
Tangan tua itu mengurai ikat kepalanya dan dipegang ujung satu dengan ujung lainnya dan direntang depan dada.
"Sombong kau orang tua, kau berani melawan belati ini dengan sehelai ikat kepala lusuh !" seru ki Lowo Ijo, sambil memainkan kedua belatinya.
"Bukannya aku sombong, memang inilah senjata yang aku bawa." sahut ki Ageng Sora Dipayana.
"Hm.. Mampus kau kakek tua !"
Murid dari Pasingsingan itu pun meloncat seraya mengayunkan belati panjangnya ke tubuh ki Buyut Banyubiru. Ayunan yang sangat deras itu menimbulkan desiran angin menandakan lambaran kekuatan ki Lowo Ijo, sungguh ngedabi. Tapi lawannya bukanlah orang sembarangan, melainkan seorang yang setara dengan guru pemimpin gerombolan perampok alas Mentaok itu sendiri. Dengan gerak indah mengisar langkah kaki ke kiri seraya melayangkan cambukan kain ikat kepala.
"Hordah.... " kejut ki Lowo Ijo sambil memiringkan tubuh.
Secepat ki Lowo Ijo menghindar, segesit tangan kiri menebas tangan lawan. Hampir saja tajamnya pisau belati panjang itu menebas tangan lawan, andaikata tangan lawan lambat dalam bergerak, karena si empu tangan sangat cepat menarik lengannya seraya melayangkan tendangan ke pinggang ki Lowo Ijo.
Sungguh keduanya bagai bukan manusia jikalau tak terlihat kaki keduanya menapak tanah. Kesebatan gerak layaknya bayang - bayang yang kadang terhalang gelap, sesaat kemudian tersinari cahaya bila berkelanjutan, seperti timbul tenggelam. Tandang ki Lowo Ijo memang mengagumkan karena ia sudah berhasil menyerap sebagian besar ilmu dari gurunya yang menyebut dirinya Pasingsingan.
Setiap melihat gerak dari ki Lowo Ijo, ki Ageng Sora Dipayana tak habis pikir terhadap guru pemimpin perampok itu. Karena waktu mudanya, dirinya pernah menjumpai seorang Pasingsingan yang selalu membela kebenaran, hingga suatu kali terdengar kabar burung adanya seseorang yang menyebut dirinya juga Pasingsingan telah berlaku tak sepantasnya.
Renungan orang tua itu hampir menyelakainya jikalau dirinya terlambat menghidari sebuah serangan lawan.
"Hampir saja kuku itu menggores kulitku." batin orang tua itu.
Di lain tempat murid ki Ageng Sora Dipayana dengan lincah bergerak dari satu sisi ke sisi lain. Kadang kala dalam setiap gerakannya, pemuda itu menerapkan aji Semunya untuk mengelabuhi lawan - lawannya. Seperti gurunya yang memakai ikat kepala sebagai senjata, ia juga mengurai ikat kepalanya dan menggunakan ikat kepala itu layaknya pusaka ampuh.
Lawan yang sebelumnya meremehkan perbuatan si pemuda terbeliak ketika senjata pedangnya tak mampu menebas ikat kepala yang terbuat dari kain biasa itu. Ikat kepala yang dilambari tenaga prana itu menjadi keras layaknya besi gligen dan mampu membuat pedang anak buah ki Lowo Ijo, gompal.
Empu Citrasena yang berkelahi tak jauh dari anak muda itu, tersenyum bangga menyaksikan kehebatan si pemuda yang ahli menggerakan ikat kepalanya.
"Anakmas, kalau boleh tau siapakah nama anakmas ?" tanya Empu Citrasena.
"Oh.. orang tua ku memberi nama Jaka Raras, kisanak." jawab pemuda itu seraya terus menghadapi musuh - musuhnya, "Bolehkah paman ini menyebutkan gelar paman ?"
Tanpa ragu Empu Citrasena menyebut jati dirinya, "Citrasena, tapi orang - orang menambahi dengan awalan Empu."
Karena lawannya bagai tak menganggap dirinya, anak buah ki Lowo Ijo semakin geram dan marah yang kemudian meningkatkan kemampuan mereka, tapi apalah daya mereka menghadapi kedua orang itu, malah mereka seperti anak ayam di sarang musang yang siap diterkam mentah - mentah.
__ADS_1
Kembali di perkelahian ki Buyut Banyubiru dengan ki Lowo Ijo mulai mendekati akhir. Upaya ki Lowo Ijo dalam memakai senjata pisau belati panjang dan akik Kelabang Sayuta tak menemui hasil, maka kini ia akan mengeluarkan ilmu andalannya aji Alas Kobar yang berintikan panasnya lautan api.
Begitu lawan bergerak dengan tata gerak yang aneh, secepat itu pula ki Ageng Sora Dipayana juga memusatkan nalar budinya, meminta perlindungan Sang Pencipta dengan perantara usaha penerapan aji Lebur Saketi.
Tak lama kemudian dua tenaga dahsyat terlontar bertemu di satu titik, saling dorong - mendorong mencari daya terlemah dari sumbernya. Seleret warna merah membara kadang mampu mendesak seleret lontaran aji Lebur Saketi, tapi sumber aji Lebur Saketi sangat mantab sehingga menimbulkan tenaga kuat untuk kembali mendorong dan menekan aji Alas Kobar.
Apalah daya tatkala ketangguhan aji Lebur Saketi terus mendesak aji Alas Kobar, hingga menumbuk sumbernya yang mengakibatkan ki Lowo Ijo terlempar bagai layang - layang putus dari benangnya. Tubuh itu meluncur deras beberapa tombak dan sejenak kemudian hampir menumbuk batang kayi Jati.
Waktu itulah sesosok tubuh menyambar tubuh ki Lowo Ijo dan membawanya kabur dengan loncatan panjang meninggalkan tempat itu. Tapi ternyata orang yang membawa kabur itu tak mengetahui jika sebuah bungkusan yang dibawa ki Lowo Ijo terjatuh.
Sementata itu demi melihat pemimpinnya kalah dan dibawa kabur seseorang, para anak buah gerombolan Lowo Ijo tanpa berpikir panjang, lari tunggang langgang tak karuan mencari selamat. Hal itu membuat murid ki Ageng Sora Dipayana atau Jaka Raras ingin mengejarnya, jikalau gurunya tak melarangnya.
"Biarkan mereka, apa yang kita cari sudah kita dapatkan." seru ki Ageng Sora Dipayana.
Jaka Raras mengajak Empu Citrasena menghampiri gurunya, yang berlutut mengambil bungkusan kain putih dan memegangnya dengan hati - hati. Sekilas dari luar sudah nampak lekuk dua bentuk pusaka berjenis keris, yang setelah di teliti memang nyata dua keris sipat kandel Demak.
"Oh.. " tanpa disadari Empu Citrasena mendesuh kejut.
Betapa tidak, orang yang bertempat tinggal di kademangan Tegowangi telatah Kadiri itu merupakan seorang empu. Maka sekilas pandang melihat pendok serta tangkai kedua keris saja, dirinya mampu menilai keris itu bukanlah keris biasa.
Dan desuh kejut tadi pun menyadarkan ki Ageng Sora Dipayana untuk memandang wajah orang yang mengiringi muridnya. Ki Buyut Banyubiru lantas mengangguk hormat dan menanyakan jati diri orang yang berdiri disamping muridnya, walau dirinya yakin jikalau orang tua itu dapat dipercaya.
"Jadi, Empu masih keponakan Empu Supa ?" tegas ki Ageng Sora Dipayana, sehabis mendengarkan perkenalan diri Empu Citrasena, lalu, "pantas dengan sekilas saja mampu menilai pusaka ini."
"Ah.. Tapi aku masih jauh dari kemampuan paman Supa, ki Ageng." Empu Citrasena merendah.
Ketiganya kemudian duduk di tempat yang agak lapang seraya melepas lelah setelah bertempur.
"Keris ini pasti akan menjadi rebutan golongan hitam, bila terus di luar istana." ki Ageng Sora Dipayana kembali mengawali pembicaraan.
"Lalu bagaimana rencana, ki Ageng ?"
Orang tua dari Banyubiru itu sebenarnya ingin segera mengembalikan kedua keris itu ke istana Demak, namun dirinya pernah mendengar adanya rencana dari pihak golongan hitam selain Lowo Ijo, untuk mencuri keris kyai Naga Sasra dan Sabut Inten. Keraguan telah menyerabut dihatinya, yang membuahkan dua cabang pemikiran. Sejenak ki Ageng Sora Dipayana memejamkan mata demi mengambil keputusan yang tepat. Akhirnya keputusan yang dia rasa baik meskipun mungkin akan menjadikan kegawatan kabuyutannya dan keluarganya, terpaksa diambilnya.
"Untuk sementara pusaka ini akan aku bawa, adi Empu. Tapi aku meminta bantuanmu."
__ADS_1
"Maksud, ki Ageng ?" tanya Empu Citrasena.
"Begini, adi Empu. Sebarkan kepada setiap orang jika keris kyai Naga Sasra dan Sabuk Inten disimpan oleh Buyut Banyubiru yang baru, yaitu putraku Gajah Sora." jawab ki Ageng Sora Dipayana.
"Oh... " Empu Citrasena dan Jaka Raras kaget.
"Bukankah itu akan merugikan kabuyutan Banyubiru dan keluarga Ki Buyut ?" rasa cemas dirasakan oleh Empu Citrasena.
"Hm.. "Ki Ageng menghela napas, "Tak mengapa, adi Empu. Tapi tujuanku untuk memancing semua golongan hitam keluar untuk meluruk ke kabuyutan, tapi saat itulah kami akan berusaha menangkap mereka sehingga bila kedua pusaka itu kembali ke gedung perbendaharaan, tak akan hilang kembali."
"Baiklah kalau itu sudah menjadi tekad, ki Buyut. Aku akan mengikuti rencana itu, dan jika perlu aku akan ikut membantu dengan ilmuku yang tak seberapa ini."
Kemudian setelah pembicaraan dirasa cukup, mereka berpisah jalan dimana ki Ageng Sora Dipayana dan Jaka Raras kembali ke kabuyutan Banyubiru sedangkan Empu Citrasena sambil berjalan ke selatan, mulai menyiarkan adanya kedua pusaka Demak ke golongan orang - orang kanuragan, dan tanpa disangka telah menjumpai ki lurah Arya Dipa diselatan kademangan Prambanan.
"Begitulah, ngger." ucap Empu Citrasena mengakhiri ceritanya.
Perwira muda itu termangu - mangu. Di satu sisi ia sudah senang dengan keberadaan kedua keris pusaka Demak, namun disisi lain rasa cemas andaikata rencana yang disusun oleh ki Ageng Sora Dipayana gagal.
"Angger, aku pun juga meminta uluran tanganmu dibidang keprajuritan."
"Oh.. Mengapa paman harus memakai peradatan segala ?"
"Hahaha.. ini memang harus begitu, ngger. Carilah hubungan dengan perwira atas untuk membawa pasukan segelar sepapan menuju Kabuyutan Banyubiru."
"Oh.. dengan maksud apa, paman ?" tanya ki lurah Arya Dipa.
"Dengan alasan menangkap buyut baru Banyubiru, yang mungkin saat ini sudah resmi diangkat, yaitu ki Ageng Gajah Sora anak sulung ki Ageng Sora Dipayana." terang Empu Citrasena yang kemudian membisiki pemuda itu.
Wajah ki lurah Arya Dipa yang awalnya tegang berangsur - angsur pudar dan menampakan kecerahan.
"Baiklah kalau begitu, paman. Aku akan berusaha semampuku serta meminta bantuan ayah." kata ki lurah Arya Dipa.
"Baiklah titipkan salam kepada ayahmu ki panji Mahesa Anabrang, maaf aku tak bisa berlama - lama disini."
Lantas orang tua angkat Ayu Andini itu pergi dari sisi luar perkemahan pasukan Demak. Kini tinggalah ki lurah Arya Dipa yang masih berdiri memandang arah kepergian Empu Citrasena. Tanpa sengaja tangannya memegang lipatan surat dibalik pakaiannya.
__ADS_1
"Oh... Hampir aku melupakan surat dari Ayu. Aku berjanji akan segera meminangnya." batin pemuda itu, "Tapi aku pun harus mencari ayah dan meminta pertimbangannya."
Perwira itu pun bergegas melangkahkan kaki menuju sebuah tenda yang diperuntukan bagi perwira menengah.