BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
137


__ADS_3

  "Berhenti.. !" seru Tumenggung Wreda, seraya mengangkat tangannya.


   Lurah Arya Dipa yang berkuda agak dibelakang bergegas mendekati kuda yang ditunggangi oleh Tumenggung Wreda.


   "Kau juga mendengarkan suara denting benda itu, ki Lurah ?!" tanya Tumenggung Wreda, sesaat kuda Lurah Arya Dipa sejajar.


   "Iya, ki Tumenggung. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di balik belukar itu, ki Tumenggung." jawab Lurah Arya Dipa, seraya menunjuk sebuah belukar lebat.


   "Ijinkan aku memeriksanya, ki Tumenggung." Lurah Arya Dipa kembali berkata.


   "Hm.. Bawalah tiga prajurit sebagai kawan, ki Lurah."


   "Baik, ki Tumenggung."


   Lurah Arya Dipa kemudian mengajak tiga prajurit untuk memeriksa apa yang terjadi di balik belukar lebat, yang tak terlalu jauh dari jalan setapak. Semakin mendekati belukar, suara yang terdengar semakin seru. Ternyata setelah belukar itu disiakan, ada perkelahian yang tak seimbang. Tiga orang yang sepertinya sebagai pengawal seorang pedagang, mempertahankan diri dari libasan sepuluh orang.


   "Begal, ki Lurah." bisik seorang prajurit yang mengawani Lurah Arya Dipa.


   Lurah Arya Dipa mengangguk, lalu katanya, "Prajurit Werdi, laporkan kepada ki Tumenggung. Katakan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Aku dan dua prajurit lainnya akan membantu pengawal yang sudah kepayahan itu."


   "Baik, ki Lurah." Selekas menyahut, prajurit itu langsung berlari ke tempat sebelumnya.


    Sementara itu, Lurah Arya Dipa bersama dua prajuritnya, mendekati arena di balik belukar.


   "Berhenti.... !" seru Lurah Arya Dipa.

__ADS_1


   Seruan yang tak disangka - sangka itu, sesaat menghentikan perkelahian yang berat sebelah. Dua tanggapan berbeda menyembul dari hati kedua kelompok. Bagi kelompok pedagang dan pengawalnya, seruan itu membuat hati mereka sedikit longgar, dan menganggap orang yang menghentikan perkelahian akan berpihak kepada mereka, apalagi saat mereka mengenali ciri pakaian yang menunjukan kalau orang yang baru datang adalah seorang prajurit Demak. Berbeda halnya dengan kelompok yang terlihat kasar, mereka sangat terkejut bercampur kesal. Datangnya tiga prajurit telah menjadikan usaha yang hampir usai, terganggu.


   "Bagaimana ini, kakang ?" bisik salah seorang begal kepada seseorang yang sepertinya dijadikan pemimpin mereka.


   Sejenak pemimpinnya terdiam. Sepertinya ia membaca keadaan dan menimbang untung ruginya. Dalam hati orang itu, prajurit yang datang hanyalah tiga orang saja. Oleh karenanya setelah dipikir matang - matang, orang itu akan melanjutkan perburuannya. Tiga prajurit yang menghalanginya harus dilenyapkan. Maka seruan perintah dari mulutnya kembali menggerakan pengikutnya.


   "Habisi semuanya.... !"


   "He.. ! Buka mata kalian, kami prajurit Demak !" Lurah Arya Dipa memberi peringatan, dan lanjutnya, "Bila kalian melawan, kalian akan dipidanakan !"


   "Tutup mulutmu ! Kami bukanlah orang - orang yang jerih dengan cecunguk seperti kalian !" sanggah seorang yang berwajah seram, seraya membacokan goloknya.


   Lurah Arya Dipa cukup tenang dalam menghadipi lawannya. Meskipun lawannya berbadan besar dan memegang golok, sekilas memandang Lurah Arya Dipa mampu mengurai kemampuan lawan yang hanya mengandalkan kekuatan wadag saja. Karenanya hanya mengisar kaki sembari menggerakan tangannya, Lurah Arya Dipa membuat lawannya terdorong dan terseok - seok.


   Dalam hanya sekejap, kelompok begal itu hanya menyisakan separuh orang saja. Rupanya tiga prajurit yang baru datang adalah prajurit - prajurit pilihan dari satuan Wira Tamtama. Jika pemimpinnya tahu dari awal, sejak dari pertemuan pertama pasti mereka akan tunggang langgang mencari keselamatan.


   "Menyerahlah kalian atas nama Demak !" seru Lurah Arya Dipa.


   Pemimpin begal itu akhirnya menyadari kesalahannya. Tanpa berpikir panjang, pemimpin begal meloncat pergi meninggalkan gelanggang diikuti pengikutnya, dan meninggalkan dua orang yang jatuh pingsan.


   "Jangan lari !" seru seorang prajurit, dan akan mengejar.


   "Tidak usah, prajurit Sono.. " Lurah Arya Dipa, melarang prajuritnya yang akan mengejar, "Marilah membantu mereka yang terluka dan ikat kedua tawanan itu serta sadarkan keduanya."


   "Baik, ki Lurah." kata prajurit Sono.

__ADS_1


   Dalam pada itu, pedagang yang merasa hidupnya diselamatkan, bergegas menghampiri Lurah Arya Dipa dan mengucapkan terima kasih.


   "Itu sudah menjadi kewajiban kami, ki Sanak." kata Lurah Arya Dipa, "Akan kemanakah, ki Sanak ini ?"


   "Kami baru saja menghantar pesanan dari padukuhan di ujung jalan setapak ini, tuan prajurit. Tapi saat kami baru saja memasuki jalan setapak yang akan menuju Pengging, begal - begal itu menghadang kami." jawab pedagang itu.


   "Hm.. Apakah daerah sini sering terjadi kejadian seperti ini, ki Sanak ?"


   "Begitulah, Tuan. Sebenarnya jika tidak buru - buru, aku tidak berani memasuki jalan setapak itu hanya dengan tiga pengawal saja. Kami para pedagang biasanya membuat janji untuk berjalan bersama - sama jika melawati jalan setapak ini." terang pedagang itu.


   Lurah Arya Dipa mengangguk perlahan, "Hm.. Baiklah, marilah kita kembali ke jalan setapak."


   Bersama dengan Lurah Arya Dipa, pedagang dan pengawalnya menuju jalan setapak di mana disitu Tumenggung Wreda dan prajurit pengawal menanti. Lekas saja Lurah Arya Dipa menyampaikan apa saja yang sudah terjadi tanpa menambah atau mengerungi sedikit-pun. Tak lupa Lurah muda tersebut mengungkapkan pemikirannya menyangkut perkembangan jalur Demak dan Pajang, terutama dari ancaman keamanannya.


   Pemikiran dari Lurah muda Tamtama itu sangat sejalan dengan ki Tumenggung Wreda. Memang sebuah jalur yang menghubungkan antara Demak dan Pajang, hendaknya bersih dari ancaman gerombolan perampok dan sejenisnya. Dan hal itu berlaku di jalur - jalur jalan penting yang menghubungkan kotaraja dengan telatah - telatah kekuasaannya. Satu - satunya tindakan adalah meningkatkan jelajah petugas peronda dari prajurit kadipaten atau-pun tanah perdikan, dan kademangan.


   Kata ki Tumenggung Wreda terhadap pedagang yang akan ke Pajang, "Ki sanak.. "


   "Sendiko dawuh, ki Tumenggung.. "


   "Bila kau nanti tiba di Pajang, bergegaslah menghadap anakmas Karebet. Tuturkanlah kejadian yang kau alami mengenai kesulitan yang kau derita tadi." kata ki Tumenggung, "Aku yakin, anakmas Karebet akan cepat tanggap dan menugaskan pengawalnya untuk melakukan perondaan ditelatahnya."


   "Sendiko, ki Tumenggung. Semua yang ki Tumenggung pesankan, akan kami sampaikan."


   Dan selanjutnya mereka-pun berpisah. Sementara dua tawanan dari kelompok begal akan di bawa ke kotaraja, oleh ki Tumenggung Wreda dan Lurah Arya Dipa.

__ADS_1


__ADS_2