BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
88


__ADS_3

Sekian lamanya kaki melangkah dan peluh mulai membasahi tubuh, tiada juga tanda - tanda keberadaan orang yang dihormati dan disayanginya. Apalagi sejak tadi, orang yang menemaninya selalu mengatakan kalau keberadaan orang itu ada di depan dan di depan. Tetapi tak kunjung jua bertemu.


.


"Kakang Jenggala, katakanlah yang sebenarnya. Di mana ayah berada ?" akhirnya karena tak tahan lagi, Sri Tanjung menanyakan keberadaan ayahnya.


.


"Sebentar lagi, nini." ujar Putut Jenggala.


.


Jawaban itu tidak memuaskan hati Sri Tanjung. Wanita muda itu berhenti tidak mau berjalan lagi, bahkan ia meletakan dirinya di rerumputan sambil menyandarkan kepala ke pohon keluwih. Nafasnya berkejaran walau tak terlalu cepat, dikarenakan tubuh yang mulai membesar itu membuat tenaganya cepat terkuras.


.


Dan Putut Jenggala menyadari keadaan wanita muda itu. Hatinya trenyuh mengingat lelaki yang seharusnya bertanggungjawab, malah mencampakannya. Malah sekarang nasibnya sangat malang dengan tewasnya ki Trunalaya, ayah si wanita muda.


.


"Maafkan aku, nini." pinta Putut Jenggala seraya menyodorkan bumbung air, "Minumlah, nanti aku akan menjelaskan dengan sebenarnya."


.


Dahi Sri Tanjung mengernyit. Walau begitu ia tetap menerima bumbung air dan meneguknya perlahan. Air dalam bumbung terasa segar memberikan tenaga baru baginya. Air menetes membasahi bibirnya yang tipis aduhai membuat semua lelaki akan terpesona melihatnya.


.


"Kakang Jenggala, lukamu.... " seru Sri Tanjung, seusai meneguk air tanpa sadar ia melihat lengan Putut Jenggala masih tertancap anak panah, yang sudah dipotong dengan menyisakan batang panah seukuran tiga ruas.


.


Kini setelah wanita muda itu mampu menguasai keadaan, barulah ia menyadari kalau murid tertua ayahnya itu menderita luka. Dengan tatagnya tangannya meraih titikan batu dan menyalakannya diserabut. Untuk menjaga agar api bertahan nyalanya, dikumpulkanlah ranting kering.


.


Di bukanya buntalannya dan dari dalamnya diambil pisau kecil. Pisau kecil itu ia panaskan dengan api dari ranting.


"Kakang, gigitlah kayu ini untuk mengurangi rasa sakit." kata Sri Tanjung sambil menyodorkan potongan kayu.


.


Entah heran atau terpesona, Putut Jenggala terdiam mematung. Matanya bak terkena sihir dari wanita di depannya. Sehingga Sri Tanjung mengulangi perkataannya supaya Putut Jenggala melakukan apa yang ia katakan.


.


"Bertahanlah..." desis Sri Tanjung.


.


Tangan mungil wanita itu segera meraih potongan anak panah dan ditarik sekuat - kuatnya. Bersamaan dengan rasa sakit yang sangat menyengat Putut Jenggala, Sri Tanjung meraih pisau kecil dari dalam api dan ditempelkan ke kulit bekas luka anak panah.


.


"Eeergh... " keluh Putut Jenggala dan ambruk tak sadarkan diri.


.


Sebuah keberanian luar biasa ditampilkan oleh wanita putri ki Trunalaya. Dalam menghadapi kegawatan itu, ia tidak gopoh. Dengan sebatnya disobeknya kain jaritnya untuk dibelitkan ke lengan Putut Jenggala. Sehabis itu Sri Tanjung mengambil kain kecil yang dibasahi air untuk kemudian diletakan di dahi Putut Jenggala.


.


Kini tinggalah ia menunggu pemuda itu untuk siuman. Dalam waktu penantian itulah, Sri Tanjung memperhatikan wajah pemuda yang terlelap tak sadarkan diri. Barulah ia menyadari raut wajah yang selama ini di dekatnya, menampakan pesonanya.


.


"Ah.. " desuhnya sambil memalingkan wajahnya.


.


Rona wajah wanita muda itu, bersemu merah. Entah mengapa walau tiada orang melihat, dirinya merasa jengah jika memperhatikan wajah di depannya.


.


"Tidak, aku dan bayi dalam kandungan ini milik kangmas Sanjaya seorang.." desisnya lirih.


.


Teringatlah dimana dahulu saat - saat seekor kumbang berterbangan disekitar taman. Taman yang berada di padukuhan kecil menyimpan bunga mekar mempesona. Dan sang kumbang pun dengan daya upaya yang dimilikinya, mampu menakhlukan bunga mekar tersebut. Sang kumbang berjanji selalu menyambanginya walau hujan badai melanda, akan hadir andai tanah di taman retak dan membawa sang bunga ke taman yang lebih besar dan luas.


Jika teringat itu semuanya, wanita mana hatinya tak tersentuh ? Wanita mana yang termakan dengan janji - janji walau akhirnya janji itu tinggal janji ?


.


Sentuhan jemari saja yang mengembalikan kesadaran Sri Tanjung dari lamunan penuh cinta nirwana. Ternyata jemari Putut Jenggala yang berada dalam pangkuan Sri Tanjung, telah mencekal tangan si wanita dan meremasnya.

__ADS_1


.


Darah terasa berhenti mengalir. Jantung berdetak dengan cepat dan keras. Keringat mengembun di dahi Sri Tanjung. Wajah merona memerah seketika.


.


"Tanjung.. Tanjung.. "


.


Bibir si pemuda dalam terlelapnya mata, bergerak mengigau.


.


"I..ya kakang, aku di sampingmu.." bisik Sri Tanjung.


.


Pegangan tangan Putut Jenggala semakin erat, "Jangan tinggalkan aku.. "


.


"Tidak kakang.."


.


Usai perkataan terakhir dari bibir Sri Tanjung, Putut Jenggala tidak lagi mengigau. Wajah pemuda yang sebelumnya memucat, perlahan kembali memerah. Menandakan darah sudah kembali beredar semestinya.


.


Hari mulai malam. Jauh dari permukiman, Sri Tanjung menunggui pemuda murid ayahnya. Wanita itu melupakan keadaan dirinya yang saat ini sedang mengandung, mengandung anak seorang lelaki yang dirinya tidak tahu kalau si lelaki seorang yang culas.


Syukurlah malam itu dilalui tanpa adanya gangguan melanda kedua insan yang bermalam di pategalan. Sri Tanjung yang awalnya berjaga di samping tubuh Putut Jenggala berbaring, tak tahan ketika kelopak matanya bagai diganduli bola timah. Ia pun tertidur menyandarkan punggungnya di pohon keluwih.


.


Kicau burung menandakan pergantian hari baru, membuat tubuh wanita muda itu menggeliat terbangun. Pertama kali membuka mata, niat hati ingin melihat keadaan Putut Jenggala. Namun wanita muda itu kaget, karena tubuh lemah yang terbaring di depannya, tak terlihat.


.


"Kau sudah bangun, nini ?" sapaan halus terdengar dari balik pohon.


.


"Kakang jangan banyak bergerak dulu, luka kakang belum sepenuhnya tertutup." wanita itu berdiri dan mencoba menghampiri pemuda itu.


.


.


"Lenganku sudah dapat aku gerakan, nini. Lihatlah apa yang aku dapat." kata pemuda itu.


.


"Baiklah biarlah aku yang membakar ikan itu, kakang. Sebaiknya kakang istirahat saja." Sri Tanjung meminta rentengan ikan dari tangan Putut Jenggala.


.


Diserahkanlah ikan itu kepada putri gurunya. Sedangkan Putut Jenggala mengumpulkan ranting dan membakarnya. Keduanya bekerja sangat serasi tanpa adanya perasaan lain, kecuali hanyalah saling bahu membahu semata.


.


Tak menunggu terlalu lama, ikan itu matang dan siap dimakan. Walau tanpa bumbu karena keadaan yang dialami, ikan bakar tangkapan Putut Jenggala terasa sedap oleh lidah. Rasa syukur kehadapan Hyang Agung, terucap dengan tulus hati, atas karunia yang diberikan pada hari ini.


.


Luka yang diderita oleh Putut Jenggala sudah teratasi. Sarapan ikan bakar memenuhi selera perut. Seiring waktu, Sri Tanjung ingat dengan janji dari Putut Jenggala yang akan menerangkan sebenarnya terjadi.


"Kakang." desis Sri Tanjung dengan perlahan, "Ingatkah kakang dengan apa yang kakang ucapkan kemarin ?"


.


Pemuda itu menghela nafas. Waktu yang mendebarkan dan ia sulit mengatakan, akhirnya ditagih juga. Sejenak ia memantapkan hati dan memilah kata sebaik - baiknya agar wanita muda itu dapat menerima kenyataan yang telah terjadi.


.


Kemudian katanya, "Nini Sri Tanjung, berat mulutku dalam berucap."


.


Kembali Putut Jenggala terdiam.


.


"Kita manusia, awalnya tiada dan hanya kemurahan Hyang Agung semata kita ada. Tetapi pada akhirnya kita akan kembali kepadaNYA dengan pertanggungjawaban selama kita hidup." sambung Putut Jenggala.

__ADS_1


.


Desir halus terasa dalam sanubari Sri Tanjung, walau begitu wanita muda itu dengan senyum berkata, "Aku mengerti kakang, petuah itu seringkali diucapkan oleh ayah. Dan aku ingat ketika ibu menutup mata, kakang pernah menghiburku waktu itu."


.


"Janganlah kakang berbelak - belok dalam berucap. Katakanlah kakang."


.


"Oh Batara Agung..." seru Putut Jenggala dalam hati, "Kuatkan hamba yang hina ini menyampaikan kenyataan ini.."


.


Do'a terucap dengan kesungguhan itulah, sumber keberanian Putut Jenggala dalam menyampaikan warta layon yang menimpa ki Trunalaya kepada putri tunggalnya, Sri Tanjung.


.


"Nini Sri Tanjung, tabahkanlah hatimu. Guru dan juga ayahmu, ki Trunalaya telah tiada.."


.


Kata pelan dan terbata - bata dari Putut Jenggala, bagai halilintar menyambar nyawa Sri Tanjung. Wanita yang sebenarnya mempunyai keberanian yang diwarisi oleh ayahnya, sama seperti anak manusia pada umumnya. Hatinya tersentuh merambat dalam pikiran, sehingga membuat tubuh itu gemetar tak bertenaga. Bumi yang ia pijak bergolak dan bergetar membuat tubuh berbadan dua itu, limbung.


Kesigapan Putut Jenggala dalam membaca keadaan dan hati, mampu menopang tubub itu. Tak hanya itu saja, Putut Jenggala juga membesarkan dan menenangkan hati Sri Tanjung.


.


"Ti..dak a..yah ti..dak .."


.


"Tenangkan hatimu, nini."


.


"Ka..takan kalau kau ha..nya mempermainkan aku sa..ja, kakang.." Sri Tanjung masih tak percaya di dalam tangisnya.


.


"Menangislah, nini. Bila itu membuatmu tenang." ucap Putut Jenggala, "Dan segeralah relakan kepergian ayah nini menghadap Hyang Agung.."


.


Tangis pilu terdengar menyayat kalbu. Angin pagi pun terasa ikut berduka atas kemalangan wanita muda dalam pelukan Putut Jenggala. Sinar mentari yang awalnya bersinar entah sengaja atau tidak, meredup menahan sinarnya.


.


Dan itu semua adalah kodrat yang sudah tertulis oleh tinta emas Sang Pencipta. Senang - sedih, lahir - mati, kaya - miskin mengiringi kehidupan sampai hari akhir nanti.


.


Namun, sebanyaknya air mata akan terhenti jua adanya. Sedih yang sangat suatu saat akan perlahan sirna menjadi kenangan jua. Begitu pun dengan Sri Tanjung, seiring dengan berjalannya waktu, tangis itu mulai reda.


.


"Kalau begitu, dimanakah kakang mengubur jasad ayah ?"


.


"Maafkan aku, nini. Karena keadaan dan keselamatan nini-lah, terpaksa aku meninggalkan jasad guru." sesal Putut Jenggala, "Mudah - mudahan orang - orang itu masih mempunyai hagi nurani dan mau menguburkan dengan layak."


.


"Oh... " desuh Sri Tanjung, "Andai kakang Sanjaya disini.."


.


Jantung Putut Jenggala berdesir ketika nama itu terucap dari mulut Sri Tanjung. Meskipun begitu, ia tak bersuara.


"Nini, karena saat ini keadaan tak menentu, untuk sementara kita tinggal disini."


.


"Tapi kakang, sebaiknya kakang mencari warta mengenai kakang Sanjaya."


.


Putut Jenggala terdiam. Saat itu dalam benak Sri Tanjung, terdiamnya murid tertua ayahnya itu sedang berpikir dan menimbang usul yang ia berikan. Tetapi lain kenyataannya, terdiamnya Putut Jenggala disebabkan untuk mencoba menenangkan hatinya.


.


"Bagaimana kakang.. ?"


.

__ADS_1


Belum lagi Putut Jenggala bersuara, semak di depan mereka bergerak layaknya terkena gesekan sesuatu.


__ADS_2