BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
90


__ADS_3

Kini perputaran kehidupan berlanjut disetiap goresan langkah yang akan ditempuh oleh Arya Dipa. Arya Dipa berbahagia dan bersyukur manakala dirinya tahu jikalau sang kakek bukanlah seorang berhati keji yang tega membunuh putra dan menantunya sendiri. Meskipun begitu, ada sebuah sisa yang harus dikuak secara terang mengenai siapa sosok yang menyerupai wajah kakeknya itu.


.


"Aku akan berusaha mengungkapnya, tetapi setelah aku melanjutkan tugas yang diembankan oleh Panembahan Ismaya." batin Arya Dipa.


.


"Adakah yang kau pikirkan, kakang ?" tanya Windujaya, saat memperhatikan Arya Dipa melamun.


.


Kala itu Arya Dipa berdua saja bersama Windujaya dalam perjalanan ke kali Brantas. Ini semua sudah disepakati oleh orang - orang tua yang juga mengikuti pergerakan dalam perebutan pusaka dan harta benda peninggalan bangsawan Wilatikta. Untuk menuju ke kali Brantas, supaya tak mendapat perhatian banyak orang, rombongan dari padukuhan Bungkul telah dibagi menjadi tiga kelompok. .


.


Kelompok pertama terdiri dari tiga orang sepuh, yaitu Resi Puspanaga, Begawan Jambul kuning dan Begawan Kakrasana. kelompok kedua ditempati oleh dua saudara elang dari Penanggungan, yaitu Palon dan Sabdho. Dan terakhir sepasang anak muda, Arya Dipa dan Windujaya.


.


Atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Windujaya, Arya Dipa hanya menjawab seperlunya saja, "Aku memikirkan orang yang menyerupai eyang Bancak, adi."


.


"Hm.. Bila kakang tak keberatan, ijinkan aku membantu mencarinya."


.


"Terima kasih, adi. Tetapi sebaiknya adi harus mendapat persetujuan dari eyang. Bukankah adi masih dalam bimbingan eyang Bancak ?"


.


Windujaya mengangguk pelan, "Guru pernah berkata kalau ilmu yang ia turunkan semuanya sudah tuntas. Kini tergantung kepada saja untuk mengembangkan ilmu itu, kakang."


.


"Aku yakin dengan kemampuan adi akan cepat berkembang. Mungkin dalam penjajakan waktu itu, jika adi mengungkap ilmu dari Cakra Ningrat dengan sungguh - sungguh, aku pasti kelabakan."


.


"Ah, kakang jangan membuatku malu." kata Windujaya, "Waktu itu aku benar - benar mati kutu."


.


Arya Dipa tertawa lepas, "Hahaha... Kau pintar bergurau, adi. Jika adi melepas aji Liman satu bandha dan gempuran bayu, musuh akan sulit menghindarinya."


Keduanya terlihat saling menghormati satu dengan lainnya dan juga mengagumi kemampuan masing - masing. Tanpa terasa matahari begitu teriknya, hingga kulit terasa panas menyengat.


.


"Sebaiknya perjalanan ini kita tunda dahulu, kakang." Windujaya menyampaikan pendapatnya.


.


"Baiklah. Kita berteduh di gubuk di pategalan itu saja." sahut Arya Dipa sembari membelokan langkahnya menuju gubuk.


.


Gubuk di tengah pategalan itu terbuat dari bambu dengan dinding dari jerami. Di sisi gubuk ternyata mengalir parit kecil dengan air jernih, meskipun airnya agak surut.


.


"Hm.. Airnya sungguh menyegarkan.. " desis Windujaya, seusai meminum air dari dalam parit.


.


"Apakah kakang sudah pernah melewati telatah ini ?" tanya Windujaya, kemudian.


.


"Iya. Waktu itu aku bersama ayah dan kakang Palon." jawab Arya Dipa.


.


"He.. " Windujaya keheranan.


.


Hal itu menyadarkan Arya Dipa dan menjelaskan, "Maksudku, ayah angkatku. Ayah Mahesa Anabrang, saudara seperguruan eyang Puspanaga."


.


"O... Bersyukurlah kakang masih mendapat seseorang sebagai ayah angkat." kata Windujaya, "Lalu, dimanakah sekarang ayah kakang ?"


.


Pertanyaan itu membuat Arya Dipa rindu dengan keadaan ayah angkatnya. Sejak berpisah di selatan kademangan Prambanan, ki Panji Mahesa Anabrang tiada wartanya. Sebagai perwira di pasukan Telik Sandi, mengharuskan ki Panji Mahesa Anabrang berpindah - pindah tugas.


.

__ADS_1


"Mungkin ayah berada di sekitar Purbaya." bathin Arya Dipa.


.


Tetapi kepada Windujaya, Arya Dipa berkata lain, "Entahlah adi, ayah Anabrang gemar melakukan pengembaraan."


"Ah.. Benarkah itu ?" tanya Windujaya yang kemudian katanya, "Pasti beliau mempunyai beragam ilmu dalam dirinya."


.


"Mengapa adi bisa menyimpulkan seperti itu ?"


.


"Kakang, pernahkah kakang mendengar seorang pemuda dari Pengging ?"


.


"He.. ?!" seru Arya Dipa.


.


"Ada apa, kakang ? Sepertinya kakang mengetahuinya ?"


.


Bagaimana tidak tahu. Bila disebut telatah Pengging, sebuah nama langsung terlintas dibenak Arya Dipa. Seorang pemuda dengan kemampuan tinggi dengan beragam ilmu terpendam dalam tubuh anak muda itu. Terakhir kali, Arya Dipa menyaksikan sebuah ilmu langka telah diterapkan oleh pemuda itu. Ilmu yang konon dimiliki oleh Mahapatih Gajah Mada, yaitu Lembu Sekilan.


.


"Yang kau maksud adi Mas Karebet, adi ?"


.


"Oh.. Kakang juga mengenalnya ?"


.


"Begitulah, kami pernah satu tujuan." jawab Arya Dipa, "Lalu, apa hubungannya dengan ayah Anabrang yang gemar mengembara ?"


.


Windujaya tidak langsung menjawab. Seekor nyamuk telah menggigit lehernya, sehingga membuatnya mengeluh kesakitan.


.


.


"Ah, kakang." desuh Windujaya, lalu katanya dengan sungguh - sungguh, "Seperti paman Anabrang yang gemar mengembara, kakang Mas Karebet juga gemar mengembara dari ujung wetan sampai bang kulon, kakang."


.


"Menurut guru, kakang Mas Karebet yang juga sering memakai Jaka Tingkir, disetiap langkahnya selalu mendapat ilmu dari berbagai orang - orang linuwih. Ia merupakan penerus jalur Pengging, tentu ia mampu mengungkap aji Sasra Birawa. Ia juga berguru dengan ki Ageng Sela, ki Ageng Butuh, seorang pertapa di gunung kelud, Panembahan Ismaya, ki Ageng Serang dan bahkan Kanjeng Sunan Kalijaga serta Kanjeng Sunan Kudus." sambung Windujaya.


.


Ternyata pengetahuan Windujaya dalam pengenalan diri Mas Karebet dalam olah kanuragan, lebih banyak dibandingkan dengan Arya Dipa. Walau begitu Arya Dipa lebih beruntung bila dibandingkan dengan Windujaya, karena Arya Dipa sudah bertemu dengan kedua orang yang disebutkan oleh Windujaya. Yaitu, Kanjeng Sunan Kalijaga dan Panembahan Ismaya. Bahkan dari keduanya, Arya Dipa mendapat wejangan dan permintaan dalam beberapa macam.


.


Dari Kanjeng Sunan Kalijaga, Arya Dipa dalam masa yang akan datang supaya berada di dekat garis keturunan Pengging. Sementara dari Panembahan Ismaya, Arya Dipa mendapat kepercayaan untuk menemukan pusaka yang akan membuat Demak semakin jaya."


Dua pemuda itu masih membicarakan Mas Karebet atau Jaka Tinggkir. Windujaya, yang pernah melakukan penjajagan secara langsung terhadap Mas Karebet, merasakan betapa tinggi ilmu kanuragan dan keberagaman tata gerak putra ki Ageng Pengging anom. Begitu juga dengan Arya Dipa, meskipun belum membenturkan ilmunya dengan putra ki Ageng Pengging Anom, namun dirinya walau sekilas dapat memastikan adanya segudang ilmu dalam tubuh kokoh Mas Karebet.


.


"Begitulah, kakang Dipa. Mengapa aku menyamakan paman Anabrang dengan kakang Jaka Tingkir." kata Windujaya.


.


Arya Dipa tersenyum. Sejauh ini ia belum melihat kemampuan sesungguhnya dari ayah angkatnya. Meskipun waktu kecil ia pernah ditunjukan pangeram - eram oleh ayah angkatnya, tetapi hanya ilmu dasarnya saja. Karena waktu itu, ketika ia ingin dilatih oleh ayahnya, Arya Dipa kecil jatuh pingsan.


.


Dan semenjak itu ayah angkatnya tidak mau mendidiknya dalam olah kanuragan. Barulah setelah dirinya dipertemukan kembali dengan Resi Puspanaga di gunung Penanggungan, semuanya itu dikarenakan adanya larangan ilmu lain yang mengisi diri Arya Dipa kecil, kecuali ilmu dari kitab Cakra Paksi Jatayu.


.


"Mungkin yang kau katakan mengenai ayah Anabrang, benar adanya adi."


.


"He... ?" Windujaya mengernyitkan alisnya, "Jangan katakan kalau kakang tidak mengetahuinya."


.


Sambil mengangkat bahunya, Arya Dipa berkata, "Sebenarnya memang begitu. Aku gelap dengan ilmu yang dimiliki oleh ayah Anabrang."


.

__ADS_1


"Aneh - aneh." desis Windujaya sambil menggelengkan kepala, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hehehe.. Pening kepalaku, kakang. Kau kembali mempermainkan aku."


.


"Hehehe... Bila suatu hari adi berjumpa dengan ayah Anabrang, cocokanlah perkataanku ini. Aku berbohong atau tidak."


Kata - kata Arya Dipa yang berkesan biasa itu, dalam pendengaran Windujaya terasa adanya kebenaran. Sehingga pemuda murid Begawan Jambul Kuning itu menhangguk.


.


"Aku percaya kakang, tentu semuanya benar. Tetapi dirimu menyimpan beribu rahasia keanehan yang sulit terpecahkan."


.


"He... " kini giliran Arya Dipa terhenyak, "Beribu rahasia keanehan ?"


.


"Benar." tegas Windujaya, "Suatu kali, guru pernah membicarakan seorang yang aku yakin itu kakang."


.


Pernyataan itu memancing keingin tahuan Arya Dipa. Duduknya bergeser semakin tepat menghadap Windujaya.


.


"Maukah adi mengatakannya ?" pinta Arya Dipa.


.


Demi merasakan adanya hasrat begitu besar dalam diri cucu gurunya, Windujaya berusaha mengulur - ulur waktu dengan niatan menggoda sahabat barunya itu. Dahi Windujaya mengerut lebih dalam, seolah mencoba mengingat - ingat dan mengumpulkan kata demi kata yang terucap dari mulut gurunya.


.


Sungguh menunggu itu pekerjaan yang paling membosankan dan menguras kesabaran. Pemuda Arya Dipa sebenarnya seorang berhati teguh jika menghadapi persoalan yang sangat penting, tetapi kali ini entah mengapa dinding kesabarannya terdobrak dan hancur berkeping - keping, karena pokal Windujaya.


.


"Adi, jangan membuatku mati menunggu. Matahari sudah menggelincir ke barat, tetapi kau masih membisu saja." gerutu Arya Dipa.


.


Kekesalan Arya Dipa membuat Windujaya tak kuat menahan tawanya. Tawanya bagai batu rubuh dan membuat tubuhnya tergoncang.


.


"Oh.. Kau rupanya membalas gurauanku tadi, adi ?" Arya Dipa menyadari kekalahannya, selanjutnya ia pun tersenyum.


.


Tak terasa sang surya sudah menggelincir, karenanya kedua pemuda itu pun kembali melanjutkan perjalanan yang tertunda barang sejenak.


"Kita lewat jalan ke kanan, adi." ucap Arya Dipa, yang mengenali arah.


.


"Di depan kita akan menjumpai padukuhan pertama telatah Anjuk Ladang." sambung Arya Dipa.


.


"Kupercayakan langkah kaki ini kepadamu, kakang."


.


"Bagus. Itu lebih baik. Jika kau tidak mempercayakan langkah kepadaku, bisa - bisa kau akan terjerumus ke lumpur hisap." Arya Dipa memcoba mempermainkan sahabatnya itu.


.


"He.. Benarkah itu, kakang ?" Windujaya setengah percaya.


.


"Coba saja kalau kau tidak percaya. Di jalan sebelah kiri itu, meskipun nampaknya ditumbuhi rumput hijau, tetapi sebenarnya dibawahnya adalah pasir hisap." Kata Arya Dipa, tetapi dalam hati tertawa penuh kemenangan.


.


Diamati apa yang ditunjuk oleh Arya Dipa tadi. Yang terlihat memang suburnya rumput hijau saja.


.


"Ah.. Masakah di tempat seperti ini ada tanah hisap ?" Windujaya bertanya dalam hati, "Tanah di jalan ini saja keras seperti ini."


.


Timbulah rasa penasaran dalam hati pemuda itu. Entah mengapa kakinya bergerak mendekati rimbunnya rumput, dan.....


.


"Byuuuuuuur......!"

__ADS_1


__ADS_2