BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
44


__ADS_3

Sesaat kemudian dengan lengkingan keras pertanda curahan tenaga dahsyat, meluncur dari kepalan kedua tangan warok Suro Menggolo. Aji Guntur Agni, perpaduan dahsyatnya petir dibarengi api kehitaman melabrak sasaran yang tiada lain, ki Wijang Pawagal.


"Buuuum.....!"


Bumi terasa diguncang tangan raksasa, tanah dan tetumbuhan berhamburan ke udara membuat keadaan kelam seketika. Suara menggelegar itu telah memancing perhatian ki panji Tohjaya dan ki panji Jaran Tangkis, sehingga keduanya meloncat surut dan mengeliarkan pandang ke arah benturan tenaga dahsyat yang tak jauh dari keduanya.


Namun karena debu dan rerumputan serta dedaunan masih mengudara, maka sulit bagi keduanya untuk mengetahui keadaan sumber tenaga yang ada dalam pusaran debu tersebut. Barulah setelah debu luruh ke bumi, remang - remang dua sosok tubuh berdiri saling berhadapan dengan jarak dua tombak.


"Huuuok...." darah menyembur dari mulut ki Wijang Pawagal.


Orang tua itu walau sudah menerapkan aji Alang - Alang Kumitir untuk menghindari pukulan lawan, tak bisa sepenuhnya menghindar, sehingga ia pun terkena dampaknya. Kakinya pun kemudian goyah dan jatuh terduduk dengan menopang kedua tangan, membelakangi lawan.


Sementara itu warok Suro Pakisan yang masih berdiri tegap, membuat ki panji Jaran Tangkis gembira, dan dirinya sesumbar.


"Mampus kau orang tua, ilmu gunung Bungkuk mengungguli ilmu padepokan Sekar Jagat !"


Sehabis sesumbar, niat hati ki panji Jaran Tangkis akan kembali menggempur lawannya, namun betapa kejut yang sangat telah mencengkam hatinya, saat melihat pamannya warok Suro Pakisan jatuh dengan kerasnya menghujam ke tanah.


"Oh.. Paman !" serunya seraya melompat ke arah pamannya yang rebah dengan tubuh tengkurap.


Sesampainya maka dengan cepat tubuh itu dibalikan, kembali desuh keluar dari mulut ki panji Jaran Tangkis. Tubuh pamannya berlubang dibagian dada, dan anehnya lubang itu tak mengeluarkan darah, melainkan kering hangus. Tanpa berpikir panjang lebar, dan cepatnya ia membaca keadaan yang tak menguntungkan dirinya, maka dengan cepat panji itu berlari membawa jasad pamannya.


"Jangan lari kau !" teriak ki panji Tohjaya, yang akan berlari mengejar.


"Tak usah kau kejar, ngger !" seru ki Wijang Pawagal, yang masih duduk sambil memegangi dadanya.


"Oh..." desis ki panji Tohjaya, mengurungkan niatnya dan seruan paman gurunya itu membuat pemuda itu mengkwatirkan keadaan paman gurunya.


"Bagaimana keadaan paman ?" tanya panji Tohjaya, setelah berada di dekat ki Wijang Pawagal.


"Dadaku bagai tersiram panasnya lahar gunung." desis perlahan ki Wijang Pawagal.


"Tolonglah jaga tempat ini barang sesaat, aku akan memulihkan tenaga dan menindih serta melenyapkan rasa sakit ini." pinta ki Wijang Pawagal.


"Silahkan, paman. Tanpa diminta pun keponakanmu ini akan menjaga keselamatan paman." sanggup panji Tohjaya.

__ADS_1


Lantas ki Wijang Pawagal mengambil sebutir reramuan dan menelannya, setelah itu ia duduk bersila untuk mengatur pernapasan yang bertujuan memperbaiki peredaran darah dalam tubuhnya, seklaigus melenyapkan tenaga lawan yang masih tersisa dalam tubuhnya.


Desau angin di sore hari mengantarkan ki Wijang Pawagal dalam tata pemulihan raga atau wadagnya. Gemericik air sungai terus mengalir ke hulu mencari tempat yang rendah dan tiba di samudra raya.


Wayah sepi bocah di hari itu, nampak berbeda dengan hari sebelumnya. Dari panggungan samping pintu gerbang kadipaten Jipang Panolan, prajurit pengawas menyalangkan mata disaat dari seberang jalan muncul iringan pasukan berkuda.


"Parda, cepat kau lapor ki lurah, sepasukan berkuda dengan umbul, rontek dan tunggul bercirika Demak, telah tiba !" seru prajurit pengawas kepada kawannya.


Prajurit yang bernama Parda bergegas melaporkan hal itu kepada lurah prajurit yang memimpin penjagaan itu. Dengan cepat maka laporan segera hadapkan kepada nayaka praja berpangkat lebih tinggi di pendopo kadipaten.


"Biarlah hamba yang menyambut kedatangan pasukan itu, gusti Adipati." kata ki patih Mentahun, setelah mendengar laporan yang diunjukan oleh prajurit yang bertugas di pintu gerbang.


"Sambutlah mereka, ki patih. Dan bawalah ke Sasana ini." Adipati Sepuh memberikan perintahnya.


Dengan dikawal lima perwira kadipaten, ki patih Mentahun menuju pintu gerbang kadipaten demi menyambut pasukan dari Demak.


"Rakai Welar." kata ki patih Mentahun, saat dalam perjalanan.


"Iya, paman patih." sahut ki panji Rakai Welar.


"Baik paman..." usai berkata, ki panji Rakai Welar membelokan kudanya.


Sementara itu di depan pintu gerbang kadipaten, pasukan Demak menghentikan langkah kuda dan pemimpin iringan itu menyapa prajurit pengawas.


"Selamat petang, prajurit. Kami dari Demak ingin singgah semalam di induk kadipaten." sapa seorang berpakaian tumenggung, "Maka perkenankan kami menghadap gusti Adipati Sepuh."


"Silahkan ki menggung."


Prajurit yang berada diatas panggungan lantas memerintahkan prajurit yang berada dibawah untuk membuka pintu gerbang. Suara berderit mengiringi gerak pintu setinggi tiga tombak dan selebar tiga tombak. Bersamaan masuknya iringan pasukan Demak, dari arah kadipaten ki patih Mentahun dan empay perwira tiba dan melakukan penyambutan dengan hangat.


"Oh, jadi ini sebagian pasukan induk Demak saja, ki tumenggung Gagak Kukuh ?"


"Benar ki patih, sedangkan pasukan induk yang dipimpin langsung oleh pangeran Trenggono, menyusuri jalan pinggir Bengawan." tegas ki tumenggung Gagak Kukuh, pemimpon dari kesatuan Wira Braja.


"Hemm... Baiklah, ki tumenggung, marilah menuju pendopo kadipaten, gusti Adipati sudah menanti pasukan ini."

__ADS_1


Iringan itupun akhirnya menuju pusat kadipaten, di sepanjang jalan walau hari makin gelap namun langkah iringan dari Demak menjadi perhatian segenap penghuni kadipaten. Berbagai tanggapan memenuhi relung hati mereka yang menonton pasukan yang diiringi oleh orang kedua kadipaten Jipang. Ada yang mencibir dalam hati, dikarenakan sakit hati mereka kepada orang - orang Demak yang sudah membunuh Adipati Anom. Sedangkan untuk anak kecil atau orang yang kurang mengetahui sebab kematian dari pangeran Sekar, pada umumnya mereka bangga dengan kegagahan prajurit yang duduk diatas punggung kuda, yang tegar dan besar itu.


Semakin mendekati pusat kadipaten, penjagaan semakin diperketat dengan adanya beberapa unsur kesatuan prajurit Jipang. Hal itu membuat pengawal ki tumenggung Gagak Kukuh mengerutkan keningnya.


"Apa maksud mereka, ki tumenggung ?" tanya ki lurah Bangau Lamatan, yang tak kuat menahan dirinya untuk bertanya.


"Endapkan perasaanmu, ki lurah. Tentunya kau mengetahui sebab musababnya walau sedikit." desis ki tumenggung Gagak Kukuh, lirih.


Meskipun ki lurah Bangau Lamatan bisa mengendapkan perasaannya, tidaklah dengan beberapa prajurit lainnya, terutama prajurit muda yang darahnya masih menggelora.


"Setan, mereka seperti menyambut musuh saja." gerutu seorang prajurit.


"Mungkin mereka benar - benar menganggap raden Bagus Mukmin yang telah membunuh uwanya itu." sambut kawannya.


"Uh.. mereka tak mampu berpikir lebih panjang." tanggap lainnya.


"Stt.. sudahlah, bicaralah mengenai hal lain, jangan kau bicarakan perkara tadi." seorang prajurit yang rambutnya mulai memutih, meredakan gunjingan prajurit muda.


"Ah paman ini..." desuh prajurit muda, namun tak melanjutkan kata - katanya.


Sesampainya di halaman depan kadipaten, pasukan itu bawa atau ditempatkan di alun - alun, sementata ki tumenggung Gagk Kukuh dan beberapa senopati dihadapkan ke Adipati Sepuh yang sudah menanti di pendopo kadipaten.


"Selamat datang di kadipaten Jipang, ki tumenggung." sambut Adipati Sepuh.


"Terima kasih, gusti Adipati. Hamba kemari atas perintah dari sesepuh Demak untuk bergabung dengan pasukan Jipang menghadang pasukan dari bang wetan."


"Jadi pasukan ini dalam wewenangmu, ki tumenggung ?"


"Tidak sepenuhnya, gusti Adipati, hanyalah sebagian pasukan sayap saja yang berada dalam wewenang hamba, sedangkan induk pasukan dipimpin oleh pangeran Trenggono, yang kini berada dipinggir bengawan." kata ki tumenggung Gagak Kukuh, lanjutnya, "Kemungkinan beliau besok menyusul kemari menghadap gusti Adipati."


"Hemm.. baiklah ki tumenggung, ki patih Mentahun akan memberikan tempat istirahat dan sedikit jamuan kepadamu dan seluruh pasukan Demak."


"Terima kasih, gusti Adipati. Dan mohon maaf telah merepotkan gusti Adipati dan seluruh nayaka praja Jipang." ucap pemimpin Wira Braja.


Kemudian setelah usai semuanya dengan diantar oleh ki patih Mentahun, ki tumenggung Gagak Kukuh dan para senopati telah ditempatkan dibagian samping balai kadipaten.

__ADS_1


__ADS_2