BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
78


__ADS_3

Semua mata tercengang ketika menyaksikan akibat gempuran ki Pandak Wengker. Bukannya batok kepala yang pecah, tetapi mulut ki Pandak Wengker-lah yang meringis menahan sakit yang sang dikedua tangannya. Entah mengapa seakan - akan tangannya telah membentur besi gligen dan membuat nyeri tangan warok tersebut.


Tadi ketika serangan ki Pandak Wengker hanya sejarak seruas jari, kakek Begawan aneh itu menggerakan ranting yang ia pegang sejak tadi. Kecepatan tangan dalam menggerakan ranting itulah yang tak banyak orang mengetahuinya, sehingga dalam pandangan orang awam akan sulit mengikuti langkah itu. Tak hanya itu saja, kakek Begawan juga menyalurkan tenaga cadangan ke ranting biasa itu, dan mampu menjadikan ranting itu sekeras baja gligen. Tak ayal lagi penderitaan yang sangat dialami oleh ki Pandak Wengker.


Ketangkasan dan kehebatan kakek Begawan itu sempat diketahui Arya Dipa yang menatap tajam dan jeli. Sudah dari awal Arya Dipa meyakini kalau orang tua aneh itu mempunyai bekal olah kanuragan yang mumpuni. Oleh karenanya ia merasa lega untuk tidak menunjukan jati dirinya kehadapan mereka dan hanya menanti hingga akhir dari permainan itu.


Kedatangan kakek Begawan yang tiba - tiba itu, sebenarnya mengagetkan ki Pandak Wengker dan kawan - kawannya. Mereka mengenal dengan benar siapa kakek Begawan satu ini. Dan hati mereka sebenarnya sejak awal sudah menciut bagai kapas yang terkena air, tetapi rasa jerih itu ditindih rasa malu bila meninggalkan gelanggang.


Di depan pintu kedai, ki Widarba dan Gonggang Keling sudah bersiap meloncat. Tangan keduanya mulai memper-erat pegangan di senjata masing - masing.


"Hehehe... Yang satu bawa penthung celeng, satunya lagi mau mengembalakan wedhus." sindir kakek Begawan, lalu, "He Cleret Keling, di Karimun wedhus-mu sudah beranak pinak, ya ?!"


.Sindiran itu membuat Arya Dipa tersenyum. Ia merasakan adanya sifat usilan dari Begawan satu ini. Bila tak mempunyai bekal yang cukup tentu ia akan mendapat akibat yang parah dari lawan yang sudah terungkit rasa kemarahannya.


Itulah yang terjadi, Gonggang Keling tak mampu lagi untuk bersabar. Kawah kemarahan dalam dadanya tak mampu terbendung lagi. Sehingga meletuslah kemarahan itu dan meluberkan panasnya hawa kemarahan dari puncak gunung berapi. Sehingga dengan loncatan bagaikan burung elang, Gonggang Keling melecutkan cambuknya.


"Taarr.. Taarr.. Taarr.. !"


Tiga lecutan cambuk ekor pari menggetarkan udara disekitar tubuh kakek Begawan. Sudah tentu sang kakek Begawan tak tinggal diam, kakinya beringsut beberapa kali seraya menangkis dengan ranting di tangan kanannya. Terjadilah adu lecutan dari dua senjata berbeda.


Cambuk khusus terbuat dari ekor ikan pari milik Gonggang Keling, mempunyai kekuatan yang menakutkan. Dan lawannya hanya menggunakan ranting biasa yang diambil dari pohon yang tumbuh dipinggiran jalan. Inilah yang membedakan keduanya melalui kemampuan dan tenaga dari masing - masing. Terbukti jelas siapa dari mereka yang hebat dalam melambari senjata mereka dengan tenaga sakti.


Cambuk ekor pari ditangan Gonggang Keling begitu lentur dan kuat, melecut dengan cepat bagai kilat. Sementara ranting kakek Begawan yang bercabang - cabang tak kalah hebat, ranting yang masih muda dilambari dengan tenaga cadangan mampu menjadikan senjata mendebarkan bagi lawan. Setiap lecutan dari Gonggang Keling mampu dimentahkan oleh kakek Begawan aneh ini.


Di luar gelanggang, ki Pandak Wengker mulai mengurai ikat pinggangnya, yaitu koloran berwarna putih. Koloran ini bukan sembarang koloran, melainkan terbuat dari kulit binatang yang sangat jarang dilihat oleh manusia. Dan hewan itu hanya berada di puncak gunung Wilis serta hidup di alam lain. Jika koloran itu mengenai gunung, niscaya gunung itu akan gugur dan lautan akan mengering, itulah yang diyakini oleh ki Pandak Wengker.


Lain lagi dengan ki Widarba, orang tua dari Jipang itu berdiri dengan tegang memperhatikan keadaan yang tak menguntungkan bagi kelompoknya. Kemunculan Begawan yang ia kenal sebagai Begawan Kakrasana dari alas Parang timur laut gunung Kidul itu, saudara seperguruan dari seorang begawan yang sifatnya tak kalah edannya. Untuk itu ia bersiaga dan menunggu waktu yang tepat mengajak kawan - kawannya menyingkir.


Dan waktu yang ditunggu - tunggupun tiba juga. Ki Widarba mengambil sesuatu dari kantong ikat pinggangnya. Lima benda tajam secepatnya ia lemparkan mengarah Begawan Kakrasana, dilambari tenaga cadangan. Sembari melempar itulah ki Widarba memberikan isyarat kepada kawannya untuk menghindari Begawan Kakrasana.


"Hehehe, kampret kalian... !" seru Begawan Kakrasana seraya memapas seluruh senjata rahasia ki Widarba dan membiarkan musuhnya kabur.


Sesudah kaburnya ki Widarba dan kawan - kawannya, Begawan Kakrasana termenung menatap arah kepergian lawannya. Seolah mengikuti tubuh mereka menyusuri lorong - lorong jalan, lari terbirit - birit.


"Hehehe... " Begawan Kakrasana masih tertawa.


"Terima kasih, eyang Begawan." ucap Arya Dipa, yang lekas mendekati kakek Begawan.


Begawan Kakrasana membalikan tubuhnya dan melotot dengan tajamnya, "He, kau hanya mengucap dengan lisan saja, bocah gemblung ?"


Tindakan Begawan itu tentu membuat Arya Dipa bingung kepalang. Ia tak mengerti dengan maksud ucapan dari Begawan tua ini. Sehingga tanpa ia sadari, Arya Dipa hanya melongo saja.


"E.. Ladalah, malah diam saja. Kau kesambet danyang Bungkul, bocah gemblung..'" seru Begawan Kakrasana sembari memukul pemuda di depannya menggunakan ranting.

__ADS_1


"Plaak.. !"


Keduanya terkejut setelah ranting itu mengenai tubuh Arya Dipa. Begawan Kakrasana heran dengan apa yang ia rasakan, tangannya bagai kesemutan seolah - olah adanya tenaga yang menyakiti tangannya. Sementara Arya Dipa merasakan pundaknya bagai terkena besi, padahal ia tadi sempat menerapkan aji Niscala Praba.


Begawan Kakrasana menggelengkan kepalanya, "He bocah gemblung, apakah kau akan mendiamkan aku seperti ini ? Tidak menghidangkan sesuap nasi kepada orang yang menolongmu ?!"


"He.. " desuh Arya Dipa, lalu ia tersenyum dan mempersilahkan kakek Begawan memasuki kedai.


Dimintanya pelayan kedai untuk menyediakan makanan yang enak untuk kakek Begawan. Dan setelah hidanhan tersedia, kakek itu segera melahab dengan nafsunya. Seolah - olah perutnya belum terisi sejak sepekan, sehingga meraup dam menjejalkan makanan itu ke mulutnya.


Tingkah laku kakek Begawan itu membuat hati Arya Dipa senang. Entah mengapa ia merasakan kegembiraan bila memandang wajah kakek Begawan itu.


Di kala Arya Dipa menjamu Begawan Kakrasana di kedai padukuhan Bungkal, ki Widarba bersama kedua kawannya berjalan keluar menjauhi padukuhan tersebut. Ki Widarba mengajaka kawannya untuk tak berurusan dengan Begawan dari alas Parang, yang ia ketahui mempunyai sebidang ilmu kanuragan yang mendebarkan.


"Bila tadi tak kau tarik, aku sudah meloncat melecut orang tua itu dengan Sasra Geni ini, ki Widarba." gerutu ki Pandak Wengker sembari merapikan ikat pinggangnya.


"Sudahlah, lebih baik kita tak berurusan dengannya untuk sementara waktu, Wengker." sahut ki Widarba, "Sebaiknya kita bergegas saja ke timur."


Sementara itu Gonggang Keling masih menenangkan gelora amarahnya, "Sudah sering orang tua itu menghina diriku, ingin rasanya aku meremas wajahnya !"


Ki Widarba tersenyum, "Sudahlah Gonggang Keling, bukalah matamu lebar - lebar. Sejak kau bertarung dengannya, apakah kau mampu mengungguli Begawan edan itu ?"


Pertanyaan yang tak disangka - sangka itu membuat Gonggang Keling terdiam. Memang diakuinya kalau setiap ia beradu ilmu dengan Begawan Kakrasana, ia bagai anak kecil yang terus dipermainkan oleh Begawan itu. Oleh karenanya ia hanya berjalan menunduk menyusuri jalan yang membelah persawahan itu.


"Tak hari - harinya perutku dilayani seperti siang ini." ucapnya perlahan, sementara matanya terkatup - katup.


"Kalau begitu kita sudah impas bukan, eyang ?" kata Arya Dipa.


Suara dari Arya Dipa itu telah menyadarkan Begawan Kakrsana. Bukannya berkata baik - baik, melainkan tangan kakek itu bergerak menjewer pemuda di sampingnya dengan kerasnya.


"Aduh... Aduh...Aduuuh.. !" keluh Arya Dipa, tak menyangka kalau ia akan diperlakukan seperti itu.


"Anak edan, kau mengganggu ketenanganku dalam menikmati perutku yang kenyang !" bentak Begawan Kakrasana, lalu kemudian, "Cepat kau bayar dan ikuti aku !"


Entah mengapa Arya Dipa tak menolak perintah Begawan yang uring - uringan itu. Tanpa menunggu lagi setelah tangan Begawan Kakrasana melepas tangan dari kupingnya, Arya Dipa memanggil pelayan kedai dan membayar semua makanan tadi. Sehabis itu mengikuti langkah kakek Begawan.


Semenjak keluar dari kedai, keduanya tak banyak bicara. Keduanya terus berjalan menyusuri jalan setapak yang kanan kiri ditumbuhi semak belukar berselang tanaman luntas. Setelah sepengunyah sirih, sampailah di sebuah gubuk yang berdiri di pinggir kolam.


"Masuklah anak muda." kata Begawan Kakrasana mempersilahkan Arya Dipa.


Di dalam gubuk itu hanya terdapat amben besar yang menyisakan tempat berjalan ke pintu bekakang. Di dinding gubuk yang terbuat dari potongan bambu, terdapat dua arit terselip ke bawah dan caping besar.


"Duduklah." kata Begawan Kakrasana dan terus berjalan ke belakang.

__ADS_1


Duduklah Arya Dipa di amben sambil menunggu kemunculan Kakek tadi. Tak berselang lama munculah kakek itu sambil membawa kendi dan selirang pisang hijau.


"Hanya ini yang aku sajikan, cah bagus."


"Terima kasih, eyang. Lebih dari cukup."


"Ya jelas lebih dari cukup to cah edan, hehehe." kata Begawan itu sambil melototkan matanya dan tertawa riang.


"He cah edan, siapa kamu ini ?" sambung Begawan dengan pertanyaan.


"Aku hanya seorang yang ingin melihat luasnya tanah jawa ini, eyang. Ayahku sering memanggilku dengan Dipa."


"Dipa.. " desis Begawan Kakrasana, sambil meneliti setiap lekuk pemuda di hadapannya.


"Nama yang bagus, mengingatkan aku dengan putra Gajah Pagon yang menjadi benteng Wilatikta." kata Begawan dalam hati, "Seorang mahapatih yang mampu menyatukan nusantara walau akhirnya ia menjadi korban kepentingan dari kerabat keraton Wilatikta, gara - gara ingin menyatukan Prabu Hayam Wuruk dan putri Dyah Pitaloka."


"Mengapa eyang melamun ?" tegur Arya Dipa ketika melihat Begawan Kakrasana termenung.


Begawan itu menghela nafas seakan - akan ingin melapangkan dadanya yang sesak. Dirinya tak menyangka kalau pengabdian seorang nayaka praja yang sangat setia kepada negerinya, disudutkan karena pokal seorang saja. Sehingga seorang Gajah Mada meninggalkan tujuan yang lebih gemilang bagi Wilatikta mengasingkan diri dan tak diketahui rimbanya.


"Tidak, ngger. Namamu tadi telah mengingatkan diriku ini terhadap orang yang aku bangakan. Semoga kelak kau mampu sepertinya dalam melakukan pengabdian yang benar." kata Begawan Kakrasana dengan diiringi sebuah do'a yang tulus.


"Ah sudahlah." desisinya, "O ya, mengapa kau tadi diam saja terhadap tiga begundal tadi ? Aku rasa kau tentu mampu melawan mereka."


"Ah, eyang terlalu berlebihan. Ketiga orang itu sangat lihai dalam ilmu tata kenuragan. Jika aku melawan mungkin dalam beberapa gebrakan akan terbujur pingsan."


"Hehehe.. Bila itu terjadi, mungkin aku akan mendukung tubuhmu yang pingsan dan ku ceburkan ke kolam !" seru Begawan Kakrasana.


Arya Dipa tersenyum.


Begawan itu memothel pisang hijau dan mengupas kulitnya untuk ia makan. Masih mengunyah pisang hijau, orang tua itu berkata, "Aku yakin kau seorang ahli kanuragan, entah dari perguruan mana. Mungkin kau juga ingin ikut merebutkan benda yang saat ini diperebutkan oleh dunia kanuragan."


"Maksud, eyang... ?"


Begawan itu menggeser letak duduknya, "Akhir - akhir ini, selain pertempuran pasukan Demak dan pasukan kadipaten Bang Wetan, juga mulai menyerabak adanya desas - desus sebuah benda peninggalan Majapahit yang menggetarkan dunia olah kanuragan. Banyak golongan - golongan dari kalangan padepokan ataupun bangsawan yang mencari kebenaran itu."


"Apakah eyang juga tertarik dengan benda itu ?"


"Hm.. Sebenarnya aku tak mengharapkan untuk memilikinya. Tetapi ada perasaan yang menggelitik hatiku ingin mengetahui apakah kebenaran benda itu nyata." sejenak Begawan Kakrasana berhenti untuk mengambil nafas, kemudian, "Yang aku takutkan jikalau benda itu jatuh ke tangan yang salah. Tentu sesuatu akan semakin mengeruhkan keadaan di Bang Wetan ini, ngger."


Arya Dipa menganggukan kepalanya. Kegelisahan Begawan Kakrasana itu bisa ia rasakan juga. Dirinya sudah mengetahui kenyataan jika benda itu jatuh ke tangan Sanjaya atau penguasa dari Bang Wetan, yaitu Panembahan Bhre Wiraraja.


"Sudahlah, ngger. Istirahatlah disini dahulu. Aku akan pergi sebentar."

__ADS_1


"Baik, eyang." kata Arya Dipa yang kemudian ditinggal Begawan Kakrasana.


__ADS_2