
TANAH tergores sepanjang hantaman rantai besi orang bercadar. Dan selamatlah orang bercadar bersenjatakan sepasang pisau panjang dari amukan Windujaya.
.
Selanjutnya di bulak ombo itu semakin seru dan sengit. Tata gerak mulai menunjukan perubahan yang lebih trengginas dan mantab dalam setiap melakukan penekanan terhadap dalam. Setingkat demi setingkat kemampuan orang - orang bercadar dan kedua pemuda, bagai pergerakan hantu di malam hari. Kaki seringan kapas bergerak mengisar atau pun mendlupak penuh tenaga.
.
Kenyataan itu membuka mata orang - orang bercadar untuk semakin berbuat lebih dalam menghadapi lawan mereka yang masih muda. Sepertinya malam ini keempat orang bercadar harus bekerja lebih lama bila dibandingkan malam - malam yang lalu.
.
Semenjak mereka berada di bulak ombo dalam melakukan tugas kali ini, barulah kali ini lawan yang mereka hadapi, mampu bertahan samapi sebegitu lamanya. Bahkan keempat orang itu sulit melakukan penekan dalam segalanya. Dari ancaman penyerangan gelap, gertakan dan lepasnya senjata, lawan tak gentar sedikit pun. Malah lawan yang termuda selalu berkata lantang dan terkesan mempermainkan mereka.
.
Selain itu adanya kedua senjata berupa pedang tipis dan keris panjang membara, mengejutkan orang bercadar itu. Pedang berdaun tipis setebal daun pisang mampu menghalau besi bahan trisula dan pedang orang bercadar. Juga keris ditangan pemuda yang termuda, sangat aneh dan menyeramkan. Keris itu sepanjang juluran tangan orang dewasa dan memancar warna merah menyala.
.
"He.. Anak setan !" seru orang bercadar bersenjata rantai besi berbandul, "Bukankah kerismu itu, kyai Samber Geni ?"
.
Windujaya mengernyitkan alisnya ketika lawannya dapat mengenali senjatanya. Maka setelah mencoba mengaitkan dengan masa yang lalu, menyangkut senjata dan pemiliknya terdahulu, lantas Windujaya berkata.
.
"Kau mengenali senjata ini, kisanak. Adakah kau mengenal pamanku yang menjadi Demang di Lasem ataukah kau teman Tumenggung Plangkrongan ?"
.
"He... " hati orang bercadar bersenjata rantai besi berbandul, tercekat.
Sambil mundur menjaga jarak, orang itu berpikir dengan apa yang ditanyakan oleh pemuda itu. Di sebutnya Tumenggung Plangkrongan dan ki Demang dari Lasem, membuat hati orang itu bimbang.
.
"Kawan atau lawan, sebenarnya anak muda ini ?" batinnya dalam hati.
.
Keraguan orang bercadar itu sangat merugikan kawannya. Orang bercadar bersenjata sepasang pisau panjang, terdesak hebat dalam kurungan keris Windujaya.
.
"He... Mengapa kau mematung seperti itu ?!" seru kawannya kepada orang bercadar bersenjata rantai besi berbandul, "Jangan termakan perkataan anak kecil ini. Tentu ia mencuri senjata itu dari pemiliknya !"
.
"Oh.. " desuh orang bercadar bersenjata rantai besi berbandul, yang sadar dengan kecerobohannya.
__ADS_1
.
Kembali orang bercadar bersenjata rantai besi meloncat membantu kawannya. Meskipun begitu ia masih mencoba mencari kepastian pada diri lawannya.
.
"Apakah kau mencuri senjata itu dari Tumenggung Plangkrongan ?"
.
Akhirnya umpan yang dilontarkan Windujaya termakan oleh lawannya. Dengan menuduhnya mencuri pusaka itu dari tangan Tumenggung Plangkrongan, menandakan kalau lawan hanya mengenal Tumenggung dari Tuban, dan itu berarti orang - orang ini ada sangkut pautnya dengan pasukan Bang Wetan.
Semuanya semakin terbuka adanya. Windujaya dapat memastikan siapa para penyerangnya itu. Oleh sebab itulah tanpa menunda lagi, Windujaya berseru kepada sahabatnya.
.
"Kakang Dipa, lawan kita tidak lain dan tidak bukan adalah prajurit Bang Wetan !"
.
Seruan dari anak termuda itu sebenarnya tidak hanya untuk pemberitahuan kepada Arya Dipa semata, melainkan itu merupakan tanda bagi lawan yang sudah gagal dalam penyamaran jati dirinya.
.
Dan orang yang paling terkejut ialah orang bercadar bersenjata trisula. Orang itu sangat kesal kepada salah seorang kawannya yang bersenjata rantai besi berbandul, yang sudah tanpa sadar membuka jati diri mereka. Dengan begitu sudah tidak ada lagi untuk hanya bermain loncatan saja.
.
.
Di mana mereka mengawali dengan menggiring lawan dalam satu titik saja. Kemudian menahan merekan dengan rapat tanpa adanya sela yang dapat membuat lawan lolos dari kurungan. Lalu bila lawan sudah tepat di titik tengah, serentak mereka meloncat mundur dalam jarak tiga langkah.
.
Tetapi meskipun jarak itu akan dimanfaatkan bagi lawan untuk mencoba keluar, kegagalan bagi lawanlah yang terjadi. Karena keempat orang bercadar akan menghalau kembali lawan itu. Sehingga akan sulit menerobos kepungan yang terlihat longgar.
.
Demi mengetahui kemampuan orang - orang bercadar dalam menyusun kerjasama yang apik dan teratur itu, keyakinan Arya Dipa dan Windujaya semakin mantab kalau yang mereka hadapi benar - benar prajurit terlatih. Dan kini yang menjadi perhatian adalah apa tujuan dari penghadangan di bulak ombo itu ? Inilah yang membuat tanda tanya dibenak Arya Dipa dan Windujaya.
.
Tanda tanya itu untuk sementara harus mereka lupakan sejenak. Karena lawan mulai bergerak serentak dalam badai serangan. Kesiur angin dari setiap penjuru bagai jalur maut meminta tumbal. Tajamnya tiga pucuk trisula, kerasnya bulatan rantai berbandul, ganasnya sepasang pisau panjang dan mengerikan sebilah pedang pandan eri, mengarah serentak ke pusat kepungan.
Hembusan maut mulai menyeruak di jalan bulak ombo antara padukuhan Wilangan dan Sela, yang berada dalam telatah tanah perdikan Anjuk Ladang. Setiap senjata yang diluncurkan tanpa adanya rasa kasihan langsung menggebrak penuh kebengisan kepada dua manusia yang terdiri dari segumpal daging dan darah.
.
Bila kedua pemuda dalam kepungan bukanlah orang mumpuni, sudah pasti malaikat maut mengakhiri keduanya dengan perantara serangan Panca Kiblat Marga Pralaya. Nyawa kedua pemuda pilih tanding itu masih dalam lindungan Sang Pencipta. Ilmu Niscala Praba dan Serat Bayu menyeruak dari dua tubuh dan menghempaskan terjangan senjata penyerang.
.
__ADS_1
"Byaar.. Deesss.. Deesss.. Deesss.. Deeesss... !"
.
Empat orang bercadar terhempas bagai layangan putus dengan darah membasahi bibir mereka. Tubuh mereka masih menggeliat dan berusaha untuk bangkit kembali. Namun kedua pemuda tidak membiarkan mereka berlaku bebas, dengan loncatan cepat mereka mencengkeram tubuh satu dan menangkap tubuh lainnya untuk dikumpulkan menjadi satu tempat.
.
"Wuuuss.. Wuuusss.. Wuuss.. Wuuss.. !"
.
Entah dari mana datangnya kesiur angi telah menunmbangkan keempat orang bercadar. Nyawa orang - orang bercadar terenggut oleh seorang yang tidak diketahui itu.
.
Dan kenyataan itu mengagetkan Arya Dipa dan Windujaya, yang tak mengira atau pun mengetahui adanya keberadaan seseorang selain mereka.
.
"Untuk saat ini kalian beruntung anak muda !" sebuah seruan menggema memantul dari segala penjuru.
.
"Keluarlah, kisanak !" balas Windujaya, "Apa maksud dari semua ini ?!"
.
"Hahaha... Janganlah kau berlaku seakan - akan ini tempatmu !" kembali seruan terdengar, "Urungkan niatmu dalam pencarian pusaka yang saat ini menjadi rebutan orang - orang linuweh.. !"
.
"Ho.. Jadi kau juga menginginkan pusaka itu, kisanak ?!" tanya Windujaya.
Hening dan sunyi. Tiada balasan dari orang yang belum tahu wujudnya itu. Sehingga Windujaya kembali melantangkan suara. Tapi sia - sia saja, tak ada balasan sedikit pun.
.
"Sudahlah, adi. Sepertinya orang itu sudah pergi." kata Arya Dipa.
.
"Sebaiknya kita mengurus mayat - mayat ini. Kasihan raga yang semakin dingin ini jika tida kita urus." sambung Arya Dipa.
.
"Mari, kakang."
.
Dengan alat seadanya, keduanya mengubur empat orang bercadar agar tidak dimangsa binatang liar dan buas. Lubang yang tidak terlalu dalam sebagai peristirahatan terakhir dari keempatnya, ditimbuni lagi dengan bebatuan yang akan menyulitkan binatang buas untuk menggalinya.
__ADS_1