BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
77


__ADS_3

"Gambar ini ?" desis Arya Dipa ketika meneliti sebuah goresan di bawah goresan aksara dalam gua.


Sebuah lambang yang sama dengan apa yang pernah ia lihat ketika berada di Padepokan Karang Tumaritis satu bulan yang lalu. Lambang Surya Kencana menandakan ciri dari darah biru keraton Wilwatikta. Tak hanya itu saja, di bawah lambang itu tergores juga sebuah benda yang menyerupai sebilah keris.


"Apakah benda ini yang diperebutkan oleh mereka ?" batin pemuda itu sambil menyentuh goresan di permukaan lantai gua.


"Bluuk.."


Lantai itu amblong sebesar tiga kilan dan membuat tangan Arya Dipa jatuh ke dalam dasar lubang itu, walau sebatas siku.


Kaget dan bingung sempat hinggap dalam hati Arya Dipa, tetapi sekejap kemudian telapak tangannya yang berada dalam lubang menyentuh sebuah benda dalam bungkusan kain. Secepatnya ia tarik tangan sembari menjumput benda itu keatas.


Ketika tangan keluar seluruhnya, nampaklah sebatang benda terbungkus kain hitam mewah dengan simbol Surya Kencana. Tangan Arya Dipa bergetar dan jantung berdegub keras. Sebuah getaran halus merambat pada tangannya, memasuki urat dan nadi menuju jantungnya.


Meskipun begitu, Arya Dipa tetap bertahan untuk menjaga kesadarannya dan menekan getaran halus itu untuk tidak merusak simpul di jantungnya. Upayanya berhasil dengan baik. Maka selanjutnya ia dekatkan benda itu ke dahinya seraya memejamkan mata sesaat, dan kemudian menyingkap kain pembukus itu.


Arya Dipa melebarkan kelopak matanya demi melihat benda dalam bungkusan itu, yang ternyata berwujud warangka keris yang bersalut intan berlian.


"Apa maksud dari ini semua ?" batin Arya Dipa.


Diamati warangka itu secara cermat. Indah memang dan tentunya mahal jika benda itu dijual kepada pedagang. Namun getaran benda itu sangat kuat, itu membuktikan kalau benda itu tentu sebuah warangka dari keris pusaka.


Akal pemuda itu terus berpikir mengenai guratan penyesalan dari si-empunya penulis dan mengkaitkan dengan warangka keris.


"Penyesalan - Bangsawan Wilwatikta - Warangka keris." kata Arya Dipa lirih sambil memutar warangka terbalik.


Tanpa disadari dari dalam warangka, secarik kertas putih terjatuh ke lantai. Di jumput kertas itu dan di buka lipatan secarik kertas itu. Ternyata dalam permukaan kertas terdapat sebuah pesan bagi orang yang mampu menemukan warangka keris yang disembunyikan oleh empunya keris.


Dalam pesan itu, si-empunya keris mengatakan kalau warangka itu akan berjodoh dengan seorang yang berhati lurus dalam pengabdian terhadap negerinya. Dan hendaknya, ia berjalan ke matahari terbit menyusuri sungai brantas sampai di sebuah gundukan tanah berkilau kuning keemasan saat disenja hari.


"He.. Ada persamaan dengan tempat yang ditunjukan oleh eyang Panembahan Ismaya !" seru Arya Dipa sekaligus membuat tubuhnya berdiri.


Di lihat kertas itu dan dibaca ulang. Setelah yakin benar dengan tulisan itu, ia lipat kembali dan ia masukan ke dalam warangka tadi, serta membungkus warangka dengan kain hitam seperti semula.


Malam semakin dalam memasuki peraduannya. Di luar debur ombak terus menghentak kerasnya karang. Cahaya rembulan terus menerangi buana, namun kadangkala sang awan mencoba menggoda dengan menghalingi sinar rembulan, sehingga sulit menembus ke permukaan buana raya. Untunglah sang bayu muncul sebagai sang penolong, memukul sang awan supaya pergi meninggalkan indahnya sang rembulan. Tetapi segalanya segera buyar manakala dari arah timur, warna kemerahan menyeruak dari atas cakrawala. Sang surya tertawa terbahak - bahak untuk melanjutkan singgasana di siang hari itu.


Pesisir selatan dimana Arya Dipa bermalam dalam gua telah mendapat sinar fajar. Bersamaan dengan riuhnya ayam hutan dekat pesisir selatan. Arya Dipa segera memadamkan bara dari ranting yang ia bakar tadi malam. Kemudian ke belik untuk membersihkan diri dan sesuci ke hadapan sang Illahi.


Hari yang masih pagi telah ia manfaatkan untuk melanjutkan perjalanan ke timur. Namun kali ini ia akan lebih berhati - hati terhadap rombongan orang yang tadi malam berkumpul di atas karang. Bila perlu menghindari bentrokan yang akan menyita waktunya sampai di tujuan.


Lembah, ngarai, dan pegunungan pesisir selatan di lalui oleh pemuda itu selama berhari - hari. Dan pada hari itu sampailah ia di telatah Wengker bagian selatan. Untuk itu kemudian ia mengarah ke utara mendaki bukit terjal yang bagai dinding tebal dari alam.


Sungguh perjalanan yang menguras banyak tenaga. Namun tiada keluhan yang keluar dari prajurit yang dalam masa hukuman itu. Ketetapan hatinya telah membawanya memasuki sebuah padukuhan kecil di balik bukit.


Kedatangan Arya Dipa ditempat itu menarik perhatian para penghuninya. Penghuni padukuhan itu memandang dengan tatapan penuh kecurigaan, apalagi akhir - akhir ini di timur kadipaten terjadi perang besar. Sehingga adanya penyusup dan pengganggu sangat meresahkan penghuni padukuhan itu.


Sebenarnya Arya Dipa sendiri mengetahui kalau dirinya dicurigai oleh mereka yang berjumpa dengan dirinya. Tetapi ia berusaha tak menghiraukan dan terus melangkah memasuki padukuhan makin dalam.


Rasa lapar mempengaruhi langkahnya untuk mencari sebuah kedai ataupun warung di padukuhan yang termasuk dalam kadipaten Ponorogo atau Wengker.


"Ah, akhirnya ketemu juga." desis Arya Dipa saat mendapati sebuah kedai.


Masuklah ia ke kedai dan disambut oleh pelayan kedai.


"Kisanak ini siapa ?" tanya pelayan itu kurang bersahabat.


Arya Dipa mencoba menjawab dengan ramah, "Aku hanyalah pengembara, kisanak. Dan ingin membeli hidangan yang ada di kedai ini."


"Hm.. Masuklah. Tetapi jika berbuat mencurigakan, kisanak akan berurusan dengan penghuni padukuhan ini." kata pelayan dengan ketusnya.

__ADS_1


"Baik, kisanak." sahut Arya Dipa dan duduk di dingklik dalam kedai.


Sembari menunggu makanan yang ia pesan, Arya Dipa mengeliarkan pandangannya memperhatikan keadaan di dalam kedai. Ruang yang tak terlalu lebar dengan sekat dari anyaman bambu memisahkan dapur dan ruang untuk pembeli. Ruang muka menampilkan meja panjang yang berisi jajanan ringan dan buah - buahan dan dingklik memanjang di depan meja, dua deret meja kecil bersama dua dingklik mengintari setiap meja kecil tersebut.


Arya Dipa memilih meja dekat dengan lubang angin, yang berhadapan langsung dengan pelataran kedai juga jalan. Di situ ia bisa mengetahui orang berlalu lalang ataupun mereka yang akan memasuki kedai.


."Ini anak muda." kata pelayan kedai sambil menghidangkan nasi kehadapan Arya dipa.


"Terima kasih, kisanak." ucap Arya Dipa, "Kisanak, kalau boleh tahu apa nama padukuhan ini ?"


Pelayan ini ternyata bukanlah pelayan yang menyambutnya tadi. Ia termangu sesaat dan memperhatikan penampilan Arya Dipa. Dalam hatinya mengatakan kalau orang ini berbeda dengan orang - orang yang sempat singgah di kedai itu. Karenanya ia pun dengan ramah menjawab.


"Denmas saat ini memasuki padukuhan Bungkul, Denmas."


"Apakah jalan menuju kadipaten Ponorogo masih jauh, kisanak ?" sekali lagi Arya Dipa bertanya.


Pelayan itu nampak kebingungan untuk menjawabnya.


"Kenapa kisanak kebingungan ?"


"E.. Aku belum pernah kesana, Denmas." jawab pelayan itu, tersipu malu.


Arya Dipa tersenyum dengan perilaku pelayan yang seumurnya itu. Di ambilnya uang kepeng dan ia berikan kepada pelayan itu.


"Terima-lah."


"Terima kasih, Denmas." ucap pelayan itu.


Sepeninggal pelayan kedai, Arya Dipa memusatkan untuk menikmati makanan yang sudah terhidang. Perut yang sejak tadi sudah berkeroncongan, kini bersyukur lega mendapatkan apa yang sudah diidam - idamkan. Tak lupa air putih dalam kendi tertuang ke gelas dan selanjutnya melancarkan sisa makanan di mulut dan tenggorokan.


Pada saat Arya Dipa menyantap makanan di kedai, tiga penunggang kuda berjalan pelan memasuki pelataran kedai. Suara ringkikan kuda membuat Arya Dipa menoleh demi mengetahui siapa penunggang kuda itu.


"Mereka.. " desis Arya Dipa yang mengenali ketiga orang itu.


Namun kemudian Arya Dipa tak menghiraukan lagi dan sibuk dengan makanan di atas meja.


Sementara itu ketiga orang itu segera memasuki kedai dan duduk di meja dekat pojokan.


"Pahing, cepat kau siapkan makanan yang paling enak di kedai ini !" seru si lengan akar bahar.


"Segera, ki Pandak Wengker." sahut si pemilik kedai dan berlari ke dapur.


"He Gonggang Keling, apa tidak apa - apa kita berpisah dengan rombongan Sanjaya ?" kata ki Widarba.


Gonggang Keling tak langsung menjawab. Orang dari Karimun itu mengunyah pisang sampai habis dan meneguk air dari kendi. Barulah ia menjawab.


"Ki, kita ini sudah dewasa. Mengapa kau merengek layaknya anak kecil ?"


"Tampangmu..! Bukan itu maksudku !" bentak ki Widarba, "Jika si murid durhaka itu menemukan benda dan harta itu, kita akan dikhianati juga."


Gonggang Keling terdiam, tetapi bibirnya tersenyum tak terlalu memikirkan kegelisahan ki Widarba. Sama halnya dengan si lengan bergelang akar bahar, orang itu dengan asyiknya memothel pisang hijau dan mengupas kulitnya.


"Uh, kalian terlalu meremehkan pemuda itu." desuh ki Widarba.


"Sudahlah, ki. Kita berempat tentu dapat menangani Sanjaya dan Duaji. Di sana juga ada Bango Banaran yang menjadi mata dan telinga kita." kata ki Pandak Wengker.


Orang tua bersenjata tongkat itu ingin berkata lagi, tetapi kedatangan pemilik kedai dan pelayan yang menghidangkan makanan telah mengurungkan niatnya. Berganti dengan menyantap hidangan yang menimbulkan nafsu perutnya.


Sambil menikmati makanan itulah, ki Pandak Wengker berkata, "Kita sebaiknya mencari bantuan kepada kawan kita."

__ADS_1


"Ah, bertambahnya orang akan membuat pembagian harta semakin sedikit." sahut Gonggang Keling.


"He, kau lupa dengan orang yang kita bunuh kemari ?" tanya ki Pandak Wengker, lalu, "Benda dan harta itu sekarang tak rahasia lagi. Banyak orang yang menginginkan dan merebutnya."


Kata terakhir itu telah mengejutkan Arya Dipa. Sepertinya permasalahan semakin runyam menyangkuy benda itu. Tetapi apakah mereka sudah mengetahui dimana letak benda itu ? Inilah yang masih membuat Arya Dipa agak tenang bilamana orang - orang itu tak mengetahuinya.


Kembali Arya Dipa mengikuti setiap kata yang terucap dari ketiga orang di pojokan tanpa membuat mereka curiga dengan dirinya. Maka dari itu ia dengan lahap memakan nasinya.


Di meja dekat pojokan, pembicaraan ketiganya semakin mengarah terhadap tujuan dari orang - orang itu.


"Kita pikirkan nanti saja setelah sampai di rumahku." kata ki Pandak Wengker.


"Ah kau sudah merindukan belaian anak muda itu, ya ?"


"Dasar kelakuan warok sepertimu tak pernah berubah, Pandak Wengker !" celetuk ki Widarba.


"Biarkan saja, ki Widarba. Memang hal itu akan menambah kesaktiannya." sahut Gonggang Keling, dan tanpa sengaja menatap ke arah Arya Dipa.


Melalui sebuah isyarat orang dari Karimun itu memberitahukan kepada kawan - kawannya. Ki Widarba dan ki Pandak Wengker yang diberitahu, mengikuti tatapan itu. Dan ki Pandak Wengker langsung berdiri melangkah ke meja Arya Dipa.


"Cah bagus, sepertinya kau bukan dari padukuhan ini. Siapa kau dan dari mana ?"


Arya Dipa menatap ki Pandak Wengker dengan ketakutan dan gemetar, "A.. aku dari Ngurawan, kisanak."


Jawaban itu membuat ki Pandak Wengker mengerutkan dahinya, "He benarkah ?"


"Iya, kisanak. Bekas perdikan itu saat ini menjadi benteng pasukan Demak dan kadipaten Ponorogo, hal itu membuat aku mengungsi ke sini."


Ki Pandak Wengker memperhatikan seluruh tubuh Arya Dipa, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Raut wajah itu berseri gembira dengan lekuk tubuh bidang dari Arya Dipa.


"Hm.. Bila kau ingin hidupmu enak, ikutlah kau bersamaku, cah bagus."


Tetapi sebuah tawa membuat ki Pandak Wengker menoleh ke arah tawa yang menyakitkan telinganya.


"Hehehe.. Wong edan wis mulih, marai nggawe pagebluk... !"


Seorang lelaki berpakaian penuh tambalan berdiri di pelataran sambil mencoret - coretkan ranting ke tanah, itulah yang tertawa dan berbicara.


Tak hanya ki Pandak Wengker saja yang dibuat terkejut, ki Widarba dan Gonggang keling juga berdiri dan berlari keluar kedai. Sementara dengan hati - hati Arya Dipa terus mengamati orang aneh itu.


"Begawan edan !" bentak ki Pandak Wengker setelah di luar kedai, "Mau apa kau ikut campur urusanku, he ?!"


"Hehehe.. Pandak Wengker, Widarba dan juga Gonggang Keling. Bila Pandak Wengker berkeliaran di sini itu sudah lumrah." kata orang berpakaian tambalan itu, "Namun adanya orang Karimun dan Jipang membuatku bertanya - tanya, hehehe... "


"Bangsat kau Begawan edan !" maki ki Pandak Wengker yang merasa perkataannya tak di gubris oleh orang itu, "Kau rupanya sudah bosan hidup, ya ?"


"E ladalah, wong ra duwè tátá.. !" seru orang yang disebut begawan itu, "Sudah bertingkah buruk dengan menggendak lelaki muda, kini berucap kasar kepada orang tua sepertiku."


Perkataan dari orang tua itu membuat wajah ki Pandak Wengker sudah memerah bagai kepiting rebus. Tanpa sebuah aba - aba, warok itu meluncur deras menyasar batok kepala si orang tua.


Sekilas kedua tangan kokoh ki Pandak Wengker akan mendarat di batok kepala orang aneh itu. Tetapi seperti tak menghiraukan, orang tua yang masih asyik menggores ranting ke tanah, membiarkan batok kepalanya terkena gempuran.


"Whuus.. Dhuukk.. !"


Kedua tangan ki Pandak Wengker berhasil menggempur batok kepala si orang tua aneh. Dan ki Pandak Wengker telah mendarat kembali di tanah dan menatap tajam dimana kakek aneh tadi berdiri.


"Hehehe........ "


Semua mata mengarah ke arah si kakek aneh tadi.

__ADS_1


__ADS_2