
Setibanya Mahesa Jenar, ia langsung melontarkan pertanyaan mengapa dirinya dipanggil oleh sahabat sekaligus seorang yang dianggap sebagai kakaknya sendiri.
"Adi, kedatanganmu ini sebagai saksi yang mana aku akan menyerahkan pimpiman Laskar Banyubiru ini kepada paman Wanamerta." kata ki Ageng Gajah Sora tenang.
"Ki Ageng.. " ucap Penjawa tercekat.
Begitu juga dengan ki Wanamerta, orang itu bingung dengan ucapatan dari ki Ageng Gajah Sora. Maka katanya, "Apa yang anakmas katakan ini ?"
"Paman Wanamerta, Laskar Banyubiru dan juga penghuninya diwaktu yang akan datang sangat memerlukan bimbingan dari paman. Aku memohon kepada paman untuk selalu memberikan tuntunan kepada penghuni Kabuyuyan Banyubiru." lalu ki Ageng Gajah Sora menatap Penjawi, "Penjawi, kau sebagai pemuda harapan telatah Banyubiru, hendaknya diwaktu yang akan datang selalu meningkatkan kemampuan didalam memberikan rasa aman disetiap telatah Banyubiru."
Kata - kata itu masih memberikan tanda tanya besar bagi ki Wanamerta dan ki Penjawi, serta ki Pandan Kuning yang berada di dekat Tunggul Dirada Sakti.
"Setelah aku pikirkan secara cermat dan matang, telah bulat keputusan yang aku ambil, yaitu aku akan ikut dengan Pasukan Demak." sambung ki Ageng Gajah Sora.
"Oh.. Ki Ageng, perintahkan kami bergerak menyerang mereka ! Karena kami akan puas jika mati membela tanah Banyubiru, daripada melihat ki Ageng sebagai tawanan mereka !" seru Penjawi yang berkobar - kobar.
Tetapi gelengan kepala ki Ageng Gajah Sora yang kemudian terlihat, "Tidak, Penjawi. Aku akan ikut dengan mereka. Bukannya aku takut dengan pasukan Demak yang hampir lengkap itu, melainkan lihatlah Sang Gula Kelapa yang berkibar dengan gagahnya tertiup oleh bayu."
Mata ki Ageng Gajah Sora terlihat berkaca - kaca saat mengatakan Sang Gula Kelapa. Bagaimana tidak ? Dahulu dibawah naungan Sang Gula Kelapa, Gajah Sora muda telah berdiri di samping Adipati Pati Unus dalam menghalau bangsa Portugis di selat Malaka. Apakah ia sekarang akan mampu jika harus bertempur menghadapi pasukan yang membawa bendera pusaka itu?
Tidak. Walau dalam tubuhnya tersimpan segudang ilmu kanuragan jaya kawijayan, tetapi saat itu juga ilmunya bagai sirna terserap oleh wibawa pusaka Gula Kelapa. Darahnya terasa mengering, dagingnya bagai digerogoti ulat, tulangnya terasa rapuh hancur menjadi debu. Itu semua dikarenakan jiwa seorang Gajah Sora sudah menyatu dengan Sang Gula Kelapa. Oleh karenanya maka keputusan itulah yang diambilnya.
"Aku tak ingin mengotori kesucian dari Sang Gula Kelapa, maka dari itu lebih baik perang ini diurungkan saja."
Dalam pada itu diraut wajah Penjawi dan ki Wanamerta masih menyimpan rasa yang tak puas dengan keputusan yang diambil oleh ki Ageng Gajah Sora.
Dan rasa itu mampu dibaca oleh putra Ki Ageng Sora Dipayana, lalu katanya, "Mungkin kalian berdua tak begitu mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini, tapi tidaklah dengan adi Mahesa Jenar. Ia tentu memahaminya."
"Aku tegaskan sekali lagi. Paman Wanamerta, setelah aku pergi nanti, perintahkan kepada Laskar Banyubiru untuk mundur. Dan kau Penjawi, bantulah paman Wanamerta dalam pemerintahan di Kabuyutan, khususnya dalam mendidik pengawal Banyubiru untuk selalu menjaga ketenangan di dalamnya." sambung ki Ageng Gajah Sora, yang kemudian beralih kepada sahabatnya, "Oh ya adi, dimana Arya Salaka ? aku lihat tadi bersama dirimu ?"
Sadarlah Mahesa Jenar dengan Arya Salaka yang tak ada di sampingnya. Ia pun mengeliarkan pandang, dan betapa kagetnya ketika ia melihat anak itu menunggang kuda yang berada di garis serang pasukan Demak.
"Oh.. Aku telah melupakan kehadirannya. Untung saja tiada pergerakan pasukan Demak." batinnya, yang kemudian memanggil anak itu.
Pada panggilan pertama Arya Salaka diam saja, panggilan kedua anak itu masih takut, lalu panggilan ketiga barulah anak itu membedalkan kudanya menuju dimana ayahnya, Mahesa Jenar, ki Wanamerta dan Penjawi sedang berkumpul.
Sesampai anak itu, ki Ageng Gajah Sora berkata kepadanya, "Arya Salaka, ayah akan pergi hingga waktu yang tak dapat ayah tentukan. Dan karena sebelumnya kau mampu bermain dengan kyai Bancak ini, hari ini aku menyerahkan kepadamu. Tapi untuk sementara biarlah eyangmu Wanamerta yang membawanya."
Anak itu girang bukan main, tanpa menyadari makna sebenarnya dari kata - kata itu, apalagi selanjutnya masih mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya.
"Untuk selanjutnya dengarlah perkataan eyangmu Wanamerta dan juga pamanmu Mahesa Jenar yang mana akan menuntunmu dalam olah kanuragan selanjutnya."
Ki Wanamerta maupun Mahesa Jenar tak mampu berbuat sesuatu untuk mencegah kepergian ki Ageng Gajah Sora. Setelah memberikan beberapa nasehat kepada orang kepercayaannya, perlahan ki Ageng Gajah Sora memacu kuda itu melangkah ke depan, menuju garis pasukan Demak.
Setelah kepergian ki Ageng Gajah Sora, Mahesa jenar mengajak Arya Salaka untuk mundur. Awalnya Arya Salaka mengikuti sampai empat tindak kaki kuda, tetapi anak itu merasakan keanehan saat terdengar hiruk pikuk yang terjadi digelar Dirada Meta. Pemuda itu melihat para pemimpin Laskar Banyubiru menenangkan kelompok demi kelompok dalam gelar.
"Ada apa ini paman ?" tanya Arya Salaka.
"Ayo kita mundur." ajak Mahesa Jenar.
"Mengapa harus mundur, paman ? Bukankah ayah sudah menyerahkan kyai Bancak padaku sebagai simbol aku diperbolehkan ikut berperang ?" bantah Arya Salaka.
Saat itulah anak itu mengeliarkan mata ke arah pasukan Demak, heran menggrogoti anak itu manakala ayahnya dikawal oleh Senopati pasukan Demak yang kemudian memasuki gelar.
"Ayah... Ayah.. Ayah.. !" teriak Arya Salaka seraya melecut kudanya.
"Jangan Salaka.. !" teriak Mahesa Jenar seraya meraih tali kekang kuda anak itu, dengan kuatnya.
"Lepaskan paman.. Lepaskan.. !" Arya Salaka berusaha meronta.
Tapi apalah daya, tangan Mahesa terlalu kuat bagi anak remaja itu. Sehingga karena kelelahan, Arya Salaka tak kembali meronta.
__ADS_1
"Mari kita pulang, ibumu pasti menanti kedatanganmu." ajak Mahesa Jenar.
Keduanya lantas berjalan beriringan diatas kuda bersama dengan Laskar Banyubiru, dengan hati berat karena merasa telah menyerahkan kepala Kabuyutan tanpa perlawanan.
Dalam pada itu ki Ageng Gajah Sora yang berjalan mendekati pasukan Demak, telah mendatangkan tanda tanya bagi pasukan Demak, khususnya para senopati utama. Ki Panji Arya Palindih dan Tumenggung Prabasemi saling berpandangan, dan kembali menatap sosok yang duduk di kuda tegar dengan tenangnya.
"Kakang Panji, kalau orang itu ingin berdamai, harap kakang tak memberinya." ucap Tumenggung Prabasemi.
Ki Panji Arya Palindih mengerutkan keningnya, "Alasannya apa, ki Tumenggung ?"
"Hm.. Kakang seharusnya memahami kesalahan seorang Gajah Sora dalam bertindak sejauh ini. Ia dengan angkuhnya mengumpulkan orang - orangnya untuk menghadapi kekuasaan Demak, namun disaat akhir dirinya seperti pengecut. Maka untuk menebus kesalahannya, ia pantas dibunuh beserta orang - orang kepercayaannya." kata Tumenggung Prabasemi.
"Itu bukan pada tempatnya, ki Tumenggung. Bila anakms Gajah Sora mau menyerahkan diri, sebaiknya kita membawanya ke Demak untuk dihadapkan kepada Kanjeng Sultan Trenggono. Biarlah Kanjeng Sultan yang akan menentukan nasib dirinya dan Kabuyutan Banyubiru."
"Kakang terlalu lembek, sudah jelas Buyut itu melakukan kesalahan besar dengan berani mengumpulkan pasukan sebanyak itu. Kita harus membunuhnya disini." Tumenggung Prabasemi bersikeras dengan keinginannya, "Ingat kakang, bukannya aku ingin berlaku tak sepantasnya, tapi aku seorang Tumenggung."
Hal itu menimbulkan tawa yang keluar dari mulut ki Panji Arya Palindih, tawa tawar, "Memang aku hanyalah seorang Panji saja, ki tumenggung. Tapi aku membawa tanda sebagai utusan Kanjeng Sultan."
Usai berkata begitu ki Panji Arya Palindih merogoh sesuatu dari balik ikat pinggangnya, sebuah lencana emas dengan corak Lintang berjumlah dua. Dan lencana itu diperlihatkan kepada Tumenggung Prabasemi.
"Selain ini, bukankah tadi ki Tumenggung berkata kepadaku bahwa ki Tumenggung hanya pendamping saja ?"
Sejenak ki Tumenggung mengisar kudanya sehingga menghadap senopati dari Bergota. Raut wajahnya terlihat aneh dengan senyum sejuta arti menghiasi bibirnya.
"Hm.. Kakang Panji, memang kau membawa Lencana Dwi Lintang sebagai tanda duta Kesultanan dan akan membuatku tunduk. Tetapi apakah kakang Panji setelah membawa itu akan mengacuhkan cincin ini ?" ucap Tumenggung Prabasemi sambil mengunjukan cincin emas yang ada permata merah, jika terkena cahaya nampak berkilauan.
"Oh... " desuh ki Panji Arya Palindih.
"Bagaimana kakang ? Apakah kau masih bersikeras menentang perintahku ?"
"Tidak ki Tumenggung.. " jawab Senopati dari Bergota, hambar.
Sementara itu agak dikejauhan seorang Lurah muda begitu geramnya mendengar kata - kata Tumenggung Prabasemi terhadap ki Panji Arya Palindih. Sejak awal Lurah muda itu telah menerapkan aji Pangrungu untuk selalu memantau apa saja yang dibicarakan oleh kedua Senopati. Dan dugaannya selama ini benar adanya. Kemunculan Tumenggung satu ini tentu akan ada kelanjutannya demi keuntungan pribadi Tumenggung itu sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan ? Di depan sepertinya ki Ageng Gajah Sora ingin menyerah, tetapi ki Tumenggung akan tetap menghancurkan pasukan Banyubiru.. " batin Lurah muda yang tak lain ki Lurah Arya Dipa.
Saat - saat terakhir semakin menegangkan bagi Ki Lurah Arya Dipa dengan bersamaan dekatnya ki Ageng Gajah Sora menghampiri senopati Demak.
Dan akhirnya ki Ageng Gajah Sora sampai dihadapan kedua senopati Demak. Sesampainya, Ki Ageng Gajah Sora mengangguk hormat kepada ki Panji Arya Palindih. Kemudian ki Ageng Gajah Sora mengungkapkan bahwa dirinya akan mempertanggungjawabkan apa yang sebenarnya terjadi kepada Kanjeng Sultan. Karenanya ia rela dan mau dibawa ke Demak, asal pasukan Demak tak mengganggu Kabuyutan Banyubiru.
Tetapi betapa terkejutnya Buyut Banyubiru itu, ketika seorang yang tak memakai pakaian prajurit Demak di samping ki Panji Arya Palindih, berkata, "Tidak, Gajah Sora. Kau dan Kabuyutan Banyubiru harus mempertanggungjawabkan !"
Saking herannya ki Ageng Gajah Sora menatap ki Panji Arya Palindih, untuk meminta keterangan terhadap orang yang berdiri disamping Senopati Bergota.
"Dia Senopati tertinggi Demak di bukit Telamaya ini, anakmas. Ki Tumenggung Prabasemi, ia membawa cincin dari Kanjeng Sultan."
"Oh.. " desuh ki Ageng Gajah Sora, "Aku mohon ki Tumenggung, janganlah tuan menjatuhkan hukuman kepada Laskar Banyubiru. Biar aku saja yang menerima hukuman seberat apapun itu."
"Tidak Gajah Sora !" seru ki Tumenggung Prabasemi.
Ketegangan semakin memuncak. Ki Ageng Gajah Sora tak mengira akan berakhir seperti itu. Di lain tempat ki Lurah Arya Dipa juga sangat gelisah dengan tindakan Tumenggung Prabasemi, begitu juga dengan ki Panji Arya Palindih. Saat itulah dari dalam gelar muncul seseorang yang menaiki kuda hitam, diiringi dua orang yang memakai pakaian seorang Nayaka Praja tingkat tinggi.
"Paman Tumenggung, kau berlebihan !" seru penunggang kuda hitam itu.
Demi terdengar suara yang sangat dikenal oleh ki Tumenggung Prabasemi, Tumenggung langsung menoleh untuk meyakinkan pendengarannya terhadap seruan dari arah belakangnya.
"Oh.. " desuh ki Tumenggung Prabasemi.
Begitu juga dengan ki Panji Arya Palindih dan yang lainnya.
Semua senopati menghormat kepada orang yang menegur Tumenggung Prabasemi. Seorang pemuda yang pantas disebut remaja, karena usianya masih terlalu muda sekali. Tetapi wajahnya memancarkan kalau remaja itu seorang keturunan ningrat penuh kewibawaan.
__ADS_1
"Oh... Gusti Pangeran Timur." Kata Tumenggung Prabasemi, "Hamba akan menjelaskan persoalan ini."
"Nanti saja, paman Tumenggung." kata orang yang disebut Pangeran Timur itu, yang merupakan putra bungsu Kanjeng Sultan Trenggono.
"Eyang, Palindih. Bawalah ki Ageng Gajah Sora ke Demak." sambung Pangeran Timur kepada Senopati Bergota, "Karena kaulah pemimpin sah pasukan dalam tugas di Banyubiru."
"Sendiko, Gusti Pangeran." sahut ki Panji Arya Palindih, yang kemudian memerintahkan bawahannya untuk membawa ki Ageng Gajah Sora memasuki gelar pasukan dan memerintahkan kepada para senopati untuk menarik pasukan.
Sementara itu rasa kesal dirasakan oleh Tumenggung Prabasemi, yang tak mengira rencana yang sudah ditata dengan rapi telah mengalami kegagalan. Selain itu rasa malu juga dideritanya karena Pangeran Timur menyangkal kepemimpinan pasukan Demak itu dihadapan para senopati.
"Uh.. Pasti ini ulah si tua Wiratanu itu.. " geram Tumenggung Prabasemi, yang kemudian berjalan agak dibelakang kelompok kesatuan Wira Sraya Manggala.
Di lain tempat ki Lurah Arya Dipa merasa lega atas kemunculan Pangeran Timur serta Raden Arya Ngabehi Wiratanu dan Tumenggung Sandiyuda di tempat itu. Kedatangan Pangeran Timur dapat menghindarkan bentrokan pasukan Demak dan Laskar Banyubiru, sehingga tak menimbulkan korban sia - sia dari kedua belah pihak.
Tetapi dirinya juga masih heran atas kemunculan para petinggi Demak yang membawa pasukan segelar sepapan di lembah Telamaya itu. Pertanyaan itu terus berkumandang dalam hati seorang Arya Dipa, yang sangat kecil pengetahuannya mengenai seluk beluk Nayaka Praja Demak.
Sebenarnya pasukan Demak dari kesatuan Jalapati dan Manggala Yuda itu akan menuju Purbaya, yaitu untuk mengiringi Pangeran Timur serta sebagai bala bantuan untuk pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Suranata yang terdesak di Ngurawan, sebuah telatah antara Purbaya dan Ponorogo. Ditengah jalan, pasukan itu berhenti untuk bermalam disebuah pinggiran sungai. Saat itulah dua orang yang memakai cadar dengan tangkas dan cekatan mampu memasuki perkemahan serta mendekati tenda dimana Pangeran Timur tidur. Ternyata kedua orang itu sebelumnya mampu melepaskan aji Sirep yang luar biasa dahsyatnya, hingga membuat seluruh pasukan tertidur dengan pulasnya.
Jelas adanya maksud dari keduanya tentu menjurus perbuatan yang akan merugikan pasukan Demak, khususnya bagi jiwa Pangeran Timur. Penghilangan nyawa orang penting Demak yang masih remaja adalah tugas inti dari kedua orang bercadar itu. Bila tugas itu berhasil, akan berakibat parah bagi pasukan Demak itu, sehingga pasukan itu tak akan melanjutkan perjalanan dan akibat yang lain ialah senopati tertinggi yang mengawal Pangeran Timur tentu mendapat hukuman akibat kelalaian mereka. Dan hal itu merugikan kekuatan Demak, karena di pasukan itu yang sebagai pengawal Pangeran Timur merupakan orang - orang yang diperhitungkan oleh kedua orang bercadar dan pemimpin mereka.
Tetapi masalah hidup matinya seseorang berada di tangan Sang Pencipta. Ketika kedua orang itu sesaat lagi menghunuskan keris mengarah dada seorang yang berbaring dibalik selimut, keduanya terkejut bukan main. Serangkum angin menerjang keduanya hingga terpelanting keluar tenda. Habis terguling di tanah keduanya dengan sigap melenting berdiri dan siap siaga menanti serangan selanjutnya.
Di depan seorang remaja dan seorang lelaki yang mendekati usia.senja berdiri penuh percaya diri menatap kedua orang bercadar yang memasuki perkemahan.
"Siapa kalian ?" seru remaja itu.
Suara dari remaja itu menimbulkan getaran yang mampu menggoyahkan batin kedua orang itu.
"Sebaiknya kita menyingkir, adi." desis seorang bercadar yang berdiri dikanan.
"Hm.. Baik kakang."
Keduanya siap pergi dari perkemahan itu, tetapi sebelumnya keduanya mempersiapkan sebuah gerakan yang aneh agar rencana keduanya berhasil. Sejurus kemudian keduanya meloncat bersamaan seperti menyerang remaja dan orang tua di dekat tenda Pangeran Timur.
Serangan itu sebenarnya sudah diduga oleh keduanya, hanya saja maksud dari serangan itulah yang luput dari rekaan keduanya. Yang mana serangan yang awalnya gencar dilakukan oleh kedua orang bercadar, tiba - tiba berubah penuh keanehan dan membingungkan, sehingga kebingungan yang sesaat itu dimanfaatkan oleh dua orang bercadar untuk menghindar dari perkemahan.
"Pengecut jangan lari.. !" seru remaja itu.
"Jangan dikejar Pangeran.. !" cegah orang tua kawan si remaja.
Namun si remaja itu tetap mengejar seraya melempar benda yang berkelipan ke arah orang tua tadi, seraya berkata, "Eyang berikan cincin itu kepada paman Tumenggung Prabasemi, katakan supaya ia melanjutkan perjalanan ke Purbaya !"
Walau remaja itu jauh di depan tetapi suaranya masih bergaung. Sebuah ilmu dahsyat ditunjukan oleh remaja itu.
"Ah.. jiwa Anakmas Pangeran Timur masih terlalu muda, dia terpancing dengan lawannya." desis orang tua itu.
Kemudian orang tua itu sadar kalau dirinya harus mengejar Pangeran Timur. Tetapi sebelumnya dirinya harus membangunkan Tumenggung Prabasemi dan Tumenggung Sandiyuda. Kepada kedua Tumenggung, orang tua itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan memerintahkan supaya untuk sementara pasukan dibawah perintah Tumenggung Prabasemi, yang mana akan langsung ke Purbaya.
"Bila persoalan sudah selesai, aku dan anakmas Pangeran Timur akan segera menyusul." kata orang itu.
"Apakah Raden tak membawa sekelompok prajurit ?" tanya Tumenggung Sandiyuda.
Orang tua itu tampak berpikir barang sesaat, lalu akhirnya ia berkata, "Cukup kau saja yang ikut denganku ki Tumenggung Sandiyuda."
Maka kedua orang tua itu kemudian mengejar Pangeran Timur dan mempercayakan pasukan Demak kepada Tumenggung Prabasemi.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Tumenggung Prabasemi itu lantas dengan membusungkan dada memimpin pasukan itu. Ketika dirinya dan pasukan Demak dekat sungai Tuntang, salah seorang bawahannya memberitahukan adanya perkembangan situasi di Kabuyutan Banyubiru.
"Hm.. Sebuah keuntungan bagiku jika Banyubiru luluh lantah." desis Tumenggung Prabasemi setelah mendengarkan penuturan bawahannya.
Begitulah awal mulanya mengapa pasukan itu berada di lembah Telamaya, jauh dari jalur pergerakan ke Purbaya.
__ADS_1