BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
34


__ADS_3

Di senja hari ki lurah Arya Dipa bergegas pergi ke ksatriyan tepatnya di sebuah bangunan yang di tinggali oleh raden Bagus Mukmin. Saat lurah muda itu berjalan melewati lorong dalam lingkungan ksatriyan, beberapa prajurit mengangguk hormat kepadanya yang balas senyuman dengan ramah.


Sesampainya di depan sebuah bangunan dengan ukiran ekor menjangan, dua orang prajurit penjaga mengangguk hormat kepada ki lurah Arya Dipa.


"Tolong sampaikan kedatanganku ini kepada raden Bagus Mukmin." pinta ki lurah Arya Dipa.


"Baik ki lurah."


Lantas prajurit penjaga itu bergegas melangkahkan kakinya menaiki tlundak melewati pringgitan dan memasuki pintu gebyok. Tak berselang lama prajurit itu keluar lagi menemui ki lurah Arya Dipa.


"Silahkan menunggu barang sejenak ki lurah, raden Bagus Mukmin sedang berbenah."


"Terima kasih, prajurit." ucap ki lurah Arya Dipa, sembari melangkahkan kakinya menaiki tlundak dan duduk menunggu di pringgitan.


Saat lurah anak angkat ki panji Mahesa Anabrang memerhatikan indahnya ukiran di gebyok, seorang pemuda sebaya dengannya telah keluar dari pintu ruang dalam yang dibatasi gebyok, maka dengan sigap ki lurah Arya Dipa bangkit dari duduknya sambil menggerakkan tangannya dengan kedua telapak tangan saling merapat menempel di dahi.


"Apakah kau ki lurah Arya Dipa dari pasukan Wira Tamtama.?" tanya pemuda yang tak lain raden Bagus Mukmin.


"Kasinggihan dalem, raden. Dan kedatangan hamba atas perintah ayahanda raden, pangeran Trenggono untuk selalu menemani raden."


"Hemm, duduklah ki lurah, aku tahu mengenai perintah dari ayahanda, tapi selain itu ayahanda memerintahkanmu untuk menjagaku dari seseorang yang ingin mencelakakan ku, bukankah begitu.?"

__ADS_1


"Maafkan laku daksura hamba, raden. Sebenarnya kemampuan raden sangat mumpuni dalam menanggapi ancaman itu, dan hamba hanyalah bumbu bawang semata." kata ki lurah Arya Dipa, merendah.


"Hahaha, walau begitu aku sudah mengetahui jika kemampuanmu dalam olah kanuragan sangat tinggi, itu terbukti dengan jenjang yang kau sandang ini, ki lurah." sahut raden Bagus Mukmin, lalu lanjutnya, "Mungkin jika kita berhadapan, aku akan kelelahan dan pingsan."


Mendengar perkataan dari putra pangeran Trenggono ki lurah Arya Dipa tersenyum, ia tak mengira jika dia mendapat perlakuan yang begitu akrab dari putra seorang pangeran Demak. Tanpa terasa keduanya asyik berbicara seputar masa muda yang mereka alami, hingga akhirnya raden Bagus Mukmin berkata.


"Aku sudah lama tak keluar dari kotaraja, ki lurah maukah kau menemaniku melihat - lihat suasana di luar tembok kotaraja.?"


Sontak saja permintaan dari seorang putra pangeran itu mengejutkan pendengaran ki lurah Arya Dipa, sehingga lurah muda itu terdiam.


"Bagaimana, ki lurah.?" tanya raden Bagus Makmun, mengejutkan lurah di depannya.


"Ta..tapi hal itu akan membahayakan raden, dan pangeran Trenggono pasti tak menyetujui hal ini, raden."


Akhirnya setelah terus di desak, ki lurah Arya Dipa menyanggupi permintaan raden Bagus Mukmin.


"O ya, apakah kau mengetahui siapa orang yang ingin mencelakakan diriku.?"


Sejenak ki lurah Arya Dipa menggeser letak duduknya dan akan menjawab, namun sebuah langkah telah mengurungkannya. Seorang emban pelayan datang membawa nampan dan meletakkan isi nampan di hadapan raden Bagus Mukmin dan ki lurah Arya Dipa.


"terima kasih mbok emban." ucap raden Bagus Mukmin.

__ADS_1


Dan emban pelayan itu kembali masuk menuju dapur ksatriyan. Lalu sepeninggal emban itu raden Bagus Mukmin memersilahkan ki lurah Dipa menikmati hidangan itu. Wedang hangat itu telah menyegarkan tenggorokan lurah yang masih muda itu, lalu setelah meletakkan gelasnya anak ki panji Mahesa Anabrang kembali teringat apa yang akan dituturkan kepada raden Bagus Mukmin.


"Raden, ayah panji Mahesa Anabrang mengatakan kepadaku apa yang ia ketahui mengenai sekelompok orang yang saat ini dalam pengawasan pasukan telik sandi."


"Tunggu sebentar, kau tadi menyebut ki panji Mahesa Anabrang sebagai ayahmu.?"


"Sesungguhnya memang begitu, raden. Hamba anak angkat dari ayah panji Mahesa Anabrang."


Saudara tertua dari raden Timur itu, mengangguk, "Teruskan mengenai kelompok itu tadi."


"Sekelompok orang itu diperkirakan dari bang wetan, yang akan mengancam jiwa kerabat keraton, salah satunya diri raden."


"Mengapa tak dilakukan penangkapan sesegera mungkin, ki lurah.?" kejar raden Bagus Mukmin.


"Sebenarnya pasukan Wira Braja akan bertindak, raden. Namun seorang lurah telik sandi mencurigai kalau sekelompok orang itu hanyalah umpan saja, untuk mengelabui perwira Demak untuk tertuju satu titik saja, sedangkan tujuan utama mereka menyingkirkan beberapa kerabat keraton." terang ki lurah Arya Dipa.


"Siapa saja tujuan yang ingin mereka lenyapkan selain diriku.?"


"Pangeran Sekar dari Jipang Panolan beserta kedua putranya, pangeran Trenggono dan raden sendiri, pangeran Arya Jepara yang tak lain putra mendiang kanjeng Sultan, dan seorang pangeran dari Randhu Sanga."


"Paman Kanduruwan.? bukankah paman Kanduruwan selama ini jauh dari keraton.?"

__ADS_1


"Entahlah raden."


__ADS_2