
Secara bergiliran dan perlahan pasukan Demak yang mengiringi pangeran Trenggono telah melewati anak sungai kering dengan dipandu oleh lurah Arya Dipa dan prajurit Wasis. Serta suatu kali dengan sangat hati - hati, pangeran Trenggono menyempatkan mengintai pasukan yang memang banyak itu. Dan setelah yakin maka ia pun melanjutkan menyusuri jalur sungai mengering. Hingga akhirnya iringan itu sampai di tempat teraman dari jangkauan pasukan Jipang yang dipimpin oleh ki panji Jaran Tangkis.
"Hamba hanya mengantar sampai disini, kanjeng pangeran." ucap lurah Arya Dipa.
"Apakah kau akan tetap meneruskan rencana yang akan kau pilih itu, Arya Dipa ?" tanya pangeran Trenggono, mencari ketegasan sekaligus mengawatirkan keselamatan pemuda itu.
"Kasinggihan, kanjeng pangeran."
"Baiklah jika itu kemauanmu, tapi janganlah bertindak terlalu dalam."
"Hamba, kanjeng pangeran."
Walau hati sebenarnya terasa berat untuk meninggalkan lurah yang masih muda serta kawan - kawannya yang hanya berjumlah sepuluh, tapi demi menjaga hubungan dengan kanjeng Adipati Sepuh tetap utuh dan supaya cepat sampai di kotaraja, maka pangeran Trenggono telah mengambil keputusan melecut kudanya mengarah ke Demak. Tindakan itu ditirukan oleh para senopati serta prajurit pengawal lainnya.
Sepeninggal iringan pangeran Trenggono, ki lurah Arya Dipa mengajak prajurit Wasis untuk kembali ke tempat dimana kawan - kawannya berkumpul. Sesampai dihadapan kawan - kawan yang tiada lain bawahannya, lurah Arya Dipa menerangkan perihal pertemuannya dengan pangeran Trenggono. Tak lupa juga membeberkan rencana yang ia susun dalam menindak lanjuti pasukan dari Jipang, guna melakukan pengacauan demi menahan jarak pasukan musuh dan mengakibatkan pasukan itu gagal dalam penyerangan terhadap pangeran Trenggono.
"Ganti pakaian kalian dengan pakaian biasa." lurah Arya Dipa memberi perintah.
Segera kesepuluh prajurit itu bergegas menanggalkan pakaian keprajuritan untuk berganti dengan pakaian pada umumnya, begitu juga dengan lurah Arya Dipa. Setelah itu prajurit kesatuan dari Wira Tamtama mendapati kuda mereka dan membawa ke bekas perkemahan pasukan Demak sebelumnya. Di sana mereka menyelidiki tempat itu serta membaca tata letak dan keadaan alam dari bukit kapur itu, untuk merancang siasat lebih lanjut.
"Sebelum aku memberikan beberapa tindakan, kita akan memutuskan tempat pertemuan setelah memberikan kejutan kepada pasukan yang berada di barat kelokan." kata lurah Arya Dipa.
"Di mana itu, adi lurah ?" tanya prajurit Wasis, putra ki panji Reksotani.
"Usahakan kalian menyeberangi sungai yang kering itu, dan lanjutkan langkah kalian hingga dua ratus tombak ke selatan."
Kesepakatan itu ditanggapi dengan anggukan yang mengartikan kesemuanya setuju.
"Kakang Wasis bawalah dua kawan ke jalan arah barat, berikanlah tanda saat kokok ayam pertama berkokok dan segera berlindung ke semak - semak. Bilamana pasukan itu sampai disini dan Sambi Wulung mulai menggelindingkan batu, cepatlah serang mereka dengan panah berapi." kata lurah Arya Dipa, mulai menjalankan siasatnya.
"Baik, adi." sahut prajurit Wasis, kemudian melanjutkan katanya, "Sakri dan Kerta, akan aku bawa."
Usai mengangguk menyetujui permintaan prajurit Wasis, lurah Arya Dipa berpaling kepada seorang prajurit yang dulu pernah bersitegang dengannya.
"Sambi Wulung, seperti yang kau dengar tadi dimana aku katakan kepada kakang Wasis, agar kau menggelindingkan batu - batu di atas itu. Oleh karena itu ajaklah kakang Truno, Wiji dan Pahang ke atas lereng bukit demi membantumu."
"Baik, ki lurah." dengan tegas prajurit Sambi Wulung, menerima tugas yang diberikan kepadanya.
Kini tinggalah lurah Arya Dipa dan tiga prajurit tersisa.
"Lalu bagaimana dengan kita ki lurah ?" tanya seorang prajurit.
"Kita akan sembunyi di alur sungai. Siapkan panah serta lapisi ujungnya dengan serabut kering, kita serang dengan panah api supaya mereka bingung." jawab lurah Arya Dipa, seraya membelokan kuda mengarah alur sungai.
Hembusan angin mengiringi pergerakan sang waktu. Para anak buah ki lurah Arya Dipa merasakan waktu itu terasa lamban bagai sang bayi baru mampu merangkak. Tapi walau pelan dan lamban, sang waktu tak pernah ingkar akan kodrat yang harus dilalui dengan seijin Sang Kuasa. Kokok ayam hutan terdengar memecahkan keheningan fajar yang menandakan alam akan berganti. Dan itu juga yang dinantikan oleh prajurit Wasis.
"Sekarang...!" serunya.
Lengkingan panah sendaren membuncah ke angkasa mengakibatkan bunyi tersendiri dan memancing setiap telinga curiga dengan suata yang ditimbulkan.
"Sendaren !" seru seorang prajurit yang berada di pasukan pimpinan Tumenggung Harya Kumara.
Dan suara kejut itu merambat sampai ditelinga tumenggung Harya Kumara, "Gilakah panji Jaran Tangkis !?"
"Bagaimana ini, ki tumenggung ?" tanya rangga Puranta.
"Perintahkan pasukan bergerak." seru ki tumenggung Harya Kumara sembari menaiki kuda dan memimpin pasukannya.
Hal yang sama dirasakan oleh ki panji Jaran Tangkis, sesaat setelah mendengar lengkingan panah sendaren.
"Ada apa ini ? bukankah seharusnya pasukanku yang memberikan isyarat panah sendaren ?" tanyanya.
Seorang lelaki mendatanginya dan menampakan raut muka terkejut.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi, ki panji ?"
"Entahlah, ki Rambatan." jawab ki panji Jaran Tangkis, "Tapi sebaiknya kita bergerak saja."
"Bila itu perintah ki panji, aku menurut saja."
"Baiklah, kita kumpulkan pasukan." lalu ki panji Jaran Tangkis memberi perintah kepada bawahannya supaya mengumpulkan pasukan dan mulai bergerak menyongsong arah perkemahan pasukan Demak
Tempat ki panji Jaran Tangkis dengan jalan dimana ada perkemahan pasukan Demak memanglah yang terdekat bila dibandingkan tumenggung Harya Kumara, karena itulah kehadirannya ditempat yang dituju menjadikan pasukan panji itu tiba paling awal. Bersamaan dengan tibanya pasukannya, keheranan merasuk dalam diri panji Jaran Tangkis beserta pasukannya.
"He.. dimana mereka !" kejut ki panji Jaran Tangkis, "Apa mataku lamur ?"
"Tidak ki panji, kenyataannya memang begitu." timpal ki Rambatan.
Walaupun begitu keduanya dan pasukannya tetap melangkahkan kudanya sampai tepat di bekas perkemahan yang kini ditinggalkan oleh para penghuninya. Dan saat itulah tiba - tiba suara gemuruh mendekati pasukan pangatus itu, yang membuat mereka kebat - kebit ketika kesadaran mulai mengembang, dari atas bukit puluhan batu sebesar kepala kerbau menggelinding mengancam nyawa tanpa pandang bulu.
"Menyingkir !" seru ki panji Jaran Tangkis, seraya menghindari terjangan longsoran batu.
Teriakan - teriakan mulai terdengar dari mulut beberapa prajurit yang tak sempat menghindar, sehingga terlindas beratnya batu.
"Cepat mengarah ke aliran sungai !" seru ki panji lagi, sambil memberi contoh.
Tetapi betapa malangnya saat ia hampir sampai di bibir rerimbunan semak belukar, panah berapi melayanh dengan deras mengarahnya.
"Ouh... bangsat !" desuh ki panji saat panah api mengenai pakaiannya.
Maka ki panji menjatuhkan diri untuk kemudian berusaha memadamkan api yang mulai melahap pakaiannya dengan menggulingkan tubuhnya ke semak - semak. Tak terkecuali ki Rambatan dan beberapa anak buahnya. Sehingga tempat itu kacau balau menyisakan umpatan dan makian yang membucah dari mulut - mulut prajurit Jipang.
Oleh karena panah api terus mencurah dari balik - balik gelap dan pekatnya rerimbunan, prajurit pangatus tersebut tak berani meneruskan langkahnya dan hanya berlindung dari ganasnya panah berapi.
Keributan itu memancing telinga dari tumenggung Harya Kumara yang datang kemudian. Tapi kerut merut didahinya melintang saat matanya yang tajam memandang di depannya. Tempat yang dalam angan - angannya terdapat dua pasukan sedang bertempur hebat, ternyata tak seperti yang ia duga. Di sana hanya ada pasukannya yang dipimpin oleh ki panji Jaran Tangkis, sedang direpotkan oleh serangan panah api lawan.
"Rangga Puranta, bawa prajurit dan memutarlah mengarah sisi lain." perintahnya kepada rangga Puranta.
"Baik ki tumenggung." sahut rangga Puranta, sambil memutar kudanya demi mencari jalan sisi lain bersama anak buahnya.
Rasa was - waslah yang kini bersarang dihati kebanyakan pasukan Jipang, membuat hati mereka menciut sebesar biji sawi.
"Mati aku, jika orang yang berada di atas tebing ini juga melongsorkan batu di atas." batin seorang prajurit.
Lain orang lain pula keberaniannya, begitulah pada diri tumenggung Harya Kumara. Dirinya segera dapat membaca apa yang telah terjadi, maka dari itu dengan melantang kata dirinya memerintahkan prajuritnya yang membawa busur dengan endong, segera melakukan serangan balasan, mengarah ke atas tebing dan ke arah gerumbul tepi aliran sungai.
Setelah panah mulai berkata beberapa jenak dan tiada balasan, ki tumenggung Harya Kumara memerintahkan untuk mendekati dua sumber penyerang gelap. Namun betapa murkanya, ketika prajuritnya melapor apa yang ia lihat.
"Setan alas, panggil panji Jaran Tangkis kemari !" seru tumenggung Harya Kumara.
Tanpa menunda waktu ki panji Jaran Tangkis bergegas menghadap atasannya yang menampakan wajah bagai kepiting direbus.
"Panji Jaran Tangkis, tahukah mengapa aku memanggilmu ?"
Panji itu menyadari apa yang ada di hati tumenggung Harya Kumara, dan ia pun mulai berucap, "Maafkan aku, ki tumenggung. Namun berilah aku waktu untuk menjelaskan kepada tuan."
"Apanya yang harus dijelaskan ?" sanggah tumenggung Harya Kumara, "Kenyataannya kau gagal dalam menunaikan perintahku serta menyalahi perintah yang aku berikan."
"Ki tumenggung, itu semua bukan kesalahan ki panji Jaran Tangkis." ucap seseorang yang berjalan dari belakang panji Jaran Tangkis.
"Oh kau ki Rambatan."
"Benar ki tumenggung." jawab ki Rambatan, yang kemudian menjelaskan apa yang telah terjadi dengan pasukannya.
"Tapi bukankah kau menempatkan beberapa prajuritmu di sekitar aliran sungai, ki panji ?" ki tumenggung Harya Kumara melempar pertanyaan, setelah memahami penjelasan dari ki Rambatan.
"Sebenarnya memang begitu, ki Tumenggung. Namun mereka di lumpuhkan dan terikat di semak - semak."
__ADS_1
"Uh... Licin benar pangeran itu." gerutu tumenggung Harya Kumara, "Dan kita tak dapat mengejar mereka, hal ini banyak memakan waktu."
Kepala ki panji Jaran Tangkis menunduk menatap bumi, tapi hatinya bersyukur manakala dirinya tahu bahwa pasukannya tiada yang tewas dan hanya terluka saja.
"Aneh, mereka hanya membuat kami terluka saja. Padahal mereka berpeluang melakukan pembunuhan." batin panji Jaran Tangkis.
Sementara itu di sisi selatan aliran sungai yang berjarak ratusan tombak, lurah Arya Dipa bersama prajuritnya duduk di atas punggung kuda.
"Kita tunggu Sambi Wulung dan yang lainnya." kata ki lurah Arya Dipa.
"Jangan - jangan mereka tertangkap ?" cemas prajurit Wasis.
"Semoga tidak kakang, karena jalan melingkarlah yang mengakibatkan mereka terlambat." sahut lurah Arya Dipa.
Benar apa yang diperkirakan oleh lurah Arya Dipa. Memang keadaan alam yang dilewati oleh prajurit Sambi Wulung dan lainnya, mengakibatkan langkah mereka agak memutar menempuh sisi timur dan kemudian baru menyeberangi aliran sungai kering. Setelah menemukan kuda mereka, barulah ke empat prajurit itu memacu kuda mereka ke tempat yang telah ditetapkan.
"Maaf kami terlambat." ucap prajurit Sambi Wulung.
"Tak mengapa, alam yang kau lalu memang berat." lurah Arya Dipa memaklumi, "Dan mungkin kalian mendapat perlawanan dari mereka juga ?"
"Benar, pasukan yang baru tiba kemudian itu juga menyerang kami dengan panah. Untunglah kami masih mendapat perlindungan dari Sang Pencipta, sehingga kami sampai disini tanpa luka." jawab prajurit Sambi Wulung.
Dirasa telah cukup, prajurit Demak yang dipimpin oleh ki lurah Arya Dipa kembali melanjutkan tugas mereka yang tertunda demi menyelamatkan pasukan Demak. Kesebelas prajurit itu mencongklangkan kuda ke timur di mana sebuah jalan membentang. Tiba di pertigaan kemudian kuda - kuda membelok ke kanan atau selatan mengarah ke tanah perdikan Sembojan.
Tak terceritakan akhirnya rombongan ki lurah Arya Dipa sampai di telatah tanah perdikan Sembojan, setelah melewati daerah yang mana terdapat api abadi atau Mrapen dan menyeberangi sungai Tuntang. Pada waktu itu tanah perdikan Sembojan dipimpin oleh seorang lelaki paruh baya dengan sebutan ki gede Sembojan, serta seorang jagabaya sebaya dengan ki gede Sembojan.
Kala itu hari tepat di puncaknya, di mana sinar sang surya bersinar terik tanpa terhalang awan atau pun mendung. Tapi untunglah jalan yang membelah lorong - lorong dipinggirnya ditanami rindangnya pohon turi dan lamtoro, sehingga keteduhannya bisa terasa melindungi mereka yang lalu lalang. Selain itu pohon lamtoro maupun turi bisa dijadikan makanan. Kembang turi yang segar akan nikmat bila dijadikan kulup bercampur sambal kambil. Lalu lamtoro biasanya oleh orang padukuhan diolah menjadi bothok, yaitu sejenis lauk perpaduan antara lamtoro, daun muda mlinjo serta irisan lombok tak lupa dikasih parutan kambil muda yang kemudian dibungkus atau istilah orang padukuhan, yaitu digenemi, lantas dimasak.
"Lihatlah adi lurah, kembang - kembang turi itu memancingku untuk memetiknya." kata prajurit Wasis.
"Ah kau ini, ingatnya cuma makanan saja." prajurit Sawunglah yang menyahuti kata prajurit Wasis.
"Hahaha.. Siapa yang tak mengenal putra ki panji Reksotani ? Dia lah yang disebut Macan lapar dari Merbabu." seloroh prajurit Pahang, yang disambut tawa prajurit lainnya.
Memang berbeda dengan kesatuan prajurit Demak lainnya, kesatuan prajurit ini bila sehari - harinya nampak membaur penuh canda tawa, meskipun terhadap Arya Dipa yang menjabat lurah prajurit. Tapi dikala keadaan genting prajurit dibawah pimpinan ki lurah Arya Dipa merupakan kesatuan yang mendebarkan tandang dan kemampuannya.
"Huh, kau ini Pahang. Bukan aku saja yang mendapat gelar itu, kau ingat dengan ki lurah Wiratsemi dari kesatuan Wira Radya ?"
"Oh, iya aku baru ingat. Tapi dia bukan macan melainkan gajah, sehingga wajar jika ia lapar terus karena tubuhnya yang tinggi besar, berbeda dengan dirimu yang tam...."
"Tampan maksudmu, kakang Pahang ?" cepat - cepat ki lurah Arya Dipa menukas.
Namun wajah prajurit Wasis nampak memerah dan mata melotot memandang prajurit Pahang.
"Maaf Wasis, aku hanya bercanda." ucap prajurit Pahang, saat menyadari kalau prajurit Wasis tak berkenan.
Tapi semuanya salah dengan apa yang terlihat dari wajah prajurit Wasis. Putra ki panji Reksotani itu ternyata malah tertawa terpingkal - pingkal, layaknya orang kerasukan.
"Sialan... " gerutu semuanya.
"Ayo lekas ke padukuhan induk, dan segera melapor ki gede Sembojan." kata ki lurah Arya Dipa sembari mencongklang kudanya.
Kuda putih yang dinamai Bayu Seta itupun melaju pesat meninggalkan kuda lain yang ditunggangi oleh prajurit ki lurah Arya Dipa.
"Tunggu ki lurah... " seru prajurit Pahang lantas mengejarnya.
Begitu juga dengan prajurit lainnya yang kemudian memacu kuda mereka mengejar pemimpin sebagian kesatuan Wira Tamtama Demak. Debu mengepul lah yang kini tersisa di jalan ujung padukuhan tertinggal bersama semilir angin dan kemudian larut kembali menghujam tanah.
Sejenak kemudian rombongan kecil prajurit Demak itu sampai di padukuhan induk. Sebuah bangunan yang agak besar dari yang lainnya dan di depannya terdapat gardu parondan, menghentikan langkah kesebelas prajurit Demak. Seorang pemuda keluar dari gardu ronda demi menyambut kedatangan tamu berkuda tersebut.
"Selamat siang, tuan prajurit." sapa pemuda yang merupakan pengawal tanah perdikan.
"Selamat siang, kisanak." balas ki lurah Arya Dipa, setelah turun dari kudanya, juga dengan prajurit lainnya. Kemudian, "Perkenalkan kami kisanak, kami dari Demak ingin menghadap ki gede Sembojan. Adakah beliau dirumah ?"
__ADS_1
"Oh... Mari tuan prajurit, kebetulan ki gede baru tiba dari kunjungannya di padukuhan selatan." pengawal prajurit itu mempersilahkan dan mengantar ke pendopo.
Ki lurah Arya Dipa dan yang lainnya mengikuti langkah pengawal perdikan Sembojon, setelah sebelumnya menyerahkan kuda mereka kepada para pengawal yang bertugas ronda walau disiang hari. Kesebelas prajurit itu duduk di pendopo untuk menunggu ki Gede Sembojan yang masih berada di ruang dalam.