BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
Kitab 2 - Eps.02


__ADS_3

Malam itu pun berlalu tanpa ada sesuatu yang membuat curiga


dan semuanya berjalan dengan semestinya sampai secercah sinar sang surya muncul


di ufuk timur.


Hujan yang turun pada malam itu, membuat pagi hari ini


tampak semakin tenteram dipadukuhan itu. Para penghuni padukuhan mulai terbangun


dan bekerja seperti hari-hari sebelumnya.


 Petani dengan


memanggul cangkul serta sebilah arit yang tergenggam ditangan kanan dan tidak


lupa tudung yang terbuat dari anyaman bambu sehingga melindungi kepala petani


yang berangkat ke sawah-sawah mereka.


Para pedagang dengan barang dagangannya pun mulai meramaikan


jalan padukuhan itu.


Bunyi senggot didekat pakiwan berderit dan bunyi ijuk yang


di ikat menyatu untuk menyapu pekarangan juga riuh terdengar pada kanan-kiri


pemukiman itu.


Pada gardu parondan ki Mahesa Anabrang sudah lama terjaga


serta duduk dipinggir parondan.


Begitupun dengan Wilis yang juga sudah terjaga serta


menggeliatkan tubuhnya.


"Cerahnya hari ini." Desis Wilis.


"Benar kisanak, dan air hujan malam tadi membuat pagi


ini semakin indah.Para petani gembira akan melihat sawahnya yang sudah terisi


oleh air hujan semalam." Kata Damar.


"Oh kau sudah bangun angger Damar.?"


"Iya Ki Mahesa, dan aku akan segera melanjutkan


perjalananku yang tertunda semalam akibat hujan." Sahut Damar, yang sudah


merapikan pakaiannya.


"Mengapa buru-buru angger.?, hari masih terlampau


pagi."


"Mumpung masih pagi, Ki Mahesa dan ada sedikit


keperluan dipadukuhan depan setelah padukuhuhan ini." Kata Damar.


"Baiklah ngger mudah-mudahan dilain waktu kita bisa bertemu


lagi."


Maka Pemuda yang mengaku Damar itu bergerak pergi untuk


melanjutkan perjalanannya.


Sebelum kepergian anak muda itu, ki Mahesa Anabrang serta


Wilis masih terduduk digardu parondan ujung padukuhan itu. Sementara itu


Adigama masih tertidur di balik kain panjangnya.


"Apakah kita berangkat sekarang, Wilis.?" Tanya ki


Mahesa Anabrang.


Nanti saja paman, kasihan Adigama, dia tentu sangat


kelelahan dengan perjalanan berkuda ini." Jawab Wilis, sembari


memperhatikan paras polos Adigama.


Ki Mahesa Anabrang juga memperhatikan anak angkatnya dan sembil


tersenyum.


"Anak ini sebenarnya memiliki badan yang baik serta sangat


bagus bila mendapat gemblengan olah kanuragan." Ucap Ki Mahesa Anabrang


pelan.


"Bukankah paman mampu mengajarinya.?" Kata Wilis sambil


mengenyeritkan keningnya.


Orang tua itu menghela napas, kemudian katanya.


"Memang pernah aku mengajarinya, tetapi terdapat satu keganjilan


dan keanehan ."


"Maksud paman.?"


Dan Ki Mahesa Anabrang mulai menceritakan bagaimana dia


mengajari Adigama dan munculnya kejadian-kejadian aneh itu. Kejadian yang berawal


ketika dirinya ingin menuntun Adigama Bayu Shankara dalam ilmu kanuragan untuk bekal


hidupnya kelak.


Kala itu di saat pagi hari, Ki Mahesa Anabrang memanggil Adigama


dan mengajaknya ke belakang rumahnya yang lapang. Disitu Ki Mahesa Anabrang memperagakan


beberapa gerak dasar olah kanuragan dari jalur perguruannya, setelah selesai


beliau mendekati Adigama dan bertanya, apakah Adigama tertarik dengan olah


kanuragan yang baru saja Ki Mahesa Anabrang peragakan.


Ternyata Adigama kagum dengan apa yang diperagakan oleh ayah


angkatnya itu, dan mau untuk diajari. Maka karena itu, pada malamnya Ki Mahesa


mengajak Adigama kembali kebelakang rumahnya yang lapang yang berada dipadukuhan


Pudak.


Awalnya gerak demi gerak sudah beliau peragakan serta ditiru


oleh anak itu. Tapi ketika malam makin larut, tiba-tiba dikesibukan Ki Mahesa


Anabrang melatih anak itu, sayup-sayup sebuah desir halus terdengar.


Tetapi Ki Mahesa Anabrang tidak memperdulikan hal itu serta terus


melatih Adigama. Hingga sekali lagi desiran halus itu timbul lagi serta semakin


jelas.


Dan ketika itu tiba-tiba Adigama jatuh pingsan tidak sadarkan


diri. Tentu saja Ki Mahesa Anabrang secara naluri langsung bergerak dengan


cepat seperti burung sikatan untuk menangkap tubuh anak angkatnya itu. Tetapi sebuah


energi yang tidak terlihat menghempaskan tubuhnya, sampai tubuh orang tua itu


terjerembab ditanah.


Didalam rasa terkejutnya, Ki Mahesa Anabrang kembali terbelalak


ketika dari ubun-ubun anak muda itu berkelebat  sesosok bayangan yang menyerupai hewan bersayap


sebesar gajah.


Dan bayangan itu bersuara keras kemudian terbang tinggi dan menghilang


menimbulkan angin yang kencang.


"Apakah aku sedang bermimpi.?" Ucap Ki Mahesa


Anabrang yang berusaha bangkit berdiri serta berjalan mendekati anak angkatnya dan


memeriksa keadaannya.


"Syukurlah dia tidak apa-apa." Kata Ki Mahesa


Anabrang, yang kemudian membawa anaknya masuk kedalam rumah.


Pagi harinya sehabis Adigama terbangun, maka Ki Mahesa

__ADS_1


Anabrang bertanya kejadian tadi malam pada anak itu. Tapi ternyata Adigama. Tidak


ingat sedikit pun dan Ki Mahesa Anabrang tidak ingin memaksa anak angkatnya untuk


mengingat kembali kejadian semalam.


"Baiklah nanti malam kita akan melanjutkan latihan olah


kanuragan seperti yang ayah tunjukan dan ajarkan kemarin."


Hari kembali menjadi malam serta mereka kembali berlatih


olah kanuragan. Dan tepat disaat malam mencapai puncaknya. Kembali kejadian


malam kemarin terjadi lagi.


Sosok itu semakin terlihat nyata, sebuah burung sebesar gajah


serta terdapat mahkota dikepalanya.


Seekor burung  garuda menggunakan


mahkota terbuat dari permata yang sangat indah. Dengan mata yang memancarkan


kewibaaan serta keperkasaan burung ajaib itu mengepakan sepasang sayapnya menghasilkan


angin dahsyat yang bisa memporak-porandakan apa pun yang ada dibelakang tempat


tinggal Ki Mahesa Anabrang.


sementaraitu Ki Mahesa Anabrang, dengan sekuat tenaga menjaga


keseimbangannya agar tidak tersapu oleh angin akibat kibasan sayap yang


disebabkan oleh burung itu.


"Kkkwaaaaak..!" Suara mahluk itu telah mengoyak


udara dimalam itu.


Suara yang seolah-olah mengandung gelombang Ajian Gelap


Ngampar itu membuat jantung Ki Mahesa Anabrang bagaikan akan tanggal dari


tangkainya. Dengan sekuat tenaga wadag dan tenaga cadangan orang tua angkat Adigama


bertahan serta berusaha menutup segala lubang panca indranya.


Didepan terlihat burung garuda bermahkota permata itu terbang


mengangkasa dengan tinggi dua tombak danberputar-putar diatas tubuh Adigama yang


tidak sadarkan diri. Tidak beberapa lama  ,muncul kabut tipis di sekitar tubuh anak itu ,yang semakin lama menjadi


pekat hingga burung garuda itu pun tidak terlihat.


Apa yang terjadi itu telah membuat debar jantung Ki Mahesa


Anabrang berdetak makin cepat, dan dengan sangat khawatir mencemaskan


keselamatan anak angkatnya.


Tetapi sebuah suara yang berasal dari dalam kabut, membuat


hati orang tua itu sedikit lega.


"Tidak perlu kau khawatir dengan keselamatan anak ini.


Dan ingatlah, jangan kau ajarkan anak ini dengan ilmu olah kanuragan dari


perguruanmu, biarlah dia menerima tuntunan olah kanuragan dan kajiwaan itu dari


sebuah kitab yang bernama Kitab Cakra Paksi Jatayu."


"Siapakah kau.?" Tanya Ki Mahesa Anabrang, tanpa dia


sadari.


"Aku putra Gunapriya Dharmapatni dan putra dari Sang


Ratu Maruhani Sri Dharmodayana Warmadewa." Jawab suara itu yang penuh


dengan wibawa.


Mendengar suara itu menyebutkan putra Gunapriya Dharmapatni


dan Sang Ratu Maruhani Sri Dharmamodayana, membuat Ki Mahesa Anabrang


menjatuhkan dirinya duduk bersila layaknya orang yang sedang melakukan


"Mohon ampuni sikap deksura hamba, gusti Prabu." Ucap


Ki Mahesa Anabrang.


"Sudahlah, angger. Aku kini  bukan seorang raja, dan kini aku hanyalah


seoarang hamba yang diciptakan oleh Pencipta yang berada dialam kelanggengan. Ingatlah


janganlah kau tuntun dan kau ajari anak itu dengan jalur ilmu dari perguruanmu,


walau sebenarnya jalur ilmu perguruanmu  juga


masih sejalur dari ilmuku. Karena sebenarnya anak ini telah digariskan menerima


tuntunan dari Kitab Cakra Paksi Jatayu, yang akan tiba pada waktunya." Kata


suara berasal dari dalam kabut itu.


"Kasinggihan dawuh gusti Prabu, tentu hamba akan


mematuhi perintah dan sabda gusti Prabu."


"Baiklah, aku percaya padamu ngger, jaga serta rawatlah


anak ini dengan baik."


Usai perkataan itu, kabut itu memudar dan sesosok bayangan


putih berada diatas punggung garuda yang secepat tatit mengangkasa ke dirgantara.


Setelah kepergian sosok bayangan putih yang mengaku putra Prabu


Mahendradatta dari Kerajaan Bedahulu, maka Ki Màhesa Anabrang mendekati putra


angkatnya serta membawa tubuh anak itu masuk kedalam rumah.


"Kalau tidak salah, putra Mahendradatta dan Sang Ratu Mahurani


Sri Dharmamodayan itu bukankah Prabu Airlangga, paman.?" Tanya Wilis, selesai


mendengarkan cerita aneh tentang diri Adigama Bayu Shankara.


"Benar Wilis, walau putra Prabu Mahendradatta ada tiga


orang, namun yang memiliki lambang garuda terbang hanya prabu Airlangga atau Resi


Gentayu, yang moksa.


"Apakah ini ada hubungannya dengan pesan dari guru, yang


meminta paman dan Adigama Bayu Shankara ke Pertapaan Pucangan.?" Desis Wilis.


Yang berkata pelan seolah mengatakan pada dirinya sendiri.


"Entahlah."


Tidak lama, Adigama menggeliatkan tubuh dan bangun dari


tidurnya.


"Kau sudah bangun, Adigama.?"


"Iya ayah, ah hari sudah begini panasnya, mengapa ayah dan


kakang Wilis tidak membangunkanku.?" Ucap anak itu dan dengan polosnya


Adigama mengucek ngucek matanya.


"Tidak apa Adigama, kau terlihat lelah serta tidurmu


begitu lelap."


"Namun kini aku sudah baikan, ayah. Dan aku telah siap


untuk menunggangi Jatayu."


Wilis mengerutkan keningnya. "Jatayu.. ?", Desis


Wilis.


"Iya kakang, kuda hitam itu bila dipacu oleh ayah, kencangnya


bagai burung garuda kendaraan Batara Wisnu.” Kata Adigama.


Ki Mahesa Anabrang hanya tersenyum mendengar ucapan anak


angkatnya itu.

__ADS_1


"Baiklah nanti kita akan berlomba, apakah benar Jatayu


itu lebih cepat dari kudaku Bayu Turangga." Tantang Wilis, yang disambut


tawa Ki Mahesa Anabrang.


"Wah nama kudamu begitu mengagumkan, Wilis." Ucap


Ki Mahesa Anabrang, yang masih tetap tersenyum.


"Hahaha, paman. Tanpa sadar aku juga memberi nama pada kuda


tungganganku dengan nama itu." Sahut Wilis.


Karena hari semakin terang dan matahari semakin tinggi, ketiganya


kemudian bergegas merapihkan diri dan beranjak naik ke kuda masing-masing untuk


melanjutkan perjalanan.


Dua ekor kuda dengan perlahan menaiki tangkis sungai. Penunggangnya


seseorang berperawakan kekar dengan tombak di punggungnya. Sedangkan yang satu,


seorang perempuan menggunakan pakaian merah tua serta sebuah pedang panjang


yang berada disamping pinggangnya.


Diatas tangkis terlihat bangunan kecil yang terbuat dari bambu


kuning menggunakan atap rumbia terlihat tampak sepi.


"Apakah kakang Damar belum kembali.?" Ucap sosok lelaki


itu, yang sudah turun dari kudanya.


"Mungkin dia masih dalam perjalanan menuju kesini kakang."


Sahut si wanita.


"Jika begitu aku akan ke sungai, badanku penuh dengan


debu." Kembali lelaki itu berkata.


"Baiklah kakang, mungkin akan lebih baik apabila aku akan


menunggu disini."


Lelaki itu pun lalu berjalan kembali ke arah sungai yang


agak berwarna coklat, karena hujan semalam.


Sedangkan si wanita, dengan menyandarkan tubuh ditiang


bangunan itu untuk mengurangi rasa lelahnya. Namun wanita itu segera berdiri ketika


dari balik pohon, seseorang telah muncul.


“Oh kakang Damar, aku kira siapa." Ucap perempuan itu.


Orang yang disebut Damar itu tersenyum serta duduk pada amben


dekat wanita itu.


"Kau sendiri, Sekar.?"


"Tidak kakang, aku bersama kakang Menak Cokro. Dia sedang


membersihkan diri disungai." Jawab Sekar.


"Oh ya kakang, bagaimana hasil pengamatan kakang selama


di Demak.?" Tanya Sekar.


"Disana telah banyak perubahan setelah sepeninggal


Raden Lembu Kenanga, sekarang tampuk pemerintah berada ditangan putra mahkota,


Raden Pati Unus."


"Apakah ini waktu yang baik untuk menggerakkan pasukan dari


Puger kakang.?"


Sesaat Damar terdiam, sebelum menghela napas maka Damar


memandang arah sungai, dimana Menak Cokro berjalan sambil menyeka air yang


masih basah dimukanya.


“Ah kakang Damar, sudah lamakah kakang datang.?"


"Baru saja adi Menak Cokro, duduklah."


"Bagaimana kakang, setelah pergi ke Demak.?"


Dan sekali lagi Damar menjelaskan hasil kepergiannya untuk


menyelidiki Demak yang merupakan ancaman bagi kadipaten Puger. Terlihat


keduanya mengangguk-anggukan kepala mereka selesainya mendengar penjelasan Damar,


yang ternyata Damar adalah seorang prajurit telik sandi Kadipaten Puger.


"Apakah kita tidak siap untuk menyerang dan menggempur


Demak, kakang.?" Tanya Menak Cokro.


"Sangat sulit adi Menak Cokro, banyak dari kadipaten dan


tanah perdikan yang berada didalam kekuasaan Demak.." kata Damar.


"Tetapi kakang  Damar, Kanjeng Adipati juga sudah menjalin hubungan kerjasama dengan


Kadipaten Penarukan dan Kadipaten Blambangan, kakang.? Dan itu merupakan sebuah


penggabungan pasukan segelar sepapan yang sangat besar." Ucap Sekar menambahkan.


"Dan jangan lupa beberapa pedepokan tlatah bang wetan dan


juga para bekas pasukan Kediri." lanjut Menak Cokro.


"Memang dengan penggabunggan pasukan, jumlah pasukan itu


cukuplah besar, tetapi apakah kalian tidak memandang ke Kadipaten Ujung Galuh dan


Kedaton Giri.?, apakah kalian lupa harus memandang Kadipaten Japanan yang


merupakan daearah terdepan Demak yang disebut benteng terdepan dari Kerajaan


Demak." Ucap Damar.


"Selain itu Terung pun tentu tidak akan tinggal diam begitu


saja, Karena Adipati Terung yang juga disebut Raden Kosen itu sudah berada di Demak


dan dukungan pemerintahan keturunan kakaknya, Raden Patah atau Raden Lembu


Kenanga." Kembali Damar berkata.


"Lalu bagaimana rencana selanjutnya kakang.?"


"Aku akan menetap disini, sekaligus melakukan


penyelidikan di Kadipaten ini. Siapa tahu ada peluang untuk membujuk para pembesar


serta bangsaawan di kadipaten ini."


"Baiklah kakang, namun ijinkan kali ini aku yang


menemani kakang." Ucap Sekar, dengan suara agak bergetar.


Damar memandang wajah wanita itu, dan itumembuat wajah


wanita itu bersemu merah dan menunduk.


"Bertanyalah pada kakangmu, apakah dia memperbolehkan


jika adiknya yang seorang wanita yang cantik tinggal gubuk reot dan di tempat


yang seperti ini."


Mendengar itu, Sekar memandang kakangnya. Tetapi sebelum dia


menggerakkan bibirnya, kakangnya ternyata tersenyum serta berkata.


"Tentu saja aku tidak keberatan jika adikku tinggal bersama


denganArjunanya..."


Namun sebuah cubitan sudah menempel tepat dipinggangnya dan membuat


Menak Cokro menghentikan ucapan yang belum tuntas itu.


"Aduh...sudah Sekar, akukapok..."


Pemandangan itu membuat Damar tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2