
Sosok itu kadang kala menggerung memekakan telingan. Gerungan yang tak wajar karena dilambari tenaga dahsyat dari sosok hitam Mahesa Sura.
Sudah sering ki Lurah Arya Dipa melakukan lelaku ini disetiap waktu senggangnya, tapi baru kali ini dirinya mengalami peristiwa yang membuat dadanya berdebar, karena sosok hitam sebagai lawannya. Oleh karenanya pemuda yang pernah berada dalam pengawasan Resi Puspanaga itu, telah meningkatkan kemampuannya untuk menekan lawan yang selalu bergerak cepat dan tak dapat diperitungkan langkahnya. Aji Sepi Angin diungkap semakin dalam demi mengejar langkah cepat lawan.
Maka dalam alam sunyi itu timbul sebuah angin menderu - deru mengoyak udara disekitar lingkup Mahesa Sura. Sebuah angin dari kemampuan tingkat tinggi yang mampu diungkit dari aji Sepi Angin oleh ki Lurah Arya Dipa.
"Dess... Buuum !!!"
Hentakan itu menimbulkan bunyi keras manakala mengenai tubuh Mahesa Sura. Serta alam itu menjadi gelap sekali sehingga untuk melihat ujung tangan sendiri, tak nampak. Tentu hal itu membuat ki Lurah Arya Dipa berjaga dengan cara melindungi tubuhnya dengan aji Niscala Praba. Warna kuning kemilau memancar menyelimuti diri pemuda itu dari serangan yang terduga.
"Cukup angger cah bagus." sebuah suara tiba - tiba terdengar penuh perbawa.
Perbawa suara itu sungguh dahsyat sampai - sampai ki Lurah Arya Dipa bagai tercucuk hidungnya, yang mana diri pemuda itu secara perlahan menyimpan kembali aji Niscala Praba. Dikala sinar kemilau dari aji Niscala Praba sirna, tergantilah di depan sesosok tua tinggi besar, penuh perbawa dengan pakaian putih layaknya pakaian yang dikenakan oleh seorang Resi.
"Angger cah bagus.." desis.sosok itu.
"O.. Gusti Prabu, terimalah sembah bekti hamba." ucap ki Lurah Arya Dipa seraya duduk bersila dengan tangan ngampurancang.
Sosok itu mendekat dan berhenti dua kilan di depan ki Lurah Arya Dipa, tangan orang itu memegang kepala pemuda itu.
"Ku terima sembah bektimu, Angger." kata sosok itu, "Angger Dipa, memang akulah yang menyuruh Mahesa Sura untuk mengujimu di alam ini, dan aku merasa bangga manakala kau mampu mengungkap aji Sepi Angin sampai tingkatan itu."
Sosok itu kembali diam tapi tangan kanannya mengelus punggung ki Lurah Arya Dipa, dimana disitu terdapat sebuah goresan berbentuk cakra dengan seekor garuda merentangkan sayapnya. Lalu kemudian sosok itu melangkah mundur yang selanjutnya berdiri tegak menghadap ki Lurah Arya Dipa.
"Angger Dipa, apakah kau pernah berjumpa dengan seorang tua dengan tubuh bongkok tapi bicaranya penuh makna ?" tanya sosok itu.
Pertanyaan itu oleh ki Lurah Arya Dipa diresapi secara dalam dan menumbuhkan ingatannya manakala dirinya bersama prajurit Sambi Wulung dan Jaka Ungaran di sebuah hutan di malam hari, seorang tua dengan tongkat menyerupai kepala ular berjalan terseok - seok serta melantunkan tembang yang penuh arti.
"Hamba, Gusti Prabu." sahut ki Lurah Arya Dipa.
"Hm.. Bagaimana tanggapanmu dengan orang itu ?"
"Ampun, Gusti Prabu... "
"Panggilah aku Eyang Resi saja, angger." cepat sosok itu memotong kata pemuda di depannya.
"Oh.. Baik, Eyang Resi." sahut ki Lurah Arya Dipa, "Bagi hamba, orang tua itu tentu seorang yang dekat dengan Sang Pencipta."
"Hm.. Bagus, angger. Memang begitulah nyatanya, orang itu merupakan salah seorang wali yang mengajarkan ilmu keyakinan dengan cara bijaksana. Bila kau berjumpa lagi dengannya mintalah petunjuk kepadanya, supaya engkau mendapatkan ketenangan yang nyata." kata sosok yang tak lain Resi Gentayu.
"Baik, Eyang Resi. Hamba akan menjalankan apa yang Eyang ucapkan."
"Oh.. Keliru angger, bila kau menjalankan apa yang aku ucapkan, itu berarti itu hanya perintah semata yang kau lakukan. Hendaknya engkau renungkan dari ucapanku tadi mengenai orang tua itu, secara benar."
"Oh Eyang Resi, mohon kiranya Eyang memberi penerangan kepada cucumu ini. Supaya dalam tindakan selanjutnya tak salah langkah." pinta ki Lurah Arya Dipa.
__ADS_1
"Angger, Keyakinan kita dengan orang tua itu dalam bentuknya sangat berbeda, tapi dalam tujuannya sebenarnya nyata. Namun ku akui jika yang dianut oleh orang tua itu sebenarnya sebuah keyakinan yang sempurna dari keyakinan yang dianut oleh kaum terdahulu. Oleh karenanya pelajari dan tuntutlah keyakinan itu darinya." kata Resi Gentayu dengan sareh.
Kepala pemuda itu menunduk dengan sikap masih ngampurancang, tapi ketika mata kembali membuka, dirinya kembali berada di bilik barak.
"Oh.. " hanya desuh saja yang ia suarakan.
Saat ki Lurah Arya Dipa terjaga dari semedinya, ruang biliknya terlihat remang - remang. Menandakan hari menginjak petang, di luar para prajurit mulai menyalakan dimar dari getah jarak.
Di biliknya ki Lurah Arya Dipa masih duduk di atas dipan kayu dengan masih mengenang peristiwa yang baru ia alami. Pertemuannya dengan Resi Suci Gentayu, telah kembali membuka mata batinnya serta keinginannya untuk menemui seorang Wali, yang menurut Resi Gentayu keberadaan orang itu di Kadilangu.
"Semoga setelah tugas dari Banyubiru, aku bisa berjumpa dengan Kanjeng Sunan." desis pemuda itu.
Tak lama dari arah pintu bilik terdengar sebuah ketukan.
"Siapa ?" tanya ki Lurah Arya Dipa.
"Jaka Ungaran, ki Lurah." jawab seorang yang mengetuk pintu dari luar.
"Oh.. Masuklah kakang."
Derit daun pintu terdengar seiring terbukanya daun pintu itu, seorang prajurit muda memasuki bilik itu.
"Apakah ki Lurah tertidur dan tak sempat menyalakan dimar ?" tanya prajurit Jaka Ungaran sambil melangkah mendekati dimar, lalu menyalakannya.
"Iya, kakang." sahut ki Lurah Arya Dipa, berbohong, "Adakah sesuatu yang akan kakang bicarakan denganku ?"
"Oh.. Apakah kakang sempat menyapa dan berbincang dengan orang itu ?" tanya ki Lurah Arya Dipa, tertarik sekali dengan pembicaraan yang menyangkut dengan orang bongkok yang diduga seorang Wali.
Tapi prajurit Jaka Ungaran menggelengkan kepalanya, "Tidak, ki Lurah. Orang tua itu keburu masuk ke Suranatan. Sudah lama aku menunggu dekat pintu regol, tapi orang itu tak kunjung keluar dari kediaman ki Tumenggung Suranata."
"Apakah kakang tak bertanya dengan penghuni Suranatan, pembantu atau penjaga misalnya ?"
"Sudah, ki Lurah. Salah seorang penjaga mengatakan jikalau orang itu menemui kemenakan ki Ganjur, Lurah yang mengurusi masjid Agung Demak." jawab prajurit Jaka Ungaran.
"Oh.. ki Lurah Mas Karebet." desis perlahan ki Lurah Arya Dipa, seolah - olah bicara dengan dirinya sendiri.
"Ki Lurah, mengenal kemenakan Lurah tua itu ?"
Anggukan terlihat dari perwira Tamtama itu, "Dua hari yang lalu ketika aku ke Kaputren, aku bertemu dengan seorang Lurah baru, Mas Karebet namanya. Dan ia mengatakan jika ia tinggal dengan ki Ganjur di Suranatan."
"Terima kasih, kakang."
"Tentang apa ki Lurah ?"
"Orang tua bongkok itu, aku sangat penasaran dengan orang tua itu. Mungkin aku bisa mengorek lebih jelas mengenai orang itu melalui adi Lurah Mas Karebat." kata ki Lurah Arya Dipa.
__ADS_1
"Ah...Aku hanya sekedar memberitahu saja keberadaan orang itu, ki Lurah. O ya bagaimana rencana ki Lurah dengan nini Ayu Andini seoanjutnya ?"
"Ah.. Kakang." suara ki Lurah Arya Dipa agak bergetar.
"Hahaha.. Adi Lurah, segeralah ketika ada waktu luang." kata prajurit Jaka Ungaran, lalu prajurit itu mohon diri.
Tinggalah kini ki Lurah Arya Dipa sendiri lagi di bilik barak kesatuan Wira Tamtama. Pemuda itu merenung sesaat apa yang akan ia lakukan di petang ini. Sejenak kemudian dirinya berkeinginan untuk berkunjung ke Suranatan menemui ki Lurah Mas Karebet, sekaligus ingin mengetahui siapa sebenarnya orang yang ia duga seorang Wali yang bertempat di Kadilangu.
"Siapa tahu adi Lurah Mas Karebet tahu banyak mengenai jati diri orang tua itu." batinnya.
Seusai berbenah diri dengan mengenakan pakaian pada umumnya, ki Lurah Arya Dipa keluar dari barak kesatuan Wira Tamtama seorang diri. Langkahnya terasa pelan seakan - akan menikmati keadaan sekitar lorong jalan yang dilaluinya. Namun kadangkala ki Lurah Arya Dipa dalam berjalan itu sesekali berpapasan dengan penghuni kotaraja yang mempunyai urusan keluarga, dan juga berpapasan dengan kelompok - kelompok prajurit yang bertugas meronda.
Di simpang jalan Perwira muda itu membelokan kakinya ke kiri dimana arah itu menujuh ke lingkungan para Nayaka Praja. Berderet bangunan kokoh dengan halaman yang luas di sekitar lingkungan itu, menunjukan betapa makmurnya para penghuninya. Hal itu dirasakan juga oleh ki Lurah Arya Dipa betapa perbedaan sangat mencolok antara kehidupan Nayaka Praja dan kawula alit yang tinggal di pelosok - pelosok. Bila di kotaraja bangunan sepenuhnya menggunakan bahan - bahan bangunan kokoh terbuat dari tembok dengan pohon jati sebagai tiangnya serta atap yang kuat, sedangkan di padukuhan terpencil bangunan atau bahkan layak disebut gubuk terbuat dari dinding bambu yaitu gedek dengan atap alang - alang ataupun blarak yang disebut ketepe.
"Namun itu semua tak sepenuhnya kesalahan dari sang penguasa, perbedaan antara orang priagung dengan wong mlarat sampai kapanpun tentu terus berkelanjutan." desis ki Lurah Arya Dipa.
Kaya dan miskin itu semua merupakan ujian dan cobaan dari Gusti Agung. Si kaya akan bahagia jika mendermakan sebagian hartanya untuk sesama, sehingga terjalin ikatan yang rukun saling bahu membahu, dan si kaya akan hancur jika menyombongkan kekayaannya, karena murka dari Si Pencipta. Begitu dengan si miskin, kemiskinannya ialah sebuah ujian semata untuk mengetahui sebetapa tabahkah dirinya dalam menyikapinya, oleh karenanya seorang miskin akan bahagia manakala dengan tenaganya berusaha bekerja secara baik sesuai garis Illahi serta diiringi dengan ibadah memanjatkan do'a dan puji keharibaan Sang Maha Tunggal.
Renungan - renungan demikian mengiringi langkah daripada pemuda itu. Begitu juga dengan dirinya yang dalam hati kecilnya terpatri sebuah janji pengabdian kepada negara dan Sang Pencipta. Sebagai prajurit hendaknya selalu memegang teguh sumpah setia kepada negara dengan pengabdian tulus tanpa pamrih, jujur dalam berbuat, berani bertindak membela negara dan menjaga perdamaia dari rongrongan perusuh dari dalam negara maupun luar negara.
Sementara dalam pengabdian kepada Sang Pencipta, seorang insan hendaknya selalu menjunjung agama kemana orang itu berada. Dan menghayati bahwasannya Sang Kholik menyertainya kemanapun dirinya melangkah, sehingga akan tertanam sebuah rasa takut dan malu dalam bertindak diluar paugeran. Dan tertanam rasa cinta yang mendalam kepada keagungan Sang Pencipta.
Tanpa dirasa langkah kaki ki Lurah Arya Dipa sampai disebuah bangunan dengan halaman luas yang diperindah berbagai tetumbuhan bunga warna - warni, dan itulah kediaman ki Tumenggung Suranata.
Regol halaman itu masih terbuka lebar, menandakan tuan rumah masih berkenan jikalau seorang tetamu berkunjung. Dimar regol nampak terang sehingga dari luar bisa melihat adanya sebuah gardu terbuka setengah berdiri di samping regol, di situ dua orang pembantu ki Tumenggung duduk sambil sesekali berkelakar.
Keduanya bergegas berdiri manakala terdengar langkah kaki menghampiri regol halaman.
"Selamat malam, kisanak." sapa orang yang mendekati regol, yaitu ki Lurah Arya Dipa.
"Selamat malam, kisanak. Siapakah kisanak ini ? Dan kiranya ada tujuan apakah berkunjung ke Suranatan ini ?" sahut seorang lelaki yang berperawakan tinggi, dengan melanjutkan pertanyaan.
Karena ki Lurah Arya Dipa tak memakai pakaian keprajuritan, sudah sewajarnya pembantu yang bertugas jaga di kediaman Suranatan, tak mengenali jikalau pemuda itu Lurah prajurit.
"Aku Arya Dipa, kisanak. Kedatanganku yaitu ingin menghadap ki Lurah Mas Karebet, kemenakan dari ki Lurah Ganjur." jawab ki Lurah Arya Dipa.
Kedua orang itu saling berpandangan dan meneliti pemuda di hadapan mereka. Lalu kawan dari penjaga pertama bertanya mencari ketegasan, "Angger, teman ki Lurah Mas Karebet ?"
"Bisa dibilang begitu, paman.." jawab pemuda itu, ramah.
Karena merasa yakin dengan perangai pemuda yang terlihat baik, maka keduanya berkenan menerima tamu itu.
"Silahkan, angger. Ki Prenjak akan mengantarkan ke bangunan yang ditinggali oleh ki Ganjur dan kemenakannya itu." kata penjaga Suranatan yang bertubuh tinggi.
"Terima kasih, paman."
__ADS_1
Lantas dengan diantar oleh ki Prenjak, ki Lurah Arya Dipa sampai di bangunan yang ditempati oleh ki Ganjur yang masih dalam lingkungan Suranatan. Sebuah bangunan di belakang bangunan induk Suranatan, sebuah bangunan yang sederhana dengan dimar biji jarak sebagai penerangan.
"Mari, ngger. Itu bangunannya." kata ki Prenjak.