BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
144


__ADS_3

Sebelum menunaikan tugas untuk menyelidiki pasukan bawah tanah Jipang Panolan, Lurah Arya Dipa memanggil bawahan sekaligus kawannya dari Wira Tamtama, yaitu Lurah Jaka Ungaran dan Sambi Wulung. Keduanya ia serahi tugas untuk selalu berada disamping Pangeran Anom, guna melindungi putra sulung Sultan Trenggono dari ancaman yang tak terduga. Selain itu tak lupa Lurah Arya Dipa menemui ayah angkatnya, ki Panji Mahesa Anabrang guna meminta bantuan prajurit telik sandi untuk menjadi penghubung antara dirinya berkaitan keadaan kotaraja sewaktu dirinya berada di luar kotaraja.


   Persiapan demi persiapan telah diselesaikan. Bersamaan berangkatnya iringan panjang pasukan Demak. Sungguh mengesankan dari pasukan yang akan melawat ke timur itu. Pataka berupa kain berwarna gula kelapa berkibar gagah di tengah iringan, yang menandakan keberadaan sang nata Demak. Selain itu terdapat berbagai umbul dan panji bercirikan kesatuan prajurit Demak yang dibanggakan kawula Demak.


   Dalam pada itu, agak jauh dari kerumunan orang - orang yang menyaksikan iringin pasukan Demak, Lurah Arya Dipa mengernyitkan alisnya saat memperhatikan adanya orang yang mencurigakan. Orang itu terlihat mengamati semua pasukan Demak dan lebih bersungguh - sungguh ketika melihat prajurit pengawal Sultan Trenggono. Sejenak kemudian orang tersebut beringsut meninggalkan tempatnya dan hilang dibalik kerumunan orang.


   Lurah Arya Dipa tak tinggal diam. Lekas ia mengejarnya meskipun harus menyerobot dari tubuh orang - orang.


   "He.. ! Dasar anak setan !" seru orang yang merasa terganggu akibat ulah Lurah Arya Dipa.


   Lurah Arya Dipa tak menghiraukan omelan orang yang merasa terganggu. Ia terus menghambur mencari orang yang ia curigai. Syukurlah ia masih melihat kelebat bayangan berlari ke kelokan jalan. Oleh karenannya lekas dipesatkan kakinya mengejar orang tersebut. Dan benar saja, sehabis jalan berkelok dua orang terlihat jelas berjalan sembari membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat rahasia.


   "Kisanak... ! Harap berhenti... !" seru Lurah Arya Dipa.


   Dua orang berjalan di depan menghentikan langkahnya dan saling berpandangan satu dengan lainnya. Dahi keduanya mengerut dalam dan tak mengerti kenapa ada orang mencoba memperhentikan langkah mereka.


   "Ada apa kisanak ?!" salah seorang bertanya, sementara yang satunya dengan tatapan tajam memperhatikan penampilan Lurah Arya Dipa.


  Untungnya, saat itu Lurah Arya Dipa tidak mengenakan pakaian prajurit. Sehingga jatidirinya tak dapat dikenali oleh keduanya. Meskipun salah seorang dari kedua orang yang khususnya yang dikejar tadi masih terus mengamatinya.


   "Siapa kisanak ini ? Sejak aku lahir dan beranjak dewasa di kotaraja ini, aku tak mengenali kalian."


   "Ah.. Kami hanyalah seorang pengembara saja, anak muda." jawab lelaki berperawakan tinggi besar berkumis tebal, "wajar saja jika kau tidak mengenal kami."


   Lurah Arya Dipa mengangguk, "Pantas, kalau begitu darimana asal kisanak berdua ?" kembali Lurah Arya Dipa melemparkan pertanyaan.


   Tentu saja perlakuan pemuda itu membuat kedua orang lelaki itu sidikit mendongkol, tetapi orang berperawakan tinggi berkumis tebal mencoba mengendapkan perasaannya. Dan kemudian jawabnya sambil memaksakan bibirnya tersenyum.


   "Aku dari dukuh Banjar Rejo yang masuk telatah Ponorogo." jawabnya asal - asalan.


   Jawaban itu menimbulkan kecurigaan semakin dalam bagi Lurah Arya Dipa. Karena kadipaten Ponorogo merupakan telatah dimana masa kecilnya terlewati bersama ki Panji Mahesa Anabrang, lekaslah lurah muda itu mengetahui kalau orang berperawakan tinggi itu berkata bohong dan terbilang mengada - ngada. Tapi Lurah Arya Dipa tidak bersikeras membantah ucapan orang itu, melainkan malah membuat orang itu bingung.


   "Oh, jadi kisanak ini dari Banjar Rejo ?" kata Lurah Arya Dipa, terlihat ramah serta melanjutkan ucapannya, "Berarti kisanak kawula paman Demang Jati Rekso.. "


   Orang berperawakan tinggi berkumis tebal salah tingkah sambil menatap kawannya. Sementara kawannya yang berbadan kurus pendek juga menatapnya seraya mengedipkan mata memberikan isyarat. Selekas adanya isyarat, orang berperawakan tinggi berkumis tebal mulai menguasai keadaan dan telah berubah kasar. Bentakan kasar tiba - tiba menyeruak dari mulutnya.


    "He, jangan kau hiraukan kami, jika kau sayang nyawamu, anak setan !"


   Meskipun dalam hati tersenyum karena pancingannya tersambar, Lurah Arya Dipa berusaha berpura - pura kaget. Kakinya terjingkat dengan tubuh agak gemetar seakan akan jatuh lunglai, ia berkata, "A..Apa mak..sud kisanak ?"


   "Huh, belum sadar juga kau anak bengal ! Bila aku pelintir kepalamu, itu tandanya nyawamu melayang !" bentak orang berbadan kurus pendek.


   "Me..memangnya sa..lahku apa ?"


   "Jangkrik setan bengal !" Kembali orang berbadan kurus pendek itu menghardik, "Tidak usah banyak omong, pergilah selagi aku masih dapat menahan amarahku !"

__ADS_1


   Bentakan itu membuat pemuda itu jatuh terduduk. Mengetahui itu, orang berbadan kurus pendek tersebut mengajak kawannya meninggalkan pemuda tadi dengan cepat. Keduanya berjalan mengarah padukuhan segaris lurus gerbang timur.


   Sepeninggal orang berbadan tinggi berkumis tebal dan berbadan kurus pendek, Lurah Arya Dipa bangkit berdiri sambil merapikan pakaiannya. Sudah cukup baginya untuk mengingat perawakan dan raut wajah kedua orang yang dicurigai. Ia tidak mengambil sikap lebih lanjut melalui jalan kekerasan demi ingin mengetahui lebih dalam siapa orang - orang tadi. Dalam hatinya ia yakin kalau keduanya berhubungan dengan pihak yang menentang Demak, entah itu orang - orang Bang Wetan atau yang lainnya.


    "Biarlah mereka keluar dari pintu gerbang. Aku yakin akan dapat mengejar keduanya." desis Lurah Arya Dipa.


    Pemuda itu kemudian mencari jalan lain yang arahnya juga ke gerbang timur. Meskipun agak jauh, akhirnya Lurah Arya Dipa hampir mendekati pintu gerbang dan di situ seorang kakek tersenyum menyambutnya.


   "Lama sekali kau, anakmas Kilatmaya... " sapa kakek itu.


   Lurah Arya Dipa tersenyum, "Maaf, Kyai. Tadi ada sesuatu yang membutuhkan perhatianku."


   "Mudah - mudahan bukan gadis penghuni padukuhan ini." goda kakek itu sembari tertawa.


   "Ah.. Tidak, Kyai... "


   Selanjutnya, pemuda dan kakek tadi melewati penjagaan pintu gerbang timur untuk selanjutnya menelusuri jalan yang membelah paduhan di luar kotaraja. Hanya berjalan kaki keduanya terus melanjutkan langkahnya, sembari salah seorang mencoba menanyakan sesuatu kepada pejalan kaki atau-pun penghuni padukuhan yang sedang dilewati.


   Apa yang diperkirakan oleh Kilatmaya tidak salah sedikit-pun. Jejak yang ditinggalkan oleh kedua orang yang sebelumnya dicurigai, dapat diikuti dengan mudah. Terakhir keberadaannya, kedua orang yang ia ikuti menuju sebuah kedai kecil tak jauh dari tempatnya bertanya. Maka, Kilatmaya dan kakek yang bersamanya mencoba mendekati kedai kecil itu.


   "Ha.. Mumpung ada penjual dawet, ayo berteduh di pohon talok itu, Anakmas." ajak kakek yang bersama Kilatmaya.


   "Mari, Kyai." sambut Kilatmaya yang tiada lain Lurah Arya Dipa.


   Sambil duduk di bangku yang disediakan penjual dawet, keduanya memesan dua gelas dawet sambil mengisi waktu luang, berbicara dengan penjual dawet. Juga, tak lengah pengamatan Kilatmaya dari pintu keluar kedai, yang terbuka dan terlihat adanya orang yang ia ikuti.


   "Mari, Kyai.. " desis Kilatmaya sambil berdiri dan membayar dawet yang telah diminum.


   Agar tidak diketahui orang - orang yang diikuti, Kilatmaya dan kakek tua berusaha menjaga jarak. Sehingga jarak dua iringin itu tidak terpaut jauh, apalagi sampai kehilangan jejak.


   Tak terasa jalan yang awalnya ramai dilalui banyak orang, semakin lama semakin jarang. Jalan-pun semakin sempit dan hanya selebar gerobak saja. Juga jalanan semakin tidak rata dan ditumbuhi rumput liar, meskipun tidak terlalu tinggi. Hal itu menjadikan Kilatmaya dan kakek tua tadi, bertambah hati - hati.


   Terik matahari tak terasa sudah semakin turun ke barat, membentuk bayang - bayang ke arah berubah haluan juga. Manakala memandang ke depan, dua orang berperawakan tinggi berkumis tebal dan berbadan kurus pendek turun dari jalan menapaki tanggul sawah yang ditanami hijaunya palawija. Tindakan itu membuat Kilatmaya dan kakek tua untuk menambah kewaspadaan. Dugaan demi dugaan terselip dalam pikiran harus terurai untung ruginya, untuk terus mengikuti tanpa harus berbenturan secara langsung.


   "Sebaiknya kita berpencar, Anakmas.. " usul Kyai Jalasutro.


   "Baik, Kyai. Aku akan turun di tunggul sebelah sana." sambut Kilatmaya, setuju.


  Dari sisi berbeda keduanya mencoba mengikuti orang - orang yang mencurigakan, yang semakin lama tanggul sawah terlewati berganti tanah yang ditumbuhi semak belukar. Keadaan medan penuh samak belukar itulah, menjadikan Kilatmaya dan Kyai Jalasutro harus menyembunyikan keberadaannya berupa usaha menutup segala bunyi yang ditimbulkan, akibat gesekan antara anggota tubuh dengan daun atau-pun ranting. Sehingga orang yang diikuti tidak menyadari sama sekali kalau ada dua orang dibelakang mereka.


   Cukup dalam juga orang berbadan tinggi berkumis tebal dan kawannya berjalan. Sudah lebih dari ratusan tombak keduanya menjauhi pinggiran pedukuhan di luar kotaraja. Tapi setelah adanya bunyi aliran air, keduanya mencoba mencarinya. Dan setelah ditelusuri, nampaklah sebuah anak sungai berair jernih, bahkan sangking jernihnya terlihat ikan - ikan berenang kian kemari saling kejar mengejar bersama kawannya. Pemandangan itu memancing keduanya semakin mendekat, meskipun jalan yang akan dilalui agak terjal.


   Orang berperawakan pendek dan kurus duduk berjongkok seraya meraup air menggunakan kedua tanganya dan membasuhkan ke wajahnya. Tak mau ketinggalan, kawannya meniru membasuh wajahnya, juga meneguk air sungai yang jernih itu.


   "Ah.. Segar sekali air ini." desis orang berbadan tinggi berkumis tebal.

__ADS_1


   Kawannya tertawa perlahan, "Hahaha.. Sama saja antara air sungai ini dan air Bengawan Sore."


   "He.. Sambu, air Bengawan Sore menjadi amis setelah darah Pangeran Sekar menetesinya."


   "Ah.. Itu hanya perasaanmu saja, Bajang. Bagiku semuanya sama, jika yang memerciki itu Trenggono atau-pun Bagus Mukmin."


   Pembicaraan keduanya terus berlanjut dan tak menyadari kalau ada orang yang mendengarkan. Semakin lama jatidiri Sambu dan Bangah sedikit terungkap, dimana keduanya adalah utusan sebuah perguruan di telatah timur Bengawan Sore. Satu hal yang membuat Kyai Jalasutro terkejut, yaitu nama perguruan yang mengingatkan perguruan dimana kawannya adalah pimpinan dari perguruan itu.


   "Ah.. " desuh Kyai Jalasutro, lalu katanya dalam hati, "Candra Bumi bukanlah sebuah perguruan yang mau mencampuri urusan keprajan."


   "Ada apa, Kyai ?" tanya Kilatmaya yang mendengar desuh Kyai Jalasutro.


   Kyai Jalasutro menoleh ke arah pemuda itu dan katanys, "Dua orang itu menyebut perguruan Cadra Bumi. Itulah yang membuatku sedikit sangsi, apakah keduanya benar - benar dari sana."


   Kilatmaya masih belum mengerti alasan mengapa orang tua disampingnya menyangsikan asal - usul Sambu dan Bajang, yang jelas - jelas menyebutkan asal mereka. Namun ketika akan meminta penjelasan lebih lanjut, terlihat Sambu dan Bajang akan meninggalkan tepian sungai. Karenanya, untuk saat ini lebih baik tidak menanyakan alasan kesangsian Kyai Jalasutro. Suatu saat atau mungkin dalam perjalanan, Kyai Jalasutro akan memberitahu lebih jauh.


   Yang paling utama untuk saat itu adalah terus mengikuti Sambu dan Bajang. Dari keduanya, tentu akan mendapatkan titik terang siapa mereka sebenarnya. Tidak menunggu lebih lama, Kilatmaya dan Kyai Jalasutro kembali mengendap mengikuti Sambu dan Bajang. Aliran air sungai sudah tertinggal dan tidak terdengar lagi gemericiknya.


   Mendekati keremangan ujung malam hari, Bajang dan Sambu memasuki regol padukuhan. Keduanya memasuki regol tersebut yang masih terbuka lebar dan gardu perondan masih kosong. Namun, satu dua orang masih terlihat lalu - lalang mengisi jalan padukuhan, dengan kepentingan masing - masing. Dan di kanan kiri kediaman penghuni padukuhan sudak nampak nyala penerangan dalam menyambut sang malam. Tidak terlalu jauh, Kilatmaya dan Kyai Jalasutro juga memasuki regol padukuhan. Suasana yang semakin redup sangat membantu keduanya agak mempersingkat jarak antara mereka dengan kedua orang yang dicurigai.


   Sepertinya malam itu orang yang mereka ikuti akan menginap di banjar padukuhan. Itu terbukti manakala Bajang dan Sambu membelok di jalan yang akan menuju sebuah bangunan yang berbeda dari bangunan lainnya. Sejenak keduanya berhenti tepat di depan regol. Dan saat itu dari dalam regol, seorang berjalan mendekatu keduanya dan menyapa dengan ramahnya.


   "Bisa aku bantu, kisanak ?"


   "Kisanak, kami berdua sedang dalam perjalanan dan kemalaman ketika melewati padukuhan ini. Karenanya, ijinkan barang satu malam untuk bermalam di banjar ini."  pinta Sambu, yang mencoba ramah.


   Sesaat orang yang keluar dari regol banjar itu mengamati dua pendatang itu. Ia harus hati - hati untuk mengijinkan orang lain yang akan memasuki banjar padukuhan yang ia jaganya. Ia tak ingin kecolongan sehingha akan mendapat dampratan dari ki Jagabaya atau ki Bekel padukuhun. Tetapi, setelah mengamati dan meyakini kalau keduanya tidak mencurigakan, orang itu mengijinkan dua pendatang itu menginap di banjar.


  "Baiklah, kisanak berdua. Ayo aku antar di gandok kanan banjar." kata orang itu, sambil mengantar keduanya ke gandok kanan.


  "Silahkan, beginilah keadaannya." orang itu mempersilahkan, setelah membuka pintu gandok kanan.


   "Terima kasih, ki.. "


   "Panut, panggil saja aku Panut." ucap ki Panut, memperkenalkan diri, "aku akan ke belakang, untuk mengambil beberapa potong Pohung."


   Tanpa menunggu jawaban dari tamu banjar, ki Panut melangkah pergi. Tetapi baru saja menuruni tlundak balai banjar, dua sosok mendekati regol banjar. Hal itu membuat kening ki Panut, mengerut. Namun, tetap saja ia langkahkan kakinya untuk mendekati regol banjar. Setelah dekat, terlihatlah seorang pemuda dan kakek tua tersenyum ramah sembari mengangguk hormat.


   "Selamat malam, kisanak. Apakah ini banjar padukuhan ini ?" tanya pemuda dengan halus.


   "Benar, ngger. Ini memang banjar padukuhan, dan aku yang diserahi ki Jagabaya untuk mengurusnya." jawab ki Panut, dan katanya lebih lanjut, "Angger dan kisanak ini dari mana dan akan kemana ?"


  Pemuda tersenyum, "Aku dan eyang ini dari Demak yang akan menyambangi kerabat di Jepara."


  Ki Panut mengangguk.

__ADS_1


  "Tapi, hari sudah terlalu gelap untuk kami melanjutkan perjalanan. Oleh karenanya, jika kisanak berkenan, kami mohon menginap barang satu malam. Dan esok kami akan melanjutkan perjalanan yang tertunda."


   Dari tutur kata dan penampilan kedua pendatang yang ke-dua ini, ki Panut tidak mendapatkan adanya kejanggalan untuk menolak dua orang itu. Maka seperti dua orang pertama, ki Panut juga menerima pemuda dan kakek itu menginap di banjar. Untuk itulah ia antarkan ke-duanya ke gandok kiri dan mempersilahkan mereka.


__ADS_2