
Udara di malam itu terasa panas luar biasa, entah mengapa pangeran Trenggono terbangun dari tidurnya dan melangkah keluar dari peraduannya menuju gedong pembatas bilid dan ruang dalam kesatrian. Di luat langit sangat cerah dan bila memandang langit nampak bulan bersinar terang dengan lintang yang menyertainya. Namun beberapa saat kemudian angin berhembus kencang membawa awan menutupi sinar bulan.
"Ada apa ini.? perasaanku mengapa seperti ini.?" batin pangeran dalam hati.
Kegelisahan terasa melanda hati pangeran Trenggono itu. Seorang pangeran yang pilih tanding itu tak luput mengalami perasaan janggal di hatinya.
Sementara itu jauh dari kotaraja Demak, sebuah kejadian tak terduga melanda kapal yang ditumpangi oleh Sultan Demak kedua, lambung kapal itu terkena bola baja api dari kapal kerajaan Pahang.
"Cepat selamatkan kanjeng Sultan.!" teriak Senopati pengapit di kapal yang lain.
Tapi suasana sangat tak menguntungkan bagi mereka, sebuah kapal dari Portugis juga mulai berdatangan menyerang kapal yang ditumpangi oleh kanjeng Sultan.
Di kapal utama Demak, sebuah bayangan memanggul tubuh yang penuh dengan luka dengan tangkas berlari dan melompat menuju kapal pengapit dan meletakkan tubuh yang dipanggulnya ke lantai kapal.
"Senopati, sebaiknya segera perintahkan kapal ini mundur." ucap orang yang memanggul tubuh itu.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan kedua pangeran.?" tanya senopati pengapit.
Sekali lagi sesosok bayangan dengan tangkas berjumpalitan dan hinggap ke kapal itu dan menghambur memeluk tubuh yang tergeletak penuh luka.
"Ayahanda sultan...!" pekik bayangan itu, yang tak lain pangeran Arya Jepara.
"Tabahkan hati ananda pangeran, tabib akan merawat luka ayahanda sultan..." kata raden Tu Bagus Pasai, menenangkan pangeran Arya Jepara.
Bersamaan dengan mundurnya kapal senopati pengapit, tubuh lemah kanjeng Sultan yang lebih dikenal dengan pangeran Sabrang Lor dibawa ke bilik dalam kapal dan mendapat rawatan dari seorang tabib. Luka itu sangat parah dan tak ada harapan lagi untuk menyelamatkan nyawa kanjeng Sultan Demak kedua.
Tak terceritakan dikala kapal kapal itu mengarungi laut hingga akhirnya sampai di bandar Demak Bintara, kedatangan kapal - kapal itu mengejutkan para nelayan dan kepala bandar serta penghuni padukuhan dekat bandar itu.
Seorang kepala bandar segera menyambut kedatangan iring - iringan kapal itu, dan betapa terkejutnya saat dirinya diberitahu kalau kanjeng Sultan telah gugur di medan pertempuran.
"Cepat utus prajurit penghubung untuk mewartakan keadaan ini kepada kerabat kerajaan." perintah raden Tu Bagus Pasai kepada kepala bandar itu.
__ADS_1
"Sendiko, senopati."
Maka seorang utusan dengan menggunakan kuda yang paling cepat menggeprak kudanya ke kotaraja Demak bagaikan sipat angin. Sementara raden Tu Bagus Pasai memerintahkan prajurit bandar untuk mempersiapkan kereta beserta kuda untuk mengangkut jenasah kanjeng Sultan ke kotaraja. Gerak cepat dari kepala bandar dalam mempersiapkan kereta dan beberapa kuda segera terpenuhi sehingga jenasah kanjeng Sultan dipindahkan ke kereta itu dan segera diberangkatkan dengan pengawalan pasukan yang baru turun ke darat itu menuju kotaraja.
Iringan yang panjang mendapat sambutan dari kawula yang berdiri berjejer di jalan yang dilalui paaukan yang pulang dari Malaka. Kesedihan terlihat dari raut wajah kawula yang berdiri berjejer itu saat mengetahui pasukan yang lewat itu membawa jenasah raja mereka yang gugur dalam medan perang.
Sementara itu prajurit penghubung yang berkejaran dengan waktu terus menggebrakkan kudanya untuk sesegera mungkin sampai di kotaraja. Kuda tunggangan yang kokoh dan tangguh itu akhirnya sampai di gerbang utara kotaraja dan terus berlari di lorong - lorong dalam kotaraja menuju istana.
Di depan pintu gerbang istana, dua orang prajurit menghentikan kuda itu.
"Mengapa kau seperti dikejar setan.? bukankah kau prajurit Wira Jalapati di bandar.?" tanya prajurit penjaga pintu gerbang istana.
"Menyingkirlah, aku tak sempat memberi alasan, ini sangat genting.!" teriak prajurit penghubung, sambil menggebrak kudanya dan hampir melanggar prajurit itu jika tak segera menghindar.
"Hoi... dasar wong edan...!" teriak prajurit penjaga itu, mengumpat sejadinya.
__ADS_1