BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
114


__ADS_3

Di tangan Raden Sajiwo, sebuah keris memancarkan pamor menakjubkan tergenggam erat sambil ia gerakan dengan terampilnya. Keris yang ia dapatkan dari hasil menepi di petilasan Prabu Kertajaya ini disebut dengan kyai Jalak. Keris berluk sebelas dengan corak adanya guratan burung jalak mengepakan sayapnya. Keris ini sudah mengawalnya sejak usianya masih muda dan hanya digunakan kalau lawan yang dihadapi mempunyai kemampuan dahsyat saja.


.


Sejenak kemudian, Raden Sajiwo melompat mendekati lawannya yang bercambuk. Siasat yang ia terapkan tiada lain untuk dekat dengan tubuh lawan, serta berusaha agar lawan tidak mampu menggunakan senjatanya dengan leluasa. Walau begitu, bangsawan inipun harus waspada saat berusaha mendekati tubuh lawan. Karena ternyata lawan juga mampu membaca siasatnya.


.


Saat itu, Jati Pamungkas bergegas melecutkan cambuknya ke arah tubuh yang mendekatinya. Meskipun ia yakin kalau lawannya pasti dapat mengelak dan akan terus merangsek menghunuskan kerisnya. Dan apa yang ia perkirakan benar adanya, dimana lawan dapat mengelak dengan melentingkan tubuh seraya menghunus keris ke lambungnya. Bila sejak awal tidak menduga, tentu lambungnya akan berlubang.


.


Jati Pamungkas berusaha menghentikan laju tubuhnya dan langsung memiringkan tubuhnya, juga disertai menarik cambuknya dan dilanjutkan diputar melewati atas kepala untuk ia lecutkan ke tangan lawan. Tetapi lawan pun dapat mengelak dengan cepat, dibarengi tendangan melayang ke sisi tubuh Jati Pamungkas yang terbuka. Dan sekali lagi orang bercambuk itu kembali menghindar.


.


Adu kecepatan dan keterampilan mengolah senjata berbeda jenis, disertai ilmu yang mantab, menjadikan perkelahian itu semakin seru dan sengit. Lincah, tangkas, trengginas dan kemampuan mendebarkan mengoyak udara disekitar keduanya. Angin pun terasa tajam apabila mengenai kulit keduanya.


.


Suatu kali, disaat Raden Sajiwo menggoreskan kyai Jalak ke lengan Jati Pamungkas, keduanya sama - sama terkejut. Menurut penglihatan Raden Sajiwo, kerisnya sudah mengenai lengan lawannya, tetapi yang dirasakan olehnya bagai menyayat lempengan besi saja. Sebaliknya dengan Jati Pamungkas, meskipun ia sudah membentengi tubuhnya dengan aji Tameng Waja, keris itu mampu mengoyak selapis ilmunya.


.


"Rupanya ia memiliki Tameng Waja... " batin Raden Sajiwo.


.


Sedangkan batin Jati Pamungkas, "Benar - benar hebat keris dan lambaran ilmu orang ini.. "

__ADS_1


.


Tak menyiakan waktu luang, Raden Sajiwo kembali meloncat ke udara dengan derasnya. Tentu saja Jati Pamungkas langsung menggerakan cambuknya. Rupanya, Raden Sajiwo sangat tajam mata dan akalnya. Datangnya ujung cambuk ia hadapi menggunakan tajamnya keris kyai Jalak, maksudnya ialah akan memapasnya.


.


"Haiiitt... " desuh Raden Sajiwo, saat ia tak berhasil memapas ujung cambuk itu.


Meskipun ia gagal memapas karena lawan dengan cepat menyendal cambuknya, Raden Sajiwo bergegas mendarat dan merendahkan tubuhnya. Dilanjutkan mencoba menyayat lambung lawan. Kali ini tenaga penuh ia pusatkan ke senjatanya. Karena bila hanya seperampat tenaga saja, lawan pasti dapat menahan menggunakan aji Tameng Waja.


.


"Mampus kau.... " batin Raden Sajiwo, yakin akan berhasil melukai lawan.


.


Entah bagaimana sebuah erangan terlontar dari mulut Raden Sajiwo. Tubuhnya bagai dihempaskan tenaga besar, sehingga tubuhnya terdorong ke depan.


.


.


Kejadian tadi rupanya akibat tersambar lecutan cambuk Jati Pamungkas. Hal itu terjadi, saat lambung Jati Pamungkas hampir terkena sayatan, tiba - tiba saja orang bercambuk itu menggenjot kakinya melewati tubuh Raden Sajiwo. Bersamaan dengan tubuhnya masih melayang, cambuknya langsung melecut punggung Raden Sajiwo.


.


Rasa nyeri merambat di punggung Raden Sajiwo. Pakaian dan kulit punggung terkoyak dengan darah mulai membasahi. Kekalahan itu membuat Raden Sajiwo marah bukan main. Layaknya endapan lumpur membara di perut bumi, bila lumpur itu terus tersulut pijaran inti bumi, maka akan timbul cekungan tanah untuk jalan memuntahkan endapan itu ke permukaan. Maka ledakan besar melanda bumi disekitarnya. Begitu juga dengan Raden Sajiwo, ilmunya mulai menyeruak ke permukaan.


.

__ADS_1


Keris di tangannya terlihat berpijar diambang petang itu. ilmu Guntur Geni sebagai lambaran serangan akan ia lontarkan melalui ujung keris kyai Jalak. Dan benar saja, tanpa berlama - lama pijaran api terlontar deras menghujam orang bercambuk.


.


"Byaaar... Byaaaar... Byaaar... !"


.


Tiga kali lontaran aji Guntur Geni lepas ke arah dimana Jati Pamungkas berpijak. Untunglah pemuda yang menggunakan topeng itu cepat menghindar dengan melompat sampai tiga kali. Dan yang terakhir ia melompat agak jauh agar ia dapat membalas serangan itu.


.


Tapi, baru saja ia memijakan kakinya, pijaran api sudah mengancamnya lagi. Terpaksalah ia melontarkan dirinya rata dengan tanah dan bergulingan beberapa kali, lalu melenting tepat dibelakang pohon. Dan saatnya ia mulai membalas lontaran ilmu lawan.


.


Aji Lebur Saketi menyeruak menghantam Raden Sajiwo. Kini giliran bangsawan itu menghindari dengan melentingkan tubuhnya jauh - jauh.


.


"Kita sudahi permainan ini, orang bercambuk. Marilah kita tuntaskan menggunakan senjata kita !" seru Raden Sajiwo.


.


"Baik, kisanak !" sahut Jati Pamungkas.


Sehabis itu, cambuk mulai digerakan oleh Jati Pamungkas. Diawali tegapnya kaki, kemudian mulai bergerak berupa kaki kanan mundur agak ditekuk. Sedangkan tangan kanan memegang erat pangkal cambuk, tangan kiri memegang pertengahan cambuk. Perlahan warna biru menyelimuti cambuk Jati Pamungkas, bersamaan itu perlahan diputarlah cambuk itu layaknya baling - baling.


.

__ADS_1


Di depan, Raden Sajiwo memejamkan mata. Keris kyai Jalak awalnya ditempelkan di dahinya dan mulai berwarna merah membara. Ketika mata terbuka disertai loncatan dan seruan, mulailah adu ilmu pamungkas di tepian kali Brantas.


__ADS_2