
Menghadapi dua orang lawan, Arya Dipa langsung menggebrak dengan dahsyatnya. Loncatan panjang sambil melakukan tendangan keras mengarah Duaji meskipun lawannya dapat mengelak, Arya Dipa berganti memukul Bangau Banaran. Mulai dari awal sudah direncanakan kalau tendangan sambil meloncat tadi hanyalah tipuan jua, karena serang paling utama ialah berpusat ke dada Bangau Banaran.
.
Mendapat serangan kilat, Bangau Banaran yang sudah terbiasa dan berpengalaman tak tinggal diam. Kakinya beringsut ke belakang sambil menyilangkan kedua tangan. Dirinya merasa yakin kalau serangan lawannya dapat ia tahan, tetapi betapa kecewanya saat tangan lawan hampir menyentuh tangannya, tiba - tiba melengos menghantam pundaknya. Akibatnya orang itu terdorong keras ke belakang. Untunglah ia dengan cekatan mampu mengendalikan laju lemparan tubuhnya dan berwaspada atas serangan selanjutnya.
.
Mendapati kawannya terhempas oleh serangan lawan, Duaji memutar tubuh dengan melentingkan badannya sambil melakukan tendangan datar. Disusul kemuduan gaplokan ke kepala lawan, yang mana lawan dapat menghindari serangan pertama, serta gaplokannya pun hanya mengenai udara kosong belaka. Rasa penasaran atas gesit dan licinnya lawan, membuat Duaji meningkatkan kemampuannya. Tubuhnya bagai tak berbobot mencecar ke mana pun Arya Dipa berada.
.
Bagaikan mendapat kesempatan, Bangau Banaran langsung terjun juga membantu kawannya itu. Maka terjadila kerjasama yang apik antara keduanya. Meskipun keduanya bukanlah satu jalur dalam ilmu kanuragan, tetapi keduanya seorang yang pintar dalam menghadapi keadaan.
.
Perasaan Arya Dipa kagum demi melihat betapa serasinya kedua lawannya. Satu dan yang lainnya saling mengisi dan tak mau membiarkan dirinya lolos dari sergapan lawan - lawannya. Karenanya Arya Dipa untuk mengungguli tiada jalan lain selain merambah ilmunya semakin meningkat. Begitu tataran ilmu pemuda itu meningkat, gebrakannya membuat keserasian lawan - lawannya terganggu.
__ADS_1
.
"Gila.... !" umpat Bangau Banaran.
.
Umpatan itu tak ditanggapi oleh Arya Dipa. Tubuh pemuda itu membal ke atas setelah menotolkan kakinya ke tanah. Sekali memutar tubuhnya, tendangan kakinya tepat mengenai pundak Duaji dan satu pukulan menghantam dada Bangau Banaran. Sehabis itu, tubuh pemuda itu kembali menapak ke tanah dan memandang sekitarnya.
.
Duaji tanpa memberi peringatan, langsung saja melakukan tebasan ganas. Bila yang dihadapi tidak memiliki pranggaita yang bagus, mungkin tubuhnya akan tertebas. Tetapi tidaklah dengan Arya Dipa, kesiur angin menyadarkan kalau ancaman maut mengarah dirinya, untuk itu ia meliukan tubuhnya seraya tangan meloloskan kyai Jatayu dari pinggangnya.
.
Belum lagi Arya Dipa akan melakukan serangan balik, Bangau Banaran sudah menyodokan ruyungnya. Sodokan itu bukan olah - olah dahsyatnya. Kesiur angin yang ditimbulkan sangat kentara dan membahayakan. Untuk meentahkannya, tiada lain bagi Arya Dipa kecuali menggunakan bilah daun pedangnya yang tipis itu.
.
__ADS_1
Dengungan lebah bagai menyeruak dari sarangnya, ketika pertemuan ruyung milik Bangau Banaran dan pedang kyai Jatayu milik Arya Dipa. Tak hanya itu saja, getaran merambat membuat tangan terasa diselomoti api, panas. Itulah yang dirasakan oleh keduanya, selain kaki pijakan mereka pun bergeser dari tempatnya.
.
Di kala Bangau Banaran masih terkejut atas akibat benturan senjata tadi, Duaji dengan sebat kembali melakukan tebasan dan tusukan ke tubuh lawannya. Ini sudah diwaspadai oleh lawannya, yang kemudian menghadapi dengan permainan olah pedang. Tak pelak adu ilmu senjata mewarnai perkelahian itu.
.
Denting pedang mulai memeriahkan tepian kali Brantas, apalagi ditambah percikan api disaat kedua senjata itu bergesekan. Tusukan dihindari seraya meliukan pedang dengan gencar oleh keduanya. Ditambah kelihaian tangan Bangau Banaran yang mempermainkan ruyungnya. Bertambah seru dan sengitlah perkelahian itu.
.
Di sisi yang lain, Perpaduan serasi terjadi antara Palon dan Sabdho melawan Jayakusuma dan Nila Gandasari. Sepasang garuda mengepakan sayap menghindari juluran dahsyat dua ekor naga ganas. Naga jantan dan betina mendesis - desis seraya mengibaskan ekornya menghantam garuda, tetapi garuda itu langsung membumbung tinggi agar tak terhindar, lalu menukik dengan cepat sambil melakukan serangan berbeda, yaitu satu menggunakan cakar, dan satunya mematuk ke arah mata sepasang naga. Tentu saja sepasang naga itu tidak diam membiarkan serangan garuda mengenai sasaran, oleh karenanya keduanya menggeliatkan tubuhnya dengan cepat seraya kembali mengibaskan ekornya.
.
Terjadilah pergumalan seru diantara sepasang garuda dari gunung Penanggungan melawan sepasang naga dari gunung Welirang. Tata gerak tingkat menengah keatas mulai menyeruak demi menahklukan lawan masing - masing. Keduanya selalu waspada dan menghindari kelengahan walau hanya sedikit pun. Tubuh yang mulai meringat, semakin menambah daya gedor dan kemampuan masing - masing.
__ADS_1