BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
142


__ADS_3

Selang dua hari, kediaman Lurah Arya Dipa kedatangan bakul dawet yang biasa berjualan tak jauh dari rumah itu. Saat itu Ayu Andini-lah yang menerimanya dan dipersilahkan ke pringgitan. Tetapi bakul dawet menolaknya, karena hanya ingib menyampaikan pesan saja kepada Lurah Arya Dipa.


   "Kakang Dipa belum pulang dari kesultanan, ki." kata Ayu Andini.


   "Aku hanya ingin menyampaikan pesan saja, nini." kata bakul dawet, yang kemudian katanya, "Tadi ada seseorang yang mengaku kenalan anakmas Dipa.. "


   Demi mendengar itu, Ayu Andini mengernyitkan alisnya, tetapi ia tidak menyela dan menunggu kelanjutan dari bakul dawet itu.


   "... Orang itu mengharap kehadiran anakmas sendiri di gumuk luar gerbang. Yaitu sekitar wayah sepi bocah nanti."


   "Tahukah ki Talam dengan orang itu ? Barangkali ia menyebutkan nama atau asal usulnya ?" tanya Ayu Andini.


   Bakul dawet itu menggeleng, "Tidak, nini. Aku sendiri juga lupa untuk menanyakan hal itu."


   Ayu Andini memaklumi sikap ki Talam, "Baiklah, ki Talam. Terima kasih, bila nanti kakang Dipa pulang, akan lekas kuberitahu."


   "Baiklah, nini. Kalau begitu aku pamit dahulu. Hari sudah semakin siang."


   Melangkahlah ki Talam penjaja dawet keluar dari regol kediaman Lurah Arya Dipa. Hanya tatapan cemas yang tertinggal di belakang orang itu bersumber dari wanita muda yang mengandung tua yang tiada lain Ayu Andini. Kecemasan wanita muda itu berpangkal adanya pesan mencurigakan yang dititipkan kepada ki Talam.


   "Kenapa hatiku tak enak ?" desis Ayu Andini, lirih.


   "Apa yang kau pikirkan, mbakyu ?"


   Suara yang sebenarnya wajar itu, mengejutkan Ayu Andini. Sehingga tubuhnya agak tersentak. Hal itu membuat orang yang bertanya, mengerutkan dahinya, apalagi ketika orang itu menatap kesan di wajah Ayu Andini yang gelisah.


   "Sakitkah kau, mbakyu ?"


   "Ah, adi Windujaya. Tidak... Tidak.. " sergah Ayu Andini, "Hanya saja ada yang mengganggu pikiranku mengenai pesan untuk kakang Dipa."


   "Pesan untuk kakang Dipa..." ulang Windujaya.


   Lalu Ayu Andini menceritakan kedatangan ki Talam yang mendapat pesan dari seseorang untuk disampaikan kepada Lurah Arya Dipa. Namun orang yang menyampaikan pesan tiada menyebut jati dirinya, sehingga hal itu menggelisahkan hati Ayu Andini. Apalagi akhir - akhir ini ada kejadian yang terjadi di kediamannya, mulai datangnya ki Wanapati, dan dua orang yang mengawasi rumahnya.


   "Begitulah, adi."


   "Tak usah dirisaukan, mbakyu. Biarlah kakang Dipa yang memutuskan, apakah ia menyanggupi pesan itu atau tidak." kata Windujaya.


   Ayu Anduni mengangguk.


   Hari merambat sesuai kodratnya. Apa yang dinantikan oleh Ayu Andini dengan dada berdebar, tiba jua. Lurah Arya Dipa telah pulang dari kesultanan dengan peluh mewarnai dada bidangnya. Dengan sigap Ayu Andini menyambut kedatangan suaminya itu. Dilayaninya sang suami penuh tanggung jawab dan kasih sayang. Air kendi dihidangkan dan disambut penuh rasa syukur oleh Lurah Arya Dipa.


   Air kendi terasa sejuk saat air itu mengalir melewati tenggorokan. Rasa lelah seharian penuh dalam tugas sebagai prajurit, terobati jua. Akhir - akhir ini banyak tugas yang diembannya baik dari kesatuannya atau-pun tugas rahasia dari sang nata. Tetapi saat Lurah muda itu menatap raut muka sang pujaan hati, telah tersirat adanya kegelisahan meskipun sang istri berusaha menutupinya, tetapi tak pelak dapat dibaca oleh Lurah Arya Dipa.


   "Ayu, adakah yang ingin kau katakan ?" tanyanya dengan halus.


   "E.. Kakang Dipa, tadi ki Talam ke sini." kata Ayu Andini.


   "Ki Talam bakul dawet itu ?"


   "Benar kakang.. "


   "Lalu ?"


   Ayu Andini tidak langsung menjawab, melainkan menggeser letak duduknya dan barulah ia menyampaikan pesan yang ia terima dari ki Talam. Semuanya ia tuturkan dengan runut tanpa mengurangi dan melebihi.


   Lurah Arya Dipa yang mendengar pesan itu tidak nampak perubahan ombak di wajahnya. Ini menandakan kalau Lurah muda itu lebih matang dalam menyikapi keadaan.


   "Wayah sepi bocah di gumuk luar kotaraja. Adakah kau mengatakan adanya pesan itu kepada yang lainnya, Ayu ?"


   "Baru adi Windujaya saja yang tahu. Eyang Begawan dan Kyai Jalasutro belum pulang dari kunjungan ke rumah  ayah Mahesa Anabrang."


   "Hm... Baiklah, aku akan meminta adi Windujaya untuk tetap berdiam di sini."


   "Tapi kakang.... " kata Ayu Andini yang mencemaskan suaminya.


   "Tak mengapa, Ayu. Berdo'a-lah meminta perlindungan Dzat Yang Maha Agung untuku."


   Sejenak kemudian Lurah Arya Dipa menemui Windujaya dan mengharap pertolongannya untuk menjaga kediamannya. Dan saat Lurah Arya Dipa akan menunggangi Jatayu, Begawan Jambul Kuning dan Kyai Jalasutro memasuki regol, kedua orang tua itu tertegun manakala melihat Lurah Arya Dipa sepertinya akan keluar.

__ADS_1


   "Akan mau kemana kau ngger ?" tanya Begawan Jambul Kuning.


   Dan Lurah muda itu menuturkan sebanarnya.


   "Jangan sendiri, anakmas." Kyai Jalasutro berkata, "Biarlah salah satu dari kami ikut bersamamu."


   "Terima kasih, Kyai. Biarlah aku sendiri saja, demi menghormati orang yang mengundangku itu." Lurah Arya Dipa berusaha menolak tawaran dari orang - orang tua itu, "Lebih baik eyang dan Kyai menjaga rumah ini."


   "Hm.. Baiklah dan berhati - hatilah."


   Sebelum pergi Lurah Arya Dipa memandang istrinya dan tersenyum, tak lupa juga mengangguk hormat kepada kedua orang sepuh. Lalu tak terlalu lama terdengarlah derap kaki Jatayu keluar dari regol dan laru kencang menapaki jalan.


   Gumuk di luar gerbang kotaraja semakin terlihat dihadapan mata. Petang mulai menyelimuti jalan yang biasanya sering dilewati orang - orang yang berlalu lalang ke kotaraja atau-pun sebaliknya. Tapi, saat wayah sepi bocah, jalan ity tampak lengang dan terbilang sepi.


   Tiada cahaya sedikit-pun yang menerangi jalan menuju gumuk itu. Apalagi bulan wayah tilem, dimana cahaya pantulan matahari tak ada. Semakin gelaplah suasana gumuk tersebut. Meskipun begitu, seorang penunggang kuda tetap tegar menyibak kegelapan yang menghadang. Penunggang kuda yang tiada lain ialah Lurah Arya Dipa, terus memacu kuda mendekatu gumuk.


   Tepat dua langkah dekat pohon mahoni, Lurah Arya Dipa turun dan menuntun Jatayu dan mengikat kuda itu di pohon tersebut. Selanjutnya ia memperhatikan keadaan sekitar dengan teliti, tiada sejengkal-pun terlewatkan sedikit-pun. Mata setajam garuda yang dilambari aji pandulu dapat menjadikan mata pemuda itu awas. Keadaan yang begitu gelapnya, tersibak dan mampu dilihat apabila ada sesuatu gerak yang ditimbulkan entah itu serangga atau-pun angin.


   Lima tombak dari tempat Lurah Arya Dipa berdiri, dua orang berjongkok sembari menyembunyikan keberadaannya. Meskipun begitu itu semua sia - sia belaka, Lurah Arya Dipa dapat mengetahui keberadaan mereka. Itu terbukti ketika Lurah muda menyapa dengan halus.


   "Selamat malam, kisanak. Aku datang memenuhi undangan kalian !"


   Hati kedua orang itu tercekat. Keduanya tak mengira kalau pemuda itu dapat mengetahui keberadaan mereka dengan mudahnya. Padahal jarak lima tombak serta digelapnya malam ditambah rapatnya semak belukar. Tetapi sebagai seorang yang sudah berpengalaman terjun dikancah olah kawijayan dan kerasnya dunia, keduanya berusaha mengumpulkan kembali kebulatan hati, dan keduanya bergegas keluar.


   "Warta yang ditiup angin itu rupanya tidak salah sedikit-pun." ucap seorang yang bersedekap, "Lurah muda yang memiliki segudang ilmu kawijayan dan kadigdayan, sayang ia menempatkan dirinya diseberang jalan."


   Lurah Arya Dipa mengernyitkan alisnya. Tidak satu-pun dari keduanya yang ia kenali. Tetapi sepertinya mereka banyak mengetahui tentang dirinya. Hanya satu kesimpulan yang pasti dapat disimpulkan dari perilaku orang - orang itu yang ia duga.


   "Kisanak, apa maksud kisanak berkata seperti itu ? Dan siapakah kalian ini ?" tanya Lurah Arya Dipa.


   Satu orang yang lain mendehem dan selanjutnya angkat bicara, "Huh, kita sudahi saja pembicaraan yang sia - sia ini. Galah, sebaiknya kita selesaikan saja dan segera kembali ke Wetan."


   "He, jaga ucapanmu, Supa.. " bisik Galah yang sedikit kecewa atas kesembronoan kawannya.


   Meskipun orang yang bersedekap itu tadi berbisik, Lurah Arya Dipa dapat menangkap dan ia mengangguk semakin nyata dugaan dalam hatinya.


   "Malam ini adalah malam terakhirmu, anak muda !" seru Supa.


   Tahu - tahu Supa sudah meloncat dengan gerakan membacok. Angin yang ditimbulkan tak olah - olah. Serangan cepat dan tak terduga itu penuh ancaman yang dapat mencelakakan. Dengan keyakinan tinggi Supa merasa pastu dapat menempatkan pedangnya dibagian tubuh lawannya. Tetapi alangkah terkejutnya manakala pedangnya hanya menemui angin belaka.


   "Sial !" umpatnya, tetapi cepat Supa meloncat menjaga jarak.


   Untunglah lawannya tidak berniat membalas, melainkan hanya menanti apabila kawan Supa bergerak menyerang. Sebenarnya lawannya yang muda itu masih ingin menjajaki kemampun Supa.


   Di lain sisi, Supa merasa terkejut dengan kemampuan lawannya. Ia tak mengira jika lawannya itu dapat menghindari kecepatannya dengan mudah.


   "Galah, ayo !" ajak Supa sebagai tanda untuk bergerak.


   Galah menggangguk tanda setuju. Maka keduanya sudah bergerak menyerang dengan senjata terhunus. Terjadilah perkelahian yang seru di gumuk pada malam itu, hentakan demi hentakan mengalun menimbulkan angin tersibak sedemikian rupa.


   Suatu kali pedang Supa menebas lawannya, tetapi lawannya yang hanya mengisar kakinya dapat mengelak. Namun saat itu juga, Galah sudah menanti menggunakan tajamnya senjata mengarah lambung lawannya. Dan sekali lagi sergapan itu terhindarkan oleh lawan.


   Walau begitu, kedua tak pernah memadamkan ketekadtannya untuk mencacah tubuh lawan satu ini. Rasa penasaran yang amat sangat menggelitik hati keduanya dan menambah gelora yang tinggi. Karenanya semangat besar itu menggerakan keduanya semakin hebat dalam menggempur lawan muda tersebut.


   Putaran - putaran senjata berbagai gerak melibas segala arah tubuh Lurah Arya Dipa. Pemuda itu luar biasa dalam setiap langkahnya. Gerakan lincah bak burung garuda terus diperagakan dengan indahnya. Kesebatan senjata lawan sulit menemui sasaran berupa tubuh Lurah Arya Dipa. Padahal lawannya bukanlah orang yang tak tahu tingginya dunia olah kanuragan.


   Waktu terus berlanjut semakin seru. Perkelahian sudah berlarut - larut tiada ujung. Keringat Supa dan Galah menyembul merembes membasahi pakaian. Tetapi belum jua mereka dapat melukai kulit lawan. Jangankan kulit, bayangan pakaiannya saja tak dapat dikenai barang sedikit-pun. Padahal keduanya sudah mengerahkan semua tenaganya, bahkan tenaga cadangan-pun sudah dihentakan sedemikian derasnya.


   Demikian itu merupakan usaha dari Lurah Arya Dipa untuk menguras tenaga lawannya dan juga untuk menangkap keduanya hidup - hidup. Dan yang paling pasti adalah mencari kepastian dugaan orang dibalik kejadian ini. Sehingga upaya pelemahan dilakukan dengan memaksa lawannya bergerak lebih sering.


   "Setan alas !" umpat Supa sembari menyeka keringat di dahinya.


   Belum lagi keringat di dahinya kering sepenuhnya, juluran tangan telah mengagetkan Supa. Tak sempat dirinya menepis atau menghindar, dan akibatnya tubuhnya terdorong ke belakang dan membuat tubuhnya bergulingan melanda tanah. Hanya bibir saja yang akhirnya merintih kesakitan, dimana merasakan tubuhnya yang bagaikan ditusuk - tusuk jarum, pediu dan nyeri sampai ke tulang sumsum.


   Mendapati kawannya tumbang, Galah semakin menggebu - gebu kemarahan bercampur kesal. Tangkai pedang yang tergenggam erat, ia gerakan menusuk lawan. Kali ini tusukan ia lambari dengan kekuatan penuh. Ia berharap kali ini merupakan serangan pamungkas untuk mengakhiri lawannya. Tetapi alangkah sembrononya Galah, lawannya yang masih berdiri membelakanginya dapat merasakan angin yang menderu. Hanya sekali sebat, lawannya mengisar kaki sembari meraih pergelangan tangan Galah. Selanjutnya tangan satunya sudah menyentuh leher belakang Galah.


   Suara pedang jatuh terdengar dibaringi jerit kecil daru mulut Galah. Orang itu lunglai tak sadarkan diri dalam kekuasaan Lurah Arya Dipa.


   Dalam pada itu dari bawah pohon randu, terdengar gerung menyeramkan. Gerung kegeraman dari seseorang yang menyaksikan kekalahan Supa dan Galah. Dan tidak menunggu lebih lama, orang itu meloncat mendekati bekas kalangan.

__ADS_1


   Kedatangan orang itu membuat Lurah Arya Dipa mengerutkan alisnya. Ia merasa pernah bertemu dengan orang tua itu. Dan sejenak kemudian barulah ia ingat dengan orang tersebut, yaitu tatkala ramainya perebutan pusaka kyai Sangkelat di tepian sungai Brantas, pada tahun - tahun yang lalu.


   "Anak sombong, jangan kau deksura dengan hanya merobohkan cecunguk - cecunguk itu !" seru orang tua itu.


   "Ah, ki Sardulo Liwung salag mengerti. Aku berlaku sewajarnya saja." ucap Lurah Arya Dipa.


   "Hmm... " desuh ki Sardulo Liwung, sambil mengibaskan tangannya.


   Ternyata orang tua itu adalah tokoh kanuragan pesisir kidul di Bang Wetan. Seorang ahli kanuragan yang mendapat gelar macan pesisir Prigi, karena asalnya memang dekat dengan pantai Prigi. Orang ini juga salah seorang yang mendebarkan dengan ilmu Serat  Tirta serta auman aji Pekik Sardulo. Dahulu dikala perebutan Kyai Sangkelat, ki Sardulo Liwung ikut bersama - sama kelompok Raden Sajiwo, tetapi usaha kelompok itu hancur atas munculnya Lurah Arya Dipa dan Jati Pamungkas atau orang bercambuk. Semenjak kekalahannya itulah ki Sardulo Liwung bertekad mengobati rasa kekalahannya dengan cara mencari dua pemuda tersebut. Kini akhirnya ia dapat menjumpai salah satunya. Maka saatnya-lah rasa sakit hatinya akan ditumpahkan kepada pemuda itu.


   Tak perlu lama - lama, ki Sardulo Liwung mulai merangsek ke depan. Tangan kanan berlambarkan pukulan mematikan sudah siap menggebrak. Dalam pikiran orang tua itu hanyalah hasil kematian daripada pemuda itulah yang diharapkan. Karena itulah sejak serangan pertama, ki Sardulo Liwung sudah menerapkan kemampuannya dengan sepenuhnya.


   Tetapi Lurah Arya Dipa bukanlan orang - orangan sawah yang diam sebagai sasaran latihan. Dia merupakan manusia pilih tanding yang memiliki naluri kehidupan. Apalagi dirumah, seorang wanita muda menunggu bersama calon jabang bayinya. Karenanya, Lurah muda itu mau tidak mau harus menerapkan ilmunya. Selapis aji Niscala Praba mulai menyelimuti tubuhnya.


   "Ceees..... !"


   Pertemuan pertama telah membuat keduanya terhenyak. Ki Sardulo Liwung tak mengira kalau pukulan berlambarkan aji Serat Tirta terhambat sesuatu yang tidak kasat mata. Sementara bagi Lurah Arya Dipa, pukulan itu dapat menggetarkan lapisan aji Niscala Praba, meskipun baru permukaannya saja.


   Walau begitu, perkelahian tetap berlanjut dengan adu siasat dari tata gerak masing - masing. Serulah malam di gumuk itu dengan adanya dua manusia luar biasa yang mendapat limpahan dari Dzat Suci. Angin menderu - menderu membuat debu berterbangan, begitu-pun halnya dengan daun - daun yang menguning telah rontok dari dahan - dahannya.


   Pergerakan - pergerakan hebat menyembur saja tanpa hambatan dari sumber - sumber masing - masing. Satu sisi tata gerak bercorak pesisiran, menggambarkan kencangnya ombak mengalun deras membuncah dan menerpa batu karang. Sisi lain juga tak kalah hebat, dimana pemuda satu itu layaknya burung garuda yang mengepakan sayap demi menghindaru terjangan ombak, dan suatu kali cakar tajam menyusup membelah ganasnya ombak. Sungguh hebat dan mendebarkan malam itu, dimana bulan tilem menjadi saksi keperkasaan manusia, walau-pun bila dibandingkan dengan Sang Pencipta, itu tiada nampak.


   Malam semakin merambah singgasananya, perkelahian itu juga merangkak semakin tinggi dalam tatarannya. Pintu gudang perbendaharaan ilmu terbuka lebar menampakan bermacam ilmu yang mereka pelajari. Tata gerak aneh dan cepat terus mengganas mencaru mangsa dan melahap tanpa rasa jerih. Pukulan, tendangan, gaplokan, sodokan, sepakan, bahkan kepala-pun ikut menyuarakan keganasannya.


   "Rasakan ini... !" teriak ki Sardulo Liwung sembari mengangkat kakinya.


   Lawannya dengan sebat mengingsar kaki dibarengi serangan susulan. Namun ki Sardulo Liwung bermata tajam. Serangan lawan akan dihadangya dengan cepat. Tetapi rupanya lawan bergegas menarik serangannya dan mengganti dengan melakukan sodokan. Hampir saja ki Sardulo Liwung terkena jikalau tidak bergegas meloncat kesamping.


   Berhasil mengelak, ki Sardulo Liwung sudah lekas membalas. Tangannya berhawa dingin akan mencengkeram tubuh lawan. Jika itu berhasil, ki Sardulo Liwung berkeyakinan dapat membekukan lawan. Namun rupanya lawan masih dapat menghadapi ilmu itu. Itu dikarenakan adanya lapisan aneh yang menyelimuti tubuh lawan.


    "Ilmu apa yang ia pakai ?" desis ki Sardulo Liwung dalam hati, sambil terus menajamkan indra penglihatannya.


   "Haiiih... " kerongkongan ki Sardulo Liwung bagai tersumbat, karena takjub setelah dapat dengan jelas melihat warna menyelimuti tubuh lawan.


   "Ada apa, ki Sardulo ?" tanya Lurah Arya Dipa, memberikan waktu untuk lawannya.


   "Dari mana kau dapatkan ilmu langka itu ?!" ki Sardulo Liwung malah balik bertanya.


   "Akankah aku harus menceritakan kepadamu, ki ?" kata Lurah Arya Dipa, "Hm.. Bila ki Sardulo ingin tahu, sebaiknya marilah singgah untuk sekedar minum wedang sere."


   "Bangsat kau anak muda !" umpat ki Sardulo Liwung, "cepat katakan ilmu kerajaan Kadiri itu bagaimana kau dapatkan !"


   "Hm... " desuh Lurah Arya Dipa sambil menggelengkan kepalanya, "Maaf ki, aku tak dapat membicarakannya."


   "Setan alas !" seru ki Sardulo Liwung, "Kalau begitu kau akan membawanya sampai ke alam kelanggengan !"


   Habis berucap, ki Sardulo Liwung berseru keras, tetapi bukan sekedar berseru, melainkan Pekik Sardulo membahana membuat malam bergetar. Hal itu sekejap membuat Lurah Arya Dipa terhenyak dan menekan dadanya yang hampir jebol, aji Pekik Sardulo milik ki Sardulo Liwung sungguh menakjubkan. Untung saja lawannya yang masih mudah itu dapat menguasai gelora dalam tubuhnya dan mampu menahan debar jantungnya.


   Dalam pada itu, ki Sardulo Liwung tidak berhenti sampai disitu saja, tubuhnya dengan pesat melabrak lawannya. Tata gerak berupa liukan tangan dibarengi gerungan keras menitik beratkan dada lawan. Bukan olah - olah jika tangan itu mendarat tepat di dada lawan, bahkan kerasnya bebatuan gunung akan ***** berkeping - keping, serta ditambah hebatnya lambaran aji Pekik Sardulo yang menyasar pendengaran lawan.


   Tetapi Lurah Arya Dipa tidak tinggal diam. Serangan dua jenis dari lawan bergegas ia tanggapi menggunakan ilmu yang ia sadap dari kitab Cakra Paksi Jatayu. Pertama dipertebal dinding pendengaran menggunakan aji Niscala Praba, lalu selanjutnya tangannya ikut bergerak menyongsong gempuran dari lawannya. Dikedua tangan sudah diterapkan aji Sepi Angin demi mempertahankan nyawa di raganya.


   Tidak terlalu lama, gumuk itu bergetar hebat bagai terhantam pusaran badai. Rumput dan tanah berterbangan mewarnai gelapnya malam, menambah pekatnya udara di gumuk itu. Dua manusia di dalam pusaran terlihat masih bersentuhan sepasang tangan mereka, beradu kepalan. Diam mematung tak bergeser sedikitpun, layaknya batu karang yang kokoh tak mempan diterjang ombak samudra.


  Kepekatan debu seiring waktu luluh lunglai keperaduan bumi. Sayup - sayup desir halus dari gerakan kaki yang bergesekan dengan tanah, terdengar lirih. Ki Sardulo Liwung terseok - seok mundur menjauhi titik temu. Pelan namun pasti, wajahnya terlihat memucat. Bibirnya yang masih terbungkam, dari sela - selanya muncul warna merah mengalir ke dagunya. Dengan menggunakan pakaian dilengannya, ia berusaha menyapu darah tersebut. Sementara tangan satunya sibuk menekan dadanya.


   "Serat Tirta dan Pekik Sardulo tak mempan... " desis ki Sardulo Liwung, "Hm.. Jika aku teruskan, akulah yang binasa termakan ilmu pemuda itu.. "


   Terpaksa orang tua dari pantai Prigi itu menebalkan wajahnya sekali lagi. Bergegas ia angkat kaki menjauhi gumuk tersebut tanpa menoleh. Walau terluka dalam, ki Sardulo Liwung masih dapat menguasai tubuhnya dan memesatkan langkah kakinya.


   Sementara itu, Lurah Arya Dipa yang masih berdiri dengan sikap menyerang, masih diam tak bergerak. Tangannya masih terangkat menjulur ke depan dengan kepalan yang masih kuat. Dan sebenarnya saat lawannya terseok - seok lalu meninggalkan kalangan, Lurah Arya Dipa tahu pasti, namun ia masih diam saja membiarkan. Barulah ketika wujud ki Sardulo Liwung lenyap, tangan pemuda itu berangsur turun dan kaki yang merenggang mulai rapat kembali.


   Sejenak pemuda itu mengambil sikap duduk bersila serta mengatur pernapasaannya. Aliran darah di tubuhnya yang awalnya bergejolak, berangsur tenang dan mengalir wajar kembali. Dadanya yang bagaikan tersumbat bongkahan batu dingin-pun, seolah mencair membuat dadanya lapang sediakala. Meskipun begitu, tak urung darah membasahi bibirnya. Maka lekas ia bersihkan dan tak lupa mengabil butir obat dari bumbung yang terselip di ikat pinggang, untuk kemudian ia telan.


   "Gusti Allah masih menaungi-ku.. " desisnya perlahan.


   Di sapunya sekitar gumuk. Dua sosok menggeletak yang ia kalahkan sudah tak terlihat. Entah ada yang mengambil atau mereka sendiri sadar dan meninggalkan gumuk ? Tidak tahu pemuda suami Ayu Andini. Sejenak ia kibaskan debu yang menempel di pakaiannya, dan selanjutnya pergi menghampiru kudanya.


   Lurah Arya Dipa meninggalkan gumuk tersebut dengan hati penuh syukur. Dirinya masih diberi kesempatan untuk berkumpul kembali dengan keluarganya, setelah beradu nyawa dengan orang - orang yang menghendaki nyawanya melayang.

__ADS_1


__ADS_2