
Munculnya pemuda yang membantu ki lurah Lembu Sura, memberi angin segar bagi lurah dari Wira Manggala itu, yang mengenali penolongnya di kala musim pendadaran waktu lalu. Sebaliknya dengan ki panji Menak Sengguruh berserta kedua kawannya, terutama ki Pracona dan ki Landung Galih. Kedua orang itu merasa pernah menjumpai seorang pemuda yang berdiri di samping lawannya.
"Kau... pemuda yang duduk di dekat lubang angin di kedai itukah.?" tanya ki Pracona.
"Begitulah, kisanak."
Rasa geram, kesal, marah bercampur aduk mewarnai hati ki Landung Galih, yang merasakan sentuhan langsung dari pemuda itu, apalagi lengannya masih terasa sakit.
"Bukankah kau berdua.?"
"Benar kisanak...!" teriak seorang pemuda sambil berlari menghampiri tempat perkelahian.
Semua mata memandang ke wajah pemuda yang berlarian itu, semuanya mengerutkan kening kecuali pemuda yang menolong ki lurah Lembu Sura saat memperhatikan wajah penuh lumpur itu.
"Siapa dia, ki lurah.?" bisik ki lurah Lembu Sura ditelinga penolongnya.
Tak ada tanggapan dari pemuda disampingnya, malah pemuda itu menahan senyumnya.
Sedangkan orang dengan wajah kotor itu cengar cengir layaknya orang tak waras.
"He siapa sebenarnya kalian ini.!" gertak ki Pracona tak sabar.
"Aku kawan ki lurah Lembu Sura ini, kisanak." kata orang itu, "Sedangkan kawanku ini, anak petani pedukuhan pinggir kotaraja."
"Mengapa wajahnya penuh lumpur seperti itu.?" tanya ki lurah Lembu Sura, tak mengenali wajah pemuda itu.
"He.. bangsat tengik.! kalian terlalu meremehkan kami sehingga kalian berbicara sendiri tanpa menghiraukan kami.!" bentak ki Pracona, " kalian pantas mendapat imbalan dari kami."
Bersamaan dengan itu, ki Pracona mengambil pisau kecil dan membidikkan kearah ketiganya dengan cepat. Kesiur angin yang ditimbulkan menandakan tenaga cadangan melambari laju dari pisau - pisau itu.
Tapi yang dibidiknya bukanlah burung perkutut, melainkan mereka orang pilih tanding dan mengetahui dasar olah kanuragan, ketiganya mampu menghindar sehingga pisau - pisau kecil itu terus melaju menghujam dalam ke tanah.
"cek..cek..cek, wah jika pisau itu jika mengenaiku pasti menyakitkan." gumam pemuda berwajah kotor yang tak lain Kidang Alit.
Dengus ki Pracona terdengar bersamaan dengan meluncurnya tubuh itu layaknya gasing ke arah Kidang Alit. Luncuran tubuh itu begitu cepat dan dahsyat ******* pemuda kotor wajahnya, walau begitu Kidang Alit mampu mengelak dan membiarkan tubuh itu meluncur terus mengenai kayu sebesar paha orang dewasa. Bunyi berderaknya pohon membuat ki lurah Lembu Sura, dan kedua pemuda yang baru datang kagum oleh apa yang ditimbulkan dari gempuran ki Pracona, kayu itu patah.
Sementara itu ki Landung Galih kembali mengeluarkan ilmu Kakang Pambarep Adi Wuragil, dimana dua sosok muncul menyerang ki lurah Lembu Sura. Tak ingin kesukaran dialami oleh lurah dari Wira Manggala, pemuda penolong yang tak lain ki lurah Arya Dipa akan ikut ambil bagian menghadang sosok itu, tapi langkahnya terhenti manakala k panji Menak Sengguruh berada di dekatnya.
"Mari kita buat kalangan sendiri, anak muda."
Terpaksa ki lurah Arya Dipa mengurungkan niatnya dan berdo'a supaya ki lurah Lembu Sura mampu bertahan dari lawannya sampai Kidang Alit berhasil menundukkan lawannya.
"Baiklah ki panji."
Maka di gumuk itu terjadi tiga kalangan perkelahian sengit dan seru. Tata gerak dan tandang dari ilmu masing - masing menyeruak kepermukaan untuk mengungguli lawan dari masing - masing.
Perasaan aneh menghinggapi hati ki Pracona, setiap serangannya mampu dihindari oleh lawannya yang berwajah kotor itu dengan mudahnya, bahkan seakan - akan orang itu menikmati perkelahian ini. Tenaga banteng ki Pracona yang mampu menumbangkan pohon seakan tertumbuk dengan lawan satu ini. Selapis demi selapis tenaga terus meningkat seiring waktu berlalu.
Juluran tangan ki Pracona yang bertujuan merengkuh tubuh Kidang Alit dan mencengkeram tubuh itu dan diangkat, tapi sesuatu terjadi yang membuat ki Pracona melenguh karena tak mampu mengangkat tubuh pemuda berwajah penuh lumpur itu.
"Apa yang akan kau lakukan kepadaku, kisanak.?" tanya Kidang Alit diselngi tawa kecil.
Dengan sekuat tenaga orang dari bang wetan itu terus berusaha mengangkat dan membanting tubuh lawannya, tapi tubuh lawannya bagaikan mengakar ke perut bumi.
"Hiaaat...!!" teriak Kidang Alit, sambil mengangkat tubuh lawan dan melempar tubuh itu melewati atas tubuhnya.
Suara debuman ke tanah terdengar saat tubuh ki Pracona jatuh dibanting oleh lawannya yang masih muda. Orang dari bang wetan itu menyeringai seraya memegangi pinggangnya yang sakit bukan main, dengan masih mendeprok orang itu mengumpat dengan kasarnya.
Tak jauh dari kalangan pertama, tiga sosok menyerang ki lurah Lembu Sura dengan gencarnya. Tubuh lurah dari Wira Manggala itu dibeberapa tempat tergores tajamnya trisula milik ki Landung Galih. Ternyata kemampuan ki Landung Galih dalam pengetrapan aji Kakang Pambarep Adi Wuragil, mampu membuat lawannya mengalami kesulitan dan terdesak, sosok bayangannya selain membuat lawannya bingung juga merupakan persoalan yang harus dihadapi dengan pemusatan tersendiri.
Disisi lain, ki panji Menak Sengguruh merupakan seorang prajurit sandi yang ngedab - ngedabi tandang dalam olah kanuragannya, setiap pukulannya selalu membuat angin disekitarnya bergolak hebat, bahkan terasa perih mengenai kulit.
"Bukan main orang ini." puji ki lurah Arya Dipa dalam hati.
Tangan kanan ki panji Menak Sengguruh menjulur layaknya ular mematuk - matuk tubuh lawan dengan gesitnya, tapi pemuda yang merupakan prajurit dari pasukan Wira Tantama itu seorang pemuda yang sudah mempunyai pengalaman dalam menghadapi tata gerak mirip gerak ular, bahkan dulu pemuda ini pernah bertempur mati - matian dengan naga Anta Denta di lereng Penanggungan.
Setiap tangan lawannya mematuk, ki lurah Arya Dipa dengan cepat dan gesit menyerang pergelangan tangan lawan sisi luar, sehingga ia mampu membuat lawannya merubah tata geraknya yang lebih mantab. Perubahan tata gerak lawan kini lebih rumit dan cepat dua kali lipat dari serangan sebelumnya.
Tanah yang mereka pijak menjadi tak karuan dengan rumput tercerabut dari akarnya. Begitu juga dengan udara disekitar mereka bergolak hebat dengan putaran tak terarah.
Perkelahian mereka berdua ini merupakan perkelahian yang paling seru dan sengit. Bila diibaratkan sebangsa binatang, ki panji Menak Sengguruh bagaikan ular naga yang menghadapi ki lurah Arya Dipa layaknya burung garuda. Si ular dengan ekornya terus mengibas keras tubuh garuda yang terbang rendah, tapi garuda ini dengan gesit mengepakkan sayapnya terbang tinggi menukik menyambar dengan cakar kuat mengarah tubuh sang ular, bila sang ular mengelak maka garuda itu terbang mendatar mengarah kepala untuk mematuk dengan paruhnya.
Serang menyerang silih berganti dengan elakan lincah, kembali mendesak hebat menyudutkan lawan tanpa ampun. Peluh yang mulai merembes tak membuat keduanya berniat istirahat, tapi malah sebaliknya, peluh itu bagai pemanasan saja dan meningkatkan ilmu mereka selapis demi selapis untuk mengungguli lawan.
Dalam hati ki panji Menak Sengguruh, pujian mengalir terhadap lawannya yang masih muda itu. Di kadipaten Puger saja yang mampu menyamai ilmunya hanya segelintir orang saja, salah satunya ki rangga Sawung Rana murid ki Ajar Bajulpati yang kini berada dekat dengan raden Sajiwo dan seorang yang menyebut dirinya Lintang Kemukus Pangrampung. Namun disini ia bertemu dengan pemuda yang selalu mampu menandinginya walau ia terus meningkatkan ilmunya.
"Bila anak ini dibiarkan, maka ia akan menjadi batu sandungan dari pergerakan panembahan Bhree Wiraraja." desia ki panji Menak Sengguruh.
Dalam hati sebenarnya panji ini berkecamuk perasaan bercabang, ingin rasanya membunuh pemuda itu jika dirinya mampu, namun dilain sisi ia sangat menyayangkan ilmu pemuda itu. Lalu ada sebuah pikiran melintas dalam kepalanya.
"Anak muda, siapa namamu.?" tanyanya denhan terus menyerang.
"Arya Dipa, ki panji."
"Apakah kau seorang prajurit.?"
"Hemm, begitulah ki, aku memang prajurit Demak. Kenapa.?"
"Tidak, aku hanya mengagumi ilmu kanuraganmu itu." sejenak ki panji Menak Sengguruh berhenti, lalu lanjutnya, "Bergabunglah dengan kami, maka kau akan mendapat harta dan derajat.!"
Bujukan itu hanya ditanggapi senyum dengan terus menggebrak lawannya.
"Apa jawabmu.?" desak ki panji Menak Sengguruh.
Tapi lurah muda itu terus menyerang dengan dahsyatnya. Bahkan kakinya mengenai pinggang lawan yang terbuka dan membuat lawannya tergeser.
"Hemm, terpaksa aku membunuhmu, agar kau tak menjadi batu sandungan.!" dengus ki panji Menak Sengguruh.
Bersaman dengan itu orang dari bang wetan itu mulai merambah tenaga cadangan, udara disekitarnya terasa panas menyengat.
Gelembung - gelembung aneh nampak disekitar tempat ki panji Menak Sengguruh berdiri, sebuah gelembung berwarna kuning kemerahan dan bila saling bergesekan satu dengan lainnya, menimbulkan suara letupan. Saat tangan orang dari bang wetan itu bergerak menghadap lawannya, gelembung itu mengikuti mengambang mengarah tubuh lawannya.
Serangan dari gelembung itu tak dipandang sebelah mata oleh ki lurah Arya Dipa, dengan gesit pemuda anak angkat ki panji Mahesa Anabrang mengelak ke samping sejauh satu tindak. Gelembung itu berbenturan satu sama lain di udara dimana sebelumnya ki lurah Arya Dipa berdiri, sudah dapat dibayangkan gelembung berwarna kuning kemerahan itu meletup dengan kerasnya, walau begitu ki lurah dari Wira Tamtama masih merasakan hawa panas menyengat kulitnya.
"Hemm.. kali ini kau bisa lolos dari ilmu ku, anak muda, tapi aku akan menerapkan serangan dengan lebih cepat dari sebelumnya.!" gertakan itu memang nyata.
Sekejap kemudian tempat itu terkurung oleh gelembung yang tiba - tiba muncul dikalangan tersebut. Ancaman menjurus kekematian tak terelakkan bila puluhan gelembung itu mengenai sebongkah daging serta segumpal darah manusia. Sebuah ilmu kuno pada wangsa Sanjaya pendiri kerajaan Mataram kuno, telah muncul kembali di tangan panji dari kadipaten Puger ini. Dan hal itu mengejutkan Arya Dipa, yang serba sedikit mengetahui ilmu itu di kitab Cakra Paksi Jatayu, bahwasanya ilmu nggegirisi itu dinyatakan sesat.
"Prahara Kalageni..!" desis ki lurah Arya Dipa.
"He..kau mengetahui ilmu ku ini.? Siapa kau sebenarnya anak muda.?" suara ki panji Menak Sengguruh bergetar.
"Sudah aku bilang aku lurah prajurit Demak, dan ilmu mu merupakan ilmu terlarang di jaman Medang Kamulan dahulu hingga jaman Kadiri ilmu itu dilarang keras untuk dipelajari."
"Huh itu hanya bualan semata, mengapa ilmu ini dilarang.? bukankah itu hanya ketakutan segelintir orang saja.?" sangkal ki panji Menak Sengguruh.
Masih dalam kewaspadaan tinggi dan bahkan aji Niscala Praba mulai diterapkan, ki lurah Arya Dipa menjawab dengan sebuah pertanyaan.
"Sudah berapa nyawa bayi yang kau tumbalkan untuk lelaku itu, ki panji.?"
Tak ayal lagi bagi ki panji Menak Sengguruh untuk menutupi mengenai ilmunya yang merupakan ilmu sesat.
__ADS_1
"Kau terlalu banyak mengetahui ilmu ini anak muda, pasti kau mempunyai bekal untuk menghadapinya, tapi aji ini sudah hampir tingkat sempurna." gertak ki panji Menak Sengguruh, yang tak menyadari jika lawannya terselubungi oleh lapisan kuning kemilau, dikarenakan sinar gelembung dari aji Prahara Kalageni miliknya menyamarkan.
"Mati kau anak muda..!!!!" teriak ki panji seraya menggerakkan kedua tangannya, menandakan serangan gelembung kuning kemerahan mengeroyok sasaran yang sudah terkepung.
Suara letupan maha dahsyat mengetarkan gumuk pinggiran padukuhan luar kotaraja, dimana ki lurah Arya Dipa berdiri terkurung oleh api menyala membumbung setinggi pohon kelapa. Sehingga hal itu membuat perkelahian disekitarnya terhenti menatap api yang membumbung tinggi di tengah gumuk.
Bahkan api itu terlihat dari rumah penghuni padukuhan, satu dua peronda jatuh lemas menyaksikan api yang mereka sangka berasal dari sosok yang mereka takuti.
"Ba..naspati..!" teriak seorang pemuda sambil berlari tunggang langgang, sedangkan kawannya pingsan tak sadarkan diri.
Teriakan dari para peronda itu terdengar oleh seorang pemuda yang mempunyai keberanian melebihi kawan - kawannya, pemuda itu meraih pemukul kentongan dan memukul kentongan dengan irama bertalu - talu.
Padukuhan itu langsung terjadi keributan menanggapi suara kentongan yang saling bersahutan dari parondan satu ke parondan lainnya, bahkan sampai pintu gerbang kotaraja. Seorang lurah segera membawa sepuluh prajurit berkuda dan menggebrak perut kuda berlari pintu gerbang yang terpaksa dibuka untuk melihat apa yang terjadi di padukuhan itu.
Derap kaki kuda yang ditunggangi oleh prajurit Demak semakin membuat penghuni padukuhan yang bernyali kecil, semakin meringkuk sembunyi di bilik kamar mereka. Akhirnya sepuluh prajurit beserta beberapa peronda padukuhan sampai di gardu peronda ujung padukuhan.
"Ada apa.?" tanya lurah prajurit, yang masih diatas punggung kuda.
"Api ki lurah, gumuk itu terbakar." jawab pemuda yang memukul kentongan.
Tapi kawannya menyahut dengan suara bergetar.
"Bu.. bukannya itu tadi Banaspati, Wawa.?"
"Ah.. kau ini, itu tadi pasti api biasa yang mungkin membakar pohon keluwih atau trembesi di gumuk." bantah Wawa.
"Sudahlah aku dan prajurit akan melihat gumuk itu, jika kalian berani, ikutlah." kata lurah prajurit, sambil menarik kekang kuda, meneruskan ke gumuk.
Hanya beberapa pemuda saja yang ikut ke gumuk, salah satunya Wawa. Jarak puluhan tombak itu akhirnya bisa mereka tempuh beberapa saat saja. Keheranan nampak di raut muka lurah prajurit yang turun dari kuda dan mengamati keadaan di gumuk itu.
"Kakang lurah, sepertinya baru terjadi sebuah pertempuran yang dahsyat." seorang prajurit mengungkapkan pendapatnya.
"Hem.. sepertinya apa yang kau katakan memang benar adi, lihatlah disini ada ceceran darah yang masih segar, sementara disitu tanah hangus dan masih terasa hawa panas.."
"Apa yang akan kita lakukan, kakang.?" tanya seorang prajurit.
Lurah itu terdiam sesaat, lalu kemudian memberi perintah kepada prajuritnya.
"Selidiki tempat ini dengan teliti dan cermat, apabila ada yang mencurigakan., segera beritahu kepadaku." lalu lurah itu berkata kepada seorang prajurit berbadan tinggi, "Sukra kau kembali ke gardu parondan gerbang timur, dan beritahu ki lurah Banyak Wide agar memperketat penjagaan."
"Baik ki lurah." lalu prajurit itu bergegas menaiki kuda dan memacu kudanya ke gerbang timur.
....
Gumuk itu memang sudah kosong dari orang - orang yang sebelumnya terlibat pertempuran. Suara kentongan dari padukuhan membuat ki panji Menak Sengguruh bergegas meninggalkan gumuk setelah sebelumnya memberi isyarat kepada ki Pracona dan ki Landung Galih tanpa menunggu apa yang terjadi dengan lawannya.
Saat ketiga orang yang disangka penyusup itu meninggalkan tempat, Kidang Alit terlambat untuk bertindak jauh dikarenakan dirinya mencemaskan Arya Dipa yang terkurung oleh aji Prahara Kalageni milik ki panji Menak Sengguruh. Sedangkan ki lurah Lembu Sura keadaannya juga tak memungkinkan, bahkan lurah itu tampak kelelahan.
Di dalam kepungan api Prahara Kalageni, Arya Dipa sebenarnya mampu menahan ilmu lawan dengan menggunakan aji Niscala Praba, yang menyelubungi tubuhnya sehingga tak tersentuh oleh aji yang menakutkan itu.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya ilmu lawan dapat ia padamkan, namun saat ia melihat kesekitar tak nampak batang hidung lawannya.
"Mereka melarikan diri, ki lurah." suara Kidang Alit menyadarkanya.
"Oh.. ra eh kakang.." kata Arya Dipa.
"Bagaimana keadaanmu.?"
"Aku tak mengapa, kakang." sahut ki lurah Arya Dipa, lalu, "Oh ki lurah Lembu Sura."
Pemuda itu berlari ke arah tubuh ki lurah Lembu Sura yang pingsan.
"Mari kita tinggalkan tempat ini, mungkin api tadi akan mengundang para peronda." ajak Kidang Alit atau raden Bagus Mukmin, sambil ikut membopong ki lurah Lembu Sura.
Keduanya lantas pergi dari gumuk sambil mendukung tubuh ki lurah Lembu Sura yang jatuh pingsan.
Dua orang dengan mendukung sesosok tubuh berlari melewati pemantang sawah tanpa adanya kesulitan sedikitpun. Mereka tak lain ki lurah Arya Dipa dan Kidang Alit atau raden Bagus Mukmin, sedangkan dalam dukungan di atas pundak ki lurah Arya Dipa tubuh ki lurah Lembu Sura masih tak sadarkan diri.
Melalui tembok yang mereka berdua lewati sebelumnya, yang dimana seutas tali kuat masih terikat kuat di pohon waru, keduanya kembali menaiki tembok tinggi kotaraja.
"Bagaimana dengan ki lurah Lembu Sura.? Apa harus harus di bawa ke Ksatriyan.?"
"Jangan raden, sebaiknya akan hamba bawa ke rumah ki Bonangan." sahut ki lurah Arya Dipa, "Dan sebaiknya, raden kembali ke ksatriyan sekarang juga."
"Baik.. berhati - hatilah, dan segera kau ke ksatriyan."
"Sendiko raden." ki lurah Arya Dipa, menyanggupi.
Setelah kepergian raden Bagus Mukmin dari bawah pagar tembok, ki lurah Arya Dipa dengan hati - hati bergegas menuju rumah ki Bonangan yang pernah dirinya menginap sebelum menjadi prajurit Demak. Sampai di regol rumah ki Bonangan, seorang pembantu ki Bonangan yang duduk di pringgitan mengerutkan kening saat memandang ke arah regol.
Pembantu ki Bonangan berdiri dengan kewaspadaan, tangannya tanpa sadar menyentuh keris yang terselip di pinggangnya sambil berjalan ke arah regol.
"He siapa kau.?!" hardik pembantu rumah tangga itu.
"Aku paman Sentanu, Dipa.." jawab orang yang memang ki lurah Arya Dipa.
"Oh denmas, ada apa ini.?"
"Nanti saja paman, tolong buka pintu regolnya."
"Oh... maaf paman lupa." kata ki Sentanu sambil membuka pintu regol.
Setelah memasuki halaman rumah ki Bonangan, keduanya membawa tubuh ki lurah Lembu Sura ke pringgitan.
"Paman beritahukan kepada ki Bonangan, aku menitipkan tubuh ki lurah Lembu Sura disini untuk malam ini, besok aku akan menjelaskan kepada ki Bonangan."
Tapi sebuah langkah membuat keduanya menengok ke arah langkah itu.
"Oh ki Bonangan." desis ki Sentanu.
Orang itu memang ki Bonangan, salah satu kepercayaan pangeran Trenggono yang rumahnya di ujung kotaraja.
"Oh kau denmas Arya Dipa." sapa ki Bonangan.
"Benar ki, maaf mengganggu ketenangan rumah ki Bonangan."
"Siapa dia, denmas.? apa yang terjadi.?" tanya ki Bonangan setelah melihat seorang yang masih dalam dukungan ki lurah Arya Dipa.
Tapi sebelum Arya Dipa menjawab, ki Bonangang kembali berkata, "Sebaikanya bawa masuk orang ini ke gandok kanan, supaya mendapat perawatan."
Maka segera tubuh ki lurah Lembu Sura di bawa ke gandok kanan dan direbahkan di sebuah amben.
"Sebelumnya aku sudah memeriksa keadaanya, ki. Dan berhasil memampatkan lukanya."
"Syukurlah, ada apa sebenarnya denmas.?" kembali ki Bonangan bertanya.
Lalu pemuda itu menceritakan kejadian yang ia alami di gumuk ujung padukuhan luar kotaraja tanpa menyangkutkan nama raden Bagus Mukmin.
"Begitulah paman, tapi saat hendak mengejar para penyusup itu keadaan ki lurah Lembu Sura menguwatirkan, maka aku membawanya kemari."
Orang tua kepercayaan pangeran Trenggono itu manggut setelah mendengarkan penjelasan dari ki lurah Arya Dipa dan berjanji akan merawat ki lurah Lembu Sura.
__ADS_1
"Baiklah ki Bonangan, aku mohon diri dan besok aku akan kemari."
"Iya denmas."
Malam hampir sampai di ujungnya, pemuda itu berjalan menyusuri lorong sepi dan kecil untuk menghindari prajurit peronda yang bertugas di malam itu. Walau agak memutar akhirnya ki lurah Arya Dipa sampai di Ksatriyan dan melaporkan kalau ki lurah Lembu Sura dalam perawatan ki Bonangan.
"Baiklah ki lurah, bersihkan tubuhmu ke pakiwan dan beristirahatlah di gandok kanan."
"Injeh raden.." dan ki lurah menuju ke pakiwan untuk membersihkan tubuhnya.
Gemericik air membuat tubuh pemuda itu kembali segar, walau hari malam dengan hembusan angin membuat air terasa dingin.
Kicau burung terasa merdu di telinga, berbagai jenis burung tampak di pepohonan sedang melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, kadangkala kepakan sayap membuat burung - burung itu terbang rendah dan hinggap lagi ke dahan atau pun ke ranting pohon.
Pagi yang cerah dengan adanya sinar sang fajar tanpa adanya awan yang menutupi, semakin menambah kecerahan di pagi itu. Dan sinar itu menerangi bilik di mana ki lurah Lembu Sura berbaring, melewati sela - sela lubang angin.
Desuhan napas mulai terdengar seiring keriyapan mata lelaki paruh baya itu. Semakin nyata mata itu terbuka sehingga dipenglihatan lurah Wira Manggala nampak kayu usuk di langit - langit.
"Uuh..." desuh kembali terdengar lirih.
Ketika tubuh itu bergerak dan ingin berdiri dari pembaringan, pintu bilik gandok berderit dan seseorang membuka pintu itu dengan membawa nampan.
"Berbaringlah, ki lurah." sapa orang itu, yang tak lain ki Bonangan.
Mata yang masih merasakan sakit itu memandang penuh keheranan terhadap orang yang menyapanya.
"Jangan bingung, ki lurah. Kau di tempat yang aman dan masih di lingkungan kotaraja Demak." kata ki Bonangan, yang dapat memahami apa yang ada dalam hati ki lurah Lembu Sura.
Setelah merasa yakin dengan apa yang dikatakan oleh orang yang memasuki bilik dimana ia berbaring, ki lurah Lembu Sura menyandarkan tubuhnya.
Sementara ki Bonangan mengangsurkan nasi sepiring dengan lauk sederhana kepada ki lurah Lembu Sura.
"Makanlah ki lurah, supaya tubuhmu cepat pulih."
"Terima kasih, kyai." ucap ki lurah, sambil menerima piring yang terbuat dari tanah liat.
"Tadi malam, denmas Arya Dipa membawa ki lurah kemari dan memintaku merawat ki lurah yang mengalami cedera."
Demi mendengar penuturan itu, ki lurah teringat apa yang ia alami tadi malam di gumuk luar padukuhan. Memang saat itu dirinya mengalami beberapa goresan luka di tubuhnya, saat lawannya meninggalkan gumuk sebenarnya dirinya akan mengejar walau mungkin itu akan membahayakan dirinya, namun darah yang keluar terlalu banyak, maka ia pun jatuh pingsan tak sadarkan diri. Dan saat itulah hanya ki lurah Arya Dipa dan kawannya yang menolongnya dan membawa dirinya kepada seseorang yang belum ia kenal.
"Tapi mengapa aku dibawa kemari.? tidak ke barak atau rumahku.?" tanya ki lurah Lembu Sura dalam hati.
"Maaf kyai, sebenarnya siapa kyai ini.?" tanya ki lurah setelah menghabiskan makanan dalam piring.
"Minumlah ramuan ini." tanpa memberi jawaban, ki Bonangan mengulurkan bumbung gelas yang berisi ramuan kepada lurah prajurit.
Seteguk demi seteguk ramuan itu memasuki tenggorokan ki lurah, walau terasa pahit di lidah, namun setelah masuk dalam lambung tubuhnya terasa hangat dan nyaman.
"Bagaimana keadaan ki lurah.?"
"Sepertinya rasa sakit semakin berkurang, kyai. Dan tubuhku terasa nyaman."
"Syukurlah." ucap ki Bonangan, "Aku sering disebut dengan Bonangan oleh tetangga disekitar sini, ki lurah. Dan ki lurah Arya Dipa merupakan salah seorang yang kawan baikku."
Kepala ki lurah manggut, dalam hati ia berterima kasih kepada lurah muda dari Wira Tamtama itu, jika tiada lurah muda itu muncul, mungkin nyawanya sekarang akan tertanam tanah gumuk atau hal yang mengenaskan lainnya, yaitu menjadi santapan burung gagak atau binatang buas lainnya.
Sementara itu dari balik bilik gandok, ki Sentanu yang merupakan pembantu ki Bonangan muncul dan mengatakan kalau ki lurah Arya Dipa datang.
"Suruh ia masuk, Sentanu."
"Baik, ki."
Tak lama kemudian ki lurah Arya Dipa memasuki bilik itu dengan menyapa salam tuan rumah dan ki lurah Lembu Sura. Dan tak lupa menanyakan keadaan dari ki lurah Lembu Sura.
"Terima kasih, ki lurah. Jika kau tak berada di gumuk itu, mungkin aku tak lagi berbicara sebebas ini."
"Ah sudahlah, ki lurah. Itu semua hanyalah kebetulan saja, jika bukan aku mungkin orang lain, karena aku merasakan seseorang bersembunyi di balik rerumputan tak menampakkan dirinya." sahut ki lurah Arya Dipa, sambil melirik ke arah ki Bonangan.
"Ah benarkah itu.? ternyata aku tak merasakan keberadaan seseorang."
Senyum menghiasi bibir ki Bonangan manakala memerhatikan raut muka ki lurah Lembu Sura yang menandakan ketidakmampuannya dalam membaca situasi di malam sebelumnya.
"Sudahlah ki lurah, tak usah kau pikirkan hal itu. Sekarang sebaiknya kau menmanfaatkan waktu ini untuk penyembuhan tenaga maupun luka yang ki lurah derita." akhirnya ki Bonangan bersuara.
Anggukan terlihat dari prajurit Wira Manggala itu, dengan merebahkan kembali tubuhnya di atas pembaringan, untuk mengikuti petunjuk dari ki Bonangan yang mengerti mengenai ilmu pengobatan melalui tata pernapasan demi melancarkan peredaran darah dalam tubuh. Sesudah memberikan beberapa petunjuk kepada ki lurah Lembu Sura, ki Bonangan mengajak ki lurah Arya Dipa menuju ruang utama rumahnya.
Di ruang utama terdapat beberapa perkakas dan pajangan kepala seekor harimau loreng dengan mulut menganga, di sudut ruangan terlihat dua tombak yang ujungnya tertutup selongsong berdiri tegak di tempatnya.
Keduanya duduk di tikar anyaman pandan saling berhadapan. Tak berapa lama, seorang pembantu wanita ki Banongan muncul membawa nampan dengan berisikan minuman dan sepiring ketela rebus yang masih hangat, dan menaruh di tengah ki Bonangan dan ki lurah Arya Dipa. Setelah mempersilahkan maka pembantu wanita itu kembali masuk ke ruang dalam menuju dapur.
"Silahkan Anakmas lurah, mumpung masih hangat." ki Bonangan mempersilahkan.
"Terima kasih, ki." ucap lurah muda itu sambil meraih gelas yang terbuat dari tanah liat dan meneguk wedang sere itu.
Sambil menikmati hidangan itu, ki lurah Arya Dipa mengeser letak duduknya dan bertanya keada tuan rumah, "Apakah kyai bisa menduga apa yang akan terjadi di Demak ini.?"
Helaan napas orang tua itu terasa berat sambil mengerjapkan matanya.
"Tentu kau bisa menduganya anakmas, kekosongan tahta ini mungkin akan dimanfaatkan oleh pihak berseberangan khususnya orang - orang dari bang wetan." kata ki Bonangan, "Apalagi orang - orang itu mempunyai ilmu aneh seperti yang kau hadapi semalam, mungkin kalau aku yang menghadapi orang yang kau hadapi itu, aku akan hangus tak tersisa."
"Memang tepat kalau pangeran Trenggono memilihmu untuk mengawal raden Bagus Mukmin, selain pemomongnya yang kini sedang kembali ke padukuhannya." lanjut orang tua itu.
"Oh jadi raden Bagus Mukmin mempunyai seorang pemomong sampai saat ini, kyai.?"
"Iya, namanya ki Surayata."
"Oh ya apakah kyai memberitahukan situasi tadi malam kepada kanjeng pangeran Trenggono.?"
"Tenanglah anakmas, aku masih merahasiakan tindakan raden Bagus Mukmin yang keluar hanya bersamamu, tapi seandainya pangeran Trenggono tahu pun, ia tak akan melarangnya."
Kelegaan menyelimuti pemuda itu, andai ki Bonangan melaporkan tindakan tadi malam kepada pangeran Trenggono dan saat itu raden Bagus Mukmin mengalami sesuatu, maka dirinya tentu mendapat hukuman.
"Apa yang kau pikirkan, anakmas.?"
"Ah tidak kyai, aku hanya membayangkan sesuatu yang mengacam nyawa kerabat keraton sepertinya semakin nyata."
"Hem.. memang hal itu patut diwaspadai, semoga tak ada situasi menggemparkan terjadi di tanah Demak ini." sebuah doa terlontar dari orang tua itu.
Saat bersamaan di pinggiran sungai, Seorang berpakain hitam dengan topeng menutupi wajahnya sedang duduk bersama tiga orang yang tak lain ki panji Menak Sengguruh, ki Pracona dan ki Landung Galih.
"Hemm, siapa sebenarnya pemuda yang kau hadapi itu, ki panji.?"
"Dia menyebut dirinya Arya Dipa, seorang lurah prajurit." jawab ki panji Menak Sengguruh, " Tapi aku yakin jika anak itu pasti hangus tak tersisa dari Prahara Kalageni milikku."
"Kita harus semakin waspada, jangan sampai gerakan ini tercium oleh orang Demak." tegas orang bertopeng itu.
"Baik Lintang Kemukus, lalu bagaimana dengan rencana dari raden Sajiwo."
Senyum mengembang menghiasi bibir orang bertopeng yang disebut Lintang Kemukus.
"Usahakan orang dalam menggiring sasaran, untuk rencana pengambilan pusaka berjalan mulus dan semoga kawan lainnya mampu menghasut seseorang untuk melakukan puncak dari rencana ini."
__ADS_1
Semua orang tersenyum dan mulai membayangkan keberhasilan rencana itu, sebuah rencana adu domba melemahkan kekuatan sang singa lalu batu disergap secara bersamaan. Kehancuran Demak dan keturunannya akan melahirkan sebuah kerajaan baru yang akan dikendalikan oleh Panembahan Bhre Wiraraja dengan memberikan imbalan kepada pendukungnya berupa pangkat dan harta kekayaan.