BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
132


__ADS_3

 Perubahan mulai terjadi manakala Lintang Kemukus mulai menerapkan ilmunya. Dua sosok menyerupai diri Lintang Kemukus muncul dari balik tubuh orang bertopeng berbaju hitam tersebut. Rupanya ilmu langka dari jenis aji Kakang Pambarep Adi Wuragil dimiliki oleh tangan kanan Panembahan Bhre Wiraraja.


   Sosok asli dari Lintang Kemukus berdiri bersedekap berada di tengah sosok lainnya. Namun kemudian saat kedua tangan Lintang Kemukus terurai, dua sosok lainnya langsung bergerak menyilang menyerang Kilatmaya. Dua sosok itu menyerang gencar tanpa ampun yang membuat lawannya terus menggeser kaki surut kebelakang, demi menghindari ganasnya serangan.


   Dimana tangan sosok satunya melakukan sodokan ke tubuh lawan dan lawan menghindar, maka sosok lainnya sudah menanti dengan ancaman nyata yang tak olah - olah akibatnya. Hal itulah yang menjadikan Kilatmaya berhati - hati sekaligus meningkatkan ilmu meringankan tubuh lebih tinggi lagi. Bila kurang cepat, tak pelak tubuhnya akan ***** tertumbuk tenaga lawannya. Sehingga semakin serulah perkelahian yang melibatkan Kilatmaya dan dua sosok Lintang Kemukus.


   Selapis demi selapis segala ilmu meningkat untuk melayani tandang lawan yang ngedab - ngedabi. Lapisan Niscala Praba dalam menyelimuti tubuh Kilatmaya semakin terang dan menyilaukan. Belum lagi ditambah kegesitan kakinya yang bergerak kian kemari layaknya bilalang saja. Ini menunjukan betapa pemuda bertopeng tersebut bersungguh - sungguh dalam menghadapi lawan yang tangguh itu.


   Hentakan demi hentakan berlangsung seru dan mendebarkan. Perkelahian di tengah antara Kilatmaya dan Lintang Kemukus yang sama - sama memakai topeng, menjadikan pertarungan tersendiri dari sebuah kalangan. Bahkan pasukan kedua belah pihak, seakan - akan menyingkir dari arena.


   Tengah berlangsungnya pertempuran, dua sosok yang menyerupai Lintang Kemukus merangsek ke depan secara bersamaan. Tata gerak yang diperagakan sangatlah mirip satu dengan lainnya yang menimbulkan gelombang dahsyat melanda Kilatmaya. Dan bukan hanya itu saja, gelembung merah dari ilmu Prahara Geni ikut bergolak mencari mangsa.


   Kejadian itu sangatlah mengerikan jika yang dihadapi hanyalah orang biasa yang tak dibekali ilmu kanuragan dan kajiwan. Sekali gelembung merah tersebut menyentuh kulit, akibat yang ditimbulkan bisa menjadikan kulit lumer.


   Untung saja Kilatmaya adalah seorang pemuda yang mendapat karunia berupa tubuh dan tulang bagus, serta mendapat pembelajaran dari kitab Cakra Paksi Jatayu dan kitab dari Panembahan Anom. Sehingga walau mendapat serangan berupa aji hebat serta menghadapi dua sosok dari ilmu Kakang Pambarep Adi Wuragil, kemampuan Kilatmaya masih dapat melayaninya dengan baik. Tak heran jika lawannya kagum dan penasaran atas kemampuan pemuda berbaju kuning kecoklatan itu.


   Karenanya, sosok asli dari Lintang Kemukus tak mau menunggu lagi. Terjadilah kini seorang dikerubut tiga sosok Lintang Kemukus sekaligus. Seru dan sengitlah apa yang terjadi. Serangan bertubi - tubi dari segala arah terus mencerca pemuda unggulan dari Demak. Serangan dari sosok satu, dilanjut sosok kedua dan disambung oleh sosok ketiga.


   "Sehebat - hebatnya manusia, jika terus bergerak, tentu ia akan kelelahan sendiri." barin Lintang Kemukus.


   Tapi apa yang diperkirakan oleh Lintang Kemukus berbeda jauh. Kilatmaya tidak menampakan kalau tubuhnya semakin melemah, malah tubuh itu bertambah srbat dan cekatan dalam melakukan penghindaran serta serangan balasan yang dapat mengejutkan Lintang Kemukus.


   " Gila orang ini !" seru Lintang Kemukus dallam hati.


   Belum lagi rasa geramnya tersapu, Lintang Kemukus dikejutkan oleh gerakan lawannya yang srkali gerak dapat melenyapkan ilmunya. Dua sosok dari ilmunya lenyap tak terbekas.


   " Bangsat.... !" umpat Lintang Kemukus dengan kasarnya.

__ADS_1


   "Jagalah ucapanmu yang kasar itu, Lintang Kemukus." ucap Kilatmaya, dengan sareh.


   "Selain itu, lihatlah sekitarmu. Pasukan yang kau bawa dalam kesulitan jika perang ini dilanjutkan." Kilatmaya mencoba memberikan waktu agar lawannya memperhatikan sekitar.


   Tanpa sadar Lintang Kemukus memperhatikan sekitarnya. Memang apa yang diucapkan oleh lawannya, benar adanya. Hanya satu dua orang saja yang masih berkelahi dengan hebatnya, salah satunya Pangeran Arya Singasari yang menghadapi seorang kakek dan Pendeta Padutapa yang dihadapi seorang lelaki.


   "Hm... Lebih baik kami menyingkir dan mencari waktu yang tepat." batin Lintang Kemukus.


   Usai berpikir dan memantapkan untung ruginya, tangan kanan Panembahan Bhre Wiraraja membunyikan isyarat. Sebuah isyarat menjalar kesemua pasukan Bang Wetan itu langsung dapat dimengerti dan segera dilakukan. Maka terjadilah perubahan cepat yang mampu membingungkan pasukan Demak. Saat seperti itulah, dimanfaatkan bagi pasukan Bang Wetan untuk menarik pasukan dengan tertib dan lenyap dibalik semak belukar hutan.


   " Jangan dikejar !" seru Panji Gajah Sora, senopati Demak, "Rawatlah kawan kalian dan kumpulkan yang telah mengorbankan nyawanya."


   Perintah itu cepat dikerjakan oleh prajurit Demak. Satu persatu tubuh yang terluka entah itu kawan maupun lawan segera mendapat pertolongan dari tabib yang diikutkan. Serta tubuh prajurit yang tak bernyawa pun, tak ketinggalan untuk dirawat semestinya.


   Seekor kuda dari prajurit penghubung terdengar memasuki perkemahan pasukan Demak di bawah senopati Panji Gajah Sora. Prajurit itu mewartakan kalau pasukan Demak yang ikut membantu laskar Banyubiru berhasil melumpuhkan gerombolan golongan hitam. Selain itu, sebuah pesan khusus diperuntukan bagi orang bertopeng untuk bergegas ke padukuhan induk Banyubiru.


   "Oh, kau adi Kilatmaya." tegur Sawungrana.


  Kilatmaya mencoba bertanya kepada salah seorang pemimpin laskar Banyubiru itu, "Apa yang sebenarnya terjadi, kakang ?"


   Sawungrana menghela napas dan nada suaranya mengandung rasa sedih yang mendalam, "Putra ki Ageng Lembu Sora tewas dalam pertempuran."


   "Oh... Adi Arya Salaka-kah yang membunuhnya ?"


   Kepala Sawungrana menggeleng, "Bukan. Ia mendapat luka parah dari Bugel Kaliki."


   Tentu saja Kilatmaya terkejut. Bukankah putra ki Ageng Lembu Sora datang bersama Bugel Kaliki dan lainnya ? Bagaimana hal itu bisa menimpa sepupu Arya Salaka ?

__ADS_1


   "Mari kita menaiki pendopo, adi. Sekalian akan aku ceritakan apa yang terjadi." ajak Sawingrana.


   Agar semakin jelas apa yang terjadi, Kilatmaya mengiyakan dan mengikuti langkah Sawungrana yang berjalan membelah halaman menuju pendopo kabuyutan.


   Helaan napas terlihat dilakukan Kilatmaya setelah mengerti apa yang terjadi. Tetapi sebuah rasa syukur sempat hadir saat mengetahui kalau Sawung Sriti yang sadar akan kekeliruannya dan membantu Arya Salaka menghadapi Bugel Kaliki. Meskipun pada akhirnya Yang Kuasa menentukan pati anak tunggal ki Ageng Lembu Sora ditangan Bugel Kaliki.


   Selain itu dari Sawungrana , Kilatmaya mengetahui keberadaan beberapa orang golongan putih yang hadir ke telatah Perdikan Banyubiru. Tak tanggung - tanggung, ki Ageng Sora Dipayana dan ki Ageng Pandan Alas hadir. Juga nama seorang pemuda yang tak asing ditelinganya, Mas Karebet atau Joko Tingkir yang disertai oleh ki Sembada atau ki Kebo Kanigara.


   "Apa yang diucap oleh eyang Panembahan Ismaya, terwujud. Seseorang yang berjodoh dengan kyai Sangkelat telah hadir." batin Kilatmaya.


   Suasana semakin menyayat kalbu saat kaki menginjak pendopo. Di tengah pendopo terbujur sosok tubuh yang ditutup kain jarit. Disampingnya seorang lelaki yang rambutnya mulai beruban, menangis sambil terus menyesali nasib putranya. Sedangkan di ruang dalam terdengar suara wanita yang menjerit - jerit ditenangkan oleh beberapa wanita lainnya.


   "Inilah maut. Sebuah pelajaran bagi yang menyaksikan. Saat ini tubuh pemuda itu yang terbujur kaku. Dan entah besok atau kapan ? Giliran kita yang akan mengalaminya." desis seorang kakek yang duduk didekat Kilatmaya.


   Pemuda bertopeng itu mengiyakan apa yang diucapkan kakek itu. Dan tanpa sadar Kilatmaya memandang wajah kakek yang duduk di dekatnya. Oh.. Kejut melanda hati Kilatmaya.


   "Kanjeng Sunan..."


   "Hohoho... Bukan ngger, aku hanya kakek dari Kali Progo." desis kakek itu perlahan, "Kau pasti mengertikan apa yang aku maksud ?"


   Tubuh Kilatmaya bergetar, tetapi ia berusaha menenangkan perasaannya supaya tidak memancing perhatian banyak orang. Pemuda itu tak mengira akan menjumpai seorang suci yang pernah memberikan pelajaran baginya berupa petuah kehidupan, saat di Kadilangu.


Saat itulah ditelinga Kilatmaya terdengar jelas sebuah suara merdu mengajaknya berbincang. Dan ia yakin kalau suara itu beradal dari kakek yang mengaku dari kali Progo, meskipun tak nampak gerak dari bibirnya.


"Panembahan Ismaya sudah memberitahukan mengenai tugas yang kau emban, ngger. Kedatanganku saat ini ialah yang akan melanjutkan dalam menyimpan kyai Sangkelat sampai waktu pusaka itu berada dalam pegangan angger Karebet." kata kakek dalam pendengaran Kilatmaya.


"Kembalilah ke Karang Tumaritis. Suatu waktu kau bersama Panembahan Ismaya akan kembali bersua dengan Mas Karebet juga Sultan Demak."

__ADS_1


Kilatmaya mengangguk hormat. Sejenak setelah pamit, pemuda itu bangkit berdiri dan meninggalkan pendopo.


__ADS_2