BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
110


__ADS_3

Sodokan tangan kanan dari Raden Sajiwo begitu deras menyasar lambung Jati Pamungkas. Bukanlah orang bercambuk andai tidak dapat menanggapi serangan lawan dengan daya upaya yang matang. Sebab, telapak tangan mengembang menahan laju sodokan sembari menggait kaki lawan menggunakan kaki kanan agar dapat merubuhkannya. Tetapi kegesitan Raden Sajiwo memang sebat, begitu sodokannya dapat ditahan oleh lawan dan lawan membalas serangan, secepatnya ia melentingkan tubuhnya ke atas.


.


Tentu saja Jati Pamungkas tidak tinggal diam. Dirinya langsung mengejar lawan yang masih di udara. Tak ayal, terjadilah adu gaplokan dahsyat di udara. Akibatnya, udara disekitar bagai kena aduk tenaga raksasa. Dan keduanya sama - sama merasakan kesemutan pada tangan mereka.


.


Dengus dan desuh saling dilakukan atas kejadian yang tak terduga itu. Walaupun pada akhirnya, perkelahian itu harus dilanjutkan kembali sampai tuntas.


.


Putaran tubuh kini muncul seiring adanya serangan kilat dari Raden Sajiwo. Serangan ganda yang disamarkan oleh tipuan - tipuan tata gerak penuh kembangan bagai munculnya air sumber, terus dilakukan oleh bangsawan Kadiri itu. Sungguh pengalaman orang itu sangatlah bertumpuk - tumpuk adanya, karenanya tindakan ini akan diterapkan demi mengungguli lawannya yang juga tangguh dan tanggon.


.


Apa yang dihadapi saat ini, merupakan sebuah pelajaran yang langsung dipecahkan secara cepat dan tepat oleh Jati Pamungkas. Dirinya juga bukanlah seorang pemula dalam dunia kanuragan. Sebab daripada itu, semua yang pernah dipelajari dari kakek sekaligus gurunya, serta beberapa tata gerak yang ia peroleh dari orang lain atau pun alam, ia terapkan sesuai keadaan waktu itu.


.


Serulah jadinya perkelahian yang masih menggunakan tangan kosong tersebut. Pastinya lambaran tenaga cadangan ikut andil demi berusaha menekan atau mendesak lawan. Selain itu, kewaspadaan terus ditingkatkan setinggi - tingginya agar tak menyesal di akhir.

__ADS_1


.


Bergeser dari kalangan Jati Pamungkas, ada kemelut melanda Panembahan Anom. Dirinya tak menyangka kalau harus menghadapi muridnya sendiri. Sebagai seorang guru, rasa tak enak pasti ada padanya saat mengadu keuletan olah kanuragan. Dan saat ini benar - benar adanya, bukan latihan atau penjajagan untuk sekedar melakukan penilikan kemampuan muridnya.


Bila hati Panembahan Anom masih terkungkung oleh keraguan, berbeda jauh apa yang dirasakan oleh Raden Sanjaya. Diakui kalau yang dihadapi adalah gurunya, tetapi demi mendapatkan pusakan dan harta peninggalan Wilwatikta, baginya haruslah menyingkirkan gurunya itu. Dengan landasan mantab, ilmu yang ia peroleh dari gurunya itu akan menjadi bekal untuk menghadapinya. Selain itu, sebenarnya ia juga mempunyai simpanan bekal olah kanuragan dari jalur berbeda.


.


Hal itu terbukti seiring dengan berjalannya waktu. Ilmu tata gerak yang awalnya dapat dikenali oleh Panembahan Anom, mulai berubah sedikit demi sedikit. Perubahan itu membuat Panembahan Anom mengernyitkan kedua alisnya. Tetapi orang tua itu cepatlah sadar dan hanya menyesali atas kecerobohannya yang mana dirinya dapat dikelabui oleh anak itu.


.


"Hm.... Tak kusangka kalau kau juga mempelajari jalur Sungsang Bawono, Sanjaya !" ucap Panembahan Anom.


.


.


Ucapan kurang ajar itu tanpa sengaja dapat didengarkan oleh Begawan Kakrasana yang menghadapi terjangan tiga lawannya. Sambil menghalau lawan - lawannya, ia menanggapi ucapan Raden Sanjaya itu.


.

__ADS_1


"Kakang Mapanji, Bagaimana bisa kakang menerima murid durhaka seperti itu ?" seru Begawan Kakrasana, "Apalagi dia dari kalangan Sungsang Bawono. Ah... Kau kecolongan telak, kakang."


.


Apa yang dikatakan oleh Begawan Kakrasana yang dikenal Panemban Anom sebagai Raden Branjang Mas, benar adanya. Dirinya memang benar - benar kecolongan. Ini dikarenakan kalau Sungsang Bawono merupakan musuh bebuyutan dari jalur perguruannya. Karena, tindakan - tindakan perguruan Sungsang Bawono selalu membuat ulah merusak paugeran.


"Ini merupakan kesalahan yang harus aku tebus dengan melenyapkan ilmu perguruan Argasti dari tubuhmu, Sanjaya." kata Panembahan Anom, sambil menggerakan telapak tangannya.


.


Karena sebagian jati dirinya sudah terkuak, Raden Sanjaya tak membiarkan telapak tangan orang tua itu mengenai tubuhnya. Untuk itu ia mengisar kakinya menjauhi terjangan telapak tangan Panembahan Anom. Meskipun begitu, desiran tajam sempat menyerempet pundaknya hingga ia sempoyongan jadinya.


.


"Hm... Tenaga guru memang dahsyat. Apalagi jika ia mengeluarkan pukulan Kumayan Jati... " batin Raden Sanjaya dalam hati.


.


Keadaan itu tidak terlalu lama, karena Panembahan Anom sudah mengejarnya sembari melakukan pukulan ganda. Bergegaslah Raden Sanjaya melayani dengan cara yang sama. Akibatnya, dua pasang tangan saling bertemu membuat udara menggelegak.


.

__ADS_1


Cepat terjadinya, di mana kaki Raden Sanjaya bergeser dua langkah ke belakang. Sementara tidaklah bagi Panembahan Anom atau Raden Kuda Mapanji. Melihat kalau muridnya hanya bergeser dua langkah, rasa kagum tak pelak menusuk hati sang guru. Bergegas ia kesampingkan rasa kagum itu, digantilah kemantaban hati untuk memberi pelajaran bagi sang murid yang durhaka. Maka kembalilah adu kanuragan semakin hebat, cepat, tangkas dan seru.


__ADS_2