
Pergumulan seru tengah dialami oleh Windujaya yang tengah menghadapi Ra Srimpang. Walau tubuhnya tambun, tetapi orang dari Paciran ini memiliki ketangkasan yang ngedab - ngedabi. Kakinya sangat lincah dalam melakukan perpindahan pijakan, dari pijakan satu kepijakan lainnya. Inilah salah satu keahlian yang melambungkan namanya di dunia olah kanuragan.
.
Bagi Windujaya sendiri, ini merupakan pertama kalinya dirinya melakukan adu ilmu dengan orang Paciran tersebut, meskipun nama itu sudah sering ia dengar sebelumnya. Menurut gurunya, dahulu Ra Srimpang pernah menuntut ilmu dari seorang bekas senopati Wilwatikta yang memiliki julukan Gajah Wilwatikta. Benar saja, julukan itu membuktikan betapa besar kekuatan yang dimiliki dan menurun kepada Ra Srimpang. Kekuatannya sangatlah besar dan mengagumkan. Ini terbukti sudah tiga kali Windujaya terhempas disetiap melakukan adu tenaga.
.
Suatu kali terlihat Ra Srimpang menggembor penuh daya kekuatan, sambil kedua tangan membuka dan langsung menghambur ke arah Windujaya. Maksudnya tiada lain untuk menangkap tubuh sedang Windujaya dan mengangkat tinggi - tinggi, sekaligus membantingnya keras - keras. Dan hampir saja rencana Ra Srimpang itu menjadi kenyataan kalau saja murid Begawan Jambul Kuning tidak menerapkan ilmunya.
.
Kecele dan kejut menyeruak memenuhi hati Ra Srimpang. Bagaimana tidak ? Tubuh lawan sulit diangakat, padahal tubuh itu tak begitu besar adanya. Jangankan hanya tubuh orang, orang Paciran itu pernah mencabut pohon jati sepelukan dengan akar - akarnya. Tetapi sekarang kenyataannya membuatnya sakit hati dan malu.
.
Ternyata itu semua akibat dari Windujaya setelah menerapkan aji Liman Satubondo, sebuah ilmu untuk membuat tubuhnya berat bagai tumpukan gajah. Tak heran jika lawannya kesusahan untuk sekedar menggeser tubuhnya. Bahkan karena susahnya, bibir lawannya meringis dan otot - ototnya semakin terlihat, tetap saja sulit menggesernya.
__ADS_1
.
"Kisanak, istirahatlah dahulu, kalau kau sudah letih.. " desis Windujaya, mencoba mempermainkan lawannya.
.
Tentu saja itu membuat orang bertubuh tambun itu semakin uring - uringan, "Kampret busuk, kau !"
.
.
Akhirnya ilmu itu mampu mengurai kekuatan aji Liman Satubondo, hingga Windujaya tak mampu membalikan lagi. Masih dilanjutkan lagi dengan adanya cengkraman kuat langsung mengangkat tubuh Windujaya ke atas, melewati kepalanya.
"Mampus kau, anak setan !" seru Ra Srimpang, yang yakin akan dapat membanting tubuh lawannya itu.
.
__ADS_1
Sementara itu, Windujaya yang kelihatannya dalam kesulitan masih bisa memutar otaknya. Sebuah gerakan tanpa disadari oleh lawan, dapat ia lakukan dengan cepat, sehingga bisa meloloskan dirinya dari cengkraman lawan. Bukan itu saja, dikala tubuhnya lepas, sebuah sepakan mampu ia lesakan menghantam dada lawannya. Tetapi lawannya juga berhasil memukul pundaknya. Tak ayal, keduanya sama - sama mengalami nyeri dimasing - masing tubuh yang terkena sasaran.
.
Kalangan satunya juga tak kalah hebatnya. Jati Pamungkas atau orang bercambuk didera serangan bertubi - tubi dari Raden Sajiwo. Seperti halnya pertarungan Arya Dipa, Jati Pamungkas juga langsung melakukan gebrakan dahsyat untuk menghadapi bangsawan Kadiri ini. Ini karena melihat dan merasakan kedahsyatan setiap tata gerak yang dilancarkan oleh Raden Sajiwo.
.
Perasaan sama dirasakan oleh Raden Sajiwo. Lawan kali ini tidak ia pandang sebelah mata. Nama orang bercambuk sangatlah tenar hingga mengguncangkan Jawa Dwipa. Sepak terjangnya membuat orang - orang berlomba untuk mengalahkannya. Dan ini juga merupakan niat yang ada dalam diri Raden Sajiwo. Ia berharap dapat menahklukan orang ini untuk memperkuat pengaruhnya. Tetapi itu tidaklah mudah.
.
Pemuda yang menutupi jati dirinya ini, memiliki ketangkasan tingkat tinggi. Kakinya laksana angin saja dan mudah dikendalikan untuk berpindah tempat dalam sekejap. Setiap gerakannya juga menimbulkan desir angin hebat. Karenanya, Raden Sajiwo dalam hatinya sempat memberi pujian bagi pemuda itu.
.
Sama halnya dengan Jati Pamungkas. Ia juga merasa kagum atas kehebatan lawannya ini. Tangan lawannya bagai puluhan pasang saja, memukul terus seakan - akan bagai ratusan sodokan bambu petung, mengerikan jika sodokan itu terkena di tubuhnya. Selain itu, kelincahan orang ini tak kalah dengan dirinya.
__ADS_1