BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
134


__ADS_3

Sinar terik sang surya rupanya tak seperti hari sebelumnya. Kali ini suara hentakan dan gesekan senjata terdengar meramaikan bukit Prawoto. Seorang anak muda dengan tandang yang mendebarkan membuat beberapa prajurit terhempas.


"Minggir kalian ! Mana Karebet... !" seru pemuda itu.


" He.. Siapa kamu yang berteriak lancang di depan perkemahan Kanjeng Sultan !" bentak seorang Lurah prajurit.


Sambil bertolak pinggang Arya Salaka berkata lantang, "Inilah aku Kebodanu... !"


"Pemuda kurang tata... !" bentak Lurah prajurit dengan kerasnya sambil berlari menyerang Kebodanu.


Pedang tajam Lurah prajurit sudah terlepas dari warangkanya dan menebas tubuh lawannya. Namun rupanya lawan yang terlihat masih sangat muda itu, dengan mudah menghindari senjatanya. Bahkan sebuah sentuhan dari tangan lawan mengakibatkan pergelangan tangannya bagaikan diselomoti api. Hampir saja pedangnya lepas dari pegangan andai saja Lurah prajurit itu tak dapat mempertahankan dengan sekuat - kuatnya.


Tak ingin diremehkan seperti serangan pertama, Lurah prajurit kembali bertindak. Kali ini ia lebih bersungguh - sungguh dengan mengerahkan tenaga dan kemampuannya. Cukup hebat juga tata gerak Lurah prajurit dari Wira Manggala ini. Kakinya yang secepat mengisar tanah telah bergerak menendang dada lawan. Bukan hanya itu saja, serangan itu berlanjut menggunakan pedangnya mengarah lawan yang akan kembali menghindari serangan pertama tadi.


"Triiing... !"


Wajah Lurah Wira Manggala menegang manakala mendapati pedangnya rompal dan hampir saja tubuhnya terkena gebukan tombak lawan. Tetapi sebagai seorang prajurit, hatinya terlatih menjadikan ketabahan dalam menghadapi maut yang datang sewaktu - waktu. Sebuah tata gerak meloncat mundur demi mendapatkan luang telah diperolehnya, lalu sekuat - kuatnya pedang ia lemparkan membidik tubuh lawan.


Bidikan itu bukanlah bidikan biasa. Sebagai anggota pasukan Wira Manggala dan bahkan dengan jenjang kepangkatan Lurah, bidikan itu dilambari tenaga cadangan. Dan Lurah prajurit itu sangat yakin jika bidikannya akan tepat mengenai sasaran.


Tetapi sebuah rencana yang dianggapnya sangat matang, jauh dari ketetapan yang diterima. Lawannya bukanlah lawan yang biasa, melainkan seorang pemuda keturunan Sora Dipayana dari Banyubiru, sekaligus murid kinasih dari Mahesa Jenar yang bersumber dari ilmu Pengging. Pedang yang dilemparkan putung tak karuan akibat dari tebasan tombak kyai Bancak.


"Istirahatlah, ki Lurah.. " sebuah suara menegur Lurah prajurit.


Lurah prajurit dan Kebodanu langsung mencari sumber suara itu. Terlihatlah seorang pemuda yang ditemani oleh seorang manusia memakai topeng.


"Karebet... !" geram Kebodanu, tetapi wajahnya seketika mengkerut keheranan manakala memandang orang yang berada dibelakang Mas Karebet, "Kakang Kilatmaya... ?"


"Iya, adi. Ini aku, Kilatmaya." sahut orang bertopeng, lalu katanya kembali, "Hentikan tingkah lakumu ini, adi."

__ADS_1


Sesaat Kebodanu mengalami kebimbangan. Ia tahu betul sosok bertopeng itu. Tetapi demi melihat wajah Mas Karebet, api yang hampir redup telah menyala kembali.


"Tidak kakang !" serunya, "Sebagai seorang yang jantan, aku akan mengobrak - abrik siapa-pun yang berani melarikan calon istriku !"


Kilatmaya dibalik topengnya tersenyum, "Lalu, apakah Kanjeng Sultan juga akan kau libatkan, adi ?"


"Lihatlah sekitarmu dengan nalar yang bening. Bila kau meneruskan apa yang kau lakukan bersama Laskarmu, berarti seluruh kawulamu siap dicap sebagai pemberontak. Dan bukankah kau tahu hukuman bagi mereka yang memberontak sebuah pemerintahan yang sah ?!" kembali Kilatmaya bersuara.


Belum lagi Kebodanu menjawab, Mas Karebet telah mendahuluinya, "Sudahlah, kakang Kilatmaya. Biarlah aku yang berbicara dengan adi Arya Salaka." Kilatmaya mengangguk. Sedangkan Arya Salaka terlihat napasnya kembang kempis menahan kemarahan.


"Dengarlah, adi Salaka. Hentikan pertempuran antara Laskarmu dengan pasukan pengawal Kanjeng Sultan. Biarlah kita yang melakukan perang tanding." kata Mas Karebet.


Arya Salaka akhirnya menerima tantangan dari putra ki Ageng Pengging Anom itu. Isyarat melalui tangannya telah menghentikan pertempuran yang terjadi. Tergantikan sebuah perang tanding yang melibatkan dirinya dengan Mas Karebet.


Sementara itu tak jauh dari medan, seorang pemuda menunjukan wajah masam. Pemuda berpakaian layaknya seorang bangsawn itu terlihat tak menyukai apa yang terjadi di depan perkemahan Kanjeng Sultan Demak.


"Paman Tumenggung, sebaiknya kita pergi saja." desis pemuda itu.


Kembali ke tengah kalangan, kedua pemuda yang masing - masing memiliki kemampuan mendebarkan itu, saling mempersiapkan diri. Kuda - kuda kokoh terlihat sama, menandakan tata gerak yang mereka lakukan dari sumber yang sama. Arya Salaka dan Mas Karebet mencoba mengadukan ilmu dari sumber Pengging.


"Hiaaaaat.... !"


Teriakan dahsyat mengawali adu kerasnya tulang, liatnya daging. Olah kanuragan dari sumber yang sama berbenturan dengan serunya. Loncatan kecil dan panjang ikut nampak mengiringi sentuhan - sentuhan ke tubuh masing - masing lawan. Yang tentunya ditanggapi dengan menghindarkan serangan dengan cara mengisarkan tubuh, melengos, atau-pun melenting jauh.


Semua orang yang melihat sungguh kagum dengan apa yang mereka lihat. Tetapi tidak sedikit yang cemas mengenai keduanya, yaitu ki Mahesa Jenar, ki Ageng Gajah Sora, ki Kebo Kanigara, Rara Wilis, Endang Widuri dan yang lainnya.


"Adi Mas Karebet, tentu dapat mengekang dirinya. Dan jika perlu, Eyang Panembahan atau Kanjeng Sultan akan melerainya." desis Kilatmaya.


Suatu kali tangan Kebodanu melaju dengan keras menyasar dada Mas Karebet yang terlihat terbuka. Sekilas, Mas Karebet tak bergerak sedikit pun karena waktu untuk menghindar atau-pun menangkis sudah terlambat. Kepastian yang bakal terjadi tentu luka yang didapat oleh putra mendiang ki Ageng Pengging Anom.

__ADS_1


"Desss..... "


Tangan keras Kebodanu berhasil mengenai dada lawannya. Namun raut wajah lawannya tak menampakan rasa sakit, meskipun tubuhnya terdorong dua - tiga tindak. Bahkan kuda - kuda yang kokoh sudah terpasang berlanjut tata gerak yang cepat penuh tenaga.


"Apa tenaga banteng Banyubiru hanya sampai disini ?!" ucap Mas Karebet.


"Huh... " geram Kebodanu, sembari beringsut menghindari tapak tangan lawan.


Berlanjut-lah perkelahian itu disaksikan puluhan pasang mata. Tata gerak yang rumit dan penuh tenaga seiring waktu terus meningkat. Peluh yang mulai membasahi badan dan pakaian menjadikan keduanya bagai dua banteng yang merebutkan betinanya. Saling pukul, terus terulang bersamaan datangnya sepakan keras atau-pun dupakan penuh bahaya.


Adu ilmu terus berlanjut sampai merambah tenaga cadangan. Udara disekitar keduanya mulai bergolak teraduk ganasnya tenaga jiwa muda Kebodanu putra Banyubiru dan Mas Karebet putra Pengging. Tanah yang dipijak bagaikan terkena bajakan petani dan daun yang menguning berhamburan jatuh lunglai ke bumi. Begitu-pun dengan para prajurit dan Laskar, menyingkir agak menjauh supaya tak terkena angin yang tajam akibat ilmu dua pemuda digdaya.


Di kala itu, sosok pemuda yang tiada lain Raden Arya Jipang, terlihat mendongkol dengan tingkah laku dari Kebodanu dan Mas Karebet. Dalam hati pemuda itu, terbersit rasa tak senang terhadap keduanya. Apalagi diakhir - akhir ini, Raden Arya Jipang mendengar desas - desus mengenai putri pamannya yang akan dikawinkan dengan pemuda dari Pengging. Padahal pemuda itu hanyalah prajurit rendahan yang pernah melakukan kesalahan saat penerimaan prajurit baru Demak.


"Paman Tumenggung.. "


"Iya, Raden." sahut orang disamping Raden Arya Jipang.


"Sebenarnya siapa pemuda Karebet itu ?"


"Hm... Menurut laporan orang - orang kita, dia putra angkat nyi Ageng Tingkir. Dan ternyata, dia merupakan putra mendiang Raden Kebo Kenanga dari Pengging."


"Raden Kebo Kenanga yang mendapat hukuman dari bapa guru Sunan Kudus itukah ?" tanya Raden Arya Jipang.


Orang yang disebut paman Tumenggung itu mengangguk, "Benar, Raden. Orang yang mendapat hukuman dari Sultan Demak pertama, karena menganut ilmu Manunggaling Kawulo Gusti dari Syeh Lemah Bang."


"Hm... Bila perkawinan itu berlangsung, itu sebuah tanda kalau pamanda Sultan Trenggono sudah terbalik hati dan pikirannya." desis Raden Arya Jipang.


"Aduh, Raden. Mohon jangan berkata yang membahayakan jiwa Raden. Tempat ini banyak orang - orang yang tak sepaham dengan kita." bergegas orang itu menegur Raden Arya Jipang.

__ADS_1


"Ingat Raden, kekuatan kita barulah sekuku ireng bila dibandingkan kekuatan mereka. Serta waktunya belumlah menguntungkan bagi perjuangan kita." kembali orang itu berkata pelan.


Mendengar itu, Raden Arya Jipang mengangguk dan membenarkan. Meskipun dalam hati tersimpan bara yang bergejolak hebat untuk menghanguskan orang - orang yang terlibat atas kematian Ayahnya.


__ADS_2