BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
138


__ADS_3

Semakin hari sang surya di langit Demak, nampak cerah dihiasi silir angin menyejukan penghuninya. Sejak pengangkatan Adipati Hadiwijaya di Pajang dan Adipati Aryo Penangsang di Jipang, prajurit Demak mulai berbenah diri. Disegala kesatuan terlihat sibuk mempersiapkan titah dari Sultan Trenggono. Tiada lain titah itu adalah pergerakan untuk mempersatukan telatah Jawa khususnya telatah Bang Wetan, ke dalam Demak.


Pasukan Wira Tamtama, Wira Braja, Wira Manggala, Wira Radya, dan Wira Jalapati, setiap hari mengadakan gladi olah keprajuritan. Bahkan kesatuan Patangpuluhan yang bertugas mengawal Kanjeng Sultan Demak, selalu menyempatkan meningkatkan kemampuan olah yuda demi menjaga keselamatan junjungannya, maka tak heran bila di sanggar rumah mereka selalu nampak hidup.


Menjelang senja hari, tatkala waktu tugas yang usai, Lurah Arya Dipa dipanggil menghadap ke ruang dalam keraton Demak. Lurah muda itu merasakan adanya sesuatu yang ganjil saat melangkahkan kaki ke ruang dalam. Seakan - akan ruang itu terdengar adanya isak tangis memenuhi ruangan.


"Oh... Ada apa ini ?" tanyanya dalam hati.


Namun pertanyaan itu tiada jawaban yang dapat menerangkan perasaannya. Kakinya terus melangkah beberapa tindak, dan selanjutnya laku ndodok hingga satu tombak, barulah Lurah Arya Dipa berhenti dan duduk bersila menghaturkan sembah kepada seorang yang duduk di dampar kencana, sedangkan di kanan kirinya diapit dua pengawal khusus.


"Sembah hamba haturkan, Kanjeng Sultan." ucap Lurah Arya Dipa.


"Iya.. Iya, Arya Dipa." kata Sultan Trenggono, "Bagaimana kabar keluarga kecilmu ? Aku dengar Ayu Andini saat ini mengandung putramu."


"Atas pangestu Kanjeng Sultan, keadaan keluarga hamba tiada kekurangan sedikit-pun, Kanjeng Sultan. Usia kehamilan Ayu Andini semakin mendekati waktunya." kata Lurah Arya Dipa.


Kanjeng Sultan Trenggono manggut - manggut. Bibirnya tersenyum cerah, seakan - seakan baru menerima warta gembira mengenai perihal kerabatnya. Sesungguhnya demikianlah isi hati beliau menyikapi keadaan yang melingkupi keluarga kecil Lurah Arya Dipa, yang sebentar lagi akan menyambut kelahiran buah hatinya. Bagi Kanjeng Sultan Trenggono, Lurah Arya Dipa bukanlah orang lain. Sejak pertemuan pertama, pemuda itu sangat menarik dan membuat hati Sultan Trenggono kagum.


Sebenarnya Kanjeng Sultan Trenggono berkeinginan untuk memberikan tugas terhadap Lurah Arya Dipa yang berkaitan rencana beliau melawat Bang Wetan. Tetapi suara hatinya berkata lain. Entah mengapa hatinya gundah memikirkan keadaan Demak sepeninggalnya nanti. Itu semua terasa saat salah satu senopati telik sandi yang pernah menghadap secara sembunyi - sembunyi, melaporkan kecurigaan adanya tindakan diam - diam oleh sekelompok orang. Dan yang paling mengejutkan beliau ialah adanya gerakan pendam mengarah terhadap Adipati Anom.


Maka dari itulah setelah dipikirkan dengan matang bersama penasehat kesultanan, diputuskan untuk mengamankan garis sah keprabon Demak, yaitu Adipati Anom yang saat ini disandang oleh Pangeran Bagus Mukmin. Pada nantinya tugas ini dibebanka ke pundak perwira yang mempunyai kemampuan mumpuni serta teruji kesetiaannya. Terpilihlah tugas itu kepada Lurah Arya Dipa.


"Arya Dipa.. "


"Hamba, Kanjeng Sultan.. " sahut Lurah Arya Dipa, sembari mencangkupkan kedua telapak tangan dikening.


"Aku akan mempercayakan keselamatan Adipati Anom, terhadapmu. Jagalah Bagus Mukmin sepeninggalku nanti.. "


Tercekat hati Lurah Arya Dipa seraya memandang walau hanya sesaat, dan bergegas menunduk lagi. Entah mengapa nada suara Kanjeng Sultan Trenggono pada saat ditelinga Lurah Arya Dipa, terasa sebuah perpisahan. Karenanya hatinya tercekat.


"Duh, Kanjeng Sultan. Bagaimana mungkin hamba yang tak bertenaga ini, mendapat kepercayaan menjaga keselamatan bendoro hamba Adipati Anom... ?"


Tawa renyah mengawali suara yang keluar kemudian dari Sultan Trenggono, "Hahaha... Bila aku baru mengenalimu, mungkin aku menganggapmu tak bertenaga, Dipa.. "


"Tapi sudah bertahun - tahun kukenal dirimu. Ketangkasanmu dalam melumpuhkan orang - orang di alas Ketonggo yang menghadangku, kemudian saat dimana kau mengobrak - abrik pasukan Jipang yang melakukan serangan tak terduga kala itu, serta masih banyak lagi tindakan nyata yang kau perbuat dalam pengabdianmu terhadap Demak Bintoro ini."


Sejenak Sultan Trenggono memerhatikan Lurah Arya Dipa yang diam tertunduk.


"Selain itu, sesungguhnya aku merasakan adanya gejolak yang melanda hati... Hmm, entah itu apa, dalam penangkapan mata hatiku yang samar - samar, ada tetesan darah mengotori dampar kencono." lanjut Sultan Trenggono.


Tersentak Lurah Arya Dipa demi mendengar ungkapan hati junjungannya. Kepala itu mendongak menatap lekat - lekat kesan yang muncul dipermukaan raut wajah Sultan Trenggono. Namun selekas hati dapat menguasai keadaan, Lurah Arya Dipa bergegas menunduk kembali menatap lantai. Keningnya mengkerut dan entah mengapa bulu kuduk berdiri, merasakan kengerian. Sebuah isyarat meskipun samar sedikit tertangkap oleh mata hati Lurah muda putra angkat Panji Mahesa Anabrang. Gejolak yang dirasakan oleh Sultan Trenggono, tentu merupakan masalah yang akan melanda Demak dikemudian hari. Padahal, akhir - akhir ini Lurag Arya Dipa memimpikan masa - masa tenang dimana ia akan menimang - nimang calon jabang bayi yang dikandung istrinya.


Getar suara terdengar lebih sarat dari Sultan Trenggono, "Lurah Arya Dipa.."


"Hamba, Kanjeng Sultan.. "


"Sekali lagi aku meminta kesanggupanmu untuk berada disamping putraku, Adipati Anom."


"Sendiko dawuh, Kanjeng Sultan."

__ADS_1


Tenanglah hati Kanjeng Sultan. Hatinya yang awalnya gelisah, sedikit tenang manakala terdengar kesanggupan dari Lurah Arya Dipa untuk mengemban tugas berada di dekat putranya. Dengan demikian beliau sudah semakin mantab untuk bergegas menyelesaikan pergolakan di Bang Wetan. Dan Lurah Arya Dipa kemudian diperkenankan untuk meninggalkan ruang dalam kesultanan. Dalam perjalanannya yang tak terlalu jauh itu, Lurah Arya Dipa masih terbayang setiap kesan yang nampak dari Sultan Trenggono. Entah mengapa itu tadi ia rasakan sebagai pertemuan terakhir dengan beliau.


"Ah...... Tidak.. " desisnya perlahan seraya menggeleng.


Dan langkah kakinya kembali terayun menapak menuju tempat yang ditinggalinya bersama Ayu Andini.


Sesampainya dirumah, Lurah Arya Dipa menuturkan semua apa yang terjadi di kesultanan terhadap istrinya. Termasuk isyarat yang ia tangkap mengenai Kanjeng Sultan Trenggono. Sebagai istri yang masih muda dalam menapaki rumah tangga, rupanya Ayu Andini dapat dengan cepat memahami kegelisahan suaminya itu. Ketenangannya sebagai wanita dapat ia ungkapkan dengan cara menyiapkan minuman hangat berupa wedang Sere dihadapan suaminya. Disuruhnya suaminya itu untuk meneguk dahulu supaya kehangatan wedang Sere dapat menyurutkan kegelisahan yang diderita. Usai Lurah Arya Dipa meneguk wedang Sere, barulah Ayu Andini menenangkan dengan kata - kata lembut nan merdu.


"Kakang, janganlah kakang terlalu terbawa perasaan yang begitu mendalam sehingga kakang gelisah begitu rupa." kata Ayu Andini, "Kanjeng Sultan masih terlihat gagah dan beliau-pun seorang yang mumpuni tuntas dalam bidang kanuragan dan kaweruh. Beliau-pun tak lepas dari pengawalan pasukan khusus setiap langkahnya."


Lurah Arya Dipa mengangguk setuju atas tanggapan istrinya itu. memang diakui, Sultan Trenggono adalah sosok raja yang hebat pilih tanding. Di dalam tubuhnya tersimpan berbagai ilmu yang nggegirisi bagi lawan - lawannya. Tetapi ada sebuah ungkapan, "Sehebat - hebatnya wadah, bila sudah waktunya akan lebur juga".


Itulah yang dirasakan oleh Lurah Arya Dipa, dan perasaan itu juga dapat dibaca oleh Ayu Andini, sehingga wanita muda yang sedang mengandung itu kembali meyakinkan agar suaminya percaya kalau Kanjeng Sultan akan kembali dari Bang Wetan dengan selamat.


"Tindakan yang paling baik bagi kita adalah mendoakan beliau, agar beliau selalu dalam lindungan Yang Kuasa, kakang."


"Kau benar, Ayu." Lurah Arya Dipa mengiyakan.


Sejenak dipandanginya perut istrinya yang membesar. Dibelainya dengan lembut penuh kasih sayang layaknya suami pada umumnya. Calon jabang bayi di dalam rahim yang awalnya bergerak, seketika tenang. Seolah merasakan kelembutan dari sang ayah.


Di luar, sinar rembulan samar - samar mengintip bumi dari balik awan. Angin lembut berdesir perlahan mampu mengusik ketenangan awan untuk terus berarak ke selatan, mengakibatkan kebebasan sinar rembulan dalam menerangi permukaan bumi. Alur alam di malam itu berjalan sesuai titah Sang Kuasa tanpa dapat membakang sidikit-pun.


Tak terasa malam mencapai puncaknya yang ditandai kentongan dara muluk dari gardu perondan. Tiba - tiba suara aneh membuat sepasang suami di dalam rumah itu, mengernyitkan alis dan saling pandang.


"Kakang... " desis Ayu Andini seraya memegang kain pakaian suaminya.


"Kau tetaplah disini. Aku akan mencoba menengok.. " kata Lurah Arya Dipa dengan beranjak berdiri dan melangkah ke arah pintu.


"Adakah seseorang, kakang ?" kata Ayu Andini yang sudah berdiri dibelakang punggung suaminya.


Tidak ada jawaban kecuali gelengan kepala. Tetapi sang empu kepala masih mencermati keadaan sekitarnya. Ia yakin pasti ada seseorang yang saat ini mengamati dirinya.


"Kisanak.... ! Malam sudah dipuncaknya. Adakah sesuatu yang membuat kisanak hadir di gubuk ini ?!" seru Lurah Arya Dipa, kemudian.


Hening tiada tanda pergerakan muncul. Sambutan yang dilontarkan oleh Lurah Arya Dipa tak ada balasan. Malah yang terdengar hanyalah burung hantu yang terbang di atas halaman.


"Hm... " desuh Lurah Arya Dipa.


"Baiklah, kalau begitu akan ku tutup kembali pintu gubugku.. " selepas bicara, Lurah Arya Dipa memutar tubuhnya berniat masuk kembali ke ruang dalam.


Sekonyong - konyong, deru benda tajam melayang deras mengancam punggung Lurah Arya Dipa. Hal itu membuat Ayu Andini tercekat dan mencemaskan suaminya. Tetapi suaminya bukanlah orang yang lengah dalam menghadapi keadaan. Dengan sigap dan cepat ia memutar tubuhnya dan....


"Taaak.. !"


Telapak tangan Lurah Arya Dipa yang dilambari aji Niscala Praba dapat menyapok benda tajam dari serangan gelap. Akibat sapokan itu, benda itu menukik menancap papan hingga gagangnya. Namun tak berselang lama, deru deras terulang lebih dahsyat dari serangan pertama. Bukan hanya satu, melainkan tiga sekaligus menghambur di-tiga titik berbeda.


"Awas, kakang.... !" seru Ayu Andini.


Meskipun tiada peringatan dari Ayu Andini, suami sudah memperkirakan adanya serangan susulan. Oleh karenanya, tangan Lurah muda Demak itu dengan cepat bergerak laksana tatit. Begitu tangan diam, dalam genggamannya tiga belati sudah berarti lagi.

__ADS_1


"Hm.. Ucapan Lintang Kemukus memang benar adanya." desis seseorang diatas dahan pohon Keluwih, "Aku akan bermain sesaat dengannya."


Usai berkata, sosok itu melayang turun ke halaman. Sungguh indah kaki orang itu dalam setiap gerakannya. Bukan hanya itu saja, disetiap langkahnya tiada deru sedikitpun, ini menunjukan betapa tinggi ilmu kanuragannya.


"He.... " wajah Lurah Arya Dipa dan Ayu Andini serentak mengerut heran.


Raut wajah orang itu sangat tidak asing bagi keduanya. Sangat dan sangat mirip bak pinang dibelah dua. Sehingga tak heran jika keduanya merasa heran bukan kepalang. Jika tidak melihat sendiri tentu keduanya tidak percaya kalau orang yang baru muncul itu adalah orang lain yang mirip dengan orang yang nyata kakek Lurah Arya Dipa. Hal itu mengingatkan keduanya atas apa yang dituturkan oleh Empu Puspanaga.


Sementara orang yang baru menampakan diri itu menatap tajam ke arah sepasang suami istri dengan sesekali mengangguk. Dalam pandangan orang itu, keduanya pantas apabila mempunyai bekal yang mantab dalam dunia olah kanuragan. Dikarenakan  tubuh - tubuh keduanya memiliki susunan tulang yang baik. Dan inilah yang menakjubkan atas orang itu, hanya dengan melihat sepintas menggunakan matanya saja sudah dapat menilai dan mengetahui keadaan lawan atau orang lain.


"O.. Kau-kah yang disebut anak yang mewarisi ilmu dari kitab Cakra Peksi Jatayu itu, anak muda ?" orang itu melontarkan pertanyaan yang mengandung mencari penjelasan.


Lurah Arya Dipa mengerutkan alisnya, "Hm.. Begitulah, kisanak. Siapaka kisanak ini yang sudi singgah di gubuk kami ?"


"Hahaha.... " orang itu tak langsung menjawab, melainkan tertawa lepas dan barulah berkata, "Rupanya bayi Arya Wila ini yang semestinya aku tangani pada saat itu... Hm, nasi sudah menjadi bubur. Walau begitu tak mengapa diusia-ku yang tua ini harus mengotori lagi."


Tentu saja kata - kata itu menimbulkan gejolak berbeda dari sepasang suami istri tuan rumah. Bagi Arya Dipa, disebutnya Arya Wila telah membuka tabir semakin nyata dari orang dihadapannya itu, yaitu seseorang yang telah membunuh kedua orang tuanya. Sedangkan bagi Ayu Andini, sebuah kecemasan muncul manakala ada bibit permusuhan antara orang itu dan keluarga suaminya.


"Jadi, kisanak-kah yang sudah membunuh ayah dan ibu-ku... ?!"


"Ceek.. ceek.. ceek... Hm, benar ! Akulah yang mengakhiri keduanya. Bahkan bila saat itu pertapa dari Penanggungan itu tidak datang, kau-pun akan aku cekik dan kulempar di lembah Bancak !"


Dengan sekuat tenaga Lurah Arya Dipa berusahan menekan perasaannya yang mulai bergejolak. Api - api kemarahan segera ia padamkan dengan menyebut Dzat Yang Suci. Selanjutnya tergantikan pertanyaan terhadap orang itu.


"Kisanak tadi belumlah mengenalkan diri, cobalah jelaskan diri kisanak ini.. "


"Hohoho.... Tak kukira usia-mu yang masih seumur jagung ini mempunyai pengendalian diri yang baik. Baiklah, aku Wanapati... "


Belum sempat orang itu menuntaskan perkataannya, malam itu kembali bergolak dengan datangnya seseorang yang berjalan tenang melewati regol.


"Lama kau tak menampakan diri, Wanapati !" suara halus menyapa.


Kedatangan orang itu mengejutkan semua orang, tentunya dengan bermacam tanggapan dalam pikiran mereka. Orang berbadan kurus dengan wajah selalu tersenyum serta membekal kipas putih bercorak burung Merak. Menandakan kalau orang itu adalah kyai Jalasutro dari gunung Bromo. Seorang yang penuh rahasia dan sangat jarang menampakan diri di kalayak ramai.


"Kau, Jalasutro.... !" seru ki Wanapati, seraya melotot.


"Selamat malam, cah bagus dan genduk ayu." Kyai Jalasutro malah menyapa Lurah Arya Dipa dan Ayu Andini.


Tindakan itu sesungguhnya menjadikan ki Wanapati geram bukan main. Dirinya malah diacuhkan dengan orang itu. Tetapi ia-pun tidak mau berlaku sembrono menghadapi orang sakti itu, meskipun ia sesungguhnya tidak jerih.


"Selamat malam, Kyai.. " balas Lurah Arya Dipa, penuh hormat.


Kyai Jalasutro terus melangkah menghampiri Lurah Arya Dipa dan istrinya untuk berjabat tangan. Usai itu barulah ia menghadap ki Wanapati tanpa adanya rasa permusuhan.


"Wanapati, puluhan tahun kau dan aku berlalu lalang menapaki luasnya tanah Jawadwipa ini. Sejak Wilwatikta berada ditangan gusti Prabu Pamungkas, yang diobrak - abrik oleh Giriwardhana serta Patih Udara, dan kemudian muncul trah pinunjul Glagahwangi." kata Kyai Jalasutra, "Rupanya sulit kau mengekang nafsu angkara murka itu. Lihatlah rambut di kepalamu sudah beruban dan kulitmu yang mengeriput. Itu adalah tanda dimana masa akan tiba menghadap Allah, Dzat Yang Agung."


Bila dicerna lebih jelas, ucapan dari Kyai Jalasutro merupakan kecintaan seseorang terhadap sahabat yang dikasihi berupa kata untuk mengingatkan tatkala sahabat itu tergelincir dari jalan yang ditetapkan oleh Dzat Suci. Kecintaan itu berupa ucapan saling mengingatkan dalam mengendalikan nafsu yang ada dalam diri seseorang dan agar tak mudah kalah oleh hawa nafsu itu sendiri. Sebenarnya setiap manusia dari lahir mendapatkan karunia berupa hati yang bersih dan suci, yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Begitu juga halnya dengan hati ki Wanapati, tetapi hatinya yang suci tergerus oleh lautan nafsu, hingga akhirnya mengabaikan nasehat dari Kyai Jalasutro.


Nasehat lurus dan suci itu, ditelinga ki Wanapati bagaikan ribuan lebah yang mengganggu gendang telinganya. Selanjutnya timbulah geram dan hentakan kaki ke bumi.

__ADS_1


"Dari dulu mulutmu tidak lelah untuk berkicau seperti itu, Jalasutro !" sahut ki Wanapati, ketus.


Tak pelak Kyai Jalasutro, gelengkan kepala atas kekerasan hati sahabatnya itu. Sungguh sedih hatinya atas perilaku kawan mudanya itu. Ia tahu betul masa - masa dimana keduanya saling bermain dan bersenda gurau dipinggiran belumbang. Bagus Wana dan Kidang Rumekso mendapat bimbingan seorang pertapa yang menyembunyikan jati dirinya. Dalam asuhan pertapa itu, ilmu jaya kawijayan dan olah kanuragan mengendap dalam wadag keduanya. Hingga hari kelam itu telah merubah perilaku Bagus Wana.


__ADS_2