
Sudah setahun lamanya Adigama Bayu Chandakara mendalami olah kanuragan di pertapaan Resi Chandakara, kini ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah dan kokoh. Begitu juga dengan Ayu Nilamsari, gadis cantik seperti bunga yang mekar dan membuat siapapun terpesona apabila melihatnya. Namun gadis ini bukanlah gadis kebanyakan, berkat ketekunan dan tekad yang besar, ia menjadi seorang gadis yang memiliki ilmu olah kanuragan yang tak bisa diremehkan. Empu Citrajati dengan sabar, dan tekun mengajari dan menuntun putri angkatnya dalam mempelajari ilmu perguruannya yaitu Perguruan Kumbara Agni.
Sementara itu di timur daerah Japanan, Ki Lodaya bersama dua muridnya sedang duduk di sebuah kedai.
"Guru, apakah yang dikatakan Nyai Kenanga itu benar.?" Tanya salah satu muridnya yang membawa sebuah tombak pendek.
"Nyai Kenanga tak mungkin membodohi dan berdusta kepada kita, setiap kejadian atau sebuah gambaran peristiwa di dalam mimpinya itu ada ramalan pasti yang mendekati kenyataan." jawab Ki Lodaya.
"Tapi sudah dua hari Nyai Kenanga tidak datang, guru. Apakah mungkin Nyai Kenanga sudah bergerak untuk mendahului kita dan merampas kitab Cakra Peksi Jatayu dari orang yang bernama Ki Wilis itu.?" Saut murid satunya yang berbibir sedikit tebal.
"Kau keliru Putut Serat Ajar, orang yang bernama Ki Wilis itu bukanlah pemilik kitab itu, tetapi orang yang bernama Ki Wilis itu memiliki kedekatan dengan pemilik sah kitab itu."
"Apakah ada baiknya aku kembali ke perguruan Kembang Duri, guru.?!" Sengoro, angkat bicara.
"Sabarlah barang sejenak, Sengoro. Dan lihatlah para kembang itu akhirnya muncul juga.... hehehe."
Memang benar apa yang dikatakan oleh pemimpin padepokan Lemah Abang itu, Lima wanita cantik memasuki kedai itu. Kedatangan kelima wanita itu menarik perhatian orang - orang yang sudah duduk terlebih dahulu di kedai itu, tapi kebanyakan mereka tidak berani terus memandang wanita - wanita cantik yang baru saja memasuki kedai itu.
"Selamat datang di kedai kami, Nyai Kenanga. Hidangan apakah yang nyai inginkan.? Segera kami siapkan." ucap pelayan kedai menerima kedatangan pemimpim padepokan Kembang Duri itu.
__ADS_1
"Hidangkan saja makanan yang paling istimewa dari kedai ini. Mereka tamuku." sahut Ki Lodaya.
Namun pelayan kedai itu tampak bingung dan memandang bergantian ke arah Ki Lodaya dan Nyai Kenanga. Namun ketika pelayan itu melihat anggukan dari kepala wanita anggun dihadapannya, maka pelayan itu segera undur diri kebelakang serta mempersiapkan pesanan Ki Lodaya.
"Maafkan aku, kakang Lodaya. Sehingga membuat kakang menunggu dengan sangat lama." Suara merdu dari wanita itu terucap manakala sudah duduk di amben besar dalam kedai itu.
"Hahaha.. Kau sedari dulu tidak pernah berubah, lihatlah rambutku ini yang sudah berwarna dua, namun dirimu tetap cantik dan anggun seperti dua puluh tahun yang lalu."
"Hahaha.. Kakang terlalu memuji." Kembali Nyai Kenanga berbicara dengan senyum menghiasi bibir tipisnya.
"Aku tak sekedar memujimu, seharusnya padepokanmu dinamakan dengan sebutan Kembang Pelangi. Karena dirimu serta murid - muridmu sama seperti dirimu, anggun dan cantik.”
"Sudahlah kakang, kita kembali ke pokok intinya saja."
"Dan menurut pendapat murid sahabatku itu, kemungkinan terbesar pemuda itu berada di daerah Kadipaten Japanan ini." lanjut pemimpin padepokan Lemah Abang itu.
Sesaat Nyai Kenangan memejamkan kedua matanya, lalu dengan perlahan mata itu terbuka dan menatap Ki Lodaya dengan penuh keceriaan.
"Iya kakang, di dalam mata batinku aku melihat titik terang seorang pemuda dan kitab Cakra Peksi Jatayu. Tetapi pemuda itu di kelilingi oleh orang - orang yang tidak bisa kita anggap remeh." Sesaat Nyai Kenanga terdiam," sebuah titik terang itu memancar dari lereng Gunung Penanggungan, dan kakang tahu jika disana ada seorang Pertapa atau Resi yang sangat disegani dalam dunia kanuragan."
__ADS_1
"Maksudmu, Resi Chandrakara.?" tanya Ki Lodaya.
"Benar kakang."
"Apakah orang itu masih hidup.?"
"Entahlah, aku tidak tahu akan hal itu. Sudah sepuluh tahun belakangan ini aku tak mendengar berita atau namanya disebut - sebut."
Namun perbincangan itu berhenti ketika pelayan dari kedai menghidangkan berbagai makanan istimewa dari kedai itu.
"Silahkan tuan, silahkan nyai." kata pelayan kedai itu dengan ramah, mempersilahkan dan tidak terlalu lama ia pun kembali ke ruang belakang.
Mereka dengan sangat lahap menyantap hidangan yang sudah berada di hadapan mereka, sambil berbicara ringan serta senda gurau.
"Tapi aku kira kita akan bisa mengatasi pertapa tua itu, apalagi kita menang secara jumlah, bukankah kita berjumlah delapan orang.?" kata Ki Lodaya, sehabis menyelesaikan makanannya.
"Baiklah kakang, kalau kakang berpendapat seperti itu. Kapan kita berangkat kesana.?" Orang dari Brang Wetan itu menunduk dan berfikir untuk sesaat.
"Di karenakan hari ini matahari sudah akan hampir terbenam, aku kira besok saja kita berangkat menuju kediaman Resi tua itu."
__ADS_1
"Baiklah kakang kalau pendapatmu seperti itu, tapi asal kakang tahu, kapanpun akan berangkat, kami selalu siap."
Bersambung ke “Kitab 02 – Eps 13” .........