BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
52


__ADS_3

Perlu kisanak semua ketahui, kawula Pengging merupakan kawula yang manunggal dengan pemimpinnya, yaitu ki Ageng Pengging Anom. Waktu aku masih muda, aku pernah mengunjungi Pengging ke rumah kawanku yang bernama ki Singo Luwuk, dari dirinyalah aku mendapat keterangan yang mengagumkan mengenai ki Ageng Pengging dalam memimpin kawulanya." kembali ki tumenggung Suranata menghirup napas.


"Raden Kebo Kenongo dalam memimpin kawulonya sangat berbeda dengan kanjeng adipati Handaningrat. Ia lebih mengutamakan agama dengan penuh kedamaian serta hidup bertani. Bahkan ia membubarkan prajurit Pengging dan menyuruh mereka untuk bergelut dengan lumpur di sawah saja." lanjut ki tumenggung Suranata.


"Apakah para bekas prajurit kadipaten itu menerima dengan perintah itu, ki tumenggung ?" tanya ki Rangga Angkayudu.


"Itulah hebatnya raden Kebo Kenongo." puji ki tumenggung Suranata, "Kewibawaannya telah membuat para bekas prajurit dan abdinya bagai kerbau dicocok hidungnya. Dengan hati lapang mereka mengikuti perintah itu, serta dalam hati mereka tetap menganggap ki Ageng Pengging tetap seorang pemimpin sejati dan berikrar setia kepada ki Ageng Pengging Anom yang berpakaian layaknya kawulo pada umumnya."


"Maaf, ki tumenggung. Lalu Adakah hubungannya dengan keengganan ki tumenggung melewati telatah itu ?" akibat rasa penasaran, ki rangga Angkayuda memberanikan bertanya.


"Baiklah, ada sebuah rahasia yang ditimbulkan dari akibat kematian ki Ageng Pengging. Yaitu pasukan Demak dilarang memasuki telatah Pengging, kecuali melepas senjatanya" jawab ki tumenggung Suranata dengan sarat.


Semua orang yang hadir tampak bergeremang satu dengan lainnya. Hal itu pun tak lepas dari pengamatan ki tumenggung Suranata.


"Kalian tentu berpikir hal itu mustahil, bukan ?" panglima Demak bergegas menyerampaki pertanyaan, "Namun itulah kenyataan yang tak boleh dilanggar oleh Demak, dan itu sudah disepakati oleh kanjeng Sultan Jimbun demi menghormati ki Ageng Pengging yang masih kerabat sendiri."


Demi mendengar kata terakhir yang menyangkut mendiang kanjeng Sultan Jimbun disebut, akhirnya mereka yang hadir di dalam tenda itu tiada lagi mempermasalahķan jalan yang akan mereka tempuh.


Sementara itu di luar tenda yang letaknya paling pinggir, ki lurah Arya Dipa duduk menyendiri memikirkan mengenai hiĺangnya dua keris pusaka Demak, kyai Naga Sasra dan kyai Sabuk Inten.


"Mengapa kejadian itu bertepatan dengan perang ini ?" tanyanya dalam hati, "Apakah ini perbuatan orang bang wetan ? Ataukah ada kaitannya seperti peristiwa hilangnya keris kyai Setan Kober dari Pesantren Kudus ?"


Malam itu langit cerah dengan adanya lintang gemintang yang berkelip indah memamerkan keindahan yang tak terkira, tapi ki lurah Arya Dipa yang sedang di alam rasa penasaran menyangkut hilangnya dua pusaka Demak dan kepergian ki rangga Tohjaya, tak tertarik sama sekali. Bahkan angin dingin yang menusuk - nusuk serta ganasnya nyamuk, tak ia rasakan.


"Kenapa kau ngger ?" tiba - tiba seseorang menegur seraya menepuk pundaknya.


"Oh paman ?" kejut ki lurah Arya Dipa, sambil mengucek matanya tanda tak percaya, "Benarkah ini, paman ?"


"Hahaha, lalu kalau bukan aku, siapa ngger ?" sahut orang itu dengan tawa renyah.


Kedatangan orang yang sangat dikenal oleh ki lurah Arya Dipa, membuat hati pemuda itu bagai bertemu orang tuanya sendiri. Karena sesungguhnya orang tua yang kini berada di depannya itu memang sudah ia anggap sebagai orang tuannya dan ia hormati, dan tiada lain orang ini yaitu empu Citrasena ayah angkat Ayu Andini. Lalu keduanya saling melepas rasa rindu dan menanyakan kabar masing - masing, serta orang yang ditinggalkan.


"Oh paman, mari ke tenda." ajak ki lurah Arya Dipa.


"Terima kasih, ngger. Lebih baik disini saja, karena aku ingin segera melanjutkan langkah kakiku." Empu Citrasena berusaha menolak.


"Mengapa paman buru - buru ? Apakah paman akan ke Demak ?"


"Tidak ngger, sudah sepekan yang lalu aku di Demak dan mempunyai kesempatan bertemu dengan putriku." jawab Empu Citrasena, "Dia menitipkan ini untukmu."


Usai berkata demikian, empu dari Kadiri itu mengambil sesuatu dibalik pakaiannya dan menyerahkan kepada ki lurah Arya Dipa. Secarik surat dengan lipatan rapi mengandung aroma wangi dihidung.

__ADS_1


Sambil menerima secarik surat itu, sekilas menghias rona merah di raut wajah pemuda yang berbadan kokoh itu.


"Bukalah nanti saja, ngger." kata Empu Citrasena, "O ya, kau tadi sepertinya sedang memikirkan sesuatu, bolahkah kalau pamanmu ini mengetahui barang sedikit ?"


"Oh.. " desuh ki lurah Arya Dipa sambil menyimpan lipatan surat itu, lalu kemudian mengutarakan apa yang ia pikirkan kepada Empu Citasena, "Paman, hati ini terasa ada sesuatu yang mengganjal sehingga membuat pikiran ini gelisah. Ini dikarenakan aku sedang mengurai sebuah peristiwa yang menyangkut Demak."


"Maksudmu perang ini ?"


"Itu salah satunya paman, tapi yang tak kalah menggelisahkan ialah hilangnya dua pusaka Demak." ucap ki lurah Arya Dipa.


Empu Citrasena mengangguk perlahan sambil menggeser letak duduknya, empu keponakan dari Empu Supa ipar kanjeng Sunan Kalijaga itu melempar pertanyaan.


"Angger Dipa, yang kau maksud itu bukankah kyai Naga Sasra dan Sabuk Inten kah ?"


"Benar paman. Bagaimana paman mengetahui hal itu ?" rasa heran menyelimuti rona ki lurah Arya Dipa.


"Begini ngger, waktu aku berangkat ke Demak tanpa sengaja aku mendengar adanya sebuah pertempuran seru. Di mana seorang lelaki yang sebaya denganku menghadapi segerombolan perampok yang terkenal kejam dan ganas." Orang tua itu berhenti sejenak demi melihat kesan yang ditimbulkan oleh ki lurah Arya Dipa.


"Apakah paman membantu orang tua itu ?" tanya ki lurah Arya Dipa.


"Awalnya aku hanya melihat saja, ngger. Karena orang tua yang aku kenal sebagai Buyut Banyubiru..."


"Oh.. maksud paman, Ki Ageng Sora Dipayana ?" potong ki lurah Arya Dipa, yang kemudian menyadari kesalahannya yang telah memotong kata Empu Citrasena, "Maaf, paman."


"Oh... " kembali ki lurah Arya Dipa terkejut demi disebut nama gerombolan Lowo Ijo.


Sebuah gerombolan besar dan kejam yang masuk buruan kerajaan Demak.


"Ki Ageng Sora Dipayana memang seorang yang pinunjul dalam olah kanuragan, kemampuannya sekelas ki Ageng Sela, ki Ageng Pandan Alas, Resi Puspanaga, Panembahan Ismoyo, Ki Ajar Bajulpati, ki Singo lodra, Adipati Handaningrat, Panembahan Sekar Jagat, Kyai Bagor dan Begawan Jambul Kuning yang tak lain kakekmu sendiri."


"Oh, termasuk eyang Jambul Kuning.. "


"Benar ngger." tegas Empu Citrasena, "Termasuk para orang suci yang kita kenal dengan sebutan Sunan."


"Kembali ke pokok cerita tadi, dimana ki Ageng Sora Dipayana menghadapi para gerombolan Lowo Ijo ternyata sedang merebutkan sebuah bungkusan dari kain putih bersih. Yang mana setelah aku ketahui kemudian, ternyata isi bungkusan kain putih itu yaitu pusaka sipat kandel Demak."


Bila terdengar suara gemuruh, hentakannya tak akan keras seperti rasa kejut di hati ki lurah Arya Dipa. Ledakan kejut di bumi rasa hati anak muda itu begitu riuh dan mengguncang geloranya.


"Begitulah, ngger. Buntalan itu keris kyai Naga Sasra dan Sabuk Intan, yang dicuri oleh Lowo Ijo dan para anak buahnya. Perampok dari alas Mentaok itu berhasil melumpuhkan prajurit Wira Tamtama dengan aji sirep yang kuat lalu berhasil memasuki gedung perbendaharaan dan mengambil keris pusaka Demak." tutur Empu Citrasena.


"Untunglah hal itu dicurigai oleh ki Ageng Sora Dipayana yang saat itu bersama salah satu muridnya waktu di luar gerbang Demak, dan segera melakukan pengejaran gerombolan Lowo Ijo." lanjut Empu Citrasena.

__ADS_1


Kemudian orang tua itu terus menuturkan penuturannya, dimana ia melihat ki Ageng Sora Dipayana bergelut dengan serunya menghadapi lawan tangguh, Lowo Ijo. Perkelahian antara keduanya sangat seru dan dahsyat, yang mana telah mengakibatkan sekitar keduanya porak poranda. Dari tenaga biasa hingga selapis demi selapis memasuki tataran tenaga cadangan, serta pengungkapan aji yang nggegirisi telah menyeruak tindih menindih menekan lawan.


Ketika Empu Citrasena akan bergeser lebih dekat, dari sisi yang lain dirinya dikejutkan oleh sesuatu yang tak kalah mendebarkan. Seorang pemuda yang ia yakini murid dari Buyut Banyubiru, dengan trengginas menghadapi beberapa anak buah Lowo Ijo. Kemampuan dari anak muda itu tak olah - olah, walau menghadapi lawan yang banyak, tapi ia mampu melontarkan lawan yang menyerang, sehingga banyak lawan yang mengerang - erang tak karuan demi mendapat tendangan maupun pukulan.


Karena tak ingin menelan kekalahan, sebuah isyarat terlontar dari mulut ki Lowo Ijo, sebuah isyarat memanggil bantuan. Tak berapa lama dari rimbunnya semak belukar telah muncul belasan orang yang menampakan kekasaran mereka, dengan senjata beraneka jenis.


Tiba - tiba tempat itu dikejutkan kembali adanya ratusan prajurit berkuda dan mengepung tempat itu.


"Apakah mereka pasukan Demak yang melakukan pengejaran, paman ?" tanya ki lurah Arya Dipa.


"Bukan, ngger. Melainkan itu sebuah ilmu dari pemuda murid ki Ageng Sora Dipayana." jawab Empu Citrasena.


"Ilmu apakah itu, paman ?" rasa heran nampak dari wajah ki lurah Arya Dipa.


"Ilmu Semu, yaitu sebuah ilmu yang mampu mewujudkan apa yang diangankan oleh si pengguna." terang Empu Citrasena.


Anggukan kepala mengiringi rasa kagum ki lurah Arya Dipa demi mengetahui sebuah ilmu tua yang mampu diterapkan oleh seorang pemuda.


Kembali Empu Citrasena melanjutkan ceritanya.


Demi mengetahui adanya pasukan berkuda yang begitu banyaknya, tentu saja anak buah ki Lowo Ijo ciut nyalinya dan siap angkat kaki, kalau tiada teriakan dari pimpinannya.


"Jangan takut, itu hanya permainan semu !" lantang ki Lowo Ijo sembari melambari teriakannya dengan aji Gelap Ngampar, untuk memunahkan perwujudan semu itu.


Benar saja bersamaan dengan teriakan ki Lowo Ijo, perwujudan semu itu bagai dihembus angin luruh tak tersisa. Maka anak buah gerombolan alas Mentaok itu mulai bangkit kembali semangat mereka dan langsung menyerbu si pemuda.


Saat itulah dengan rasa kemanusiaan, Empu Citrasena keluar dari persembunyiaannya dan dengan tangan kanan menggenggam keris besar, empu dari Kadiri mulai menyambuti gerombolan itu.


"Oh.. terima kasih kisanak." ucap pemuda murid ki Ageng Sora Dipayana.


"Hehehe.. Sudahlah anakmas, sudah sepantasnya kita saling membantu." sahut Empu Citrasena sambil menangkis ayunan pedang dan menghindari tusukan tombak lawan.


Sementara di sisi yang lain, rasa geram merambati hati ki Lowo Ijo karena melihat kedatangan seseorang dengan kemampuan olah kanuragan tak bisa dipandang sebelah mata.


"Bangsat, setan dari mana lagi itu ?!" serunya disusul dengan umpatan.


"Mengapa kau sejak dahulu selalu begitu, Lowo Ijo ? Sadarlah apa yang kau lakukan ini salah dan menyimpang dari paugeran agama maupun tatanan hidup bernegara." kata ki Ageng Sora Dipayana.


"Tutup mulutmu kakek tua !" bentak Lowo Ijo dengan marahnya.


Kepala kabuyutan Banyubiru hanya mampu menghela napas seraya menggelengkan kepalanya demi melihat tingkah laku lawannya. Dan sesaat kemudian Ki Ageng Sora Dipayana bersiaga tatkala memandang ke depan, lawannya sudah memegang senjata yang mendebarkan.

__ADS_1


"Kakek tua, pakailah senjatamu bila tak ingin mampus di tempat ini !" seru ki Lowo Ijo.


"Baiklah, kalau itu maumu." sahut ki Ageng Sora Dipayana seraya mengambil senjatanya.


__ADS_2