu Bango Banaran, ki Widarba dari Jipang, Gonggang Keling dari pulau Karimun dan ki Pandak Wengker dari Ponorogo.


"Silahkan tuan - tuan. Sebentar lagi Raden Sajiwo akan datang." sambut Wara Lintang.


.


"Jadi kami harus menunggunya ?" seru Ra Srmpang, agak mendongkol, "Huh.. Jauh - jauh aku datang, tapi tuan rumah enak keluyuran."


.


Semua orang tak mengacuhkan lelaki tambun itu. Mereka sudah paham betul dengan perangai orang satu ini. Jika diladeni akan menimbulkan permasalan yang panjang dan melelahkan.


.


Hanya ki Sardulo Liwung saja yang tidak segan - segan. Orang tua itu melototkan matanya ke arah Ra Srimpang sambil menggerutu.


.


"He.. Anak gendut, apa kau tidak lelah dengan mulutmu yang mengoceh itu ?"


.


Di tegur seperti itu, Ra Srimping menggebrak meja pelan. Anehnya meja yang bergetar keras itu tidak membuat gelas - gelas air minum diatasnya bergoyang dan tumpah.


.


"Wah - wah... Belum ada sepenginang kau sudah melakukan pangeram - eram, bocah gemblung." kata ki Sardulo Liwung, "Lihatlah... "


.


Orang dari pantai Prigi itu meniup salah satu gelas yang ada di hadapan Ra Srimpang. Apa yang terjadi sungguh mengagumkan. Gelas itu tidak mengapa, melainkan isinyalah yang membeku bagai terkena bedinding sewindu di puncak Mahameru. Dan gelas itu oleh Ra Srimpang di pegang.


.


"Nyeees.... "


.

__ADS_1


Gelas terasa dingin hingga Ra Srimpit menggigil kedinginan, dan mendesuh kejut, "Oh... Serat Tirta.."


.


"Hehehe... itu baru seperempat tenaga yang aku terapkan, tapi kau sudah kelimpungan macam curut terendam di parit..." ucap ki Sardulo Liwung dengan angkuhnya.


.


"Deesss..... "


Kaki Ra Srimpang menghujam bumi. Tetapi dari kakinya tersalur tenaga kasat mata dan menyusup tanah mengarah dingklik yang ditempati oleh ki Sardulo Liwung. bumi di bawah orang pantai Prigi bergetar hebat dan selanjutnya dingklik yang diduduki terlontar ke langit - langit bersama si empunya.


.


"Braaak... !"


.


Dingklik ***** berkeping - keping. Sedangkan ki Sardulo Liwung walau mampu dilontarkan tinggi - tinggi, tapi masih bisa menguasai tubuhnya dengan berjungkir balik di udara seraya melepas kain panjang menyilang dan hinggap di atasnya. Dan tubuh itu berdiri diatas kain bagai tiada beban.


.


"Plok.. Plok.. Plok.. "


.


Sebuah tepukan tangan menyita perhatian semua orang, tak terkecuali.


RADEN Sajiwo yang didampingi ki Walang Yuda melangkah menghampiri ki Sardulo Liwung yang sudah menginjakan kakinya ke lantai bangunan. Dan mengajak orang dari pesirir pantai Prigi kembali duduk bersama.


.


"Maafkan kami yang datang terlambat, sehingga kami tidak bisa menyambut tuan - tuan dengan selayaknya." ucap Raden Sajiwo.


.


.


"Tuan - tuan sekalian. Semakin hari, tepian kali Brantas bertambah ramai atas kedatangan tokoh - tokoh kanuragan atau pun para bangsawan." sejenak Raden Sajiwo berhenti demi melihat kesan dari para tamu undangannya, "Dua tiga kejadian akhir - akhir ini mulai mewarnai tepian kali Brantas. Mungkin kisanak semua sudah mengetahuinya ?"


.


Semua yang hadir saling berpandangan satu dengan lainnya. Kejadian di tepian kali Brantas yang disebutkan oleh bangsawan Kadiri itu, kurang dipahami. Kecuali pencarian pusaka dan harta peninggalan Wilwatikta. Oleh karenanya, Jayakusuma memberanikan diri untuk bertanya.


.


"Raden, mohon kiranya hamba yang cubluk ini meminta kesediaan tuan untuk menerangkannya."


.


Tutur kata yang diucapkan oleh Jayakusuma terkesan halus dan tulus. Inilah ciri khusus pembawaan dari murid tertua kya Nagarata. Seorang lelaki berbadan jangkung dengan penampilan rapi dan wajah manis, ditambah tutur kata yang indah, merupakan bekal baginya dalam menaklukan orang yang dihadapi. Khususnya dalam memikat wanita.


.


"Hahaha... Bagaimana seorang yang terkenal dengan sebutan Sepasang Naga dari gunung Welirang, seorang yang cubluk ?" Raden Sajiwo tertawa senang dengan permainan kata dari Jayakusuma.


.


"Jayakusuma dan kisanak sekalian, baiklah akan aku uraikan kejadian akhir - akhir ini kepada kisanak sekalian, meskipun aku yakin jika kisanak satu dua sudah mengetahuinya." kata Raden Sajiwo.


.

__ADS_1


Semuanya menunggu dengan seksama apa yang akan disampaikan oleh tuan rumah.


"Partama.." Raden Sajiwo mulai mengawali, "Di dekat tambatan satang, pernah ada perkelahian antara dua lelaki bertopeng. Seorang bersenjata tombak panjang dan satunya membekal cambuk."


.


"Oh.. Orang bercambukah...?" desis beberapa orang.


.


Raden Sajiwo memperhatikan wajah - wajah mereka. Sepertinya mereka terlihat heran dan terkejut. Itu menandakan kalau mereka belum tahu dengan kejadian di dekat tambatan satang.


.


"Kejadian kedua tak kalah mengejutkan." Raden Sajiwo melanjutkan, "Ki Demang Nukilan tewas dengan tubuh bagian dalam dan tulang *****, sehingga saat tubuhnya diangakat terasa lemas dan ringan."


.


"He...!" kembali ruangan itu dilanda keterkejutan.


.


Ilmu apa yang membuat tubuh ki Demang Nukilan seperti itu ? Menurut warta yang tersebar, Demang dari Wanasaba itu memiliki aji Trenggiling Wesi dan aji Gelap Sayuta.


.


Tentulah itu mengherankan mereka, kecuali Raden Sajiwo dan Raden Sanjaya. Keduanya paham betul dengan akibat yang diderita oleh tubuh ki Demang Nukilan. Keduanya yakin ilmu yang mampu membuat tubuh ki Demang Nukilan lemas dan ringan. Kumayan Jati-lah yang bisa meninggalkan akibat seperti itu.


.


Kini tinggalah siapa orang yang memiliki aji nggegirisi tersebut ?


.


Dalam benak Raden Sajiwo, ilmu itu terkhir diketahui milik seorang Pangeran yang lenyap pada saat terakhir Prabu Giriwardhana menggempur Wilwatikta. Sementara lain lagi bagi Raden Sanjaya, Ia tahu betul jika gurunya memiliki ilmu itu, ilmu yang tak sempat ia warisi.


.


"Dan yang terakhir adalah adanya dua pemuda yang harus kita waspadai. dua pemuda aneh ini memiliki kemampuan yang tidak bisa kita remehkan." kembali Raden Sajiwo berkata.


.


"Siapakah mereka itu, Raden ?" tanya ki Widarba.


"Aku kurang tahu nama mereka. Mereka berdua bisa mempermainkan orang - orang padepokan Krendha Seba."


.


"Empat diantaranya sudah tewas di bulk ombo barat padukuhan Sela." sambung Raden Sajiwo.


.


Ruangan itu terasa penuh gejolak. Kemunculan orang bercambuk, lalu kematian ki Demang Nukilan yang aneh, dan dua pemuda yang membuat orang - orang padepokan Krendha Seba tak berdaya. Itu semua harus mendapat perhatian besar bagi mereka.


.


Saat suasana masih berada dalam menyingkap orang - orang aneh itu, seorang pengawal Raden Sajiwo datang dan membisiki dekat telinga bangsawan itu. Sejenak wajah bangsawan itu mengalami perubahan. Sepertinya sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi, apalagi dari tangannya yang menggenggam bagai meremas terlihat jelas.


.


"Tikus sialan, Gajah Tangen..!" geram Raden Sajiwo dalam hati.

__ADS_1


.


"Ada apa, paman Sajiwo..?" Raden Sanjaya bertanya setelah mengetahui kegelisahan Raden Sajiwo.


__ADS_2