BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
139


__ADS_3

Kala itu, hujan deras mengguyur tepian belumbang. Dua orang bertempur hebat layaknya Werkudara dan Duryudana, tokoh pawayangan dalam kitab Mahabaratha. Hujan lebat tak dihiraukan oleh keduanya, kecuali niat untuk mengalahkan lawannya semata. Sementara tak jauh dari sosok - sosok hebat itu, Bagus Wana duduk menelungkup dengan tangan menutupi kepalanya. Di sebelahnya, Kidang Rumeksa terus mencoba memanggil - manggil kawan sekaligus saudara seperguruannya itu.


"Wana.. Wana.. Dengarlah suaraku... !" teriak Kidang Rumeksa sambil mengguncang - guncang tubuh Bagus Wana.


Bukannya sadar, Bagus Wana malah berteriak seru, "Aaaaarg.... !"


Dalam kepala anak itu berkecamuk adanya bisikan yang menjadikannya bingung dan tak tahu harus memilih bisikan mana yang harus ia percaya.


"Orang itulah yang membunuh keluargamu dan mengelabuimu dengan mengangkat dirimu sebagai muridnya... !" bisikan terulang - ulang memenuhi kepala Bagus Wana.


Di lain pihak, bisikan juga terdengar agar Bagus Wana meyakinu kalau gurunya adalah orang baik yang tidak seperti dituduhkan.


"Percayalah, Pertapa itu adalah orang baik yang mengasuhmu dengan tulus. Malah dialah yang menyelamatkanmu dari maut saat kau terancam orang yang saat ini bertarung melawan gurumu.. !"


"Bohong... ! Kau tertipu bocah.. !"


Manakala bisikan - bisikan masih terus mengisi kepala Bagus Wana, dan Kidang Rumeksa masih sibuk berusaha menyadarkan kawannya, sebuah halilintar menukik deras menyambar guru dua bocah itu.


"Duuuuaar..... !"


Hentakan keras seakan - akan mengguncang bumi. Pinggiran belumbang porak - poranda tak karuan. Tetumbuhan hangus dan tanah serta kerikil bebatuan berserakan kemana - mana.


"Guruuuuu...... !'' teriak Kidang Rumeksa sekaligus menghambur menubruk Pertapa yang mencelat di dekatnya.


"Hahaha.... Terbalas sudah dendamku terhadapmu, Ajar Paguhan ! Kematian kakang Grigis terbayar sudah.... " kata orang yang berhasil membunuh Pertapa Ajar Paguhan, guru Kidang Rumeksa dan Bagus Wana.


Habis berkata, orang itu dengan sebat menyambar tubuh Bagus Wana dan membawa pergi dengan cepatnya. Sedangkan Kidang Rumeksa masih berlutut menangisi gurunya yang sekarat dengan napas kembang kempis.


"Guru.. Jangan kau pergi.. Guru.. "


Panggilan - panggilan dari Kidang Rumeksa ternyata dapat didengar oleh Ajar Paguhan. Orang tua itu berusaha mengumpulkan tenaga dan mulai berkata lirih...


"Selamatkan.. Wana dari.. tangan  Demang Brahu.. " perkataan itu terhenti sesaat karena darah menyembur dari mulut Ajar Paguhan.


"Oh.. Guru.. "


"Tapi sebelumnya.. galilah tanah di bawah pohon.. Sengon kembar.. pelajarilah kitab i.... " kata itu terputus seiring nyawa lepas dari wadah Ajar Paguhan.


Tak pelak jerit pilu membahana di pinggiran belumbang, "Guruuuuuuuuu... !"


Waktu berlanjut tiada putus barang sesaat. Usai menyelenggarakan jasad gurunya, Kidang Rumeksa melakukan perintah gurunya. Tanah di bawah pohon Sengon kembar digali. Dari situ ia mendapatkan peti yang berisi kitab sebuah perguruan. Isinya ialah tuntunan olah kanuragan tingkat tinggi yang bahkan tidak dimiliki oleh Ajar Paguhan. Selain itu terdapat tuntunan olah rasa dan kajiwan sebagai penyeimbang.


Berhari - hari Kidang Rumeksa mempelajari isi kitab tanpa lelah. Berbagai lelaku ia lakukan untuk mendukung berkembangnya ilmu dalam dirinya. Cobaan dan godaan ia hadapi dengan sabar demi mengingat pesan terakhir gurunya. Dan itulah yang membuat pemuda itu lulus, tuntas, tatas meraup hasil yang gemilang dari kitab yang dijaga oleh Ajar Paguhan.


Hampir dua tahun lamanya Kidang Rumeksa menyepi menuntaskan ilmunya. Keluar dari tempat yang selama ini ia tinggali, ia seolah - olah telah lahir kembali dengan jiwa yang mantab berbekal ilmu mendebarkan. Selanjutnya Kidang Rumeksa melalang buana mencari keberadaan Bagus Wana. Setiap jengkal tanah tak lepas dari pengamatannya demi sahabatnya itu.


Dalam pengembaraannya, Kidang Rumeksa mendengar adanya pembicaraan dunia kanuragan yang menyangkut diri kawannya. Namun yang membuatnya tidak percaya tatkala orang - orang mengatakan kalau kawannya Bagus Wana, selalu membuat keonaran. Bahkan Bagus Wana bergabung dengan pasukan Giriwardhana mengobrak - abrik kotaraja Wilwatikta. Juga, ikut pengejaran Prabu Brawijaya Pamungkas ke barat, gunung Lawu.


Suatu kali Kidang Rumeksa berhasil menjumpainya dan mencoba untuk menyadarkan kawannya itu. Tapi balasannya hampir membuat Kidang Rumeksa celaka selama - lamanya. Bujukannya tidak pernah digubris sedikitpun. Bahkan ikatan tali persaudaraan pupus seketika. Tinggalah kebencian semata yang ditunjukan oleh Bagus Wana terhadap Kidang Rumeksa.


Dan kini setelah sekian lama waktu berlalu, dua bekas sahabat itu bertemu ditengah malam buta. Kebencian dan angkara murka masih terlihat jelas diraut muka Bagus Wana, yang kini bergelar Wanapati.


"Menyingkir kau, Jalasutro !" seru ki Wanapati kemudian, "Ini tiada urusan yang menyangkut dirimu !"


Kyai Jalasutro yang di masa mudanya bernama Kidang Rumekso, hanya mendesuh perlahan seraya menggelengkan kepala dan sesekali memainkan kipas putih beecorak burung Merak di tangannya.


"Bila aku menyingkir dari tempat ini, bukankah kau berkeinginan untuk mencelakakan angger ini, Wanapati ? Sedikit banyak aku mendengar kalau kau tercemari ole pikiran - pikiran Demang Brahu.... "


"Tutup mulutmu, Kidang Rumekso !" teriak lantang ki Wanapati, sambil mengibaskan tangannya.


Tak ayal serangkum angin menderu ke arah Kyai Jalasutro. Angin itu sungguh mendebarkan, itu terbukti ketika Kyai Jalasutro dapat mengelak dan membuat serangkum angin itu melabrak tiang depan rumah Lurah Arya Dipa, tiang itu berderak patah.


"Astagfirullah... " ucap Kyai Jalasutro, menyesalkan tindakan kawannya di masa muda.


"Cepat kau pergi.. !" sekali lagi ku Wanapati memperingatkan.


Bukannya menanggapi ki Wanapati terlebih dahulu, Kyai Jalasutro membalikan badan ke arag Lurah Arya Dipa dan istrinya.


''Angger berdua, mohon kiranya untuk memaafkan kawanku ini. Biarlah aku yang akan mengganti tiang yang rusak itu." pinta Kyai Jalasutro kepada Lurah Arya Dipa dan istrinya, yang ditanggapi anggukan dan senyum sepasang suami istri muda itu.


"Edaan.. !" gerutu ki Wanapati, penuh kekesalan.


"Hahaha... Jangan kau berucap sepertu itu, Bagus Wana. Marilah kita bermain loncatan layaknya dahulu saat masih di pinggiran belumbang bersama guru, Ajar Paguhan." sahut Kyai Jalasutro.


Tanpa membalas jawaban, ki Wanapati mempersiapkan jiwa raganya. Diladeninya tantangan bekas kawannya itu secara bertahap. Yaitu kedua - duanya tanpa disetujui terlebih dahulu, mengungkap dasar - dasar tata gerak olah kanuragan.


Awalnya keduanya sama - sama menggunakan tata gerak dasar dari sumber yang sama, yaitu dasar yang mereka peroleh dari pertapa Ajar Paguhan. Gerak yang sama dari keduanya terasa seiring dan seirama layaknya para penari. Tetapi yang membedakan adalah lambaran yang membuat udara tersibak dan menderu - deru menakjubkan.


"Hm.. Yang mereka ungkap sebenarnya masih dasarnya saja. Tetapi hasilnya sungguh mendebarkan." ucap Lurah Arya Dipa, lirih.


Di sampingnya, Ayu Andini mengangguk mengiyakan tanggapan dari suaminya, "Benar, kakang. Sebenarnya siapa mereka dan dari perguruan mana ?"


"Sangat sedikit apa yang aku ketahui mengenai diri keduanya. Kyai Jalasutro seorang ahli kanuragan yang sangat jarang menampakan diri di keramaian. Ia lebih suka merenungkan diri dan beribadah kepada Dzat Yang Maha Suci. Ilmu yang ia miliki sangatlah langka, yaitu aji yang mampu membuat lawannya bagai tekurung tak berdaya."


Sejenak Lurah Arya Dipa berhenti demi melihat tandang kedua orang tua yang semakin meningkatkan tataran ilmunya. Ancaman demi ancaman terihat jelas meraih sasaran. Juga betapa tubuh - tubuh yang mulai senja itu seperti tak mengenal waktu saja, di mana kecepatan gerak layaknya anak panah lepas dari gendewa.


"Mampus kau Jalasutro... !" seru ki Wanapati, seraya melayangkan pukulan berganda.


"Haaait.. !"


Kyai Jalapati berusaha mengelak. Namun rupanya lawan tak mau melepaskan begitu saja. Kaki lawan menjulur ke depan dengan kerasnya. Hampir sekilan kaki itu mengenai sasaran, Kyai Jalasutro menggejot kakinya hingga membumbungkan tubuhnya. Saat itulah tanggannya menggemplang kepala lawan.


"Deeesss...... "


Terjadi adu kekuatan dari keduannya. Tangan Kyai Jalasutro bisa ditahan oleh tangan ki Wanapati yang disilangkan di atas kepala. Dan dari adu kekuatan itu, mengakibatkan keduannya tersuruk mundur. Tapi selekas menguasai tubuh masing - masing, dua orang tua itu sudah kembali bergerak sebat saling menyerang. Maka terjadilah perkelahian seru dan sengit antara keduanya.


Kini ilmu yang awalnya sama, selapis demi lapis berubah warnanya. Kyai Jalasutra sudah merambah ilmu yang dipelajari daru kitab wasiat Ajar Paguhan. Di sisi yang lain, ki Wanapati juga mewarnai ilmunya dari ilmu yang didapatnya dari Demang Brahu. Sehingga menjadikan orang - orang tua itu nggegirisi dalam setiap tindakan dan tata geraknya.


Lambaran ilmu tingkat pinunjul merembes mencari celah untuk merusak dan melumatkan sasaran yang lengah. Tetapi kedua orang itu sangatlah cermat dalam mengambil tindakan, yang memungkinkan tak terkena ancaman ilmu dari masing - masing lawan. Maka tak heran jika perkelahian di malam yang sudah menggelincir di fajar hari, sangat alot.


Suatu kali tangan ki Wanapati yang nampak memerah telah merangsek ke depan. Pada saat yang sama, Kyai Jalasutro juga menyongsong serangan menggunakan tangannya yang juga nampak semburat memerah. Tak ayal adu ilmu pukulan dekat berlambarkan kekuatan alam terjadi dengan dahsyatnya. Menjadikan suasana gelap yang awalnya lengang, berubah mendebarkan bagi semua mahkluk yang mendengarnya.

__ADS_1


"Byaaaaar....!"


Gema gemuruh menggelak membelah udara di halaman rumah Lurah Arya Dipa. Dan gema itu terdengar jauh sampai di pusat kotaraja.


"Ki Salam, bunyi apa itu tadi ?" seseorang prajurit peronda bertanya kepada kawannya.


Prajurit yang bernama ki Salam masih mendongak ke arah suara keras tadi. Kemudian barulah berucap walau agak ragu - ragu, "Mungkin sebentar lagi hujan, Dawuk... "


Prajurit Dawuk mengangguk, "Ah, syukurlah jika hujan turun di hari ini."


Prajurit Salam mengernyitkan alisnya seraya bertanya, "Memangnya kenapa jika hujan turun, Dawuk ?"


"Hehehe, supaya kita tidak nganglang, ki. Dan tergantikan dengan tidur di gardu perondan."


"O... Semprul kau, Dawuk. Jika ki Lurah Sambi mendengar, kau akan dijadikan kentongan !" omel ki Salam.


Kembali di pusat pergolakan, ki Wanapati sudah mencapai batas kesabarannya. Orang tua yang mirip dengan Begawan Jambul Kuning, meluncur deras layaknya tombak yang dilemparkan tenaga dahsyat. Menghadapi serangan ki Wanapati, lawannya mempersiapkan kuda - kuda yang kokoh, dan melambari aji pemberat tubuh untuk menambah daya tahannya.


"Deeess.....!"


Kaki Kyai Jalasutro tak pelak masih tergeser menyisakan tanah yang tergerus sedalam tumit dan sejauh satu tombak. Di lain pihak, ki Wanapati membal kebelakang, namun sekuat tenaga mempertahankan tubuhnya dan berhasil mendarat dengan sempurna. Rupanya kekuatan keduanya masih imbang sejauh ini. Oleh karenanya ilmu selapis lagi telah ditingkatkan.


Di timur, semburat merah mulai membuncah dibalik awan gelap yang samar. Tak terasa fajar hampir mendekati waktunya. Kokok ayam terdengar bersahut - sahutan penuh gembira menyongsong sang fajar. Hewan mahkluk ciptaan Dzat suci itu seakan - akan bersyukur masih diberikan waktu mengais cacing di haru itu. Mereka tak tahu jika dunia ini dipenuhi angkara murka yang dilakukan oleh beberapa orang. Bila mereka mendapat karunia berupa akal dan mampu berpikir benar, niscaya dengan paruh, taji, cakar dan kepakan sayapnya, mereka akan mendatangi orang - orang yang bertindak semena - mena terhadap sesama.


Dalam pada itu, manakala ki Wanapati sudah mempersiapkan salah satu aji pamungkasnya, sebuah teriakan yang dilontarkan dengan menggunakan ilmu semacam Gelap Ngampar, terdengar lantang.


"Paman Wanapati, sudahi dahulu permainannya. Masih ada waktu dilain hari. Marilah kita tinggalkan tempat ini."


"Hm... " dengus ki Wanapati, seraya melenturkan otot - ototnya yang tegang.


Tanpa berkata, orang itu berkelebat meninggalkan halaman tanpa deru angin sedikit-pun.


"Hm.. Bagus Wana.. Bagus Wana.. " desis Kyai Jalasutro sambil menggeleng - gelengkan kepala dan mengetuk telapak tangan kiri menggunakan kipasnya.


"Kyai Jalasutro, silahkan menaiki pringgitan" kata Lurah Arya Dipa, mempersilahkan.


Kyai Jalasutro tersenyum ramah dan menerima ajakan tuan rumah. Dia dan Lurah Arya Dipa berbarengan menuju pringgitan dan duduk beralaskan tikar Mendong. Ternyata Ayu Andini cukup cekatan mempersiapkan suguhan sederhana, meskipun tubuhya sudah membuncit cukup besar. Wedang sere dan sepiring penganan menjadikan perut bersuka ria di pagi hari itu. Walau begitu, mereka tidak melupakan waktu beribadah. Secara bergantian ketiganya pergi ke padasan untuk sesuci demi menunaikan kegiatan wajib bagi seorang hamba terhadap Gusti Dzat Suci.


Jauh di sebuah pategalan, Begawan Jambul Kuning dan muridnya duduk di depan sisa perapian. Air bening yang mengalir di parit menarik keduanya untuk mencuci muka agar kesegaran tubuh terpenuhi.


"Guru, kita langsung ke rumah kakang Arya Dipa, atau tidak."


"Ah.. Sebaiknya ke pondok Mahesa Anabrang dahulu. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadanya." sahut Begawan Jambul Kuning, sembari menyeka air di wajahnya.


Windujaya mengangguk tanda setuju. Tiada ruginya menghampiri pondok ki Panji Mahesa Anabrang. Sekalian nanti bisa melihat - lihat suasana kotaraja, pikir Windujaya.


Kemudian keduanya beranjak dari pategalan dan melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak. Tak perlu lama sampailah keduanya di jalan utama yang menghubungkan kotaraja dan kadipaten lainnya. Dan di jalan sudah banyak orang - orang yang berlalu lalang sambil membawa beraneka macam bawaan. Ada pedagang gerabah, pedagang makanan yang diwadahi tumbu besar, serta ada blantik sapi atau-pun kambing, dan masih banyak yang lain.


Keadaan kotaraja nampaknya sangat tentram sehingga mewujudkan kedamain diantara penghuninya. Itu terbukti dengan adanya pedagang yang berwajah cerah, Prajurit penjaga tak terlalu ketat dalam penjagaannya.


Ketika Begawan Jambul Kuning dan Windujaya hampir memasuki gerbang kotaraja, ada tiga orang penunggang kuda keluar dari gerbang. Yang membuat keduannya terpana dan heran, adalah salah seorang penunggang kuda yang sangat mirip dengan Begawan Jambul Kuning.


"Hm.... " hanya desuh saja yang terdengar dari Begawan Jambul Kuning.


Hingga penungang kuda itu melintas dan berlalu, keduanya hanya menatap saja. Dan akhirnya tiga penunggang kuda hilang dari pandangan manakal membelokan kuda di kelokan jalan.


"He.... !" kejut Begawan Jambul Kuning, mengingat sesuatu.


"Windujaya, pasti orang itu yang dahulu diceritakan oleh Puspanaga.."


"Yang membunuh paman Wila dan bibi, putra dan menantu guru ?" sahut Windujaya.


Begawan Jambul Kuning menganguk, "Iya.. "


"Kita kejar mereka, guru."


Orang tua yang mulai berubah itu, menggelengkan kepala, "Jangan, saat ini belumlah waktunya. Marilah memasuki kotaraja."


Lantas keduanya melangkahkan kaki memasuki gerbang. Tanpa kesulitan yang berarti guru dan murid itu-pun sampai di pondok ki Panji Mahesa Anabrang. Dan keduanya disambut dengan baik oleh Senopati dari pasukan telik sandi itu.


"Pantas saja burung Prenjak di pohon jambu itu berkicau terus. Tak taunya pondokan ini kedatangan seorang trah Kadiri." kata ki Panji Mahesa Anabrang, "Mari silahkan, paman Begawan dan anakmas Windujaya."


Ketiganya kemudian duduk dilantai yang bertikar anyaman daun Mendong. Dan terlalu lama, seorang pembantu menghantarkan suguhan yang sederhana layaknya penganan dikala itu.


Dipersilahkannya tamu untuk menikmati suguhan, serta tak lupa menanyakan kabar selama ini.


"Hyang Widi masih bermurah memberikan karunianya, dan hal itulah yang menjadikan aku selalu bersyukur." ucap Begawan Jambul Kuning.


Pembicaraan itu berjalan dengan rancak yang kadang kala diselingi sendau gurau dan bahkan tawa yang renyah dan tulus. Hingga akhirnya pembicaraan terus mengarah ke sisi yang lebih penting.


"Ki Panji, sudahkan ki Panji menemukan benang merah dari orang itu ?" tanya Begawan Jambul Kuning.


   Sejenak Senopati menggeser letak duduknya sembari menghirup napas dan menghembuskan kembali. Lalu katanya perlahan, "Begini, paman Begawan. Dahulu, orang itu diasuh oleh seorang pertapa di Belumbang, yang bernama Ajar Paguhan."


"Ajar Paguhan.... " desis Begawan Bancak.


"Benar. "kata ki Panji Mahesa Anabrang, yang kemudian lanjutnya, "Ajar Paguhan dahulunya seorang perwira Wilwatikta yang ditugaskan di Kadiri. Ia seorang perwira yang jujur dan tegas dalam mengemban tugas. Hingga suatu kali ia difitnah oleh seorang Demang sakti yang bernama Demang Brahu."


"Demang Brahu... " Begawan Jambul Kuning tercekat.


Kemudian semua yang diketahui oleh ki Panji, dituturkan secara runut tanpa dikurangi atau dilebihkan. Siapa itu Ajar Paguhan? siapa itu Demang Brahu? fitnah apa yang disebarkan menyangkut Ajar Paguhan ? semua terang benderang dapat diungkap oleh ketelitian dan kegesitan ki Panji Anabrang.


Waktu itu kebakaran melanda puri Kadiri. Hiruk pikuk mewarnai suasana digelapnya malam. Teriakan, tangis, jerit bercampur menjadi satu. Meskipun begitu, ada sebagian orang yang berusaha memadamkan ganasnya api dengan menggunakan kelenting berisi air, atau-pun kain yang dibasahi.


"Anaku Bancak... putraku Anggada.. " jerit seorang perempuan muda.


"Nimas, tenanglah. Rangga Paguhan dan Lurah Brahu pasti dapat menyelamatkan.. " ucap seorang pemuda yang berpakaian layaknya bangsawan, menenangkan istrinya.


"Oh.. Tetapi keduanya tak kunjung keluar, Kakangmas.. "


Pangeran Banyak Paguhan kembali menenangkan istrinya dan membawanya menepi.

__ADS_1


Sementara itu, di dalam bangunan yang dilahap api membara, Rangga Paguhan dan Lurah Brahu terus menerobos panasnya api. Dua orang prajurit Kadiri ini memasuki lautan api tidaklah dengan tubuh biasa, melainkan melambari masing - masing tubuh menggunakan aji kebal. Sehingga keduanya dapat bertahan  sedemikian rupa.


"Bagaimana, ki Lurah ? Kau melihatnya ?" tanya Rangga Paguhan.


Lurah Brahu menggeleng, "tiada nampak, ki Rangga."


"Mari kita berpencar.. " Rangga Paguhan akhirnya memutuskan.


Lantas keduanya berpencar dari satu ruangan, ke ruangan yang lainnya. Satu persatu ruangan yang dilalap bara api itu, terus diteliti dengan cermat. Hingga akhirnya, Lurah Brahu menemukan dua sosok terbungkus kain jarit. Untunglah atap di mana dua bayi itu berada, kuat dan kokoh juga belum terbakar. Di raihlah dua bayi yang anehnya masih terlelap itu. Kemudian Lurah Brahu beranjak meninggalkan kamar. Namun, bukannya  menuju pintu, melainkan menjejak papan dinding di sisi yang lain.


Sekali hentak, dinding itu ambrol meninggalkan lubang cukup besar. Maka keluarlah Lurah Brahu dan bebas dari sergapan api.


Dalam pada itu, Rangga Paguhan yang masih berada di dalam, cemas dan bingung. Sekian lama ia memeriksa tak kunjung mendapatkan hasil. Padahal api semakin besar dan meluluh-lantahkan bangunan.


"Aku kira, ini sudah takdir dari Hyang Agung.. " desis Rangga Paguhan seraya membalikan badan untuk keluar.


Sesudah keluar dari bangunan yang terbakar, Rangga Paguhan bergegas menghadap Pangeran Banyak Paguhan. Semua yang ia lihat, dilaporkan kepada bangsawan muda itu.


Raut kesedihan nampak jelas terlihat diwajah Pangeran Banyak Paguhan. Tetapi hatinya yang bersih berusaha menerima cobaan dari Hyang Widi itu.


"Kau sudah bekerja semampumu, ki Rangga. Terima kasih." ucap Pangeran Banyak Paguhan, lirih.


Tetapi sejenak kemudian bangsawan muda itu teringat dengan ki Lurah Brahu. Lalu tanyanya, "He.. Mana ki Lurah Brahu ?"


Rangga Paguhan mengernyitkan alisnya. Ia tadi berpikiran kalau Lurah Brahu sudah keluar lebih awal daripada dirinya. Tetapi atas pertanyaan dari junjungannya itu, membuatnya sadar kalau Lurah Brahu belum kelihatan sejak berpisah dengannya.


"Hamba akan mencarinya, Pangeran."


Bergegaslah Rangga Paguhan mengitari seluruh bangunan. Dan sampailah dimana bekas lubang menganga yang dilewati Lurah Brahu. Diteliti tempat itu sampai tanah dan rerumputan. Munculah sebuah kesimpulan ada orang yang melewati tempat itu.


"Apa yang terjadi ?" tanya Rangga Paguhan, tetapi tiada jawaban yang terang, kecuali ada petunjuk jejak langkah menuju pagar tinggi.


Lantas Senopati itu menjejakan kaki hingga membuat tubuhnya melayang melewati pagar. Di balik pagar, Rangga Paguhan segera menajamkan mata.


"Wuuuus.... !"


Deru tajam sebuah benda hampir saja mengenainya. Untung saja panggraita Senopati itu cukup lantip. Sehingga dapat menghindarinya.


Ternyata benda tadi adalah sebuah pisau kecil, dengan secarik kertas berada diujung bilah daunnya. Tanpa mengurangi kewaspadaan, dicabut pisau itu dan diraih secarik kertas tadi. Barulah dibaca tulisan itu dengan seksama.


Alis Rangga Paguhan seketika mengernyit, "Sebuah tantangan dan ancaman !"


Habis berkata, Rangga Paguhan pesatkan kakinya menuju ke arah selatan. Gelapnya malam ia terobos tanpa rasa jerih sedikit-pun. Dalam hati, tekad yang besar adalah hanya menyelamatkan dua buah hati junjungannya yang masih bayi. Karenanya hati yang tatag semakin mendorong kakinya melaju dengan cepat menggunakan ilmu Kidang Melar. Puluhan tombak dilalui dengan cepat, menghantarkan Rangga Paguhan di padang ilalang setinggi lutut. Di depan tampak jelas Lurah Brahu yang memondok satu buntalan kain yang berisi bayi, kerepotan saat mencoba merebut  buntalan yang ada dalam dekapan seorang berambut lebat dan putih. Tentu saja apa yang terjadi dihadapan Rangga Paguhan, membuatnya bingung. Karenanya ia masih terlihat diam mematung sambil memperhatikan kesebatan orang berambut putih.


Dalam pada itu, Lurah Brahu yang merasakan kehadiran Rangga Paguhan, berseru nyaring.


"Ki Rangga, lekaslah bergerak. Bunuh orang gila ini !"


Seruan itu menyadarkan Rangga Paguhan, meskipun ada keraguan sebesar biji sawi, Rangga Paguhan meloncat dengan sasaran mengambil bayi dalam pondongan orang berambut putih. Ia berkeyakinan dapat merampasnya dengan mudah. Ini dikarenakan, orang itu masih sibuk menghadapi terkaman Lurah Brahu.


Namun rupanya perkiraan Rangga Paguhan tak berjalan dengan apa yang ada diangan - angannya. Kesebatan tata gerak lawannya sangat aneh serta didukung ilmu yang tinggi. Meskipun usahanya gagal, Rangga Paguhan tidak tinggal diam, ia mengisar kaki kanan seraya mengokohkan kaki itu untuk menjadikan tumpuan dan selanjutnya tendangan memutar dari kaki yang lain, siap melabrak lawan.


Sementara itu, orang tua berambut putih dan berkeriapan dapat mengerti dan membaca tata gerak lawan yang baru datang. Orang itu tidak gopoh barang secuil-pun. Malah serangan - serangan dari lawan sangat ia nikmati dengan syahdunya. Seakan - akan tata gerak - tata gerak penuh ancaman dari lawan, ia anggap tembang yang indah mengalun ditelinganya.


Tendangan Rangga Paguhan dapat dihindari dengan mudah. Bahkan serangan susulan yang dilancarkan oleh Lurah Brahu, tidak mampu menghentikan orang itu. Bukan hanya itu saja, ketika masing - masing serangan dihindari, tangan orang tua itu bergerak cepat mengarah ke tubuh Rangga Paguhan dan sekejap kemudian tendangan telak membuat Lurah Brahu sempoyongan.


"Hati - hati, Lurah Brahu. Lebih baik hantarkan bayi itu kepada Pangeran Banyak Paguhan terlebih dahulu. Biarlah orang ini aku hadapi !" Rangga Paguhan mencoba memberi usulan kepada Lurah Brahu.


Lurah Brahu menggangguk, namun entah mengapa ada senyum aneh terlukis dalam sunggingan bibirnya. Dan ia-pun sudah berketetapan melangkahkan kakinya menjauhi padang ilalang. Tetapi baru sejengkal melangkah, kejadian tak terduga dan begitu cepat, membuatnya bingung bercampur marah.


Saat Lurah Brahu baru melangkah sejengkal tadi, sekelebat bayangan menjangkaunya dan merampas bayi yang dibawanya. Dan bayangan tadi dengan cepat kembali di tempat berdirinya, yaitu lima langkah di kanan tubuh Rangga Paguhan. Memang benar orang tua itulah yang merebut bayi dan kini ditangannya ada dua bayi.


"Hm... Bila kau pergi, pergilah prajurit kurang tata !" seru orang itu.


Bergemeletuk gigi Lurah Brahu mendengar ucapan yang mengandung cibiran itu. Wajahnya memerah seperti udang rebus, saking marahnya. Tangan terkepal keras seakan - akan menggenggam baja-pun akan rontok seketika.


Di lain sisi, Rangga Paguhan sangat takjub atas apa yang dilakukan oleh orang tua berambut putih tadi. Dia tidak menyadarinya meskipun tadi ia tidak mengendorkan kewaspadaan, tetap saja sulit dirinya mengikuti gerakan dari orang tua. Bisa dibayangkan kalau orang tua tadi berpikiran mencelakakan dirinya, sekali gerak tubuhnya tidak akan terisi oleh nyawa lagi.


Usai berangan - angan seperti itu, entah mengapa kaki Rangga Paguhan malah bergerak menggenjot ke bumi. Sekali genjot, membuat tubuhnya melayang bagaikan burung elang dan menukik deras ke arah mangsa. Sungguh hebat juga tandang Rangga Paguhan kala itu. Gerakan itu dapat membuahkan hasil yang gemilang, yaitu mampu merebut salah satu bayi.


   Begitu dapat merebut, selekas kaki menginjak tanah, ilmu Kidang Melar kembali diterapkan untuk menjauhi medan perkelahian. Dalam pikiran Rangga Paguhan adalah lebih baik menyelamatkan dahulu bayi itu dan apabila takdirnya baik, ia akan kembali merebut satunya lagi.


Larilah Rangga Paguhan yang disikapi dua hal yang bertentangan dari Lurah Brahu dan orang tua berambut putih. Tetapi Rangga Paguhan tak mau menghiraukan keduanya. Hanya keselamatan bayi itulah yang ia inginkan. Maka larinya semakin kencang dan kencang. Jauh sudah padang ilalang dilaluinya. Pohon dan semak juga terlewati hingga sampai di jalan utama yang menghubungkan Kadiri dan praja yang lain.


Begitu mendekati pintu gapura, di situ ada Rakyan Grigis menunggang kuda hitam beserta sepuluh pengawalnya.


"Ah.. Mengapa Rakyan ini ada di Kadiri ?" dalam hati Rangga Paguhan bertanya - tanya. Tentu saja tiada jawaban yang pasti.


"He.. Kaukah itu, Rangga Paguhan ?"


"Hamba, gusti Rakyan.. " sahut Rangga Paguhan sambil mengangguk hormat setelah berdiri lima langkah dihadapan kuda Rakyan Grigis, meskipun napasnya masih kembang kempis.


Dahi Rakyan Grigis mengernyit tatkala mencermati adanya lilitan kain yang membungkus bayi dalam dekapan tangan Rangga Paguhan. Lalu tanyanya meminta keterangan dan apa yang terjadi.


Terpaksa Rangga Paguhan membeberkan kejadian malam tadi, mulai terbakarnya kediaman Pangeran Banyak Paguhan, pencarian putra - putranya yang masih bayi dan pengejaran yang menghasilkan satu bayi itu.


"Begitulah, gusti Rakyan." Rangga Paguhan mengakhiri ceritanya.


"Jadi Lurah Brahu kau tinggalkan ?!" tiba - tiba suara Rakyan Grigis, meninggi.


"Terpaksa, gusti Rakyan."


Kuda yang ditunggangi Rakyan Grigis mendekati Rangga Paguhan, sang penunggang kemudian merebut bayi itu.


"Biar aku yang menyerahkan bayi ini. Kau kembali dimana kau tinggalkan Lurah Brahu yang saat ini sedang bergelut dengan maut !"


Rangga Paguhan agak sangsi bila mempercayakan keselamatan bayi kepada Rakyan Grigis. Tetapi mau bagaimana lagi, terpaksa ia pasrah dan berharap bayi itu dapat kembali ke orang tuannya. Lalu ia bergegas kembali ke padang Ilalang.


Sepeninggal Rangga Paguhan, Rakyan Grigis memberi isyarat kepada pengawalnya, "Pedut, Tilam, Bangah dan kau Juling, Ikuti Paguhan. Bila dia berhasil merebut bayi yang satunya, rebut dan lenyapkan dia."


"Sendiko dawuh, gusti Rakyan... " jawab ke-empat pengawal dengan serentak.

__ADS_1


__ADS_2